Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
BONCHAP 09. Ketakutan Kai


__ADS_3

Malam harinya Q datang bersama dokter Dika memenuhi undangan Kai. Disana hanya ada Kai dan Rama, karena Sita tengah pulang bersama ketiga anak kembarnya.


" Assalamualaikum…" Sapa Dika dan Q.


" Waalaikumsalam." Jawab Rama dan Kai bersamaan.


Kai pun mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan bersandar pada headboard dibantu oleh Rama.


" Terimakasih dokter Dika dan… aku harus memanggilmu apa… Q, Queen, atau Silvya."


" Shut up Sun.. Aku ingin sekali membungkam mulutmu."


" Hahahah… lihatlah wajahmu itu. Kau sangat lucu."


" Kau sangat menjengkelkan."


Rama dan Dika hanya saling pandang melihat interaksi aneh antara Kai dan Silvya. Keduanya sama sama menggelengkan kepalanya tanda bingung dan juga tidak mengerti.


" Dokter Dika bolehkan saya meminjam istri anda sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan."


" Silahkan Kai.. Aku akan keluar dulu bersama pak Rama."


" Terimakasih dokter… thank you ayah."


Q menghempaskan bokongnya di kursi samping ranjang. Ia melipat tangannya didepan dada dan menyilangkan kakinya. Wajahnya begitu kesal menatap bocah yang ada di depannya.


"  Kau marah padaku Q." 


" Iya.. Kenapa kau begitu ceroboh menggunakan tubuhmu sebagai tameng. Aku hampir mati berdiri kemarin. Sial… untung suamiku dokter hebat. Aku beneran merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuamu. Aku juga jadi diinterogasi sama mas Dika."


" Hahahah sorry kejadiannya begitu cepat. Oh iya bagaimana kakek tua itu aku lihat sepertinya kau mengenalnya."


"Dia termasuk bangsawan terkenal di negaranya Sun. Dan aku pernah ikut tender pengadaan pesawat pribadi yang diadakan oleh nya."


" Pantas… kau sangat tidak asing dengannya. Lalu apa hubungannya dengan mommy ku… Apakah dia…"


" Ya seperti dugaan mu. Mungkin nyonya Sita adalah putri nya."


" Haish… apa-apa an ini ku pikir drama keluarga ku sudah berakhir. Ternyata berlanjut. Aku hanya takut jika mommy adalah putri yang dicarinya malah akan membahayakan keselamatan mommy."


" Aku berpikir sama. Karena saat ini Sir Alexander juga memiliki anak dan istri."


Kai berpikir dalam. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan jika memberitahu kedua orang tuanya. Keselamatan keluarga nya bisa terancam. Sebelumnya ia sudah membaca riwayat keluarga kakek Ernest ini sungguh kacau semua. Hampir mirip dengan keluarga kakek buyut Adipati.


" Baiklah Q. Terimakasih. Aku akan memikirkannya."


" Jangan sungkan Sun. Kita berteman lama. Jika kau butuh pengawalan orang ku, katakan saja. Anak buah ku masih cukup banyak untuk melindungi kedua orang tuamu dan juga adik adikmu."


" Thank you Q. You are my best friend."

__ADS_1


Q mengangguk mereka pun berbincang mengenai banyak hal.


***


Di kantin Rumah Sakit Rama dan Dika tengah duduk bersama sambil menikmati teh hangat. Kantin sudah nampak sepi. Hanya segelintir orang yang lalu lalang.


" Sebenarnya apa hubungan istriku dan putramu pak Rama. Mereka seperti teman lama. Namun aku heran mengapa Silvya bisa mengenal putramu bahkan sudah 8 tahun ini mereka kenal."


" Kalau mengenal Kai mungkin baru kemarin saat kami sama sama menyelamatkan Sita dari penculikan. Tapi mungkin sebagai identitas yang lain memang istri dokter sudah mengenalnya lama."


" Haish. Aku masih tidak mengerti Pak Rama."


Rama akhirnya menyerah juga. Ini ada sangkut pautnya dengan keluarga dokter yang sudah banyak menolong keluarganya. Jadi menurut Rama tidak ada salahnya menjelaskan.


" Jadi dokter Dika, Kai anak saya itu adalah Mr. Sun. Seorang hacker, mungkin anda pernah mendengar namanya. Dan Silvya istri anda itu sudah mengenal Kai sejak usia Kai 6 tahun. Namun selama ini Silvya tidak pernah tahu identitas asli Mr. Sun."


Dokter Dika sungguh terkejut dengan fakta ini. Dia meminum tehnya dengan perasaan campur aduk.


Pantas saja, waktu itu aku minta bantuan Mr. Sun untuk mencari data mengenai Silvya dia menolak mentah mentah. Padahal harga yang kutawarkan begitu tinggi. Haish…. Anak itu benar benar setia kawan. Gumam dokter Dika dalam hati.


