Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
62. Masa Lalu yang Terungkap


__ADS_3

Di balik jeruji besi kini Eko priambudi berada. Ia sangat geram mengetahui tidak ada satupun yang menjenguknya. Bahkan anak dan istrinya pun pergi entah kemana. Pria paruh baya itu pun berteriak memaki dan mengumpat.


"Bangsat, sialan, brengsek, dasar ****** wanita itu memang tidak tahu diri. Dan punya anak juga tidak tahu diri. Mereka sama sekali tidak ada yang datang menemuiku. Dasar tidak berguna."


"Heh, pak tua bisa diam tidak. Berisik." Ucap salah seorang narapidana yang satu sel dengannya.


"Heh mantan orang kaya hahahhaha, disini nggak ada gunanya kamu teriak teriak begitu."


"Ho oh. Yang ada ganggu kami."


"Iya lebih baik diam dan tidurlah. Ingat sedikit bicara dapat memperpanjang umurmu."


"Hahahahhaha."


Para napi mengejeknya, ia sungguh geram. Ingin sekali dia membungkam mulut orang orang itu tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Di sini bukan daerah kekuasaannya yang biasa ia berkuasa dan memerintah sesuka hati. Kuasanya sudah hilang tak berbekas. Di sini dia tak ubahnya seperti mereka seorang narapidana yang siap menjalani hukuman. Bahkan nama pun tak lagi disebut, mereka akan memanggil dengan nomor yang berada di punggung baju tahanan.


Sungguh keadaan yang sangat berbalik. Mungkin pepatah 'roda kehidupan akan selalu berputar"' itu benar. Karin di masih dieluk elukkan oleh para antek anteknya yang selalu menjilatnya, namun kini semuanya hilang bagai ditelan bumi. Jangankan antek anteknya, para istri dan anaknya tidak ada satupun yang muncul.


"Tahanan no 775, kau ada pengunjung."


Eko Priambudi tersenyum akhirnya ada juga yang mengunjunginya, ia pun menatap sinis teman teman satu selnya.


Di ruang kunjungan tampak seseorang yang amat sangat ia kenal sudah duduk disana. Tatapan kekecewaan menyrlimuti matanya. Dia adalah sahabat lamanya, Hardi. Eko Priambudi berjalan mendekat dengan enggan. Ia sangat muak bertemu Hardi.


"Hai Pri, suwe ra ketemu piye kabarmu (lama nggak ketemu gimana kabarmu.)?"

__ADS_1


"Heleh Har, rasah sok peduli kowe seneng to aku nang kene ( nggak usah sok peduli, kamu senang kan aku ada di sini)?"


Hardi mendengus, ia benar benar tidak lagi mengenal sahabat baiknya.


"Pri kamu disini itu atas ulahmu sendiri. kamu kok tega ngelakuin itu sama aku, aku udah ngebiarin kamu sesuka sendiri terhadap perusahaan, dan kamu dengan teganya mencelakai putraku, dia putraku, darah dagingku Pri. Bocah yang dulu kau timang timang juga."


"Rasah drama Har, kamu pikir aku dari dulu seneng sama kamu? Tidak. Aku sangat membencimu. Dan kamu bilang apa membiarkan melakukan sesuka sendiri pada perusahaanmu, hei jangan lupa ada bagian milikku di sana. Dan anakmu itu dari dulu aku sudah tidak suka. Jika bisa aku akan menghabisinya saat malam kalian kecelakaan."


Hardi terkejut mendengar penuturan orang yang dianggap kawan baiknya itu. Setega kah itu dia. Padahal Hardi selalu menganggap Eko Priambudi ini saudaranya, dan dengan lantang tanpa rasa bersalah bahkan dia ingin menghabisi nyawa Rama meski belum terlahir di dunia.


"Hahahahah jangan terlalu terkejut, asal kau tahu yang membuatmu dikejar oleh kacung-kacung bapakmu itu adalah aku. Aku lah yang membocorkan informasi kapan kau akan pergi dari kota S. Bapakmu yang memang tidak pernah menyetujui pernikahannya dengan Ayu tentu saja mendengarkanku. Bapakmu itu pengen sekali memisahkan kalian berdua."


Bagaimana aku tidak membencimu Har, kau mengambil orang yang kucintai. Kau mengambil Ayu dariku. Aku yang lebih dulu mengenalnya tapi kamu yang dipilih Ayu untuk mendampingi hidupnya, batin Eko Priambudi.


