
Hari berlalu begitu saja, Kai pun sudah selesai libur semesternya dan kembali ke sekolah. Sita dan Rama juga kembali bekerja seperti biasa. Sedangkan Hardi dan Ayu, mereka masih berada di kota S untuk merawat sang bapak.
Beberapa kasus yang menimpa anak dan cucu Adipati sedang berlangsung dan sudah masuk ke ranah pengadilan. Berkas yang diberikan dinyatakan lengkap sehingga sudah siap untuk melakukan persidangan.
Pihak berwajib merasa begitu lega karena Mr. Sun membuat kasus mereka menjadi lebih mudah dengan beberapa bukti yang diberikan. Dari berkas fisik maupun non fisik hingga rekaman kamera pengawas pun mereka mendapatkannya.
Kadang mereka ini bertanya-tanya, sebenarnya siapa Mr. Sun. Orang yang begitu misterius yang sudah mengungkap beberapa kasus kejahatan.
" Bu Sita, beneran sedang hamil ya." Lia yang sedari tadi mulutnya gatal sekali ingin bertanya akhirnya berhasil juga melontarkan pertanyaan.
"Iya… Alhamdulillah."
"Alhamdulillaah…." Kembar 4 itu mengucapkan syukur bersama.
"Yeay… ponakan kita nambah lagi." Teriak Desi.
"Hust… jangan kenceng-kenceng teriaknya. Nggak enak di dengar yang lain." Sita mengingatkan Desi.
"Iya bu maaf. Bu emang ibu sama pak Rama nggak mau ngadain resepsi gitu bu?"
"Sepertinya nggak perlu deh Des, semua karyawan sudah cukup tahu kalau kami sudah menikah."
Merek yang ada di ruangan itu hanya bisa manggut-manggut. Biasanya orang hebat seperti Rama akan membuat pesta yang sangat megah. Namun ini berbeda, Rama hanya membuat tasyakuran di kantor JD Coal pusat dan JD Advertising lalu mempublikasikan di website perusahaan saja.
"It's time for lunch, ayo bu makan yuk." Ajak Desi.
"Aduuuh aku males banget keluar nih Des, bisa titip aja ndak?"
"Siap bu."
"Oke.. Tolong belikan saya es dawet, soto betawi sama salad buah ya."
"Siap bu."
Kembar 4 itu pun menuju keluar ruangan untuk makan siang. Namun tiba tiba pintu ruangan Sita diketuk oleh seseorang.
Tok...tok...tok…
"Assalamualaikum sayang…"
"Waalaikumsalam, mas… kok di sini?"
"Iya mas ada janji temu sama Adit. Sekalian mampir ke sini. Ini mas bawain kamu siomay sama batagor."
"Wah kebetulan sekali pas banget lagi laper."
Rama kemudian menyiapkan siomay dan batagor di piring, dan Sita tinggal menikmatinya saja. Mereka makan dengan hikmat. Tepatnya Sita, Rama hanya sesekali saja mencicipi.
"Sayang… Aku tinggal dulu ke ruangan Adit ya."
"Ok mas. Makasih ya."
Rama mengangguk, mengecup kening Sita sekilas dan berlalu dari sana.
Di luar ruangan tampak Adit tengah berbincang dengan seorang karyawan. Dan Rama sedikit mengenalnya.
Itu kalau nggak salah anggota tim nya Sita deh, gumam Rama
__ADS_1
"Ekhem… Dit. Ayo."
"Eh… mas Rama… udah sampe? Oke ayo ke ruangan ku. Lia.. Duluan ya.."
" Baik pak silahkan."
Lia berlalu menuju ke ruangannya dengan membawa pesanan Sita. Sedangkan Adit masih terus menatap punggung gadis itu meskipun sudah menjauh.
Plak….
Rama menepuk punggung Adit dengan sangat keras, membuat bocah itu meringis kesakitan.
"Auch…. Sakit mas."
"Matanya itu lho nggak bisa dijaga. Awas kamu macem macem sama anak gadis itu. Dia gadis solehah jangan sampai kamu rusak dengan kelakuan bejatmu itu."
"Astagfirullah mas, nggak lah aku juga milih milih kali nyari lobang."
Pluk… kini mulut Adit yang kena tepuk oleh telapak tangan Rama.
" Mas…. Sakit… mas mah tega bener."
"Biarin… mulutmu itu lho. Sembarangan kalau ngomong. Pokoknya mas nggak mau tau. Awas kalau kamu macem macem sama gadis itu. Mbak mu itu sangat sayang sama anggotanya. Kalau kau bikin mbak mu itu sedih beneran aku potong itu dedek mu sampai habis."
Glek… Adit kesusahan menelan salivanya sendiri. Tampaknya ancaman kakak sepupunya itu bukanlah main main.
Huft… lebih baik mundur deh deketin Lia. Daripada kena sunat sama mas Rama, gumam Adit.
"Kamu mau deketin Lia boleh. Asalkan seriusin. Langsung nikahin jadi mau ehem-ehem juga halal. Jadi kamu ada tempat berlindung dari nafsu bejatmu itu. Ibarat kata kamu mau pagi siang sore malam, kapanpun waktunya terserah udah halal ini. Malah itu jadi ladang ibadah. Tapi kalau kamu main celap celup sana sini yang ada dosa neraka."
