Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
73. Hukuman Menyakitkan


__ADS_3

Hay readers, maaf sedikit promo. Mampir yuk di karya terbaru aku yang judulnya, DOKTER DIKA's WIFE IS QUEEN MAFIA"


sinopsis: Silvya Bellona Linford karena kematian saudara kembarnya Zion Austin Linford membuatnya bergabung di organisasi mafia saat usianya masih 17 tahun.  Gadis yang cakap dalam ilmu beladiri selalu dapat membuat barang buruannya kalah telak.


Namun karena sebuah penghianatan, Silvya mengalami kecelakaan tragis dan membuatnya bertemu bahkan menikah dengan Dokter Radika Tara Dwilaga atau biasa dipanggil Dokter Dika. Dokter yang terkenal dingin dan datar.


Untuk Bab 1 langsung cus kesana ya. Jangan lupa dukung otor dengan like, komen, dan sawerannya. Terimakasih. Maturnuwun sanget. 


Monggo silahkan dilanjut bacanya


...****************...


Dani yang tersungkur lunglai tidak berdaya di ruangan Sita langsung dipapah oleh Anton keluar dari JD Grub dan kemudian diantar ke kediaman Wira.


Sedangkan kembar 4 entah apa yang mera rasakan saat ini. Bingung dan panik, mungkin dua kata itulah yang paling mewakili.


"Guys, kalian tadi lihat pak Rama nggak yang tiba-tiba meluk bu Sita. Dan kalian dengar nggak kalau pak Rama ngomong doi adalah suami bu Sita." Ucap Desi antusias.


Ketiga temannya itu mengangguk, membenarkan ucapan Desi.


"Oh my God, berarti bu Sita adalah nyonya bos nomor wahid JD Grub." Imbuh Anjar.


"Gila gila gila, pantesan aja nih ya pka Adit itu kayak baik banget sama bu Sita." Desi mengingat-ingat perlakuan Adit kepada Sita.


"Hahahahah….. " Lia tertawa dengan nada kepuasan. Ketiga temannya heran karena dari tadi dia diam saja dan tiba tiba tertawa terbahak.


"Woi Lia kamu kenapa." Tanya Iman.


"Enggak aku hepi aja. Bayangin ya kalau para mulut netijen kantor ini tau siapa Bu Sita yang selalu mereka gosipin, selalu mereka jelek jelekin adalah istri big bos. Apa yang akan terjadi dengan mereka. Mereka semua pasti kicep dan menjilat ludahnya kembali. Mereka pasti akan bersikap sok baik." Jelas Lia.


Desi, Anjar, dan Iman mengangguk setuju dengan ucapan Lia.


"Ya sudah yang penting kita berdoa agar bu Sita nggak kenapa napa." Ucap iman.

__ADS_1


"Aamiin." Mereka berucap serempak.


🍀🍀🍀


Akhirnya Anton sampai di kediaman Wira juga. Ia kemudian membuka pintu mobil lalu memapah Dani berjalan memasuki rumah. Beruntung pintu rumah terbuka jadi Anton tidak repot untuk mengetuknya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Wira dan Laila tampak terkejut melihat putranya yang begitu berantakan.


"An, ada apa ini." Tanya Laila sembari duduk di dekat Dani. "Dan, ada apa. Kenapa kamu begini?" Laila kembali bertanya namun sekarang kepada Dani.


Dani bungkam dan terus menunduk sambil berurai air mata. Laila dan Wira saling pandang lalu keduanya menatap Anton meminta penjelasan.


Anton yang sudah paham maksud tatapan itu pun akhirnya mulai bercerita.


"Kemarin tuan Dani mengirimi Bu Sita bunga Lili. Tapi mungkin karena banyak sama Bu Sita dikembalikan. Terus tuan Dani mendatangi kantor JD Advertising. Nah bu Sita dna tuan Dani terlibat pembicaraan. Tiba tiba seorang pria yang bernama Rama datang mengatakan bahwa dia suami bu Sita. Terus tuan dna Bu Sita kembali berbicara, namun tiba tiba bu Sita pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit."


"Baiklah An, kamu kembalilah ke perusahaan. Handle dulu di sana."


"Baik tuan besar, saya permisi."


