Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
42. Perasaan Apa Ini


__ADS_3

Malam mencekam untuk Sita akhirnya berlalu. Matahari hari tidak menyambut manis seperti biasanya karena awan mendung lebih mendominasi. Bahkan titik-titik hujan mulai jatuh kepermukaan bumi menyapa tanah dan menyeruakan bau khas yang menghiasi indra penciuman.


Sita sudah terjaga selepas subuh tadi. Ia menuju ke dapur mencoba mencari bahan makanan untuk dimasak. Sita merasa tidak enak jika menumpang namun tidak melakukan apapun.


" Alhamdulillaah ada telor dan nasi. Aku buat nasi goreng aja." Monolog Sita sambil mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.


Ceklek….


Sita mulai menyalakan kompor untuk menggoreng telur. Dia mencari sana sini tapi tidak mendapat apa yang dia inginkan.


"Hmmmm disini tidak ada ulekan, ya udah pakai blender aja."


Rama yang baru datang dari kamar sedikit terkejut melihat Sita di dapur, ia sedikit mendekat untuk melihat aktivitas Sita. Rama menyenderkan bahu kanannya di dinding dan melipat kedua tangannya sambil terus menyaksikan siaran langsung Sita yang tengah memasak. Rama tersenyum kecil melihat Sita yang lompat sana lompat sini dan berbicara sendiri, bagi Rama itu sangat menggemaskan. Apalagi pagi itu Sita terlihat begitu cantik meskipun tanpa polesan make up. Wajahnya sangat segar, mata hazelnya begitu indah ditambah rambut yang digulung ke atas dan menyisakan sedikit helai-helai rambut membuat leher Sita yang putih dan mulus tampak begitu jenjang. Rama menelan salivanya dengan kasar. 


"Astagfirullaah, Ta kalau lihat ginian tiap hari imron nggak kuat Ta. MasyaaAllaah ciptaan mu begitu indah ya Allaah. Kapan aku bisa menghalalkanmu Ta." Rama bergumam, senyuman itu terus mengembang di bibirnya.


"Eh… mas Rama. Maaf ya dapurnya dibuat berantakan." Sita sedikit kaget melihat Rama yang berdiri memandangnya. Ya Allah, sejak kapan mas Rama disitu, tadi aku ngomong-ngomong sendiri, dia denger nggak ya, batin Sita.


"Nggak pa pa Ta. Mau dibuat berantakan tiap hari juga boleh." Seloroh Rama.


"Eh … maksudnya mas?"


"Oh maksudnya pakai aja nggak pa pa. Lumayan jadi dapat sarapan gratis. Hehehe" Rama tertawa bodoh merutuki keceplosannya.


Sita tersenyum dan bagi Rama senyuman itu sangat manis.


Kai keluar dari kamar, ia mencium aroma nasi goreng buatan snag mommy.


"Morning mommy, morning uncle."


"Morning boy" 


"Morning baby."


Kai mendekat ke arah meja dapur begitu juga dengan Rama. Mereka duduk berdekatan.


"Bagaimana tidurmu boy, apakah nyenyak." Tanya Rama.


"Alhamdulillah uncle Kai tidur dengan baik." Kai menjawab pertanyaan Rama.


Akhirnya nasi goreng matang juga. Sita menyajikan langsung kedalam piring masing-masing. Ia menanyakan dimana Roni dan dijawab Rama asistennya itu sedang melakukan pekerjaan jadi pagi pagi buta sudah pergi. Mereka bertiga makan dengan tenang. Rama tak henti-hentinya tersenyum, hatinya seakan dipenuhi dengan taman bunga pagi itu karena bisa memakan masakan Sita bahkan hari mendung hujan juga tersa cerah untuknya. 


"MasyaaAllaah inikah rasanya punya istri. Nikmat betul." Batin Rama. Rama pun memakan nasi goreng hingga habis bersih tak bersisa.

__ADS_1


"Ta, hari ini kamu dan Kai di apartemenku saja. Aku sudah bilang ke adit untuk kamu bekerja di rumah. Dan dia memaklumi. Aku memintakan izin ke adit sekitar 1 minggu sampai kita bisa menangkap orang itu, atau paling tidak dia lengah dan tidak mengintaimu lagi."


"Tapi mas aku tidak enak."


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, aku akan menyewa apartemen sebelah jadi kalian berdua bisa di sini."


"B-bukan begitu. Mas Rama di sini saja ini kan rumah mas Rama. Hanya apakah ini tidak berlebihan mas untuk kerja di rumah."


"Mom, ini untuk keselamatan mommy. Please."


Hhhh Sita menghela nafasnya dalam, jika sang putra sudah meminta maka dia sungguh tidak bisa lagi menolak. Dan juga yang dikatakan Rama benar, mereka harus mendapatkan penguntit itu.


"Oke… mommy ikut pengaturan Uncle Rama, apakah kamu senang boy."


"Yes… I'm a happy mom."


