
Dejavu, mungkin itulah yang dirasakan Rama saat ini. 7 tahun lalu ia pernah di posisi sekarang ini. Menemani seorang wanita dalam menjalani proses persalinan. Bedanya dulu dia dianggap oleh dokter sebagai suami si wanita dan sekarang dia benar benar merupakan suami sang wanita. Wanita yang sama dan rumah sakit yang sama tapi dengan status yang berbeda.
Rama dan Sita yang berada di ruang persalinan tersebut saling pandang. Sita pun tertawa geli dibalik rasa sakit kontraksinya.
" Kalau ingat waktu itu lucu ya sayang."
" Hehehehe iya mas. Kamu ditarik oleh dokter dikira suamiku."
" Dan sekarang aku di sini … lagi… Sebagai suamimu yang sebenarnya."
" Suami betulan dong."
" Iya hahahaha."
Dokter Lisa sedikit heran dengan pasangan suami istri di depannya ini. Perasaan tadi dia lihat Rama tampak begitu panik tapi sekarang dia tampak lebih tenang dan santai.
" Baik pak Rama. And ananti bisa memberikan support kepada ibu. Boleh di pegang tangan ibu. Dan Bu Sita bisa berpegangan yang kuat."
" Baik dok.. Saya sudah paham. Ini bukan yang pertama buat saya kok. Sebelumnya saya sudha pernah menemnai istri saya ini melahirkan l."
Dokter Lisa mengernyitkan keningnya, ia terlihat bingung dengan ucapan Rama.
Lho kan merekah baru, kok bisa sudah pernah membantu proses persalinan istrinya sebelumnya, entahlah.
" Baiklah pembukaan sudah lengkap, bu Sita yakin mau melahirkan normal."
" Huf… huf… huf… iya dok."
" Sayang jika kamu tidak sanggup kitabisa operasi cesar saja."
" Tidak mas… insyaAllah aku bisa."
Proses persalinan pun dimulai. Dokter Lisa memberi arahan kepada Suta dan Rama selalu mendampingi Sita. Tangannya berulang kali dicengkeram oleh Sita dengan kuat saat Sita mengejan. Beberapa kali juga kuku kuku Sita terasa menancap di kulit tangan Rama tapi Rama sama sekali tidak merasakan sakit. Ia lebih fokus melihat sang istri berjuang melahirkan anak anaknya.
Air mata Rama menetes saat bayi pertama berhasil dilahirkan.
Oeee….. Oeeeee….
Rama melihat putranya dengan sangat haru. Ia kembali lagi dan lagi mengingat saat kelahiran Kai. Rasa yang sama, haru yang sama.
Akhirnya ketiganya berhasil dilahirkan dengan selamat dan sehat meski berat badan ketiganya masih dibawah normal. Kedua bayi laki laki memiliki berat 2.3 Kg dna yang perempuan 2.1 Kg.
Rama mencium kening sang istri yang terlihat sangat kelelahan.
" Terimakasih sayang… terimakasih… terimakasih kamu sudah melahirkan anak anakku. I love you."
Rma akemudina mengadzankan ketika bayi kembarnya itu sebelum dimasukkan ke dalam ruang inkubator.
Di luar Kai bersama Bi Surti dan Roni yang sudah tau nyonya bos nya melahirkan bernafas lega. Melihat ketiga bayi dibawa keluar dari ruang persalinan membuat Kai sangat antusias.
__ADS_1
" Alhamdulillah… welcome to the world guys. Kenalkan aku abang kalian. Kalian akan aman bersamaku nanti."
Bi Surti dan Roni pun merasa bahagia dengan lahirnya kembar 3. Setelah bayinya dipindahkan, Sita pun juga dipindahkan ke ruang perawatan.
Kai berjalan di samping hospital bed yang didorong para perawat.
" Mom… are you ok."
" Yes baby. I'm ok. Kamu sudah melihat adik adikmu?"
" Sudah.. Mereka tampan sepertiku dan cantik seperti mommy."
" Wait boy. Tidak adakah yang seperti ayah? Apakah ayah tidak tampan?"
" Ehmmm.. Ayah tampan tapi lebih tamoan aku."
" Hahaha… ternyata kau bisa narsis juga boy."
Mereka memasuki ruang perawatan. Rama dan Kai membiarkan Kita istirahat dulu. Dan keduanya juga berbaring di bed yang ada di ruangan vvip tersebut.
"Boy, mana nenek?"
" Oh… nenek pulang dulu diantar sama pak sopir. Takut kalau ada yng pulang bingung rumah sepi. Oh iya ayah. Apakah tidak memberi kabar sama eyang. Nanti eyang marah lagi."
" Astagfirullaah… Ayah lupa. Bisa ngamuk eyang kamu kalau lupa ngabarin."
Rama mengambil ponselnya dan menelpon sang ayah."
