Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
80. Hancurnya Sebuah Keangkuhan


__ADS_3

Pagi hari Rama tidak menemukan istrinya disampingnya, biasanya Sita akan membangunkannya sholat subuh, namun kali ini tidak. Rama pun bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi dan melakukan kewajibannya.


Setelah selesai aktivitas paginya Ram turun mencari Sita karena dia tidak menemukan Sita di kamar Kai.


"No Yah, mommy not here." Itulah jawab Kai saat Rama menanyakan Sita.


"Kemana dia pagi pagi begini.


Kluntang kluntang ….


Terdengar suara benda benda dapur yang membuat Rama penasaran siapa yang tengah membuat kekacauan sepagi ini.


" Sayang, kamu ngapain pagi pagi gini udah di dapur."


"Eh mas, maaf lupa ngebangunin kamu. Aku lagi bikin nasi goreng mas, laper."


Rama melongo mendengar pernyataan sangg istri, pasalnya lewat tengah malam tadi dia baru saja menghabiskan seporsi sate dengan 3 lontong dan ini baru saja kelar subuh dia sudah lapar lagi. Fix Rama harus membawa Sita ke dokter. 


Ia pun merogoh kantongnya dan mencari nama Adit untuk meminta izin agar Sita libur hari ini.


"Hallo assalamualaikum."


"Waalaikumsalam mas… kenapa sih pagi pagi udah nelpon."


"Siang ini, telat nanti subuhnya."


"Iya iya bawel, kenapa?"


"Hari ini Sita izin ya,aku mau bawa dia cek up."


"Oke brother. Siap apa sih yang nggak buat brother mah."


"Siiip"


Rama mematikan ponselnya dan mendekati Sita yang tengah menyajikan nasi goreng di wadah.


"Kayaknya enak nih." Goda Rama.


"Enak dong, laper kan makan yuk."


" Nggak usah kamu aja, oh iya tadi aku minta izin Adit buat kamu  libur sehari. Kita akan ke dokter."


"Lho kenapa, aku kan nggak sakit."


"Nggak pa pa, buta cek up aja."


Sita mengangguk paham lalu melanjutkan aktivitas makannya. Kai pun turun dan menyambangi Rama dan Sita.


"Baby, come here, let's have breakfast with mommy."


"Mom, ini masih jam 5. Aku nanti saja."


"Ooh oke baby."


Kai memandang Rama, ia pun sedikit merasa aneh dengan mommy nya.


"Yah, what happened. Tumben mommy jam segini udah sarapan. Memang semalam nggak makan ya." Bisik Kai ditelinga Rama.

__ADS_1


"Mungkin Mommy mu memang butuh asupan yang banyak." Jawab Rama yang ikutan berbisik. Kai hanya mengangguk mendengar jawaban Rama.


"Oh ya mas ke rs Jam berapa?"


"Pagi aja jam 7 an, Kai ikut ya. Kita sama sama antar mommy cek up."


"Siap boss!!"


Sita tersenyum bahagia, rasanya hal ini merupakan sebuah anugerah untuknya. Ia sama sekali tidak menyangka akan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Tes…. 


Tiba Tiba kristal bening itu meluncur dari pelupuk mata Sita.


"Mom, are you crying?"


" No baby, mommy is thouced."


Kai pun mendekat ke arah Sita dan memeluknya. Sita membalas pelukna Kai lalu mencium pucuk kepala putranya itu. Rama yang melihat peristiwa itu malah menjadi semakin yakin kalau kecebongnya berhasil, karena Sita terlihat lebih sensitif dari sebelumnya.


🍀🍀🍀


Diseberang sana, tepatnya di kota S Adipati Joyodiningrat begitu geram karena apa yang direncanakan tidak berhasil. Bahkan beberapa bisnisnya menjadi runyam dalam waktu semalam.


"Brengsek…. Kenapa ini… kenapa begini. Kenapa bocah tengik itu santai santai saja. Kenapa dia tidak datang memohon bersujud  kepadaku?!"


"M-ma-maf ndoro, mereka berhasil mendapatkan investor baru dalam waktu sehari semalam saja. Sekarang tambang yang kemarin off sudah kembali berjalan lagi." Lapor Priyo.


"Apa… sialan… Brengsek… kenapa bisa?? Dari mana bocah  itu mendapat uang sebanyak itu dalam sehari semalam saja!?"


"Baiklah Pri, sekarang aku mau tau hasil perkebunan sawit kita. Apakah masih aman?"


Priyo menunduk, pasalnya baru tadi pagi ia mendapat laporan bahwa anak dari Adipati yang memegang perkebunan Sawit itu terjerat perjudian dan penyelundupan narkoba sehingga membuat para pemesan membatalkan pesanannya dan beralih ke JD Agro Industry.


