
kejadian Masa Lalu
Di kantor JD Grub Rama dan Roni tengah menunggu balasan dari Mr. Sun. Mereka tengah harap-harap cemas apakah Mr. Sun mau menerima permintaan mereka.
"I accept your request." Mr. Sun
"Thankyou Mr. Sun, how much do we pay for your work?" Rama.
"Hmmm… it's up to you, I'll gladly accept it." Mr. Sun
"Ok thanks Mr. Sun. we'll transfer the money." Rama
" Fine, I'll wait for it. Nice to work with you. This is a file containing evidence of the crimes of the person you are investigating." Mr. Sun
" Nice to work with you too. Me. Sun. Thank You." Rama
Rama dan Roni tersenyum lebar menerima balasan dari Mr. Sun. Bahkan hasilnya juga sudah dikirimkan.
"FILE HANTU"
" Bos, apakah Mr. Sun ini orang indo ya. Nama filenya file hantu." Ujar Roni.
"Entahlah. Tapi bodo amat. Mau file hatu, file setan, genderuwo, babi ngepet terserah. Yang penting tuh dapat." Jawab Rama sekenanya.
Rama lalu membuka file hantu tersebut. Rama membelalakkan matanya dengan sempurna, mulutnya menganga. Begitu juga dengan Roni, mereka begitu terkejut, sangat terkejut malah.
"Brengsek.. Bener-bener Si Eko itu brengsek. Bisa-bisanya ia melakukan hal ini bertahun-tahun. Bener-bener kurang ajar ini orang." Wajah Rama memerah karena marah.
"Bos, ini kudu dilaporkan bos. Jumlahnya nggak sedikit. Dia ternyata melakukan suap juga dengan rekanan kita di luar negri." Usul Roni.
"Pantas saja, kenapa perusahaan itu itu saja yang membeli barang kita. Apalagi harganya terbilang murah untuk kualitas barang kita yang sangat bagus. Ron coba kau hubungi beberapa pembeli yang ada di daftar ini, dan blacklist perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan kita. Jika dia ingin JD Coal terus jadi pemasok mkaa tawarkan harga normal bila perlu lebih tinggi. Jika tidak mau maka berikan ke yang lain."
"Siap bos laksanakan."
Roni lalu keluar dari ruangan Rama dan melakukan apa yang diperintah bos nya itu. Rama menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijat keningnya dengan kedua jarinya.
"Haiiihh… ternyata Eko Priambudi ini memperkaya dirinya sendiri dengan cara licik. Apa kurangnya ayah dengannya. Air susu dibalas dengan air tuba sungguh tidak tahu malu. Apalagi sekarang dengan terbuka menyuruh anaknya untuk masuk keluarga Joyodiningrat. Heh… jangan harap. Aku anak laki-laki satu-satunya tidak akan membiarkan keluarga Joyodiningrat dimasuki oleh tikus yang hobi mencuri. Tikus itu meskipun sudah diberi makan tetap akan mengambil milik orang lain. Manusia manusia serakah."
Rama mengepalkan tangannya tanda ia sangat geram. Hari ini juga ia akan menemui ayahnya untuk memberikan bukti kecurangan Eko Priambudi. Rama Ingin tahu seperti apa reaksi sang ayah. Ia pun segera keluar dari ruangannya menuju, tempat parkir. Namun sebelum itu ia menengok ke ruangan sang aspri terlebih dahulu.
"Ron, jika ada janji batalkan. Aku akan ke rumah ayah dulu untuk membicarakan ini."
"Bos… bolehkan aku ikut." Ucap Roni sambil mengedip-ngedipkan matanya membuat Rama jengah.
"Haish… ayolah."
"Asiiik sudah lama ndak main ke rumah budhe…"
"Tapi ingat, kau harus menyelesaikan pekerjaanmu sebelum besok."
"Aaa apa. Yang benar saja bos.'
__ADS_1
" Ya sudah tidak usah ikut."
" Baiklah kalau begitu."
Roni akhirnya menyerah dan tetap ikut ke rumah Hardi bersama Rama. Sampai ditempat parkir Rama melemparkan kunci mobil kepada Roni. Roni yang paham maksud bosnya hanya bisa menunduk lesu.
Dasar bos kejem, masih juga minta aku yang nyetir, hadeeh niatnya mau refreshing malah apes. Gerutu Roni.
"Ron nggak usah ngedumel, ayo cepet jalan."
"Iya-iya bos."
Mereka berdua meninggalkan JD Coal menuju rumah Hardi di puncak. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sana. Beruntung siang seperti ini jalanan tidak terlalu ramai.
Sampai di pekarangan rumah Hardi, Ramelihat sudah ada sebuah mobil yang terparkir. Mobil mini cooper warna merah tampak mencolok di pekarangan rumah yang didominasi warna hijau dari pepohonan.
"Bos, ada tamu kayaknya."
"Biarin aja, tadi kamu udah bilang ke sekertaris Boni kan kalau kita keluar sampai sore."
"Sudah bosku…."
Mereka berdua memasuki rumah dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam." Jawab Ayu dan seorang wanita. Rama yang tau itu siapa mendengus kesal. Dia sangat enggan bertemu dengan orang itu.
"Hahhaha bos, dicariin tuh." Bisik Roni.
"Cewek cantik gitu dibilang ulet bulu. Kebangetan kau bos."
"Ambil aja kalau mau aku sih ogah."
Hiih Roni bergidik, ia pun tak suka dengan wanita yang tengah duduk bersama Ayu itu.
Roni dan Rama berjalan mendekat untuk menciun tangan Ayu.
"Lho le, kok tumben kesini.?"
" Eh mas Rama, kebetulan banget ya ketemu disini. Aku juga lagi maen ni. Kangen sama budhe." Ucap Ajeng.