Duar……


Tes…. Air mata Hardi keluar. Kenyataan pilu ini sungguh membuat hatinya tersayat. Penghianatan sahabat terdekat, kebencian orang tua yang selalu dihormatinya hanya karena tidak mengikuti keinginan menikah dengan wanita yang statusnya sama membuat Hardi tidak habis pikir. 


"Terima Kasih Pri, kamu sudah menunjukkan wajah aslimu. Jadi aku sudah tidak segan lagi melihatmu disini seumur hidupmu. Selamat tinggal. Oh iya Pri perusahaan yang aku bangun itu murni punya ku. Jika kau mengklaim kepemilikan atasnya karena modal yang pernah kau berikan kau salah besar modal itu tidak pernah kupakai. Semua sudah ku kembalikan ke rekeningmu." 


"Tidak, kau membohongiku. Semua itu pasti tidak benar. Bangsat sialan kau Hardi Joyodiningrat."


Hardi melenggang meninggalkan sahabatnya itu. Ia cukup sakit menerima semuanya ini. Beruntung Ayu tidak ikut serta. Entah apa yang terjadi jika istrinya mendengar semuanya itu.


Ternyata keputusanku sangat tepat untuk meninggalkan keluarga besar itu. Dulu setahuku bapak cuma tidak setuju, tapi ternyata lebih dari itu. Sekarang yang harus aku lakukan adalah melindungi keluargaku. Terlebih anak dan menantuku, aku yakin bapak akan mengusik Rama. Terlebih Rmaa adalah cucu laki laki satu satunya yang dimiliki. Bapak pasti akan mengejar Rama menjadi pewarisnya. Aku harus lebih berhati hati, aku tidak ingin kejadian Ayu terulang pada Sita.

__ADS_1


"Tuan… Apakah sudah siap pulang." Ucapan Lasno membuyarkan lamunannya.


"Eh , udah No. Ayo bali (pulang)."


"Njiiih tuan."


"No opo kowe yo arep ngianati aku (apa kamu juga akan mengkhianatiku)?"


"Dalem mboten wantun Tuan. Dalem janji setia kalian panjenengan. (Saya tidak berani Tuan. Saya berjanji akan setia kepada Anda.)"


"Bagus, kalau gitu No. Perketat pengawalan terhadap anak, menantu dan cucuku. Aku tidak ingin bapak menyentuh mereka barang secuilpun. Kerahkan ksatria yang kita punya."


"Siap tuan. Sendiko dawuh (patuh sesuai yang diperintahkan)."


Hardi menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Ia memejamkan matanya sejenak dan pikirannya mencoba menerawang ke segala hal. Tentang kewaspadaan terhadap bapaknya. Tentang perlindungan terhadap anak-anaknya. Walaupun Hardi sudah tidak aktif di dunia bisnis, Hardi mempunyai padepokan silat. Di sana dia memiliki orang orang yang mengabdi setia kepadanya.


Melalui hal itu ia akan membuat keluarganya terlindungi. Bahan Hardi mengirim sekitar 2 orang untuk melindungi putrinya. Ia tahu putrinya adalah wanita yang tidak suka dikekang maka Hardi membebaskan Dewi untuk berkuliah tanpa harus wira wiri pulang kerumah melainkan ia tinggal sendiri. Namun ia masih tetap bisa mengawasi dan melindungi sang putri melalui orang-orang kepercayaannya.


"Haaah… Las. Kau tau apa yang paling ku khawatirkan."


'Maaf… tidak Tuan." 


"Aku takut aku akan berselisih terus dengan bapak. Orang yang aku hormati. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan bapak terus menerus seperti ini. Dengan keluar nya aku dari keluarga besar aku berharap bapak tak lagi mengusikku. Tapi aku tetap khawatir, bapak akan kembali mengusik keluargaku."


Hardi mendengus, mengambil nafasnya dalam dalam yang ia rasa semakin berat.

__ADS_1


Lasno, orang yang mengikuti Hardi dari muda sangat tahu kegelisahan Tuannya itu. Ia tahu semua cerita mengenai tuannya. Kecintaannya terhadap nyonya nya bahkan rela meninggalkan keluarga besar yang tidak menyetujui hubungan pernikahan Hardi dan Ayu. Lasno hanya diam. Ia membiarkan Tuannya itu tenang.


TBC


__ADS_2