Rama kini tahu kalau Kai adalah kelemahan terbesar Sita. Sita akan melakukan apapun untuk putranya.


"Oh iya mas, kapan mas Rama meminta izin kepada pak Adit."


"Uhuk… uhuk… tadi dini hari… uhuk."


Rama tersedak, bukan karena pertanyaan Sita tapi mengingat tadi saat menemui Adit di apartemennya.


Ting tong… ting tong. 


Berulang kali Rama menekan bel apartemen Adit tapi tidak ada jawaban dari si empunya. Rama pun hilang kesabaran saat mencoba menelpon berkali kali juga tidak diangkat oleh Adit. Akhirnya ia mencoba membuka pintu dengan kata sandi yang pernah ia tahu. Akhirnya berhasil.


"Ternyata bocah itu belum mengubah kata sandinya."


Rama masuk dengan meneriakan nama Adit berkali kali, tapi juga tidak ada jawaban. Rama pun membuka kamar Adit dengan keras.


Brak… 


"Adit, budeg baget sih kamu. Diketok nggak dibuka di telpon nggak diangkat. Adiiiiit. Astagfirullah hal adzim Adiiiiiiiit."


Rama terkejut melihat pemandangan diatas kasur Adit. Adik sepupunya itu tengah memeluk mesra seorang gadis dengan mulut berada di atas dada gadis tersebut. Reflek tangan Rama langsung menutup kedua matanya. Ia pun membangunkan Adit dengan kakinya.


Adit yang merasa tubuhnya  ditendang dengan keras terpaksa bangun. Ia sangat terkejut melihat Rama di depannya.


"Astaga mas Rama." Adit bangun langsung berlari ke kamar mandi lalu membnagunkan gadis disebelahnya dan meminta gadis itu untuk pergi.


Rama menunggu di sofa ruang tamu dengan wajah merah padam. Ia sangat marah dengan kelakuan casanova adik sepupunya itu yang tak kunjung sembuh.

__ADS_1


Adit duduk dengan wajah ditekuk lesu ia tahu akan diomeli dna diceramahi habis-habisan oleh masnya. Meskipun Adit berkelakuan playboy dan keras serta dingin saat menjabat sebagai presdir namun ia sangat takut jika Rama sudah murka.


"Dit, astagfirullah dit… Adit. Kapan kamu mau tobatnya Dit. Kelakuanmu itu tiap hari berganti wanita kalau kamu sampai kena penyakit bagaimana? Kalau kamu nggak kunjung tobat juga lihat saja mas bakalan nikahin kamu. Nggak peduli kamu suka atau tidak dengan pilihan mas."


Glek… Adit kesusahan menelan salivanya sendiri. "Menikah" Adalah kata keramat yang sangat menakutkan baginya.


"Oh iya mas. Mas ada apa pagi-pagi buta ke sini." Adit mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh itu, hampir lupa. Aku mau minta izin Sita untuk seminggu libur."


"Heh… mas apa apa an. Mbak Sita itu pimpinan Staf kalau libur ya bubar divisi legal nya." Adit tidak terima.


Akhirnya Rama menceritakan kejadian yang dialami Sita dengan detail agar Adit paham dan mengerti alasan dibalik minta izinnya Rama.


" Ya Allaah ada yang mau jahatin mbak Sita. Emang mbak Sita punya musuh?"


" Aku juga tidak tahu. Selama ini yang aku tahu Sita orangnya lempeng-lempeng aja."


"Ya udah mas, aku kasih ijin seminggu. Semoga pelakunya segera ketangkep."


Flashback off


"Pelan-pelan mas minumnya." Ucap Sita sambil menepuk-nepuk punggung Rama yang masih terbatuk batuk karena tersedak minuman.


"Makasih Ta, oh iya nanti aku tinggal ke kantor ya. Tadi aku juga sudah memintakan izin ke sekolah Kai untuk kai libur. Aku juga sudah datang ke rumah dan bilang ke ibu surti  kalau kamu ada dinas keluar kota seminggu agar beliau tidak khawatir.


"Terimakasih mas. Mas Rama sudah melakukan banyak hal untuk membantuku." Ucap Sita haru.


"Thank You uncle sudah melindungi mommy." Kai ikut mengucapkan terimakasih.


"Sama sama Ta. Sama-sama Boy. Ya sudah aku jalan dulu ya Ta. See you boy." Ucap Rama sambil mengusap kepala Kai dan Sita bergantian lalu berjalan keluar.


Serrr….. Sita merasakan getaran aneh dalam dadanya saat Rama mengusap pucuk kepalanya ia memegang kepalanya yang baru saja diusap Rama lalu memegang dadanya.


"Perasaan ini lagi. Sebenarnya perasaan apa ini?" Sita bergumam.


TBC


udah ya... 4 bab.. besok sambung lagi heheh


terimakasih readers tersayang...


matursuwun...

__ADS_1


__ADS_2