
Di negara Inggris Ernest Felix Alexander Tengah memberikan laporan di kantor polisi. Ia pun mengajak Dorothy sebagai saksi hidup. Dan entah dari mana asalnya, pihak kepolisian juga menerima bukti lain dari tanah air. Dimana bukti tersebut memperkuat bahwa Pamela Rosie Antonio adalah dalang dibalik pembunuhan Camelia Wijatmoko. Bahkan kebakaran yang menimpa keluarga Wijatmoko juga adalah hasil karya dari Pamela.
" Akhirnya Nyonya Camelia mendapatkan keadilan ya Tuan."
" Kau benar Jer. Aku sungguh lega. Meskipun aku tidak tahu di mana makam Camelia tapi aku merasa semuanya berakhir dengan baik."
" Apakah Tuan tidak ingin ke Indonesia dan menemui Nona muda beserta cucu-cucu Anda tuan?"
Ernest menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Ia sebenarnya ingin sekali menemui putrinya namun apa yang dikatakan oleh cucunya waktu itu ada benarnya juga. Meskipun di dalam hatinya masih tersimpan pengharapan bisa menemui Sita.
" Itu soal gampang Jer masih ada banyak waktu. Saat ini yang terpenting semuanya telah terungkap dan Camelia mendapatkan keadilannya. Biarlah Pamela beserta anak-anaknya mendapatkan hukuman yang sesuai dengan apa yang mereka perbuat."
Jerry mengangguk mengerti dan setuju dengan apa yang diucapkan oleh tuannya. Kini mereka bertiga pun kembali ke mansion.
Sesampainya di mansion Ernest memindai seluruh isi mansion. Ia merasa kosong. Mansion yang begitu luas dan megah itu terasa begitu sepi. Ernest duduk di sebuah sofa dan ia menangis tergugu di sana. Di usianya yang sudah senja bahkan sudah mau menuju ke tanah, dia sama sekali belum merasakan bahagia. Kebahagiaannya pergi bersama perginya Camelia, istri yang begitu dicintainya.Â
Gadis blasteran Jawa - Belanda yang begitu menguasai hatinya itu pun juga membawa pergi cintanya. Jika waktu bisa diputar ia tidak ingin mengenal Camelia. Bukan karena takut ditinggalkan namun ia tidak ingin membuat Camelia celaka. Ia ingin melihat gadis itu bisa selalu tersenyum di sepanjang hidupnya.
Namun ini lah kehidupan. Kita tidak bisa memilih takdir apa yang kita inginkan. Kita hanya bisa mengikuti jalan takdir dari sang Maha Kuasa.
Tanpa sadar Ernest tertidur di sana. Membuat Jerry dan Dorothy merasa begitu haru dengan tuannya.
" Kasian ya tuan, Jer?"
" Iya Dorothy. Semoga tuan bisa kembali tersenyum bahagia di usia senjanya.
" Iya Jer. Aku berharap begitu."
Jerry dan Dorothy membiarkan Ernest tidur di sana. Dua orang tersebut hanya mengawasi dari kejauhan.
🍀🍀🍀
Di tanah air keluarga Rama tengah heboh. Apalagi kembar tiga. Mereka yang diberitahu bahwa akan pergi liburan ke Inggris begitu sangat antusias. Sita dan Ale dibuat pusing dengan segala barang yang akan mereka bawa."
" Mom… apakah di sana sedang musim dingin?"
" Apakah kita perlu membawa mantel yang banyak?"
" Oh iya mom, nanti makannya gimana. Lidahku kan indonesia bangeeet. Ga bisa makan makanan bule."
" Mom, bawa baju berapa ya."
" Mom. Apakah harus bawa sarung tangan juga. Aku takut kita akan beku."
Sita memijat keningnya dengan kedua tangannya. Ia sungguh pusing dengan tingkah anak anak kembarnya. Kai yang melihat sang mommy tampak begitu lelah langsung turun ke medan perang untuk meredakan pasukan yang mengacau.Â
" Guys, dengarkan abang."
__ADS_1
Ketiganya langsung terdiam saat mendengar suara Kai. Mereka mendengarkan dengan seksama.
" Bawa barang yang sekiranya diperlukan. Jangan bawa barang yang aneh-aneh. Kalian tidak perlu membawa banyak baju, bawa beberapa mantel atau baju hangat, sarung tangan dan kupluk. Oh iya, syal jangan lupa. Apakah kalian mengerti."
" Siap mengerti abang."
" Bagus, kalian minta tolong Ale untuk berkemas. Abang sama mommy mau pergi sebentar. Ingat, jangan buat Ale pusing."
" Siap….!!!"
