Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
98. Hadiah Roni Untuk Abang Kai


__ADS_3

...Haloo onty onty Abang Kai.. Happy weekend and Happy reading ya. Semoga semua Onty reader sellau sehat....


...Selalu dukung Abang Kai dengan like, komen, dan saweranan pastinya heheheh....


...Terimakasih. Matursuwun....


...****************...


Roni dengan senyum mengembang melihat paper bag di sebelah kursi kemudinya yang akan diberikan kepada Kai. Ia mengemudikan mobilnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


" Mas… kenapa Roni. Kayaknya lagi seneng banget. Dari tadi senyam senyum."


" Lagi menang undian. Jadi doi seneng."


"Oh…."


Sita hanya ber oh ria mendengar jawaban asal sang suami. Secara, Rama tidak mungkin menjelaskan alasan Roni begitu bahagia sekarang.


"Mas… mampir dulu ya mau beli makanan. Aku pengen beli  nasi padang deh sekalian beliin Kai jus buah sama pizza."


"Siap nyonya bos."


"Ron… yang diajak bicara itu aku. Bukannya kamu."


" Maap bos gitu aja sewot."


" Mas… jangan kayak gitu."


"Sayang, kamu belain Roni."


" Astaga bos. Gitu aja cemburu. Ya ampun bagaimana nanti anak anak bos lahir. Perhatian nyonya bos padamu pasti akan sangat berkurang."


"Diam kau Ron, ku kirim kau ke pedalaman pulau K mau kamu."


"Siap bos. Perintah diam dilaksanakan."


Sita hanya terkekeh geli melihat kelakuan suami dan asisten pribadinya itu.


"Sayang…. Kamu ngetawain aku."


"Hahaha nggak mas. Cuma geli aja ngeliatin mas sama Roni berdebat gitu."


Rama tersenyum melihat Sita bisa tertawa. Ia sangat suka melihat tawa Sita.


"Sayang… apa kamu tidak sadar kalau kamu begitu cantik."


"Haish… jangan gombal mas. Apa mas tidak sadar aku sekarang gemuk?"


" Sayang… kamu tidak gemuk. Kamu malah terlihat semakin seksi."


Roni yang mendengar pembicaraan pasangan di belakang itu sangat kesal. Kata kata rayuan itu sungguh melukai hatinya yang jomblo sepi tak bertuan.


"Oh Ya Allaah. Apakah salah hambamu yang jomblo ini. Kenapa hamba harus mendengarkan orang mengucapkan kata rayuan mesra kepada pasangannya."


Pletak….


Kepala Roni disentil dengan sebuah pena oleh Rama. Rama sungguh kesal dengan  kelakuan absurd Roni.


" Ron… jika kau berulah lagi bonusmu selama 3 bulan aku pending."


Roni langsung bungkam dan membuat gerakan mengunci mulut lalu kuncinya ia taruh di kantong.


Sita lagi lagi dibuat tertawa oleh kelakuan bos dan asistennya itu. Bahkan Sita sampai mengeluarkan air matanya saking gelinya.


"Oh ya sayang. Bagaimana kuliah Susi?"

__ADS_1


" Baik mas. Dia gadis yang rajin dan pintar. Dia mudah beradaptasi dengan pelajaran dan lingkungan."


" Alhamdulillah kalau begitu. Sayang aku punya ide."


Rama membisikkan sesuatu kepada Sita. Sita yang mendengar hanya mengangguk angguk tanda paham dan tersenyum lebar.


"Gimana.. Setuju. Kita coba aja dulu."


"Aku sih yes mas. Tinggal yang bersangkutan aja."


"Siippp… nanti kita coba ya."


"Oke.."


Rama dan Sita melakukan hi five. Roni yang melihat kelakuan bos dan nyonya nya hanya mengernyitkan kening. 


Mengapa tiba tiba perasaanku tidak enak ya. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi padaku. Aku kok deg deg an gini. Ah sudahlah.


🍀🍀🍀


Semua tengah berkumpul di ruang keluarga malam ini. Minus Dewi. Hari ini adik Rama itu tidak pulang karena ada kegiatan bersama komunitas MAPALA (mahasiswa pecinta alam) kampusnya.


Kai duduk disebelah Sita sambil mengusap usap perut snag mommy.


"Apa Kai sayang dengan adik adik?"


" Tentu saja mom. Triple A akan jadi kesayanganku. Aku yang akan melindungi mereka nantinya."


"Uuuh abang Kai so sweet banget sih."


Sita gemas dengan putranya itu lalu mencium seluruh wajah Kai.


"Mom….."


Rama hanya terkekeh geli melihat interaksi kedua ibu dan anak itu.


