
Beberapa hari berlalu setelah kejadian berendam es batu karena obat perangsang. Sita juga sudah kembali ke perusahaan. Ia hendak menemui Adit untuk menyampaikan permintaan maaf. Anggota staff Sita pun nampak senang melihat bu bosnya kembali ke kantor.
"Alhamdulillah ibu…. Akhirnya masuk juga. Kami kangen tau bu." Ucap Desi.
Desi dan Lia pun menghambur memeluk Sita sedangkan para punggawa alias para cowok menyalami Sita.
Anjar dan Iman juga sangat senang melihat atasannya itu kembali ke kantor. Tidak ada Sita kantor seakan Sepi.
"Alhamdulillaah bu Sita tidak kenapa-napa." Ucap Anjar.
"Eh… memangnya kalian tahu apa yang terjadi denganku." Sekarang Sita yang bertanya. Keempatnya diam tertunduk.
"Hehehe ya sudah tidak apa-apa yang penting aku sudah baik baik saja. Tapi hal ini cukup kita saja yang tau oke."
"Oke bu." Jawab keempatnya serempak.
"Bagaimana pekerjaan disini. Apakah semua aman." Sita bertanya kembali.
"Alhamdulillaah mandali bu alias aman terkendali." Jawab Lia.
"Baiklah, ini ada kue kalian boleh makan dulu. Aku mau ke ruangan pak Adit dulu ya."
Kembar empat itu mengangguk, mereka sangat senang dapat sarapan gratis.
Sita berjalan menuju ruangan Adit dengan membawa sebuah paper bag yang berisi brownies buatannya. Sita sengaja tidak tidur kembali setelah sholat malam karena ingin membuat brownis ini untuk Adit dan para anggota staf nya.
Tok… Tok… tok…
"Masuk,... Eh mbak Sita. Silahkan masuk mbak." Adit mempersilahkan masuk Sita.
Sita mengangguk dan ia mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan Adit.
"Maaf pak, pagi pagi saya sudah kemari. Saya mau minta maaf karena seminggu ini saya tidak masuk. Bapak boleh memotong gaji saya sebagai kompensasinya." Ucap Sita sambil menyerahkan paperbag yang ia bawa.
"Woaaah apa ini. Asik brownies. Mbak Sita bikin sendiri?"
Bukannya menanggapi permintaan maaf Sita, Adit malah sibuk dengan brownies pemberian Sita.
"Iya saya buat sendiri pak, untuk yang tadi…"
"Sudah, mbak Sita nggak usah mikirin itu. Oh ya jangan panggil pak, panggil Adit aja. Tenang saja mbak, Adit tau kok penyebabnya. Mas Rama udah cerita, dan Adit juga udah sampaikan ke bawahan mbak Sita. Maaf Adit harus bilang ke mereka agar mereka paham dan ngerti plus biar mereka nggak bingung mbak Sita kemana. Wuihhh aseli ini enak banget mbak."
Sita hanya bisa melongo mendengar penuturan Adit yang panjang itu, apalagi Si bos memintanya memanggil nama saja.
"Ya sudah pak kalau begitu saya mohon ijin kembali ke ruangan. Silahkan dinikmati kuenya."
"Dibilang jangan panggil Pak mbak,..."
"Iya… iya…"
Sita langsung pergi dari ruangan presdir JD Advertising. Menurut Sita, Adit pagi ini sangat aneh. Caranya berbicara seolah olah mereka itu adik kakak.
__ADS_1
"Haaah… seminggu nggak masuk ada ada aja yang berubah. Terserah lah." Sita acuh ia kembali melenggang menuju ruangannya.
Di lorong tersebut tampak seorang OG yang sedang mengawasi Sita secara diam-diam. Setelah Sita memasuki ruangan OG tersebut mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Ya Tuan, aman. Ya dia sudah kembali bekerja. Siap tuan. Baik laksanakan."
🍀🍀🍀
Beberapa hari ini Dani mengintai Sita. Ia mengikuti kemanapun mobil Sita berjalan. Sejauh yang Dani tahu Sita pergi hanya sebatas kantor JD Advertising dan rumah. Untuk belanja ada seseorang yang melakukannya dan Dani kenal betul siapa orang itu. Ya orang tersebut adalah Susi.
"Susi, kenapa Susi ada di rumah Sita apa Susi bekerja dengan Sita ya." Dani bermonolog saat melihat Susi baru masuk ke rumah sehabis berbelanja.
"Kalau Susi bekerja di rumah Sita berarti dia tau semua tentang Sita, bagus aku bisa cari informasi tentang Sita melalui Susi. Apakah pria itu beneran suami Sita atau hanya pura-pura untuk menghindariku."
Dani tersenyum ia merasa menemukan secercah harapan. Anton yang melihat Tuannya seperti itu hanya bisa membuang nafasnya kasar. Ia enggan berkomentar biarlah tuannya itu melakukan apa yang dia kerjakan.
Sedangkan Kai yang mengetahui kalau Dani mengintai Sita tidak tinggal diam. Kai terus mengawasi Dani agar tidak tiba-tiba muncul di rumah mereka.
"Mbak Sus…." Panggil Kai
"Ya den ada apa?"
"Mbak, mulai besok mbak Susi jangan belanja ke luar dulu ya. Belanja lewat aplikasi belanja aja dulu." Pinta Kai.
Susi menatap bingung dengan permintaan tuan kecilnya itu. Namun dia hanya mengangguk mengiyakan.
"Iya den. Siap kalau den Kai bilang gitu mah."