" Di RS Mitra nih nemenin kakek chek up."
" Pas… datang keruang vvip nomer 1. Kami berada di sini. Sita sudha melahirkan. Bayi bayi nya sehat."
" Alhamdulillaah cucu cucuku sudah lahir hahahahah… baik baik kami akan kesana setelah selesai pemeriksaan kakek. Biar Sita istirahat dulu."
Rama menutup ponselnya dan memejamkan mata sejenak. Tidak disangka keduanya tidur.
***
Waktunya Sita memberi ASI kepada ketiga buah hatinya. Rama yang mendengar suara bayi menangis pun langsung terbangun.
" Astagfirullaah aku ketiduran. Lho triple A dibawa kemari?"
" Iya pak waktunya ibu asita mengASIhi baby baby."
Ketiga bayi itu menyusu bergantian. Mereka tampak sangat haus. Beruntung air susu Sita melimpah. Setelah ketiga bayinya puas menyusu, mereka pun tertidur.
Rama dan juga Kai melibat dengan begitu gemas.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara pintu diketuk dan muncul Hardi, Ayu, dna Adipati dari balik pintu. Ketiganya tersenyum lebar. Mereka mendekat ke arah box bayi dan melihat bayi bayi kecil nan menggemaskan itu.
" Selamat sayang… sekarang rumah akan semakin ramai."
" Terimakasih ibu. Cucu ibu tambah banyak. Pasti aku akan merepotkan ibu."
" Tidak perlu sungkan nak. Ibu juga ibumu."
Ayu memeluk Sita dengan erat dan juga mencium pucuk kepala Sita. Ayu sungguh sangat menyayangi menantunya itu.
" Boy, katamu kamu sudah punya nama untuk ketiga adikmu. Apakah sekarang sudah boleh diberitahukan?"
Rama bertanya kepada Kai tentang nama yanva kan Kai berikan kepada adik adiknya. Ternyata semua orang menunggu, mereka penasaran.
" Baiklah. Sekarang aku akan memberitahukannya. Apakah ayah ingat urutan adikku yang mana keluar terlebih dahulu?"
"Ehmmm… Ayah ingat. Tapi yang kelas yang perempuan keluar terakhir "
" Baiklah kita akan menganggap perempuan adalah si bungsu. Nama yang pertama adalah baby Akhza Falan Abinawa, yang kedua baby Abra Ishan Abinawa, dan yang paling cantik si bungsu adalah Baby Anandhita Senja Abinawa."
Semua menatap Kai dengan penuh rasa kagum. Kai begitu pintar memilih nama untuk adik adiknya.
" Bagaimana ayah, mommy, apakah ada yang tidak sesuai?"
" No baby… itu sungguh nama yang bagus. Mommy suka."
" Sama boy ayah juga suka, kamu memang abang yang luar biasa. Ayah yakin adik adikmu akan sangat menyayangimu nanti."
Kai tersenyum puas. Nama pilihannya ternyata semuanya sangat senang. Bahkan ketiga bayi itu tampaknya juga setuju. Mereka tersenyum dalam tidurnya.
" Hey baby sepertinya kalian suka nama pemberianku. Baiklah… jika kalian sudah besar nanti kalian harus jadi anak yang patuh. Jangan membuat pusing mommy dan ayah atau kalian akan berhadapan dengan ku."
" Hahahah, boy kau sudah mengultimatum mereka sejak hari pertama mereka lahir? Kau memang luar biasa."
Rama tertawa melihat tingkah anak sulungnya begitu juga yang lain.
Kebahagiaan memenuhi ruang perawatan tersebut.
Sita begitu bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Jatuh bangun perjuangannya di masa lalu seakan terbayar lunas hari ini. Ia mendapatkan suami yang begitu baik anak anak yang sehat dan keluarga yang baik juga.
Sita tersenyum ia menggenggam tangan Rama yang duduk di pinggir tempat tidurnya. Dan mengucapkan sebuah kalimat.
"Terima Kasih, i love you."
...SELESAI...
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga novel kedua Otor. Terimakasih atas dukungan readers semua yang sudah setia dengan kisah abang Kai ini. Tanpa semua dukungan readers, karya otor tidaklah akan menjadi apa apa. Terimakasih telah membersamai otor dalam proses belajar otor.
Otor sungguh tidak menyangka bahwa novel "Anak Jenius Mon Sita" ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari para readers. Semoga otor bisa kembali bisa membuat karya yang digemari readers.
__ADS_1
Jangan lupa untuk mampir dan stay di karya othor IAS yang lain ya.. Terimakasih… maturnuwun.
Sebentar ini mau beneran selesai atau mau nambah BONCHAP… ??? kita lihat nanti ya. Kalau banyak yang mau bonchap nanti othor akan tambahi gimana riwehnya ngurus si kembar 3 dan over protektifnya Kai terhadap triple A. 😊