Lagi dan lagi, mereka langsung patuh dengan apa yang diucapkan Kai. Tanpa banyak bicara Akhza, Abra, dan Ana langsung menuju lemari mereka masing-masing dan mengambil apa yang mereka butuhkan.
" Ayo mom… "
" Kemana bang?"
" Udah, mommy ikut aja."
Sita menurut apa yang dikatakan putra sulungnya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Ternyata di sana sudah ada Rama dan Roni.
" Ready bang …"
" Ready om…"
" Ok… Lets go!!"
" Sayang, tidurlah jika kamu lelah."
" Iya mom. Tidurlah dulu. Nanti Kai bangunin kalau udah sampai."
Sita hanya tersenyum simpul melihat perhatian anak dan suaminya.
" Iya, nanti kalau mengantuk pasti akan tidur."
Setelah kurang lebih 5 jam akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Sita termangu melihat mobil mereka berhenti di tempat yang sangat ia kenal. Tapi Sita sedikit herna pasalnya dibelakang ada sebuah mobil box yang ikut berhenti.
" Mas, sejak kapan dibelakang kita ada mobil box itu."
" Sejak berangkat."
" Eh, masa sih. Aku kok nggak ngeh."
Rama tersenyum melihat kebingungan sang istri. Lalu Rama pun mengajak Sita untuk turun dari mobil.
Sita melihat sekeliling. Panti asuhan tempatnya dibesarkan tersebut tidak banyak berubah hanya ada penambahan bangunan baru dan cat nya diperbarui juga. Sita langsung berjalan masuk ke dalam dan mengucapkan salam.
Tampak ibu panti menyambut Sita dengan pelukan hangat dan penuh rasa sayang. Sebelum datang Kai memang sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada ibu panti kalau mereka akan berkunjung.Â
__ADS_1
" MasyaaAllaah nak, kamu semakin cantik."
" Terimakasih bu. Ibu sehat."
" Alhamdulillah sehat nak… sehat… ibu minta maaf ya nak."
" Sudah bu tidak apa apa. Yang lalu biarlah berlalu. Oh iya bu… kenalkan suami ku dan putraku."
Rama dan Kai bergantian menyalami ibu panti. Mereka berempat pun duduk dan membicarakan hal hal yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Kai.
Sedangkan di luar Roni bersama pengawal yang dibawa Kai tengah sibuk menurunkan barang barang yang Kai beli untuk saudara saudara di panti. Mulai dari bahan makanan, alat tulis, pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan dapur, dan lain sebagainya.Â
Ibu panti sangat berterimakasih dan bersyukur atas pemberian Sita dan keluarganya.
***
" Ibu benar benar minta maaf nak. Ibu hanya menjalankan wasiat."
Ibu panti masih merasa bersalah atas fakta yang disembunyikannya puluhan tahun tersebut. Namun Sita menanggapi dengan bijak. Ia tahu ibu panti hanya menjalankan wasiat yang diamanahkan kepadanyaÂ
" Iya bu… tidak apa apa."
" Ayo Sita… ibu akan mengajakmu ke suatu tempat."Â
Ibu panti menggandeng tangan Sita dan mengajaknya keluar dari panti asuhan. Mereka berjalan agak jauh dari panti. Rama dan Kai hanya diam dan mengekor Sita serta ibu panti.
Sita kembali bertanya tanya, mau kemana kali ini ibu panti akan membawanya. Jalan yang dilalui sungguh tidak asing. Semasa Sita kecil ia sering berjalan melalui jalan ini. Hingga sampailah mereka di suatu pusara yang Sita amat kenali.
" Bu… ini…"Â
" Iya nak… ini makam ibu mu."
" Ya Allaah bu… jadi selama ini ibu membawaku berziarah ke makam ibuku."
" Benar nak."
Sita menangis di sana. Ingatannya kembali ke masa saat dia masih kecil. Ibu panti selalu mengajaknya untuk berziarah di makam seseorang yang ibu panti tidak pernah memberitahu siapa orang tersebut dan siapa namanya. Hingga ia sudah bersekolah dan bisa membaca ia baru tahu nama di batu nisan tersebut adalah Camellia Wijatmoko.
Pantas saja saat ia membaca nama itu di portal berita online beberapa hari yang lalu ia merasa tidak asing. Sita merasa nama itu begitu akrab di telinganya.
" Ya Allaah ibu… selama ini aku sudah berziarah di makam ibuku… mas… ini makam ibuku mas… Kai… ini makam nenek sayang…"
" Iya sayang… mari kita kirimkan doa untuk almarhum ibu."
" Iya mom… kita doakan nenek ya mom."
Sita, Rama, dan juga Kai bersimpuh di pusara Camelia. Mereka memanjatkan doa dengan khusyu.
__ADS_1
TBC