
Seorang pria tua yang mempunyai kisaran umur sekitar 79 tahun itu tampak masih sehat. Ia tengah melatih pernapasannya di halaman rumahnya yang begitu luas didampingi para ajudannya dan asistennya.
Di usianya yang hendak menginjak angka 8 pria tua tersebut masih bisa melatih beberapa jurus silat andalannya.
"Hah, aku iseh roso jebule (aku masih kuat ternyata)."
"Injeh Gusti Adipati, panjenengan tasih kiat. (Iya Adipati, anda masih sangat kuat)." Ucap seorang asisten.
"Pri, bagaimana anak kurang ajar itu. Kapan kau akan bertindak?"
"Ikut perintah Tuan Adipati saja mau kapan sekiranya."
"Pancen bocah kurang ajar, bopo lan anak tunggal dene (memang anak kurang ajar, ayah dan anak sama saja). Dulu bapaknya nikahi perempuan yang tidak jelas. Sekarang anaknya juga menikah dengan wanita janda, sudah punya anak lagi."
Priyo, sang asisten atau lebih tepatnya orang kepercayaan Adipati Joyodiningrat itu hanya bisa diam mendengarkan setiap perkataan tuannya.
"Mau jadi apa nanti keturunanku, kabeh rusak gegoro kelakuan Hardi sek bangkang (semua rusak akibat kelakuan Hardi yang membangkang)."
"Terus apakah kita akan sesuai dengan rencana sebelumnya ndoro?"
" Ho oh, semua lakukan seperti yang sudah kita rencanakan. Aku ingin tahu bagaimana Hardi dan Rama mempertahankan JD Grub saat aku menyuruh salah satu dari orang yang selama ini menjadi investor tetap untuk menarik seluruh investasinya. Aku ingin kedua ayah dan anak itu datang memohon kepadaku."
Pria tua itu menyeringai licik. Sudah bertahun tahun bukannya menerima namun ia tetap ingin menghancurkan kehidupan anaknya dengan pasangan yang dipilihnya. Bahkan cucu nya sendiri pun tidak luput dari rencana jahatnya.
"Ndoro apa ini tidak keterlaluan?" Tanya Priyo segan.
" Apa? keterlaluan? Itu aku masih berbelas kasih. Jika aku keterlaluan aku akan melenyapkan perempuan yang tidak sederajat itu." Ucap Adipati Joyodiningrat angkuh.
Priyo hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu betul sikap angkuh dan arogan sang tuan.
Joyodiningrat pun berlalu memasuki pendopo rumahnya dan duduk di tempat duduknya. Ia meminum teh herbal kesukaannya yang masih sedikit panas.
Slurppp
"Ahhhh…. Enak tenan."
__ADS_1
Joyodiningrat menyandarkan punggungnya di kursi. Ia sedikit menerawang ke masa lalu. Masa dimana anak anaknya masih kecil.
Ia yang memiliki istri 3 maka juga mempunyai anak yang banyak. Salah satunya Hardi. Hardi adalah putra tertua dari istri pertamanya, Hardi semenjak kecil sudah ia gadang gadangkan untuk menduduki kursi kepemimpinan trah Joyodiningrat. Selain memiliki wajah tampan Hardi adalah anak yang cerdas, mudah bergaul, dan patuh.
Namun ketika dewasa cinta merubah segalanya, bahkan putra kesayangannya itu berani beraninya menikah dengan perempuan yang tidak setara dengan keluarganya. Itulah yang membuatnya sangat geram, marah, bahkan murka hingga ia tega menabrak putra dan menantunya sendiri.
"Sebaiknya kalian lenyap, itu akan lebih baik daripada mempermalukan nama Joyodiningrat." Itulah kalimat yang pernah diucapkannya saat menyuruh para anak buahnya mengejar Hardi dan Ayu di tengah malam.
Priyo yang melihat sang tuan melamun hanya diam. Ia tidak tahu persis apa yang tengah tuannya pikirkan. Yang ia tahu pasti Tuan Adipatinya itu beberapa bulan ini selalu membicarakan putra kesayangan. Tapi tetap dengan sebuah rencana untuk menghancurkan apa yang putranya bangun selama puluhan tahun. Dengan cara itu Adipati Joyodiningrat berharap Hardi akan kembali lagi ke keluarga Joyodiningrat.
🍀🍀🍀
Di tempat lain seseorang begitu sangat terpuruk. Ia hanya berada di kamar. Padahal hari sudah berganti minggu, namun sama sekali ia tidak beranjak dari kamarnya. Wira dan Laila dibuat pusing oleh tingkah putranya yang seperti anak ABG tidak diberi izin main.
"Tok...tok...tok… Dan, mau sampai kapan kamu seperti ini." Teriak Laila dari balik pintu.
