Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
86. Penyesalan Adipati


__ADS_3

Rama masuk ke kamar hotel bersama dengan Kai yang membawa beberapa pesanan makanan milik Sita.


Kedua pria berbeda usia itu langsung mendaratkan tubuh mereka di sofa.


"Kenapa?" Tanya Sita


"Capek…" Jawab Kai dan Rama bersamaan.


"Maaf…." 


Sita ikut duduk di sofa dan meminta maaf, ia meras karena dia yang banyak minta ini itu membuat kedua pria itu kecapek an.


Melihat Sita yang muram dan matanya yang sudah mulai mendung Rama dengan sigap menegakkan punggung dan langsung menampilkan senyum yang paling manis. Begitu juga dengan Kai, ia yang menyadari sang mommy begitu sensitif langsung beranjak dari sofa dan memeluk Sita.


"Mom, nggak salah. Kita nggak pa pa ya kan yah?"


"Iya sayang kita nggak pa pa. Tadi kita dikejar kejar ODGJ jadi kita lari kenceng. Makanya kita capek,  Bukan begitu boy?" Ucap Rama sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kai mengangguk dan menyunggingkan senyum tipisnya.


Hahahah bisa aja kau Yah mencari alasan agar mommy percaya, baiklah kali ini aku akan mendukungmu, batin Kai.


"Ya udah sekarang kita lihat apa pesanan mommy kita tersayang." 


Rama mulai membuka kantong plastik dan membukanya satu persatu lalu mengeluarkan isinya.


Sita melihatnya dengan mata berbinar, ia pun mengambil beberapa piring.


"Ini ada selat solo, pecel, serabi notosuman, timlo, bakso juga, aah tadi mas juga beli wedang ronde. Kamu mau yang mana."


"Ehmmm… Aku pengen cobain semuanya, boleh." Ucap Sita dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.


Rama amat sangat gemas melihat tingkah istrinya itu, ia pun pasrah dan mengangguk mengiyakan.


Dan benar saja Sita mulai mencicipinya satu persatu, jika dirasa ia suka maka ia akan memakannya hingga habis. 


" Mas,.... Tadi Roni telpon. Katanya kamu nggak ngabarin dia. Dia nyariin tuh."


"Astagfirullaah… Aseli… mas lupa ngabarin Roni sayang. Bentar ya aku mau telpon dia dulu."


Sita mengangguk, lalu Rama menuju ke balkon untuk berbicara dengan Roni.


"Hallo Ron… assalamualaikum."


"Waalaikumsalam… alhamdulillah bos kalau masih inget aku."

__ADS_1


"Haish… sorry sorry, aku beneran lupa ngabarin kamu. Gimana semua amankan?"


" Insya Allah aman bos."


"Good. Paling aku di sini semingguan Ron, kalau kakek ku itu sadar lebih awal aku bisa lebih cepet pulangnya."


"Siap bos."


"Ya udah kalau gitu kumatikan, ayah telepon nih."


Rama mematikan sambungan telepon dengan Roni dan mengangkat telpon dari ayahnya.


" Halo yah… eh… ya … baik… kami akan segera ke rs."


Rama kembali mematikan ponselnya dan menghampiri Sita juga Kai.


"Sudah selesai makannya? Ayo kita harus segera ke rumah sakit."


"Ada apa mas?"


"Katanya kakek sudah sadar."


"alhamdulillah."


Ketiganya bergegas dan langsung menuju ke rumah sakit.


Di ruang ICU, Adipati tengah oleh dokter. Hardi dan Ayu merasa lega. Setelah 2 hari pasca operasi akhirnya Adipati sadar juga.


"Silahkan tuan kalau mau menemui pasien, tapi jangan diajak banyak berbincang dulu ya."


Hardi mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Ia kemudian masuk ke ruangan ICU lalu duduk di sebelah hospital bed dan meraih tangan keriput sang bapak. Tiba tiba air mata Hardi luruh namun secepatnya ia menghapusnya.


"Pak, kulo Hardi pak.( saya Hardi)"


Adipati mengangguk merespon ucapan Hardi. Ia melihat wajah putrinya itu. Putra yang selalu dibencinya namun sesungguhnya yang selalu dicintainya.


"Kulo Ayu pak, bapak enggal sehat njih (aya Ayu pak, bapak segera sembuh ya)."


Kini Adipati menatap Ayu, air mata kakek tua itu mengalir dengan sendirinya.