Rama cuek tidak menanggapi omongan Ajeng yang ia dengar seperti ocehan itu.
"Ayah mana bu."
"Ayahmu di belakang."
Rama langsung berjalan ke arah belakang rumah diikuti Roni.
"Budhe Roni ke belakang dulu ya."
Ayu hanya menggeleng pasrah. Putranya itu jika tidak menyukai seseorang maka akan menunjukkan ketidaksukaannya.
"Maaf ya nduk, Rama memang seperti itu."
__ADS_1
"Ndak pa pa Budhe." jawab ajeng dengan menampilkan waja yang dibuat buat manis, tapi sangat berbeda dengan hatinya. Heh… awas aja, suatu hari nanti kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, gumam Ajeng.
***
Di halaman belakang rumah Hardi tengah bermain dengan burung kesayangannya.
"Rama...rama...rama…" Burung kakatua putih berjambul kuning itu mengoceh.
"Eh tumben Ram, ada apa kesini. Lho Roni juga."
"Njiih pakde." Roni menyalami Hardi hormat. Begitu juga dengan Rama.
"Bisakah kita bicara di ruang kerja ayah saja." Rama meminta. Hardi mengerutkan keningnya, tidak biasanya sang putra meminta berbincang di ruang kerja. Pasti ada hal yang penting, pikir Hardi.
Hardi mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerja yang ada di rumahnya tersebut. Rama dan Roni mengekor.
"Ayo… katakan ada apa."
Rama meminta Roni membuka laptopnya dan menyerahkan kepada Hardi. Rama meminta Hardi melihatnya. Ekspresi yang diperlihatkan Hardi datar, ia tampak tidak terkejut melihat apa yang ada dalam file Hantu tersebut.
"Sepertinya ayah tidak terlalu terkejut melihatnya." Ucap Rama.
Haah….. Hardi membuang nafasnya kasar. Ia menyandarkan punggung di kursi dan memejamkan matanya.
Rama dan Roni diam. Mereka menunggu Hardi berbicara.
"Bukannya ayah tidak mengusut ini semua. Tapi… Eko Priambudi pernah menyelamatkan Ayah dan Ibumu dulu. Jadi…."
"Jadi untuk membalas budi mereka ayah membiarkan orang itu melakukan apapun yang dia mau sampai menghabiskan dana perusahaan dan menyodorkan anaknya untuk menikah denganku? Apakah begitu yah? Apakah yang aku ucapkan semuanya benar?" Rama tersulut emosi.
Roni memegang pundak sang bos agar lebih tenang. Sedangkan Hardi hanya diam menutup mulutnya rapat.
"Yah, ada banyak cara untuk membalas budi tapi bukan dengan cara membiarkan dia menghancurkan perusahaan. Apakah ayah tidak mempertimbangkan hidup ribuan karyawan yang bernaung di JD Coal maupun JD Advertising. Mereka juga butuh kehidupan. Dengan membiarkan Eko merongrong perusahaan sama juga ayah sedang menghancurkan hidup ratusan karyawan yang lain. Karena apa, karena jika JD Grub bangkrut maka imbasnya ke mereka sedangkan Eko Priambudi, dia akan tetap bahagia karena sudah mengumpulkan pundi pundi rupiah yang begitu banyak."
Deg…
Hardi bergetar mendengar pernyataan putranya. Ia membenarkan semua yang dikatakan Rama. Ternyata putranya itu lebih bijak menghadapi sesuatu dari pada dirinya.
"Baiklah. Ayah paham. Kali ini terserah bagaimana kau akan mengurusnya. Ayah sudah menyerahkan JD Grup kepadamu jadi terserah padamu bagaimana kamu akan bertindak."
Rama dan Roni saling pandang. Mereka berdua tersenyum lega.
"Ron kamu keluarlah dulu sebentar."
Roni mengangguk, tanda mengerti. Ia tahu bosnya akan membicarakan hal yang penting dengan bos besar.
"Yah.. Apa yang terjadi di masa lampau memangnya?"
Hardi diam, dia kebingungan dari mana ia harus menceritakan. Mengetahui kebingungan sang ayah membuat Rama memikirkan suatu hal.
"Yah, garis besarnya saja."
"Dulu Eko perna menolong ayah dan ibu saat kecelakaan mobil. Waktu itu ayah dan ibu tengah pergi dari kota S karena menghindari sesuatu dari kakekmu. Ayah menghubungi Eko karena dia satu satunya teman ayah. Namun mobil kami dikejar oleh orang-orang kakek dan kami tergelincir di jurang meski tidak dalam tapi lumayan membuat ayah dan ibu mengalami luka-luka. Singkat cerita Eko membantu kami bersembunyi dari kakekmu."
Hardi memejamkan matanya mengingat kejadian masa lalu. Saat itu Ayu tengah mengandung Rama. Jalanan begitu licin. Takut tertangkap oleh orang-orang ayahnya Hardi sekencang mungkin mengemudikan mobilnya. Merasa sudah aman karena mobil yang mengejarnya tidak terlihat lagi, Hardi mulai menurunkan kecepatannya namun naas di depannya ada seorang yang tengah menyebrang, Hardi pun membanting kemudinya ke arah kanan dan braak… mereka berdua terjatuh. Berunying kandungan Ayu tidak apa-apa. Hardi yang masih bisa bergerak segera mengeluarkan Ayu dari mobil dan menghubungi Eko. Tak lama Eko pun datang menolong mereka. Dari situ Hardi merasa selalu berhutang budi terhadap Eko. Meskipun Hardi tau Eko kerap melakukan kecurangan terhadap perusahaanya Hardi selalu tutup mata.
__ADS_1
TBC.