Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
95. Abang Kai Sakit #2


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Kai langsung ditangani di IGD. Pemeriksaan dan tes langsung  dilakukan. Sita dari tadi duduk dan berdiri melihat kedalam ruangan melalui celah kaca di pintu berharap melihat Kai yang tengah diperiksa.


"Sayang…. Duduklah. Jangan seperti itu nanti kamu capek."


" Mas… aku nggak pernah lihat Kai begini. Hiks… aku merasa bersalah dengan Kai."


"Jangan begitu, Kai tidak suka jika kita menyalahkan diri sendiri. Aku yakin Kai tidak apa apa. Dia anak yang kuat. Ok. Jadi berhentilah menangis dan berdoa yang terbaik.


Di sisi lain Roni hanya bisa diam saja melihat kekhawatiran nyonya bos nya. Ibu mana yang tidak khawatir melihat putranya sakit. Roni jadi teringat almarhum ibunya, dulu sang ibu sangat panik saat Roni kembali dari sekolah dengan lutut yang luka karena terjatuh dari sepeda. Roni hanya tersenyum miris mengingat semua itu.


Dokter Dika keluar dari ruang IGD setelah 1 jam lamanya di dalam.


"Dok… bagaimana keadaan Kai?"


" Tenang ibu, putra ibu sekarang masih kami observasi dan sambil menunggu hasil tes. Dari indikasi yang terlihat sepertinya Kai terkena tifus. Tapi kita akan terus pantau sambil menunggu hasil tes lab. Kami sudah memberi suntikan pinisilin untuk demamnya. Kalau saya lihat Kai ini kecapekan dan kurang tidur."


Sita mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama lalu mengucapkan terimakasih. Dokter Dika mengangguk dan kembali masuk ke ruangan.


"Mas… kenapa Kai kurang tidur? Aku lihat setelah sholat isya. Sekitar jam 8 dia pasti langsung masuk kamar. Dan setiap aku cek ke kamar dia pasti tengah tidur."


Huft… Sayang kau tidak tahu saja anakmu itu sungguh sibuk bekerja saat malam hari, mungkin beberapa hari ini dia sedang mengerjakan sesuatu hingga membuatnya begadang. Sepertinya malam ini tampaknya dia tidak tidur sama sekali, gumam Rama yang tentu saja diucapkan dalam hati.


"Mungkin Kai lagi banyak tugas di sekolah. Sudah jangan mikir yang aneh aneh, yang penting kita berdoa saja semoga Kai hanya kelelahan seperti yang dibilang dokter"


Sita mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rama.


" Apa bos kecil begadang karena aku. Jika benar. Astagfirullah gara gara aku bos kecil sakit. Ya Allaah tahu begini aku tidak akan minta bantuan bos kecil."


Roni yang duduk di ujung ruang tunggu hanya bisa menggigit kuku kuku jarinya. Menandakan ia sangat cemas dan khawatir. Sungguh ia merasa bersalah kepada Kai.


***


Kai sudah dipindahkan ke ruang rawat dan hasil lab nya sudah keluar. Dugaan dokter Dika 100% benar. Kai terkena tifus jadi harus dirawat intensif di rumah sakit. Rama memesan kamar vvip untuk Kai agar lebih nyaman dan agar Sita juga lebih nyaman jika menunggu Kai mengingat Sita tengah hamil.


Sita duduk di samping tempat tidur Kai, menggenggam tangan putranya itu dan membelai wajah sang putra. Sekali lagi Rama melihat, Kai benar benar kelemahan terbesar Sita sna Rama sangat maklum akan hal itu.


" Baby… sayang maafin mommy ya. Mommy selalu sibuk. Jarang bersama dengan Kai. Mommy benar benar minta maaf sampai kamu sakit begini."


"Ssst… jangan begini. Kalau dia bagun kamu masih menangis dia tidak akan suka. Menangis boleh tapi jangan berlarut larut. Nanti kamu disuruh pulang sama dia. Sayang kamu tahu betul sifat Kai bukan?"


Sita mengangguk lalu mengusap air matanya. Sungguh hatinya seakan hancur melihat putranya terbaring lemah dengan infus di tangannya.


"Sekarang makan dulu, ingat kamu juga punya 3 krucil di perutmu."


Sita tersenyum kecut dia hampir melupakan kehamilannya tadi. Ia mengusap perutnya dengan lembut dan meminta maaf dalam hati.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Tidak lama kemudian Kai terbangun. Ia menscan seluruh ruangan dan sejenak melihat tangannya.


Huft… benarkan harus berakhir di sini. Tempat yang bener bener aku sangat benci tapi tetep harus mencicipi juga. Rumah Sakit!!! I hate you, gumam Kai.