"Dan, dengan mengurung diri didalam kamar tidak akan menyelesaikan masalah hatimu." Imbuh sang mama.
Dani tetap bergeming, dia sama sekali tidak merespon ucapan mama nya itu.
Laila menyerah, wanita paruh baya itu akhirnya pergi dari kamar putra semata wayangnya itu.
Di dalam kamar Dani kembali memandangi foto Sita. Sita muda begitu cantik, kulit yang putih, pipi sedikit chubby, rambut hitam ikal yang menawan, dan tentunya mata hazel yang begitu cantik.
"Ta, kamu dulu sangat cantik dan sekarang juga tambah cantik. Aku beneran bodoh ta. Meninggalkan berlian sepertimu. Andai waktu itu aku tidak tergoda mungkin kita sekarang hidup bahagia bertiga bersama putra kita, atau mungkin berempat atau bisa jadi berlima."
Selintas Dani tersenyum membayangkan khayalan indah itu tapi tiba tiba sekelebat bayangan Sita bersama Rama muncul. Rama yang memeluk Sita, lalu mencium bibir Sita dan berlanjut menyentuh semua tubuh Sita membuat Dani berteriak kesal.
"Argh…… kenapa, kenapa begini. Bangsat kau mauren.. Semua gara gara wanita sialan itu. Arghhhh!!!"
Dani melempar semua barang-barang yang ada di atas nakas samping tempat tidur dan membuatnya berantakan.
Setelah puas berteriak dan memberantakan kamar Dani tersungkur dan menangis kembali. Entah dari mana tenaga yang ia miliki padahal sudah 3 hari ini ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang diberikan mamanya.
Dogh…. Dogh… Dogh
__ADS_1
Wira menggedor kamar Dani dengan begitu keras. Sungguh dia begitu muak dengan tingkah Dani yang seperti bocah itu.
" Dan keluar, jangan seperti bocah. Jika kamu nggak mau keluar papa akan minta Anton mendobrak pintu kamarmu!!!"
"Dan, papa hitung sampai tiga. Satu, dua, ti…."
Ceklek
Dani membuka pintunya. Wajahnya begitu kusut. Bulu bulu halus muncul di wajahnya. Tangan Dani terlihat berdarah, tampaknya terkena barang yang ia lempar-lemparkan tadi.
Anton yang melihat kondisi bosnya itu tampak terkejut, ja merasa kasian. Namun berbeda dengan Wira, tuan besarnya itu terlihat biasa biasa saja. Bahkan saat melihat tangan sang putra berdarah Wira hanya melirik sekilas.
Wira berjalan menuju ruang kerjanya diikuti oleh Dani dan Anton.
"Duduk…. Sudah puas mengurung dirinya? Sudah puas menyesali perbuatan? Sudah puas mengakui kesalahan? Kamu itu Dan bukannya tobat yang bener malah ngurung diri di kamar nggak jelas begitu. Percuma Dan semua nggak akan balik lagi."
Dani terdiam, ia semakin menunduk. Untuk hal tersebut sebenarnya Dani tau persis.
"Coba tanyakan pada Anton selama 3 minggu ini apa yang terjadi dengna perusahaan. Kacau Dan, semuanya kacau."
Wira sedikit emosi. Ia sungguh sangat kecewa dengan sikap putranya yang kekanak-kanakan. Dani pun melihat ke arah Anton. Anton paham dan kemudian menjelaskan apa yang tengah terjadi di perusahaan.
"Kita butuh investor baru pah." Ucap Dani setelah mendengarkan penjelasan Anton.
Beberapa hari ini semenjak Dani tidak Memantau perusahaan ada seorang bagian keuangan yang melakukan penggelapan uang sehingga batang yang seharusnya awal bulan depan sudah bisa didistribusikan menjadi terhenti. Padahal Dani dipercaya oleh DCC dalam pengadaan perangkat komputer untuk lab bahasa di Dewantara International School.
" Ya sudah sana kamu cari, papa nggak mau tahu kamu harus dapat investor secepatnya."
Dani mengangguk paham lalu undur diri dari ruang kerja Wira diikuti oleh Anton. Ia berjalan menuju kamarnya dan membersihkan dirinya lalu berganti pakaian siap pergi ke perusahaan.
"Ayo An, waktunya kita bekerja."
Sudah cukup keterpurukan ini, jika kau teruskan hidupku akan hancur. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab terhadap kedua orang tuaku dna Kai. Aku harus tetap memberikan haknya sebagai seorang anak.
Dani membulatkan tekadnya, ia akan menebus kesalahannya dengan memberikan Kai hak nya. Bagaimanapun Kai nanti akan berhak terhadap Maja Elektronik juga sehingga Dani tidak akan membiarkan perusahaan itu jatuh.
__ADS_1
TBC