"Ma-af." 


Sebuah gerakan bibir yang tidak bisa di dengar namun masih bisa dilihat itu menyiratkan sebuah penyesalan.


"Sudah pak, Ayu sudah memaafkan bapak jauh sebelum ini. Yang penting bapak harus sehat kembali."

__ADS_1


Adipati mengangguk, Ayu pun tak kuat menahan tangis. Ia menyentuh tangan keriput itu lalu menciumnya menunjukkan bakti. Adipati menggerakkan tangannya dan mengusap kepala menantunya itu. Menantu yang dulu ia sangat benci dan bahkan sempat ingin ia lenyapkan.


Ayu tergugu, setelah puluhan tahun akhirnya ia mendapatkan restu yang sebenarnya restu.


Rama, Sita dan juga Kai pun sampai di sana dan langsung masuk. Adipati kembali meneteskan air matanya melihat cucunya kini sudah tumbuh menjadi pria kuat yang gagah.


"Pak, ini cucumu, Rama. Dia disini bersama istri dan anaknya."


Adipati kembali mengangguk, ia sangat bersyukur cucunya itu tidak membencinya setelah apa yang sudah diperbuat di masa lampau dan kemarin itu.


Rama paham tatapan mata sang kakek.


"Tidak apa apa kek, semua sudah berlalu. Yang penting kakek harus sehat dulu, biar bisa ketemu sama cicit kakek. Istriku sedang hamil kembar 3. Jadi kakak harus sehat biar bisa kuat gendong mereka nanti." 


Adipati lagi lagi mengangguk dan tersenyum. Rasanya ia pun ingin berbicara banyak namun tidaklah bisa karena kemampuannya berbicara masib lemah pasca operasi.


Rama juga mengenalkan Kai sebagai putranya dna Adipati tampak senang.


"C-cah p-pinter."


Kata itulah yang keluar dari gerak mulut Adipati saat melihat Kai. Aura kepintaran dan kewibawaan begitu terlihat di sana.


Anak ini sungguh luar biasa, aura kepemimpinannya begitu kuat, cerdas dan sangat luar biasa, jika berada di medan perang musuh bisa merasa terintimidasi dengan tatapan tajamnya namun ia juga terlihat begitu lembut terhadap orang yang dikasihinya, Adipati hanya bisa berbicara dalam hati saat melihat Kai. Ia tidak mampu mengucapkannya.


"Hallo kakek buyut, semoga kakek buyut segera sehat ya."


Giliran Kai yang menyapa Adipati dan Adipati merespon dengan anggukan kepala.


Alhamdulillah akhirnya kakek tua ini menyadari kesalahannya, jika tidak aku akan terus membuatnya tersadar, batin Kai.


Namun sebenarnya Kai sudah kembali menyerahkan beberapa bukti kejahatan yang dilakukan anak cucu Adipati yang lain. Bahkan saat ini Priyo tengah sibuk mengurusi hal tersebut.


Beberapa saat setelah mereka berbincang di runag ICU akhirnya mereka semua keluar agar Adipati bisa beristirahat.


"Astagfirullaah,... Ini apa." Hardi nampak terkejut melihat banyaknya berita mengenai keluarganya di sosial media.


"Ada apa yah?" 


Hardi menyerahkan ponselnya agar bisa dilihat oleh Rama. Melihat semua berita buruk itu Rama sejenak terdiam lalu membuang nafasnya kasar.


"Hal ini sungguh tidak biasa, mengapa bisa secepat ini terungkapnya. Dan kejadiannya berurutan sekali. Lalu dari mana semua bukti tersebut didapat dan siapa yang sudah menyerahkannya, karena pihak berwajib pasti tidak mudah menguak kasus ini secepat itu.'


Rama merasa ada sesuatu yang janggal di sini. Beberapa kejadian ini tampak beruntun. Semua terjadi setelah Rama kehilangan investasinya, lalu tiba tiba Adipati syok karena paman dan sepupunya Rama berbuat hal yang melanggar hukum. Kemudian sebuah pengawalan ketat di kota S ini pun, pesawat pribadi, semua ini pasti berhubungan.


Rama sejenak melirik putranya. Kai tampak sangat tenang bermain tabletnya layaknya bocah pada umumnya.

__ADS_1


"Mungkin aku harus menanyai putra jenius ku itu. Aku merasa dia mengetahui banyak hal ketimbang."


TBC


__ADS_2