
Di kamar Kai tampak sibuk dengan komputernya menyelesaikan beberapa permintaan yang masuk.
Tok… tok...tok…
Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Kai mengubah tampilan layar monitor komputernya menjadi tampilan youtube channel anak anak.
" Abang… apakah sudah tidur? Bolehkah ayah dan mommy masuk?"
"Belum Mom. Aku masih belum tidur. Masuk saja."
Rama dan Sita memasuki kamar Kai dan berjalan mendekat. Rama duduk di kursi yang ada di dekat meja komputer dan Sit duduk di ranjang.
" Sedang apa boy?"
" Sedang nonton youtube yah." Jawab Kai sambil mengedipkan mata ke arah Rama. Rama membuang nafasnya perlahan ia tahu Kai tidak benar benar menonton saluran anak anak di Youtube. Anak ini pasti sedang melakukan pekerjaanya.
" Abang, ada yang mommy dan ayah bicarakan dengan abang soal sekolah."
" Oke mom. Sebenarnya Kai sudah tahu. Tapi Kai sungguh tidak mau jika harus pindah ke sekolah lain. Kai sudah terlanjur nyaman bersekolah di sekolah sekarang."
Sita dan Rama saling pandnag. Merwka pun mengangguk.
" Oke lah boy, kamu tidak perlu pindah jika tidak mau. Tapi untuk lompat kelas bagaimana?"
" Ehmmm…. Boleh… tapi aku mau dikelas 5 saja jangan langsung di kelas 6."
" Masyaallah.. Anak mommy memang pintar. Baiklah baby, sesuai keinginanmu saja. Mommy dan ayah tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau suka."
" Thanks Mom, ayah."
Ka memeluk Sita dan Rama bergantian. Sudah diputuskan Kai akan lompat kelas ke kelas 5.
🍀🍀🍀
Empat bulan setelah Kai lompat kelas, kini Kai menjadi primadona di sekolahnya. Keinginannya untuk menjadi anak yang biasa biasa saja tampaknya tidak berjalan mulus. Dia menjadi pusat perhatian baik di kalangan para siswa maupun guru.
"Huft…. Kan...kan… jadi gini. Apa yang kupikirkan terjadi. Aku jadi famous, padahal jadi famous itu nggak enak. Tiap hari ada aja yang nyariin , ada aja yang nyamperin… haish… ya sudah dinikmati saja lah."
Kai berjalan gontai memasuki rumahnya sambil bergumam. Sita yang sudah mengambil cuti hamil karena dipaksa Rama berada di rumah. Ia tertawa kecil melihat sang putra yang menurutnya tengah kesal
" Sayang… kenapa begitu wajahnya. Apa ada yang mengganggumu?"
" Huft…. No mom. Nothing. Semua teman dan guru baik sama Kai. Saking baiknya malah Kai jadi nggak nyaman."
" Ooh begitu, di syukuri saja ya nak. Mereka begitu karena sayang dan bangga sama Kai."
" Yes mom, baiklah."
Kai menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan segera kembali keluar untuk menemani Sita. Hari ini rumah tampak sepi. Hardi dan Ayu sedang membawa Kakek Adipati untuk chek up ke rumah sakit. Sedangkan Susi sedang ada kuliah dan Bi Surti tengah istirahat di kamar.
__ADS_1
" Mom… apa yang mommy butuhkan?"
" Tidak ada sayang. Abang Kai makan siang dulu. Ayo mommy temani."
Sita beranjak dari tubuhnya tapi tiba tiba ia meringis merasakan nyeri di perut bagian bawah.
"Auch….."
" Mom… mommy kenapa. Apa adik adik Kai mau keluar."
" Kai… sayang… tolong telfon ayah ya… huf.. Huf… huf…"
Kai mengangguk, ia langsung mengambil ponsel dan menelpon Rama.
" Ayah …!!"
" Ya boy kenapa."
" Ayah…. Perut mommy katanya sakit."
" Apa!!! Oke boy… tunggu ayah. Ayah akan segera pulang."
Tut…
Kai menyimpan ponselnya. Lalu mencoba memapah Sita untuk duduk di sofa.
Kai terlihat tenang, di usianya yang baru 7 tahun Kai mempunyai beberapa alternatif saat keadaan urgent seperti sekarang.