Sepeninggalnya Anton dari rumah itu, semuanya terdiam. Wira dan Laila memilih diam menunggu Dani untuk berbicara terlebih dahulu.


"Hiks...hiks...hiks…" Tangis Dani terdengar begitu jelas.


"Hah….. Sudah Dan. Mau sampai kapan kamu mau nangis begitu." Wira membuang nafasnya kasar. 


Dani bungkam, ia masih larut dengan dirinya sendiri.


"Percuma kamu mau nangis sehari semalam pun tidak akan merubah keadaan. Tidak akan membuat Sita kembali padamu. Tidak akan membuat Rama meninggalkan Sita, karena papa tahu Rama sangat mencintai Sita."

__ADS_1


Mendengar kalimat sang papa membuat Dani mengangkat wajahnya.


"Kenapa papa bilang begitu, mengapa papa tahu tentang pria itu?"


"Huft… apa kamu beneran tidak tahu siapa Rama? Rama putra Hardi Joyodiningrat. Dulu kita pernah ketemu dalam acara bisnis, dan kita pernah melakukan kerja sama dengan perusahaan mereka untuk waktu yang lumayan lama. Sekarang Rama menggantikan Hardi sebagai pemimpin JD Grup."


Dani mencoba mengingat siapa Rama. Ia memutar memorinya ke beberapa tahun silam saat ia masih menjadi asisten sang papa.


"Benar, pantas saja aku seperti familiar dengan pria itu. Tapi waktu itu dia tidak seperti sekarang. Penampilannya terkesan cuek, dan dia tidak pernah tampil di perusahaan."


"Memang benar, Rama dulu memang tidak mau atau lebih tepatnya belum mau memimpin perusahaan karena masih ingin main main dengan ketiga temannya yang lain. Asal kamu tau Dan ketiga temannya juga bukan orang sembarangan. Mereka adalah pemimpin William Diamond, pemimpin RS Textile Industry, dan yang satu adalah pemuda yang berhasil memiliki perusahaannya sendiri dan menamai gedungnya Star Building, dia cucu Dewantara."


Dani menelan salivanya kasar. Dia merasa bukan tandingan Rama. Bahkan circle Rama sama sekali tidak bisa ia sentuh.


"Dan yang paling penting, Rama adalah orang yang membantu Sita melahirkan."


"Maksud papa?"


"Ya Rama adalah orang yang mengantarkan Sita melahirkan, menemani di ruang persalinan, bahkan yang mengadzani dan memberi nama Kai adalah Rama. Kai Bhumi Abinawa, adalah nama pemberian Rama. Dan mungkin karena semua itulah Kai merasa nyaman dan mempunyai ikatan batin yang lebih kuat kepada Rama ketimbang dirimu meski kamu ayah biologisnya."


"Asal kamu tahu Dan, waktu itu sebelum Rama meninggalkan ruangan Sita saat melahirkan dia berkata bahwa dia siap menjadi ayah Kai jika ayah kandungnya tidak menginginkannya."


Duar…..


Kini Dani benar benar merasa sudah tidak punya harapan. Dia kalah, dia kalah karena ulahnya sendiri. Ingatanya berputar pada masa itu. Masa dia menolak Sita dan bayi yang bahkan masih dalam bentuk embrio. Menolak memberi nafkah karena hasutan Mauren. Bahkan ketika Sita pingsan dan dibawa ke rumah sakit pun dia sama sekali tidak peduli.


"Sudahlah Sita, aku sudah muak denganmu. Sebaiknya kita sudahi saja."


"Mulai sekarang apapun yang terjadi dengan Sita aku tidak mau tahu.  Jadi kau tidak usah lapor apa-apa mengenai Sita. Selesaikan administrasi rumah sakit dan antar pulang ke rumah barunya. Jangan ke rumah utama.


Dani tergugu, menangis tersedu sedu mengingat semua kejahatannya kepada istri yang begitu mencintainya. Jahat, kata itu memang sangat pas untuk melabeli dirinya.


Pantas saja selama ini aku bertemu dengan Kai, bocah itu tidak bereaksi apa apa terhadapku. Bahkan Allaah menghukumku dengan cara yang menyakitkan yakni darah dagingku sendiri tidak merasakan ikatan batin. 

__ADS_1


TBC


__ADS_2