Roni yang sedari tadi bingung bagaimana memberikan hadiahnya kepada Kai masih berusaha mencari waktu yang tepat. Roni bingung jika tiba tiba ditanya dalam rangka apa tiba tiba memberikan Kai hadiah.


"Bos kecil… om punya sesuatu untukmu."


" Om… jangan panggil begitu."


"Ehmmm baiklah. Abang… om punya sesuatu buat abang."


Roni memberikan paper bag yang sedari tadi dipegangnya kepada Kai. Kai tampak ragu untuk mengambilnya.


"Ambil saja boy." Ucap Rama.


Akhirnya Kai mengambilnya dan mengucapkan terima kasih kepada Roni.


" Coba sayang dibuka. Om Roni ngasih apa sama Kai."


Kai mengangguk mendengar penuturan Sita. Ia pun membukanya. Sejenak Kai terkejut melihat isi paper bag tersebut.


"Woaaah. This is awesome.  Om ini kan tablet keluaran terbaru. are you serious about giving this to me?"


Kai langsung membuka tablet tersebut dan menjelajahi semua fitur yang ada. Tablet dari perusahaan yang memiliki icon buah kemakan sedikit itu memang sangat menarik.


" Iya bang.. Om serius. Itu untuk abang Kai."


" Waah thank you om."


"Alhamdulillaah kalau abang menyukainya. Om juga senang."


Kai beranjak dari duduknya lalu menghampiri Roni dan memeluknya.

__ADS_1


Akulah yang harusnya berterima kasih bos kecil. Sangat sangat berterimakasih. Batin Roni dengan rasa haru.


Kai sangat senang, dan dia tidak perlu menanyakan alasan pemberian Roni. Menghargai pemberian orang lain adalah hal yang utama ketimbang menanyakan alasan dibalik pemberiannya. Mungkin untuk Kai membeli produk seperti itu bukanlah hal yang susah mengingat Kai memiliki uang yang lebih. Tapi harga tidak melulu soal nominal namun sebuah ketulusan dibaliknya lah yang membuat Kai sangat bahagia.


Kai pun berpamitan untuk pergi ke kamar terlebih dahulu dengan membawa tablet barunya.


"Sayang… jangan terlalu banyak main game. Ingat jangan malam malam tidurnya. Main game terlalu banyak bisa merusak mata."


" Baik mommy…. Laksanakan."


Rama dan Roni hanya saling pandang mendengar penuturan Sita.


Andai kau tahu sayang apa yang dikerjakan putramu itu dengan tablet dna komputernya, pasti kamu bukannya berkata jangan main game tapi kamu akan berkata jangan suka meretas komputer orang lain, gumam Rama dalam hati.


Andai nyonya bos tau, bos kecil itu tidak sedang main game tapi bos kecil itu tengah mengumpulkan pundi pundi dolar ke dalam rekeningnya, kali ini Roni yang berkata dalam hati.


Rama dan Roni membuang nafasnya kasar.


"Kenapa mas… Ron… kayaknya berat banget yang dipikirkan."


Keduanya kompak menggeleng mendengar pertanyaan Sita.


"Haish… kalian ini. Ih iya Sus kamu mau apa."


" Mau nyetrika bu. Soalnya besok pagi pagi sekali sudah harus ke kampus ada kuis."


"Oooh gitu… bisa duduk sebentar."


Susi mengangguk patuh dia pun kembali duduk.


" Ron umurmu berapa sekarang?"


" 25 bos."


"Kapan kamu mau menikah?"


"Eeeh…. Kenapa bos tiba tiba tanya begitu."


" Jawab saja."


" Nanti bos kalau bos kecil sudah smp. Sama kalau triple A sudah pada sd baru saya mau menikah "


"Kalau kamu sus. Kapan kamu mau menikah?"


Sekarang giliran Sita yang bertanya kepada Susi.


"Kalau saya masih nanti bu kalau sudah lulus kuliah, kerja di rumah sakit dan kuliah adik saya selesai baru saya menikah.


Sita dan Rama saling pandang, merek menggelengkan kepalanya dan membuang nafasnya secara perlahan. 


" Ya sudah… kalau kamu mau setrika sus."


"Baik bu. Mari pak mas Roni saya permisi"


Susi berlalu dan  Roni pun ikut pamit untuk pulang. Sekarang di ruang keluarga itu hanya tinggal Rama dan Sita.


"Sepertinya rencana kita menjodohkan Roni dan Susi gagal."


"Iya mas… mereka masih belum ingin menikah dalam waktu dekat ini."


"Sudahlah… biarkan mereka menemukan jodohnya sendiri. Nggak usah lah kita jodoh jodohin."


"Iya mas… setuju. Biar mereka menemukan belahan jiwanya masing masing."


TBC

__ADS_1


__ADS_2