
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Sir Ernest Felix Alexander pun tiba. Dia sungguh merasa tidak sabar mengetahui hasil dari tes DNA yang dilakukan.
" Jer… mana hasilnya. Apa kau sudah membacanya?"
" Belum tuan… aku merasa itu adalah hak tuan untuk membukanya."
Ernest mengangguk, ia bangga kepada anak didikannya ini. Jerry selalu bisa menempatkan dirinya dengan baik.
Jantung Ernest berdetak sangat kencang saat menerima amplop hasil tes dari laboratorium.
Ia membukanya perlahan. Dalam hatinya sungguh meminta semua yang ia prasangka kan benar adanya. Jika memang seperti yang diharapkan maka ia akan meninggalkan dunia ini dengan tenang.
99.99% cocok. Hubungan ayah dan anak.
Bruk….
Ernest tertunduk lemas. Jerry begitu terkejut melihat tuannya jatuh ke lantai. Ia pun memapah Ernest untuk bangkit dan duduk di kursi.
" Betul Jer… Aku memang betul. Dugaan ku benar. Dia putriku bersama Camelia. Aku tidak akan salah. Ya Tuhan…mengapa harus sampai puluhan tahun untuk mengetahuinya."
" Selamat tuan… akhirnya anda menemukan nona muda."
Jerry ikut bahagia melihat wajah kelegaan dari sang tuan. Selama puluhan tahun ini Ernest selalu mencari tentang semua hal yang berhubungan dengan istrinya. Namun hasilnya selalu nihil, padahal dia bahkan menggunakan orang yang ahli di bidangnya namun sama sekali tidak ada titi temu.
Hingga suatu hari saat dia berkunjung ke negara ini Ernest melihat Sita di sebuah taman. Ia bagai melihat Camelia muda. Wajahnya amat mirip dengan istri yang dicarinya itu.
" Tapi Jer… jika putriku dibesarkan di panti asuhan lalu dimana keberadaan Camelia. Sedangkan keluarga Wijatmiko sudah tidak ada sama sekali setelah kebakaran hebat waktu itu. Jer… lekas cari tahu dimana panti asuhan tempat putriku dibesarkan."
" Baik tuan akan saya laksanakan hari ini juga."
Jerry membungkuk hormat lalu pergi dari kamar Ernest.
Ernest membuka dompetnya lagi, ia mengusap foto Camelia yang tidak pernah terlepas dari sana.
" Sayang… aku menemukan putri kita.. Dia sungguh sangat cantik sama seperti mu saat kita bertemu dulu. Terlebih mata hazel itu, persis sama seperti milikmu. Mata hazel yang membuatku jatuh cinta padamu. Maafkan aku sayang… aku benar benar terlambat. Aku terlambat menemukan putri kita. Andai aku datang lebih cepat dia tidak akan menderita. Beruntung sekarang dia sudah bahagia. Kita bahkan memiliki cucu yang sangat tampan, dan satu lagi sayang… matanya mewarisi mata milikmu. Mata hazel yang sungguh cantik."
Ernest mencium foto Camelia. Air matanya bercucuran, antara sedih dan bahagia menjadi satu. Sedih karena dia belum tahu dimana istrinya itu saat ini dan bahagia karena telah menemukan putrinya.
Rasa sesal memenuhi hatinya saat ini. Jika waktu bisa diputar, ia tidak akan pernah meninggalkan Camelia sendirian.
Sebagai seorang jenderal militer Ernest memang harus siap jika ada tugas negara. Waktu itu dia mendapat panggilan tugas membawa pasukannya membantu negara tetangga yang tengah berkonflik. Ia meninggalkan Camelia yang baru saja dinyatakan hamil.
__ADS_1
Ernest sempat ingin menolak karena ia kasihan terhadap istrinya yang mengalami morning sicknes parah. Namun Camilia mencegahnya.
" Jangan sayang, ini adalah tugas mulia. Misi kemanusiaan. Aku dan bayi kita akan selalu mendukungmu."
" Tapi kau sedang begini, aku sungguh tidak tega meninggalkanmu."
" Kan masih ada maid yang membantuku di rumah ini."
" Apakah kau yakin tidak apa apa ku tinggal?"
" Yakin sayang sangat yakin."
" Baiklah,,, kau harus selalu sehat. Hanya 3 bulan aku pergi. Tunggu aku kembali."
Ternyata Ernest pergi lebih dari 3 bulan melainkan sampai 6 bulan lamanya.
Waktu kepulangan telah tiba. Ernest begitu senang namun kenyataannya sangat berbeda. camelia tidak berada di rumah bahkan maid yang menemani Camelia juga tidak ada di sana.
Ernest mencari Camelia seperti orang kehilangan akal namun nihil ia tidak pernah menemukan keberadaan Camelia. Sesungguhnya di kediaman seorang jendral pastilah ada penjaga nya namun penjaga yang dite.patkan Ernest juga menghilang tanpa jejak.
Hingga lima tahun pencariannya, sama sekali tidak membuahkan hasil. Seperti ada pihak yang sengaja menutupi. Hingga akhirnya orang tua Ernest memintanya menikah lagi dengan wanita pilihan orang tuanya.