Sita masih diam, ia tengah mengatur nafasnya. Kai akhirnya mengambil keputusan sendiri. Bi Surti yang baru kelar kamar terkejut melihat air ketuban Sita sudah merembes keluar.
" Ya Allaah neng. Ini sudah mau lahiran neng."
" Hallo… bisa kirimkan ambulan kelamat ini… ya ibu saya mau melahirkan … tolong cepat."
Kai berlari ke dapur untuk mengambilkan Sita minum. Ia mengusap punggung sang ibu. Di sela sela rasa sakitnya Sita tersenyum. Putra nya itu sungguh dewasa dan cerdas. Sita bersyukur dalam hati. Sedangkan Bi Surti mengambil perlengkapan ibu dan bayi yang sudah disiapkan Sita di ruang keluarga sejak sebulan yang lalu agar mudah jika waktu melahirkan sudah siap.
Wiu...wiu...wiu….
20 menit berlalu, akhirnya suara sirine ambulan terdengar. Kai tersenyum. Ia pun segera membukakan pintu. Ternyata Rama juga sudah sampai.
" Boy… Apakah kamu yang memanggil ambulan?"
" Ya ayah."
" Terimakasih sayang."
Rama mencium kening Kai dan berlari masuk ke dalam untuk melihat kondisi Sita. Petugas ambulan pun masuk membawa tandu untuk memindahkan Sita.
" Sayang…."
__ADS_1
" Mas…."
" Jangan panik ya… ambil nafas lalu keluarkan. Kita akan ke rumah skait sekarang.
Sita menggenggam tangan Rama dengan sangat erat. Mereka langsung membawa Sita ke rumah sakit bersama Rama dan Kai ikut di dalam ambulan. Sedangkan Bi Surti menggunakan mobil bersama supir rumah Rama.
Di kantor JD Grup sebenarnya Roni juga tak kalah paniknya mengingat Rama yang berlari meninggalkan rapat bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah menutup panggilan telepon dari Kai.
Ada apa sebenarnya, kenapa bos terlihat panik. Mana nggak ngomong apa apa lagi.
Roni berpikir keras. Ia yang baru saja membatalkan rapat berinisiatif untuk pergi ke rumah Rama.
🍀🍀🍀
Di dalam ambulan Rama menghubungi dokter Lisa dan menjelaskan kondisi Sita saat ini.
" Baik pak. Sepertinya memang bu Sita akan melahirkan sekarang. Anda Harap tenang. Saya akan persiapkan semuanya di sini."
Tut…
Rama menutup ponselnya. Ia kembali melihat Sita yang tampak kesakitan. Hati Rama terasa ngilu menyaksikan sang istri yang tengah merasakan sakit.
Huf… huf…. huf… Sita mengatur nafasnya dibalik rasa sakitnya.
" Maaf ya sayang… "
" Jangan minta maaf mas…"
" Sabar ya … Sebentar lagi kita sampai. Jika rasa sakit itu bisa dipindahkan ke aku. Aku siap menanggungnya."
"Nggak mas… ini kodratku. Jadi aku akan menikmatinya, demi anak anak kita."
Rama tergugu ia meneteskan air matanya. Kedua kalinya ia menyaksikan perjuangan Sita menahan rasa sakit akan melahirkan.
Rama sepintas melihat ke arah Kai. Meskipun bocah itu terlihat tenang namun air matanya terus menetes. Kai berulang kali menghapusnya.
Sita menggenggam tangan Kai dan tersenyum.
" Maafin Kai ya mom kalau Kai belum bisa jadi anak yang baik untuk mommy. Mommy saat melahirkan Kai dulu pasti juga begini kan. Maafin Kai ya."
" No baby.. Kai adalah putra mommy yang paling baik. Kai sudah sangat baik menjadi seorang putra. Mommy sayang Kai. Love you baby."
" I love you too mom. I love you so much."
Mobil ambulan berjalan memasuki kawasan RS Mitra Harapan. Dokter Lisa tampak sudah siap di depan pintu IGD menunggu kedatangan Sita.
Mobil ambulan terparkir tepat di depan pintu IGD. Rama turun terlebih dahulu dengan menggendong Kai lalu Sita dibantu oleh petugas medis. Rama pun mendekat ke arah Sita dan menggenggam tangan Sita. Sedangkan Kai ikut mendorong brankar menuju ruang persalinan.
TBC
__ADS_1