Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
BONCHAP 17. Kebenaran


__ADS_3

Ernest membaca kata demi kata apa yang dituliskan Dorothy. Rasa sedih dan marah bercampur jadi satu. Ia mengepalkan tangannya. Kilatan api tampak di pelupuk matanya.


Dorothy yang melihat wajah tuannya memerah karena marah hanya bisa menunduk. Tidak ada satu patah kata pun yang berani ia utarakan.


" Damn… dasar wanita ular. Sepertinya aku benar benar harus memberi mereka pelajaran. Persetan dengan keluarga bangsawan yang diagung agungkan oleh mereka."


Ernest masuk ke dalam mansion dan memasuki kamar pribadi miliknya. Ia langsung menuju meja rias milik istrinya dan menemukan apa yang Dorothy tuliskan dalam buku tadi.


" Ya Tuhan Camelia… Aku sungguh bodoh. Aku begitu mudahnya mempercayai omongannya dan orang tuaku dulu."


Di meja rias tersebut tepatnya di balik cermin, Pamela menyembunyikan sebuah fakta. Di sana terdapat beberapa foto Camelia saat sedang hamil. Lalu ada sepucuk surat tentang perintah untuk mengirim Camelia ke tanah air. Dan perintah untuk menghabisi nyawa Camelia di sana. Semua ditulis oleh Pamela. Dan yang menambah keterkejutan Ernest yakni Gabriella dan Gilbert bukanlah anak kandung Ernest. Di dalam map tersebut ada hasil tes DNA kedua anaknya yang membuktikan bahwa Ernest bukanlah ayah dari Gabriella dan Gilbert.


Ernest semakin membara, nafasnya naik turun. Ia pun menanyakan hal tersebut kepada Dorothy.


" Apa ini Dorothy??!!!"


" Ma-maaf tuan."


Ernest mengambil sebuah pistol dan mengarahkannya pada kepala Dorothy.


Klik….


" Katakan… atau akan kupecahkan kepalamu."


Dorothy menciut, selama puluhan tahun dia bekerja sebagai maid di mansion milik Ernest baru kali ini dia melihat tuannya yang sangat mengerikan.


" Ba-baik Tuan. Waktu itu setiap anda pergi bertugas, nyonya selalu membawa seorang pria ke rumah. Meskipun saya tidak mengenal pria tersebut tapi pria yang dibawa nyonya adalah pria yang sama. Saat tuan di rumah pun nyonya sering menemui pria tersebut di luar."


Dor…..


Sebuah tembakan melesat. Tubuh Dorothy bergetar dan ia pun memejamkan matanya. Namun Dorothy bernafas lega saat ia merasa kepalanya masih utuh. Ternyata Ernest menembakkan pistolnya ke arah langit langit.


Syukurlah… kepalaku tidak jadi dilobangi oleh tuan Ernest. Gumam Dorothy masih dengan tubuh yang bergetar.


" Dimana wanita murah*n itu?"


" I-itu tuan. Saat mengetahui tuan pergi nyonya juga ikutan pergi."


" Sial… ternyata selama ini aku terlalu meremehkan dia. Lalu dimana anak anak perusuh itu."


" Tuan muda dan nona muda juga ikut pergi tuan."


" Heh… Dasar anak anak tidak bisa diatur. Memang benar mereka tidak ada mirip miripnya sama sekali dengan ku. Sekarang kau aku tugaskan untuk mengemasi dan  membuang semua barang barang milik Pamela, Gabriella dan Juga Gilbert. Jangan sampai ada yang tersisa. Mereka sama sekali tidak pantas berada di mansionku ini."


" Ba-baik tuan."

__ADS_1


Dorothy sedikit berlari meninggalkan kamar Ernest. Jantungnya masih berpacu dengan sangat cepat. Tidak mau kena marah oleh sang Tuan, Dorothy segera melakukan apa yang diperintahkan Tuannya.


"Hah…. Bukannya aku tidak mau merawat Ella dan Albert, tapi perilaku seenaknya sendiri dan melanggar norma selalu mereka lakukan tanpa ada efek jera. Bahkan mereka sama sekali tidak mau mengikuti pengajaran dna nasehatku. Mungkin ini memang takdir yang digariskan Tuhan. Meskipun terlambat tak apa setidaknya aku masih bisa melakukan hal yang benar."


Ernest memandangi foto foto Camelia. Ia menangis di sana. Rasa sesal yang percuma dan penyesalan yang terlambat. Semua karena kebodohannya. Jika boleh berkata "Andaikan waktu itu aku menyelidiki lebih lanjut, andaikan aku tidak meninggalkannya, andaikan aku membawanya bersamaku, atau andaikan andaikan yang lain. " 


Tapi ini adalah hidup yang semuanya terjadi dengan pasti bukanlah pengandaian belaka. Tidak berguna dan tidaklah berarti bersembunyi dari kesalahan dibalik kata "andaikan". 


Ernest pun bangkit ia membulatkan tekadnya untuk memberi keadilan bagi istrinya Camelia.


" Jer… bisa ke mansion sekarang."


" Baik tuan."


Ernest menghubungi Jerry untuk datang ke mansion nya. Ada hal yang harus ia lakukan sesegera mungkin.


30 menit berlalu, akhirnya Jerry sampai di mansion Ernest. Jerry membungkuk memberi hormat.