Aman, jangan harap kamu bisa mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi dalam rumah ini Tuan Dani Atmaja. Oh lupa saatnya menghubungi oma dan opa. Eeh ngomong ngomong soal oma dan opa kok aku jadi kangen ya sama eyang kakung dan eyang putri ya. Kapan bisa main kesana lagi.
Kai bermonolog sambil terus memantau cctv dan alat pelacak milik mommy nya. Sejak kembali bekerja Kai memang selalu rutin untuk mengecek keberadaan Sita. Entah, Kai merasa apa yang menimpa mommy nya kemarin bisa saja terulang lagi.
"Apa aku minta orang dari Q lagi aja ya. Hmm tapi nanti dia minta macam macam lagi. Sudahlah tidak usah." Kai kembali menaruh ponselnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasur miliknya.
***
Rama tengah mengumpulkan beberapa bukti kejahatan Eko. Dia merasa bahwa perkebunan sawit yang dimiliki Eko adalah hasil dari pencucian uang yang dia lakukan.
"Ron, awasi perkebunan sawit milik Eko. Aku curiga itu hasil pencucian uang."
"Aku juga merasa begitu bos. Soalnya dilihat dari asal usul harta kekayaannya Eko tidak pernah memiliki sumber penghasilan selain bekerja di JD Coal."
"Bagus, awasi terus."
Tok...tok...tok…
"Ron apakah aku hari ini punya janji bertemu dengan seseorang.?"
"Tidak bos. Bentar aku lihat dulu."
Belum juga Roni sampai di pintu orang yang mengetuk tadi sudah muncul.
__ADS_1
"Huft…." Rama mendengus.
"Mau apa kamu ke sini." Tanya Roni dengan nada sinis.
"Heh kacung aja belagu. Aku mau ketemu mas Rama. Mas… ijinkan aku menjelaskan tentang malam itu." Ajeng merubah ekspresinya secepat kilat antara ia berbicara dengan Roni dan Rama.
Roni membuat ekspresi muntah. Sedangkan Ajeng acuh. Ia berjalan mendekat ke arah Rama
"Ron pergilah dulu. Ingat apa yang aku ucapkan tadi.
" Tapi bos."
Rama mengangkat tangannya memberi tanda bahwa tidak ada bantahan dan semuanya bisa diatasi sendiri. Ajeng merasa diatas angin karena merasa dibela oleh Rama.
Rama menyuruh Ajeng untuk duduk di sofa. Di ruangan Rama memang ada seperti sofa untuk tamu. Rama juga ikut duduk di sana dengan gaya cool nya. Ia memasukkan salah satu tangannya ke saku celananya dan tangan yang satunya lagi mengetuk-ngetuk pada pahanya.
"Apa yang mau kamu jelaskan?" Tanya Rama dingin.
"Mas… itu bukan perbuatanku sungguh. Aku juga tidak tahu apa yang ada dalam minuman itu." Jelas Ajeng dengan mimik wajah dibuat semanis mungkin.
Tentu saja Rama tidak percaya. Dia bukan orang yang bodoh yang percaya pada mulut manis wanita murahan di depannya.
"Benarkah kau tidak sengaja." Rama berakting. Ia tersenyum, senyuman yang membuat Ajeng blingsatan.
"Iya mas. Benar. Aku mana tega ngelakuin hal itu ke kamu." Ucap Ajeng. Ia mendekat ke arah Rama dan duduk disebelah Rama. Rama hanya diam. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita ini selanjutnya.
"Mas… bisakah kamu menerimaku. Aku akan menjadi istri yang baik buatmu. Aku akan memasak, mengurus rumah dengan baik."
Ajeng berucap sensual. Tangannya mulai meraba dada Rama dan membelai wajah Rama. Ajeng menatap bibir Rama, dengan seperti itu saja sudah membuat hasrat Ajeng naik. Dia mulai gusar. Sedangkan Rama, ia tidak bereaksi apa-apa. Boro boro berhasrat yang ada dia sangat jijik dengan kelakuan Ajeng.
Ajeng mengenakan pakaian yang cukup seksi. Belahan dadanya begitu panjang sehingga buah d*d* nya terlihat menyembul keluar, dan bawahannya hanya sebatas paha. Ajeng mulai menggesekkan dadanya ke lengan Rama. Rama rasanya ingin muntah mendapat perlakuan seperti itu dari Ajeng.
Akhirnya Rama mengeluarkan sebuah remote dari kantong celananya. Di ruangan itu sudah ada sebuah layar televisi, dan ketika remote ditekan muncullah sebuah video yang sangat luar biasa.
Video yang menampakkan seorang wanita dengan 3 pria itu berputar dengan lancar tanpa ada macet-macetnya.
Rama tersenyum sinis, sedangkan ajeng membelalakan matanya. Ia mengenali suara dirinya di video itu. Ya itu adalah video Ajeng.
"Woooaah… kau sungguh hebat Jeng. Bisa bermain dengan 3 pria sekaligus. Ckckck."
Ajeng tergagap ia sudah tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menunduk malu.
"Kuberitahu kepadamu, jangan lagi mendekatiku ataupun Sita. Kalau kamu melakukan itu maka aku akan menyiarkan video ini ke media sosial dna seketika itu juga kau akan hancur."
Ajeng merinding, ia bergidik ngeri.
"Tidak… jangan mas. Jangan lakukan. A-aku tidak akan lagi mengganggumu. Aku akan menjauh dari kehidupanmu. Aku janji."
"Oke… aku pegang janjimu."
Ajeng langsung keluar dari ruangan Rama. Rama tersenyum puas, ia pun dengan lantang berucap "Satu ulat bulu sudah dibasmi hahahah."
__ADS_1
TBC