
Seseorang tengah tertawa di balik jendela, ia tengah menikmati hujan sambil menghisap cerutu mahal miliknya. Eko Priambudi, memang selalu gemar mengoleksi dan menghisap cerutu. Koleksi cerutunya pun tak main-main. Salah satunya ialah yang sedang ia hisap sekarang, Cohiba Behike. Dikembangkan dengan campuran rahasia terbaik tembakau Kuba dari Pinar del Rio, vuelto Abajo. Cohiba Behike memiliki panjang 7,5 inci dan pertama kali ada di pasar pada tahun 2006. Perusahaan hanya memproduksi 100 batang cerutu merek ini. Memiliki harga: US$ 470 / Rp 5,4 juta.
Eko sungguh menikmati malam itu, rencananya sukses besar.
"Hahahaha, meskipun beritanya sudah diredam tapi aku sudah tau kalau bocah ingusan itu sekarang pasti sedang berada di antara hidup dan mati. Mengapa tidak dari dulu saja kulakukan. Memang lebih mudah cara seperti ini."
Fuuuuuuuh…..
Eko meniupkan asap cerutunya kelangit langit. Ia benar benar puas, ditambah perempuan yang ingin dia celakai juga berada di mobil yang sama dengan Rama.
"Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui… kamu memang cerdas Eko Priambudi. It's time to party!!"
Eko mematikan cerutunya lalu menuju klub favoritnya untuk merayakan keberhasilannya.
Di puncak Hardi dan Ayu sangat syok saat mengetahui bahwa Rama kecelakaan.
"Mas… ayo kita ke kota sekarang. Aku mau lihat Rama."
"Iyo iyo… tenang, ayo kita berangkat. Bentar tak manggil Pomo dulu."
Hardi memanggil pomo untuk menyiapkan mobil, sekaligus meminta Pomo untuk mengantarkan mereka berdua.
"Mo, sudah siap?"
"Sampun pakde, monggo."
Hardi dan Ayu memasuki mobil mereka berdoa sepanjang perjalanan agar Rama baik-baik saja.
Saat mendengar kabar kecelakaan Rama Hardi sangat terkejut, bahkan Ayu nyaris pingsan. Tapi Hardi berusaha menguatkan istrinya itu kalau putranya pasti tidak apa apa.
2 jam perjalanan ditempuh tidak sedikitpun membuat Hardi maupun Ayu memejamkan mata. Keduanya sibuk melantunkan doa dan ayat-ayat suci.
"Mas, bagaimana keadaan Rama yo?"
"Ora popo, sek penting kita terus berdoa. Minta sama Gusti Allaah.'
Ayu mengangguk, sementara hanya itu yang bisa dilakukan.
Ciiiit… mobil mereka pun menepi di parkiran rumah sakit Mitra Harapan. Hardi dan Ayu setengah berlari menuju pusat informasi dan menanyakan dimana letak putranya dirawat.
"Pasien atas nama Rama yang kecelakaan tadi pagi berada di ruang ICU pak, sebelah sana." Ucap petugas.
__ADS_1
Hardi mengangguk mengucapkan terimakasih dan menuju tempat yang diberitahu. Sampai di sana Hardi terkejut melihat bocah yang dia kenal begitu juga dengan Ayu.
"Lho le, ngapain kamu di sini?" Tanya Ayu sambil mendekat ke arah Kai. Bocah itu tampak murung, matanya sembab sangat kentara dia habis menangis. Ayu pun memeluk bocah kecil itu.
"Ada cah bagus, mengapa kamu di sini sendiri." Hardi ikut bertanya sembari mengusap kepala Kai. Sejenak mereka lupa tujuan mereka kesana karena teralihkan oleh bocah kecil itu.
"Eyang… mommy ku di dalam sana. Ayahku juga?"
"Apa nak Sita sakit!" Ayu terkejut mendengar penuturan Kai.
"Mommy dan Ayah tertabrak mobil."
Hardi dan Ayu mencerna perkataan bocah kecil itu.
"Bentar le, eyang bingung. Maksudmu mommy mu kecelakaan terus sekarang di ICU bersama ayahmu. Sejak kapan kamu punya ayah. Maaf bukan maksud eyang." Hardi merasa perkataannnya salah. Ayu menyenggol Hardi dengan keras.
Saat kedua orang tua itu tengah kebingungan munculah Adit dan Roni bersamaan. Mereka berdua terkejut melihat orang tua Rama di situ.
Hardi langsung berdiri memelototi kedua bocah itu. Roni dan Adit menunduk.
"Maaf pakde… Roni…."
Hardi hanya bisa membuang nafasnya kasar.