" Siap Tuan. Apa yang perlu saya lakukan?"


" Jer, antar kan aku ke kantor polisi sekarang."


" Kantor polisi? Maaf tuan, untuk apa tuan malam-malam begini ke kantor polisi?"


" Tu-tuan...i-ini…." 


Ernest hanya melenggang menuju mobil. Jerry pun berlari menyusul tuannya dan membawa tuannya ke kantor polisi. Tampaknya Ernest akan membuka kasus 37 tahun yang lalu. Dengan semua bukti tersebut Ernest yakin setinggi apapun kedudukan keluarga Antonio pasti tidak akan bisa menolong Pamela.


" Apakah anda yakin tuan?"


" Tentu saja Jer, Camelia harus mendapat keadilan. Dan aku juga masih berkesempatan menemui putriku jika semua ini sudah selesai."


Jerry mengangguk paham. Ia menekan pedal gas nya dalam dan melajukan mobilnya ke kantor polisi.


🍀🍀🍀


Jam 8 malam di Inggris berarti jam 3 pagi di tanah air. Perbedaan waktu sekitar 7 jam itu tidak membuat Kai merasa bosan menunggu informasi yang disampaikan oleh anggota Wild Eagle di sana.


" Hello Mister. Am I bothering you?"


" No. I've been waiting for your information. Say now."


" Baik mister. Sir Alexander sudah mendapatkan bukti kejahatan Pamela dan saat ini ia tengah ke kantor polisi untuk membuat laporan."


" Bagus… lalu apa lagi."

__ADS_1


" Sir Alexander juga hendak mengusir anak anak nya dari rumah karena ternyata mereka bukanlah anak kandung Sir Alexander."


" Baiklah. Lanjutkan pengintaian mu."


" Yes Sir!"


Kai tersenyum devil. Memang inilah yang dia inginkan. Membiarkan Sir Alexander menguak sendiri tragedi istrinya. Bukan tanpa alasan Kai melakukan itu. Dengan berhasilnya Sir Alexander mengungkap kejadian puluhan tahun silam itu dapat membuat ketenangan di hatinya dan dapat membuatnya ikhlas melepas kepergian istrinya.


Kai telah meminta orang untuk mendatangi tempat dimana mommy nya dibesarkan. Ternyata neneknya Camelia ditemukan dengan kondisi yang hampir melahirkan di depan Panti. Dan di sanalah nenek dan mommy nya dirawat. Namun Camelia tidak bisa bertahan karena pendarahan hebat pasca persalinan. Selang  2 hari setelah melahirkan akhirnya Camelia meninggal dunia.


Kepada ibu panti, Camelia berpesan agar merahasiakan apapun yang terjadi sampai suatu saat ada yang menemui dan mencari namanya. Dan yang pertama datang adalah orang suruhan Kai. Ibu panti tentu saja tidak semudah itu memberikan informasi penting ke sembarang orang hingga orang suruhan Kai melakukan video call dengan Kai.


Flashback on


"Hallo ibu Assalamualaikum.… ini saya adalah Kai putra dari Arsita Ayuningrum. Ini foto keluarga kami agar ibu percaya."


"  Waalaikumsalam...Oh… Benar… itu Sita. Dan kamu adalah putranya?"


" Betul bu, atau lebih sopan nya saya memanggil anda nenek. Bolehkah?"


" Tentu saja nak, aku juga nenekmu. Bagaimana kabar ibumu nak."


" Alhamdulillah nek. Kami baik. Maaf jika kami belum bisa berkunjung. Insyaallah kami akan mengunjungi nenek suatu hari nanti."


" Baiklah nak… baiklah."


" Nek.. Saya ingin menanyakan tentang nenek saya Camila. Bolehkan nenek menceritakannya? Saya mohon agar mommy saya bisa bertemu dengan ayah kandungnya atau bisa juga disebut kakek kandung saya."


Ibu panti tersebut terdiam. Ia berpikir mungkin saat ini memang sudah waktunya. Jika ada orang yang mengetahui nama Camelia berarti memang dia mengerti sejarah wanita cantik bermata hazel itu. Ibu panti pun sedikit tertegun saat melihat mata hazel milik Kai. Gurat wajah Kai juga begitu mirip dengan sang nenek Camelia.


" Baiklah nak. Nenek akan menceritakannya. Waktu itu…."


Ibu panti menceritakan semua yang ia tahu dan yang Camelia ceritakan waktu itu. Camelia Juga meninggalkan sebuah cincin berlian bermata safir yang saat ini sudah ada di tangan Kai.


Flasback off


" Semua sudah ada tangan, tinggal menambahkan garam di sebuah makanan agar rasanya semakin nikmat saat dihidangkan."


Kai kembali bermain di komputernya dan Klik… dia sudah mengirimkan bukti dari Camelia kepada intelijen negara Inggris agar Pamela segera bisa diadili.


Kai bernafas lega, pada akhirnya semuanya akan terungkap dalam kurun waktu 12 jam. Kai yakin besok pagi keluarga bangsawan itu akan kacau oleh ulah salah seorang dari keturunannya.


" Jangan salahkan aku berbuat kejam. Aku hanya sekedar memberi keadilan. Menghukum yang salah dan membela yang benar."


TBC

__ADS_1


__ADS_2