Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
77. Ulah Kakek Tua


__ADS_3

Rama yang berada di kantor JD Coal mendadak mengeluhkan kepalanya yang terasa begitu pusing. Terlebih saat mendengar kabar bahwa kakeknya Adipati Joyodiningrat tengah membuat kekacauan terhadap perusahaan yang telah dirintis oleh sang Ayah selama puluhan tahun.


Kakeknya itu ternyata menghasut beberapa investor untuk menarik investasi mereka terhadap JD Coal. Karena kejadian tersebut membuat salah satu  tambang batu bara yang berada di pulau K berhenti beroperasi padahal permintaan barang dari negara Eropa tengah meningkat pada musim dingin ini.


"Piye Ron, mumet ndasku (bagaimana Ron, pusing kepalaku)."


"Sulit Bos, dari mana kita bisa dapat sejumlah uang itu."


"Apakah kita tidak bisa mengajukan pinjaman pada bank?"


"Wah bos, terlalu beresiko bos. Yang kita butuhkan tidak sedikit. Setidaknya kita butuh sekitar Rp. 25 M untuk menambahi biaya dalam mengoperasikan tambang dan memenuhi pesanan."


"Haduuuuh,.... Dasar kakek tua sialan. Maunya apa coba sih.. Kalo kelewat kesel gue slepet juga tuh kakek."


"Bos eling (ingat) itu kakek si bos."


"Ya ya ya, kakek yang tidak pernah menganggap kami. Wes lah Ron, sekarang coba kamu carikan aku rujak biar mumetku ini ilang."


"Eeeh yang bener bos mau makan rujak."


"Wes to Ron, jangan kebanyakan cing con. Gih butuan beliin dulu. Pedes yak."


Roni segera berlari keluar ruangan mencarikan makanan atau lebih tepatnya camilan untuk sang bos.


"Hadeeeh, punya bos satu aja anehnya minta ampun. Lha wong katanya pusing kok mintanya rujak. Aneh. Haish." 


Roni menggerutu sepanjang menuruni lift ia merasa sedikit hera karena tidak biasanya Rama memiliki minat terhadap makanan yang bercitarasa pedas asam itu.


Di ruangannya Rama masih memutar otak bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Rama ingin mencoba menghibungibteman tannya tapi ia urung, ia tidak mau merepotkan para sahabatnya itu.


" Bilang nggak ya, tapi kira kira mereka ada nggak ya. Eh iya Juna coba aja ngehubungi Juna."


Rama dengan cepat mengambil ponsel dan menghubungi sahabat lamanya itu.


"Haloo Jun, ente sibuk kagak."


"Kagak nyet, napa."


"Bisa ketemuan nggak, ane butuh bantuan ente nih."


"Ok.. Kapan? Sekarang gue senggang nih."


"Boleh deh, di kedai seblak langganan aja ye."


"Oke. Gue meluncur sekarang."


Rama tersenyum ia pun segera mengambil kunci mobilnya dna menuju lokasi janji temu dengan Juna. Tak lupa ia menitip pesan kepada sekretarisnya kalau Roni kembali suruh simpan dulu rujaknya di kulkas.


***

__ADS_1


Rama sampai bersamaan dengan Juna. Mereka pun memilih tempat lalu memesan seblak  sesuai selera mereka.


"Ada apa Ram, kek nya penting bener."


"Yoi bro, jujur to the point aja ya. Gue lagi butuh duit banget bro."


"Wohoho, seorang Rama masa iye butuh duit."


"Serius sob, ini semua gara gara ulah kakek gue. Doi ngomporin beberapa investor buat narik investasi dari JD Coal. Lha mampus nggak, padahal permintaan dari Eropa lagi tinggi tingginya."


"Wah… emang ada kasus apa ama kakake loe."


"Ah ceritanya panjang, intinya dia nggak suka ama keluarga gue. Kata bokap bahkan dia mau bunuh gue sama nyokap saat gue masih dalam perut nyokap."


"Bujug…. Ngeri amat ente punya kakek."


"Mangkanya itu. Masih mending banget kakek loe Jun. Meskipun keraa gitu doi masih sayang banget ama loe."


"Iya sih. Terus loe butuh berapa nih. Kalau ada gue bantu deh. Ini gue nggak minjemin, tapi anggap aja gue investasi."


"Beneran Jun, alhamdulillah Ya Allaah. Gue butuhnya 25 M Jun."


"Ehmmmm…."


Juna tampak berpikir, kalau sebanyak itu dia pun tidak punya terlebih usahanya juga tengah berjalan.


"Gimana loe nggak ada ye Jun."


"No problemo, itu udah lebih dari cukup Jun, sisanya ntar gampang gue cari yang penting tuh tambang jalan lagi dulu."