Di negaranya Ernest memiliki seorang Istri yang bernama Pamela Rosie Antonio dan memiliki 2 orang anak yang bernama Gabriella Esterina Alexander dan Gilbert Orlando Alexander.
🍀🍀🍀
Sita tengah berada di rumah bersama ketiga buah hatinya. Akhza, Abra, dan Ana sedang sibuk melakukan kegiatan masing masing. Ketiga nya sesaat lupa kepada abangnya lebih tepatnya sebenarnya mereka tengah sibuk melakukan sesuatu hal untuk ditunjukkan kepada abangnya saat pulang nanti.
Akhza sedang bermain komputer yang sebenarnya ia sedang belajar untuk membuat program program komputer yang pernah diajarkan Kai. Saat ini Akhza tengah membuat sebuah keamanan di rumahnya agar jika ada orang yang tidak dikenal datang akan muncul tanda di ponsel miliknya. Karena cctv rumah terhubung langsung ke ponselnya.
Abra juga tengah mencoba meretas cctv milik sekolahnya. Ia ingin mengetahui siapakah yang membully teman-teman di sekolahnya sedangkan Ana, Ana lebih sibuk belajar membuat alat alat yang ia yakini bisa menjadi senjata pelindung untuk bisa digunakan olehnya dan kedua kakaknya dari penjahat.
Sita sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan oleh anak anaknya karena setiap ia melihat maka tampilan komputer mereka adalah game atau channel youtube.
Akhirnya Sita memilih pergi ke dapur untuk memasak. Semenjak fokus di rumah mengurus anak anak, hobi baru Sita adalah membuat makanan.
Hal tersebut disukai oleh anak anak dan juga suaminya.
Greb…
Sita dipeluk dari belakang. Ia pun tersenyum karena ia tahu siapa yang melakukannya.
__ADS_1
" Mas…"
" Hmmm…"
" Kok pulang, Kai sama siapa?"
" Tadi Dani datang bersama istrinya. Aku meminta dia yang menjaga Kai dulu karena ada beberapa hal di perusahaan yang harus di urus."
Rama menghirup aroma Sita dalam dalam. Ia menciumi tengkuk Sita dan Sita membiarkan suaminya melakukan itu semua. Lambat laun pelukan Rama berubah menjadi usapan dan remasan lembut di benda kenyal Sita. Membuat Sita memekik.
" Mas… stop jangan disini nanti kelihatan anak anak."
Rama mendengus lalu langsung menggendong Sita ala bridal style dan membawanya ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Rama merebahkan Sita di ranjang lalu berlari untuk mengunci pintu. Ia kemudian mengungkung Sita. Melihat mata hazel cantik istrinya itu. Sesaat ia ingat ucapan Kai bahwa besar kemungkinan Sir Alexander yang kemarin menculik Sita adalah ayah kandung Sita.
Rama lalu meraup bibir istrinya itu dna melumaatnya perlahan. Perasaan Rama carut marut. Sita menyadari ada yang tidak beres dengan ciuman suaminya tersebut.
" Mas… apa yang mengganggu pikiranmu hmmm"
Tes .. Tiba tiba air mata Rama keluar menetes membasahi wajah Sita. Sita bangkit dari posisi tidurnya lalu memeluk suaminya dengan erat.
" Kenapa mas."
" Entahlah… hanya saja aku tidak bisa jika harus kehilanganmu dan Kai."
" Kenapa mas tiba tiba ngomong kayak gitu. Mas apapun yang terjadi kami tidak akan meninggalkanmu. Jangan berpikir yang bukan bukan. Raden Rama Hadyan Joyodiningrat adalah suami Arsita Ayuningrum dan ayah Kai Bhumi Abinawa."
Rama merasa tenang mendengar ucapan Sita. Ia kembali merengkuh Sita dan melahap bibir Sita dengan rakus. Kali ini lebih rasanya berbeda dengan yang tadi. Rama lebih bersemangat.
Ciuman Rama lebih menuntut, ia bahkan sudah membuka baju Sita. Lalu membuangnya ke sembarang arah.
" Mas…." Sita melenguh saat bibir dan lidah Rama bermain di benda kenyalnya. Ia selalu bisa melayang dengan perlakuan Rama. Rama menciumi setiap inci tubuh Sita hingga kebagian favoritnya.
Merasa sudah siap Rama melakukan aksi intinya. Ia menggerakkan seluruh kekuatannya untuk memanjakan istrinya. Menyalurkan rasa rindu dan takut kehilangan yang tiba tiba hadir di hatinya.
" Akh…." Keduanya memekik saat sampai pada puncaknya. Peluh keduanya bercucuran. Rama ambruk di sebelah sang istri.
" Terima Kasih sayang. Entah apa yang akan terjadi aku tidak akan pernah melepas mu. Aku mencintaimu istriku."
TBC
__ADS_1
Hiya.... holaa readers... Sudah 3 bab nih. Ayook jangan lupa like nya ya. Othor tunggu saweran readers hehehe. Untuk silent readers... Please... tinggalin jejak ya, meski hanya sekedar like. Like readers adalah apresiasi yang sangat berarti buat Othor.
Terimakasih dan Matursuwun untuk dukungan readers setia othor.