Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
56. Penyesalan Rama


__ADS_3

Hari berganti minggu, kondisi Rama semakin pulih. Selama itu juga Rama tidak diijinkan keluar kamar karena dikhawatirkan ia akan mencari Sita. Roni memberikan perkembangan tentang pelaku penabrakan. Orang tersebut sudah berada di kantor polisi namun tetap bungkam. Tapi Rama tidak peduli, di sudah tahu dalang dibalik semuanya ini. Dan dia sudah punya cukup bukti untuk membekuk Eko Priambudi. Bahkan para anteknya oun sudah siap bersaksi. Mereka semua ketakutan akan ancaman Rama. Kemarin setelah dua hari tersadar, Rama sengaja meminta Roni untuk merahasiakan. Rama bahkan meminta Roni mengayakan pada dewan direksi kalau Rama terluka sangat parah akibat kecelakaan. Hal tersebut membuat Eko sangat senang.


Eko Priambudi pun menggelar pesta 3 hari 3 malam, tanpa ia sadari semuanya sudah dibawah kendali Rama. Orang-orang yang berada di pesta Eko pun juga sudah di setting oleh Rama dan dengan terpaksa mereka patuh. Ancaman Rama tidak main main. Rama akan memiskinkan mereka bahkan akan membuat keluarga mereka menderita 7 turunan. Para keturunan mereka akan diblacklist di seluruh perguruan tinggi dan perusahaan.


Melalui hal tersebut tentu saja membuat antek antek Eko Priambudi gentar. Mereka memilih mengkhianati  demi kelangsungan hidup mereka.


"Ron, sekarang katakan padaku apa yang kau tutupi. Dimana Sita. Kenapa dia tidak melihatku. Bahkan Kai pun tidak terlihat sama sekali padahal aku di sini sudah semingguan."


Roni diam, dia masih bingung menjelaskan kondisi Sita. Sedangkan Hardi dan Ayu selalu mengalihkan pembicaraan jika membicarakan tentang Sita. Kemarin Rama sudah menjelaskan niatnya pada Sita kepada kedua orang tuanya tersebut. Tapi yang membuat Rama terkejut, ayah dan ibu nya itu sama sekali tidak terkejut. Mereka terkesan biasa saja, karena sebenarnya keterkejutan mereka sudah ada di awal. Meskipun Ayu sang ibu tetap mennayakan sepak terjang putranya itu.


"Kamu bukan pebinor kan Ram."


"Astagfirullah ibu. Mana mungkin Rama seperti itu. 6 tahun lalu aku baru pertama ketemu Sita ya pas melahirkan Kai."


"Kamu ikut di ruang bersalin??"


"Iya lah, orang dikira dokter aku suaminya."


Huft…. Hardi menghela nafasnya dalam.


"Terus Kai itu yang ngasih nama kamu?"


"Iya.. Kai Bhumi Abinawa, bagus kan yah namanya. Aku juga yang mengadzani."


"Memang suami Sita kemana." Tanya Ayu.


" Huh… suami sita itu selingkuh bu. Sita dari hamil sudah ditalak sama suaminya. Tidak dinafkahi. Suaminya itu juga nggak pernah tau dan lihat rupa anaknya. Sampai tempi hari ia menemukan Sita dan Kai. Mangkanya aku nggak rela jika Si kutu kupret itu ngejar ngejar Sita lagi."


"Terus maumu?" Hardi menindak tegas putranya itu. 


"Aku mau menikahinya, mangkanya aku meminta Kai memanggilku Ayah." Rama menjawab bangga dan Hardi serra Ayu hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


" Ya sudah kalau itu maumu ayah akan dukung. Asal kamu tau yang waktu kapan menyewa villa dan memberi brownies itu juga Sita dan Kai. Ayah dan ibumu juga suka terhadap mereka. Tapi kamu harus bisa menghadapi rintangan kedepannya terlebih dari kakekmu." Rama mengangguk meski belum paham ucapan ayahnya.


Kembali lagi dimasa sekarang, Roni sudah tidak sanggup menyimpan rahasia  ini dengan berat hati ia pun mengungkapkan keadaan Sita.


"Bos… bos sebenarnya nyonya bos…"


"Sita kenapa katanya dia baik baik saja."


"Sebenarnya nyonya bos koma, sampai saat ini belum bangun. Bos kecil selalu menunggu di sana."


Bugh….