"Baby… kamu sudah bangun. Are you ok? Ada yang sakit. Kamu mau apa hmm."


"Mom, don't worry, I'm ok. Mom, are you crying because of me?"


" No baby, not because of you. Mommy just … Sad.. Yes…"


" Oh c'mon mom. You can't lie."


" I'm sorry baby. Mommy tidak bisa tidak menangis saat kamu seperti ini."


" No mom. Aku yang seharusnya minta maaf sudah membuat mommy menangis. Aku janji tidak akan begini lagi. I'm promise mom."


Sita mengangguk dan naik ke ranjang Kai lalu memeluk putranya itu. Rama yang dari tadi melihat interaksi ibu dan anak itu meneteskan air matanya. Ia sangat haru melihat bonding antara Sita dan Kai.


"Woooaah… curang nih. Ayah kok nggak diajak berpelukan kayak teletabis gitu."


" Oh no… this is enough ayah. You know about me."


"Hahahah oke boy. I know. I'm just kidding."


Suasana dalam ruang rawat itu kembali cair mereka bertiga saling bercanda sehingga Sita tidak lagi sedih dan Kai tampak lebih baik.


Dani yang sedari tadi di luar kamar urung untuk masuk. Ia melangkahkan kembali kakinya menjauh dari kamar rawat Kai dan duduk di kursi tunggu.


"Tuan kenapa tidak jadi masuk, kok malah duduk di sini?"


" Nanti saja An, aku ingin duduk sebentar di sini."


Anton mengangguk tak ingin bertanya lebih lanjut karena paham tuannya tidak ingin bercerita apapun.


15 menit berlalu, tampak Rama keluar dari kamar Kai. Ia heran melihat Dani yang duduk di kursi tunggu.


" Lho tuan Dani, kenapa tidak masuk. Sudah lama disini?"


"Tuan su…."


"Saya baru saja datang." Dani mencegah Anton mengatakan yang sebenarnya. Anton diam, dia paham maksud Dani.


"Mari masuk. Kai pasti senang anda datang."


Dani mengangguk lalu mengikuti Rama masuk ke ruangan Kai.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Sita terkejut melihat kedatangan Dani, sudah sangat lama ia tidak melihat Dani setelah kejadian Dani ke kantor Sita dan membuat Sita pingsan waktu itu.


"Hey boy bagaimana keadaanmu. Hai Ta aku, aku minta maaf untuk peristiwa yang terakhir itu."


"Sudahlah mas, sudah tidak usah dibahas. Kita belajar melupakan semuanya saja. Dan mulailah hidup yang baru dengan benar. Aku harap kamu akan bahagia nanti. Bicaralah dengan Kai. Aku dan mas Rama keluar sebentar."


"Silahkan ngobrol dulu, kami tinggal ya. Boy baik baik dengan daddy oke. Ayah dan mommy keluar sebentar."


" Oke ayah.."


Di Luar kamar Sita memegang dadanya yang terasa sesak. Rama dapat melihat itu.


"Apakah begitu sakit?"


Sita hanya terdiam dengar pertanyaan Rama. Tidak bisa dipungkiri rasa sakit itu tetap masih berbekas. Melihat sang istri membisu Rama langsung meraup bibir Sita dan melumaatnya dengan lembut. Sejenak Sita terbuai oleh ciuman Rama.


"Apakah sudah lebih baik?"


Sita mengangguk dengan pipi yang merona.


"Hahaha kita sudah sering melakukannya dan kau masih saja malu begitu."


"Mas ini ditempat umum."


"Hahaha aku lupa. Sayang aku hanya ingin setiap luka yang kau rasakan bisa kamu lupakan dengan manis yang aku berikan. Dengan seperti itu lambat laun luka itu akan hilang sepenuhnya."


" Terimakasih mas. Kamu memang terbaik."


" Ya ya baiklah. Terus kapan aku dapat jatah nya."


"Eh?"


***


Dani membawa beberapa buah buahan dan menaruhnya di atas nakas.


" Apakah sudah lebih baik boy. Kata dokter kamu terkena tifus."


"Haish… Dokter memang lebay. Aku hanya kelelahan dan kurang tidur Dad."


" Kurang tidur, anak seusiamu kurang tidur memangnya apa yang kamu lakukan?"


" Aku sedang banyak tugas dad di sekolah."


" Ya baiklah. Usahakan kamu tidur cukup boy."

__ADS_1


Kedua ayah dan anak itu berbicara banyak hal. Dani sungguh sangat senang dia bisa menemani Kai saat sakit seperti ini. Paling tidak Kai membuka dirinya untuk Dani, dan itu sangat disyukuri oleh Dani.


TBC


__ADS_2