" Dan apakah anda tahu dokter? Kemarin saya baru benar benar melihat sisi lain dari Kai. Dia terlihat begitu berbeda saat berhadapan dengan para gengster. Bagaimana dia berkelahi, bagaimana dia menggunakan pistol. Huft…  aku sungguh takut dan khawatir."


Dokter Dika lagi lagi terdiam. Dia sendiri bingung harus berkata apa untuk menenangkan Rama. Pasalnya  dia sendiri pernah ada diposisi itu dan sama, dia tidak bisa melakukan apapun.


" Mari pak kita kembali ke ruang rawat Kai. Pasti mereka sudah selesai berbicara. Sekalian saya akan melakukan pemeriksaan."


" Baik dok."


Oh iya,siapa orang tua itu, dan apa yang dia inginkan dari Sita. Rama memikirkan itu sepanjang koridor rumah sakit hingga sampai di ruangan Kai.


" Assalamualaikum. Apakah sudah selesai?"


" Waalaikumsalam… sudah…"


Silvya bangkit dari duduknya dan membiarkan Dika memeriksa Kai.


" Bagaimana kondisi Kai mas?"


" Bagus, pemulihannya cepat. Ini hampir mirip dengan lukamu waktu itu."


Silvya tampak lega begitu juga dengan Rama.


" Oh ya… apakah itu saat kau bertemu dengan dokter Dika Q?"


" Diamlah Sun."


" Hahahaha… apa anda tahu dokter. Q sudah menyukaimu dari awal kalian bertemu. Namun dia gengsi saja."


" Benarkah begitu Mr. Sun?"

__ADS_1


" Eh… Dokter… heheheh"


Dika dan Kai saling pandang. Mereka sama sama tahu apa yang dimaksud. Sedangkan Silvya hanya menatap keduanya heran.


" Apa yang sedang kalian bicarakan."


" Bukan apa apa sayang. Baiklah Kai pak Rama kami pamit undur diri dulu. Silahkan istirahat Kai dan Pak Rama."


" Terimakasih dokter."


Sepeninggal Dokter Dika dan Silvya dari ruangannya, Rama membantu Kai untuk membaringkan tubuhnya. Rama pun ikit naik ke ranjang Kai.


" Boy…."


" Ya ayah."


" Ayah rasa sebentar lagi ayah akan kehilanganmu."


" Kenapa begitu."


" Ayah merasa kamu akan semakin sibuk dengan aktivitasmu. Huft…. Sepertinya waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita bermain mobil remot saat pertama kali ayah hadiahkan. Dan sekarang kamu sudah pandai melakukan banyak hal."


" Tidak yah… Aku akan selalu jadi putra ayah. Aku akan selalu bermain dengan ayah meskipun aku sudah tumbuh dewasa nanti. Semua ini tidak akan berubah. Jika aku berubah ingatkan aku yah. Jika aku mengabaikan mu maka tepuk lah pundak ku agar aku bisa melihatmu. Jangan pernah ayah mengabaikan ku."


Kai beringsut ke lengan Rama. Air matanya luruh. Bagi Kai, Rama adalah orang terpenting kedua setelah Sita. Kai tidak akan bisa tahan jika terjadi apa apa terhadap ayahnya itu. 


Sedangkan bagi Rama, Kai seperti harta yang tak ternilai harganya. Kai akan selalu jadi putra sulungnya walau bukan darah dagingnya.


Rama mengusap kepala Kai, dan mencium pucuk kepala sang putra.


" Oh iya sayang… siapa kakek tua yang ada di TKP kemarin?"


" Huft… itu yang sekarang jadi pikiranku yah. Maaf tolong ambilkan tablet ku di atas nakas yah."


Rama bangkit dari ranjang dan mengambil Tablet milik Kai.


" Sekarang coba ayah buka dan baca dokumen paling atas."


Rama menuruti arahan Kai. Ia membaca dokumen tersebut perlahan. Ra pung mengernyitkan keningnya. Ia paham maksud dari dokumen itu namun ia meminta penjelasan lebih kepada Kai.


" Jadi maksudmu… orang itu adalah…"


" Ya benar dia mungkin adalah orang tuanya mommy… dan jika benar dia adalah kakekku. Saat ini dia tengah menunggu hasil tes DNA. Kemarin dia menculik mommy untuk mengambil darah mommy."


" Subhanallah…Kamu sudah beritahu mommy?"


" Belum yah… ayah yang pertama Kai beritahu."


Sesungguhnya aku masih bingung bagaimana menghadapi ini yah. Banyak hal yang akan terjadi kedepannya. Dan aku tidak ingin kalian semua celaka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2