" Sip lah, ntar gue suruh Teo buat transfer."


"Jun butuh perjanjian hitam diatas putih nggak?"


"Kagak usah nyet, mentang mentang bininya lulusan SH hahahhah gue percaya sama loe."


"Thanks bro."


Ra bernafas lega, meski tidak terpenuhi semua tapi paling tidak sudah ada titik terang. Kedua sahabat itu pun melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati seblak yang terhidang di meja. Kesibukan terhadap pekerjaan dan keluarga membuat mereka berdua jarang sekali berkumpul seperti dulu. Terlebih Juna sudah memiliki seorang anak perempuan yang lucu membuatnya ingin segera kembali ke rumah setelah selesai bekerja.


Roni berjalan cepat menuju ruangan Rama untuk segera memberikan rujak pesanan sang Bos. Namu zonk ternyata batang hidung bosnya sama sekali tidak ada di sana.


"Tck, kemana sih nih bos. Dah minta cepet cepet giliran udah ada malah doi nya ngilang."


Sang sekretaris yang melihat Roni celingukan mencari bos nya pun menyampaikan pesan Rama.


"Asisten Roni sedang nyari big Bos ya?"


"Udah tau nanyeaaa."

__ADS_1


"Heheheh itu tadi bos Rama bilang mau keluar sebentar. Katanya mau ketemu temennya. Itu lho yang pemegang saham disini Juga."


"Oh pak Juna."


"Iya, terus bos bilang suruh simpen rujaknya di kulkas, katanya awas aja kalau sampe dimakan Roni. Gitu."


"Owalah, emang boa gendeng. Kok ya nggak ngabarin gitu lho. Kan ada handphone. Astagfirullah bisa darah tinggi aku kalo gini. Dah tadi di tukang rujak nyrobot antrian jadi diomelin emak emak, eh sampe sini yang kepengen makan malah lagi nostalgila."


Roni ngedumel sambil memasukkan rujak ke kulkas kecil dalam ruangan Rama. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Udara sejuk ruangan hasil dari AC berkekuatan full membuat mata Roni terasa berat, tanpa aba aba ia pun terlelap bahkan Roni mendengkur keras.


Rama yang baru pulang bertemu dengan Juna sedikit heran dengan asistennya yang terlelap dengan posisi sangat absurd. Badan Roni berada di sofa sedangkan kedua kakinya ada di sandaran kursi.


Melihat hal tersebut keisengan Rama oun muncul. Ia mengambil spidol dan mulai menggambar wajah Roni. Rama terkekeh pelan melihat hasil karyanya.


"Ekhem…  Roni bangun, kita dapat investasi."


"Hah..Apa bos, yang benar. Alhamdulillah." 


Roni bangkit dari tidurnya lalu membenarkan duduknya.


"Ia bener."


"Apakah dari bos Juna."


"Yups, betul banget. Tapi tetep masih kurang. Juna hanya punya 10M, tapi itu lebih dari cukup. Oh iya mana rujakku Ron."


"Dikulkas bos, kan tadi pesennya gitu."


"Oke oke… Ron tolong mintakan piring sama sendok ke ob ya."


Roni berlalu menuju pantry, setiap perjalanan ke pantry semua karyawan menatapnya aneh bahkan mereka menahan tawanya tapi tidak ada satupun yang berani menegur Roni. Roni pun acuh setelah meminta piring dan sendok ia langsung kembali ke ruangan Rama.


Rama membuka bungkusan rujak itu dengan sangat antusias. Ia pun langsung memakannya tanpa merasakan rasa asam sedikitpun. 


Berbeda dengan Roni ia yang melihat bosnya makna rujak malah mulutnya yang berair menahan sensai asam.


"Bos… nggak asem."


"Enggak seger kok. Mau nih."


"Nggak deh bos, buat bos aja. Monggo lha dihabisi. Saya numpang ke toliet."


Melihat Roni memasuki toilet rama menghentikan aktivitas makannya dan tertawa pela. Ia pun menghitung mundur."3...2...1…"


"BOOOOOS RAAAMAAAAAA!!!"


Suara teriakan yang sudah diprediksi oleh Rmaa pun keluar juga dari mulut Roni. Ia melihat wajahnya penuh dengan coretan spidol.


"Astagfirullaah bos, pantas saja tadi orang orang melihat aneh ke arahku dan bahkan menahan tawa ternyata ini. Ya Allaah mau ditaruh mana mukaku… huhuhu malu banget. Ini semua gara gara rujak. Coba kalau nggak lari lari nyari rujak nggak akan ketiduran dan nggak akan dikerjain bos. Argggggg!!!!!!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2