Adit sejenak terdiam dengan ucapan Rama. Apa yang dikatakan kakak sepupunya itu sepenuhnya betul. Namun ia masih takut menjalin sebuah hubungan kembali. Trauma perpisahan orang tuanya membuatnya takut akan komitmen.
Mulai saat itu Adit menjadikan wanita sebagai objek nafsuu nya saja. Bahkan sejak SMA Adit sudah mulai berpetualang. Wajah tampan rupawan dan materi yang mencukupi menjadikan para gadis-gadis itu dengan mudahnya jatuh ke rayuan sang casanova.
Namun Adit selalu bermain aman dia tidak sembarangan menyebar benihnya. Ia tetaplah memiliki kriteria sendiri kepada siapa wanita yang akan dititipi benihnya. Yang pasti bukanlah seperti jalaang-jalaang yang ia tiduri.
"Dit, lepaskan dendam mu. Tidak semua wanita seperti ibumu. Kamu bisa lihat Sita."
"Iya mas, aku tahu. Tapi mencari yang kayak mbak Sita itu limited. Apa mbak Sita buatku aja."
Jlek… aaaah…..
Rama menginjak kaki Adit dengan sangat kuat. Membuatnya sangat kesakitan.
"Jangan sembarangan. Tak sumpel mulutmu nanti."
"Ampun mas. Ya Allaah tega banget. Dari tadi nyiksa mulu."
Rama acuh ia berlalu dan langsung masuk ke ruangan Adit tanpa dipersilahkan masuk. Ternyata di sana sudah ada Roni.
"Kenapa bos?"
"Tuh casanova geblek mau nyari mangsa lagi."
"Astagfirullah Dit, tobat."
"Sudah sudah. Ini ada apa tumbenan kesini."
__ADS_1
"Gini Dit, mas mau invest beberapa Milyar untuk pengembangan JD Advertising. Mas merasa kita bisa buat majalah bisnis. Kita bisa menggandeng Wijaya Grub sebagai penerbitnya."
"Boleh mas, tapi bukannya kemarin kalian kekurangan investasi."
"Sudah dibantu Kai" Jawab Roni.
"Sudah dibantu Mr. Sun" Jawab Rama.
Keduanya berbicara bersamaan membuat Adit bingung. Namun Rama lah yang tampak salah tingkah. Ia menutup mulutnya rapat.
" Wait yang bener Kai atau Mr. Sun. Kalau Kai, Kai dapat uang dari mana dan kalau Mr. Sun kok mas Rama bisa tau."
Mati aku, aku keceplosan. Huh… mulut mulut. Kok nggak bisa ngerem sih, rutuk Rama.
Sedangkan Roni hanya menatap Rama dengan curiga. Roni lalu mencoba mengurai benang kusut dan membentangkannya lalu menarik kesimpulan.
"MasyaaaAllaah… jangan-jangan Kai itu… Ya Allaah…. Mengapa aku bodoh sekali. Benar kan Bos?"
Rama hanya diam dia tidak mau menjawab. Sedangkan Adit hanya bengong karena dialah yang tidak tau menau soal ini.
" Wait… bentar… kosek… aku mumet. Aku bingung iki ono opo. Ron kamu bilang yang ngasih tambahan investasi itu Kai putranya mbak Sita. Emang berapa yang bisa dikasih seorang bocah?"
"Satu juta dollar."
"Apa?! Jangan bercanda kamu Ron. Mas… Roni bercanda kan?"
Adit melihat ke arah Rama. Orang yang ditanya itu tidak menjawab apa apa ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Roni.
"Woaah… ini beneran berita besar. Kai si bocah itu adalah seorang milyuner. Tck tck tck… Aku aja nggak punya tabungan sebanyak itu. How can??"
Pertanyaan Adit sebenarnya sama juga dengan pertanyaan Roni. Sejak hari dimana Kai memberi sejuta dollar Roni selalu bertanya tanya bagaimana bocah itu mempunyai uang sebanyak itu. Rama yang sudah tau hanya bisa diam membisu pura pura tidak mendengar obrolan Roni dan Adit.
"Bos!!!"
"Mas!!!"
Adit dan Roni meneriaki Rama secara bersamaan. Mereka yakin kalau Rama tau sesuatu.
"Huft… baik baik aku nyerah. Tapi ini bener bener rahasia. Jika kalian membocorkan awas. Kau Adit akan kupotong habis dedek mu itu dan kau Roni aku akan mengirim mu ke pedalaman pulau K."
Keduanya mengangguk menerima syarat dari Rama.
"Sebenarnya Kai adalah... Mr. Sun."
Krik… krik...krik…
Sunyi tidak ada tanggapan dari Roni dan Adit.
5 detik
1 menit
5 menit
Akhirnya setelah diam beberapa saat mereka pun bersuara dengan nada keterkejutan yang luar biasa.
"Apa… Kai adalah Mr. Sun!!!"
__ADS_1
TBC