"Kenapa kalian berdua tidak mengabariku. Ini masalah nyawa. Saiki Rama kepiye keadaanya?" Hardi marah tapi nada bicaranya masih pelan ia tahu sedang berada di rumah sakit.
"Kata dokter sudah lewat masa kritisnya. Tapi masih perlu pemantauan." Jawab Roni.
"Alhamdulillah." Ucap Hardi dan Ayu bersamaan.
"Boy, ini makananmu makanlah dulu. Dari tadi kau belum makan apapun." Adit menyerahkan makanan dan minuman kepada Kai. Tapi bocah itu bergeming tidak merespon.
"Lho dit, kok kamu kenal sama Kai?" Tanya Ayu.
"Lho pakde dan bude tau Kai juga."
Mereka semua saling tatap dan saling bingung. Sedangkan Kai hanya diam ia masih tidak punya tenaga untuk berkata-kata atau menjelaskan.
"Begini pakde, ibunya Kai ini kecelakaan bersama bos Rama. Mereka semobil."
"Apa, jadi nak Sita dan Rama kecelakaan bareng? Mereka semobil. Jadi yang dipanggil ayah sama Kai itu Rama?" Hardi begitu terkejut dengan penjelasan Roni.
__ADS_1
Semua yang didengarkannya begitu membuat otaknya berpikir. Tapi dia menunda menanyakan itu.
"Terus kondisi nak Sita bagaimana?" Tanya Ayu.
Roni menunduk dan sedikit melirik Kai, Hardi yang paham pun segera menjauh menarik Roni.
" Itu pakde, cedera kepala bu Sita lumayan parah dan akibatnya bu Sita sekarang belum sadar kata dokter bu Sita koma."
"Astagfirullah." Hardi terhuyung mendengar pernyataan Roni. Ia kembali menatap Kai dari kejauhan. Ia sangat iba dengan bocah itu. Pantas saja bocah itu sangat lemas dan tidak bertenaga. Kai bocah cerdas dia pasti tau kondisi ibunya sekarang.
Hardi mendekati Kai, ia mengelus kepala Kai dengan sayang.
"Nak, makan dulu ya. Kamu nanti sakit." Bujuk Hardi.
"Eyang apakah mommy ku akan bangun nanti, hiks… hiks… hiks… eyang Kai takut. Lai takut mommy pergi." Bocah itu menangis. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah juga. Hardi merengkuh tubuh kecil itu dan mencium pucuk kepalanya.
Ayu, Adit, dna Roni ikut tergugu menyaksikan bocah yang biasanya tentang sekarang nampak rapuh. Ayu pun ikut menenangkan Kai.
"Mommy mu pasti bangun nak. Kai anak sholih sayang mommy kan? Jadi ayo doakan mommy. Minta sama Allaah agar mommy kai segera diberi kesadaran oleh Allaah."
Kai mengangguk mendengar ucapan Ayu. Kai membenarkan itu. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berdoa.
"Eyang putri, maukan eyang makan bersamaku." Pinta Kai.
Ayu mengangguk, dia lega karena bocah itu mau makan juga. Kelegaan itu juga terlihat di wajah Hardi, Roni, san Adit.
"Sayang… kapan Kai mengenal Ayah Rama." Tanya Ayu pelan pelan.
Hardi dan Ayu tidak bisa masuk keruangan rawat Rama maupun Sita karena mereka baru saja mendapat perawatan pasca operasi jadi mereka belum boleh dibesuk. Akhirnya mereka memilih duduk bersama Kai.
"Kalau kata Ayah Rama semenjak masih dalam perut mommy, Ayah Rama yang membantu Kai lahir di dunia ini. Ayah juga yang memberi nama Kai."
Duar…. Hardi dna Ayu terkejut keduanya saling pandang dan saling bertanya dalam hati. Tatapan mereka kemudian beralih ke Roni dan Adit. Keduanya menggeleng menandakan mereka pun tidak tahu sejarah Rama dan Sita seperti apa.
"Yah, apa jangan jangan Rama ini adalah pebinor?"
"Astagfirullaah bu, masa anak kita begitu. Tapi kenapa dia baru mengatakan punya pilihan sendiri baru baru ini."
Kedua orang tua itu dibuat bingung dengan cerita Kai. Membantu melahirkan, memberi nama bayi orang ,terus sekarang tiba-tiba menjadi ayah. Apa yang mereka melewatkan tentang putra mereka. Ayu tersenyum kikuk ke arah Kai sedangkan Hardi mengusap wajahnya kasar. Dia harus segera minta penjelasan dari Rama. Tapi kondisi Rama sungguh membuat kedua orang tua itu sangat sedih.
TBC
__ADS_1