"Kenapa Pri. Kenapa kamu diam saja."


" Anu ndoro itu, Den Projo terlibat perjudian berskala besar dan penyelundupan narkoba. Beliau sekarang sedang diperiksa di kantor polisi. Dan karena itu para konsumen membatalkan pesanan mereka lalu beralih ke JD Agro Industry."


"Apa… iki opo meneh, kok isoh koyo ngene ki piye to yo ( ini apa lagi, kok bisa kayak gini gimana ini)."


"Maaf ndoro, saya baru dapat laporan tadi pagi."


"Oalaah gusti, salahku opo siih."


Salah panjenengan banyak ndoro, apa ndoro tidak ingat apa yang ndoro lakukan ke Den Hardi beserta anak dan istrinya. Dan baru kemarin ndoro ingin menjatuhkan lagi keluarga mereka, batin Priyo.


Seseorang datang dan berbisik kepada Priyo. Wajah Priyo berubah pucat mendengarkan laporan dari orang tersebut.


"Ndoro…"


"Opo meneh Pri (apa lagi pri)?"


"Anu ndoro, itu. Den ayu Ningrum putri dari Den Tedjo ditangkap polisi karena pesta s*x dan narkoba. Huft… lalu denmas Ari putra dari Den Tjocko sekarang buron karena memperk*sa teman kampusnya."


Jeglek… Duaaar…


Seperti disambar petir siang hari mendengar kejadian buruk yang beruntun itu. Adipati semakin kehilangan nafasnya, kepalanya terasa semakin berat.

__ADS_1


Bruk….


Tubuh tua itu terjatuh di lantai dan membuat panik seluruh isi pendopo. Priyo yang berada tepat di depan Adipati tak dapat menangkap tubuh tua itu dengan cepat priyo pun berteriak kencang memanggil supir untuk menyiapkan mobil. Mereka langsung membawa Adipati ke Rumah Sakit. Di perjalanan Adipati sudah tidak sadarkan diri, denyut nadinya mulau melemah.


"Cepet… Sek banter."


"Njih…"


Priyo sangat panik, ia bingung harus menghubungi siapa saat ini. Pasalnya anak anak Adipati itu sebenarnya sangatlah egois. Terlihat dengan jarangnya mereka mengunjungi satu satunya orang tua yang mereka miliki itu bahkan terlihat saat mereka masih muda. Sedangkan yang berbakti malah dimusuhi oleh Adipati sendiri hanya karena memilih cinta nya sendiri.


Sampai Rumah Sakit, Adipati langsung dibawa ke ruang penanganan. Sungguh Priyo sangat bingung.


"Apakah aku harus menghubungi Den Hardi. Tapi… "


Priyo ragu, padahal tangannya sudah memegang ponsel namun ia memasukkan kembali ponselnya kembali ke saku saat dokter keluar dari ruang gawat darurat.


"Dengan keluarga pasien?"


"Bagaimanakah keadaan nya."


"Ada pendarahan di otak dan harus segera dioperasi. Kami membutuhkan persetujuan keluarga pasien secepatnya jika terlambat akan berakibat fatal pada pasien mengingat usia yang sudah tua."


Penjelasan dokter membuat priyo kesulitan menelan salivanya sendiri. Saat ini harapan satu satunya hanya Hardi. 


"Baik dok, saya akan menghubungi keluarga pasien sekarang juga."


Dokter mengangguk dan kembali ke ruangan tindakan.


Kring….. Kring…… Kring….


"Hallo, maaf siapa ya."


"Den… ini saya den." Priyo tidak bisa membendung tangisnya mendengar suara Hardi.


"Mas Priyo, kau kah itu."


"Injiih Den… ini Priyo."


" Ono opo Mas, sudah lama tidak berhubungan tiba tiba mas nelpon."


"Itu den, maaf. Bapak.. Maksud saya Ndoro masuk rumah sakit den. Harus dioperasi butuh persetujuan den Hardi."


"Apa… bapak masuk rumah sakit, di operasi. Baik bilang aku setuju. Hari ini juga aku akan ke sana."


Tut… telpon dimatikan. Hardi jatuh di ranjang miliknya, kakinya sangat lemas tubuhnya begitu gemetar. Bagaimanapun itu adalah bapaknya. Mendengar bapaknya di RS membuat separuh jiwanya seperti hilang.


"Mas… mas… mas kenapa."


Ayu terkejut melihat suaminya yang terlihat syok.


"Bapak yu… bapak di rumah sakit. Kita pulang ya Yu. Kamu mau kan."


"Iya mas Ayu mau."


Ayu memeluk tubuh lemah suaminya, Ayu sangat tahu betapa sayangnya suaminya itu kepada Ayahnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2