Roni mendapat bogem mentah dari Rama. Ia sudah tahu akan mendapatkan itu namun Toni tidak mengelak, ia menerimanya. Bahan untuk mendesis kesakitan pun tidak.


"Bangsat… Sialan...brengsek kamu Ron. Kamu tidak memberitahuku sama sekali. Kamu gila ya. Ya Allah Sita."


Rama turun dari brankar dan mencoba berjalan, namun sial kakinya belum bisa melaksanakan kewajibannya. Rama terjatuh, tapi Rama tidak menyerah ia tetap berusaha untuk berdiri. Roni meraih tubuh Rama hendak membantu tapi Rama menepisnya. Kilatan marah tampak di mata Rama, tapi Roni tidak menyerah bahkan sedikit memaksa ia mengambil tubuh Rama dan meletakkan di kursi roda.


Roni bergeming ia tidak mau mendebat bos nya yang sedang dalam mode singa itu. Roni hanya terus mendorong kursi roda Rama ke arah ruangan Sita. 


Ceklek…


Roni membuka pintu ruangan Sita. Di sana asa Ayu, Hardi dan Kai. Kai tampak tertidur di pangkuan Hardi sedangkan Ayu sedang mengelap tangan dan kaki serta wajah Sita.


Tes… kristal bening itu jatuh juga dari mata Rama. Hatinya seperti disayat sembilu. Ia mendekatkan kursi rodanya ke arah Sita. Ia melihat wajah dan tubuh sita secara seksama. Ada beberapa luka ringan saja di sana. Rama semakin mendekat, Ayu pun mundur memberi ruang kepada putranya.


Ayu mengajak Hardi dan Roni keluar. Hardi menggendong Kai untuk dipindahkan ke tempat tidur yang lebih nyaman.


Rama membelai wajah Sita yang pucat, lalu meraih tangan Sita dan menggenggamnya. Ia mencium lembut tangan wanita yang amat dicintainya itu.


"Ta… maafkan aku. Sungguh aku minta maaf. Aku tidak bisa melindungimu. Aku minta maaf ta.. Kamu boleh menghukumku. Tapi please Ta aku mohon bangun. Aku nggak bisa kehilanganmu. Aku dan Kai butuh kamu. Kamu berjanji akan membuka hatimu untukku. Mana itu Ta… mana Janjimu."

__ADS_1


Rama terus menangis, ia kembali melihat wajah Sita. Tapak lelehan air mata keluar dari mata Sita yang masih tertutup rapat.


"Ta… Aku tahu kau mendengarku. Bangun yuk… kasian Kai Ta. Kai sangat merindukanmu. Bahkan kata Roni dia tidak mau makan beberapa hari ini."


Rama tau kelemahan Sita adalah Kai. Ia pun terus membicarakan Kai. Tapi belum ada reaksi yang ditunjukkan Sita. Hanya lelehan air mata saja.


Hah….. Rama mendengus. Ia hanya memandangi wajah Sita. Namun kembali dadanya bergemuruh mengingat nama Eko. Amarahnya kali ini benar benar memuncak. Tanpa disadari seorang dokter masuk memeriksa Sita.


" Maaf pak Rama, saya akan memeriksa bu Sita dulu." Ucap dokter Dika ramah.


Rama memundurkan kursi rodanya memberi ruang kepada dokter tersebut untuk memeriksa Sita.


"Bagaimana Dok?"


"Sejauh ini tidak ada masalah. Luka luarnya juga mulai membaik. Kita tinggal menunggu bu Sita untuk bangun."


"Oh iya dok, apakah kaki saya lama sembuhnya?" 


"Sebenarnya tidak pak, karena tidak ada patah tulang di sana hanya retak kecil saja. Paling 2 minggu lagi sudah sembuh tapi pak Rama harus menggunakan tongkat untuk sementara waktu agar untuk menopang kaki bapak agar pulih seperti semula."


" Baik dok, terima kasih. Terus untuk Sita apa yang harus saya lakukan."


Dokter Dika mengambil nafasnya dalam dalam.


"Untuk Bu Sita…. Terus ajak komunikasi. Dan jangan lupa selalu berdoa agar diberi kesembuhan."


Dokter Dika tersenyum, ia lalu pamit undur diri. Rama menghela nafasnya dalam. Ia sungguh merasa sangat sedih saat ini.


"Mungkin aku harus melakukan itu, ya… harus."


TBC

__ADS_1


__ADS_2