
Seminggu berlaku, akhirnya Kai sudah diperbolehkan untuk pulang. Kai pun berteriak senang sungguh dia sudah sangat rindu dengan mainan mainannya.
Rama yang melihat ekspresi Kai seakan tahu apa yang dipikirkan bocah kecil itu.
"Awas jangan begadang lagi. Nanti ayah ambil komputer komputer kamu itu. Ayah tidak peduli meski kamu adalah Mr. Sun yang terkenal hebat. Yang ayah tahu kamu putra ayah."
Glek… Kai menelan saliva nya dengan susah payah. Bisikan Rama sukses membuat bulu kuduknya merinding.
"Baik ayah. Kai akan atur waktu kok. Jadi tenang saja ok." Kai membalas bisikan Rama dengan berbisik juga.
"Apa yang kalian obrolkan mengapa begitu mencurigakan."
"No mom!!! Nothing!"
Rama dan Kai menjawab bersamaan lalu keduanya melakukan tos. Sita hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua pria beda usia itu. Sita merasa Rama dan Kai memiliki banyak kesamaan
" Bagaimana bisa orang yang tidak punya hubungan darah bisa memiliki banyak kesamaan. Entahlah." Gumam Sita pelan.
***
Selama diperjalanan Kai tengah berpikir keras tentang apa yang akan disampaikan kepada Roni. Hasil pencariannya memang membuahkan hasil namun hasil ini membuat Kai pusing memikirkannya bahkan sampai membuatnya sakit dan menginap di rumah sakit selama seminggu full.
Sampai di rumah Kai langsung diantar Sita dan Rama ke kamarnya. Ia meminta Kai untuk beristirahat.
Kai mengangguk patuh lalu merebahkan tubuhnya di kasurnya.
Hmmmm…. Aroma kamar yang sangat ku rindukan. Oh iya komputer.
Kai bangkit dari posisi tidurnya dan langsung menuju ruangan dimana komputernya berada. Tangannya kembali menari nari di tuts keyboard, mencoba mencari fakta lain atas kasus tabrak lari yang dialami orang tua Roni.
Tapi sejenak Kai membaca beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari Roni.
Hello Mr. Sun. I am so sorry about this. But I wanted to cancel my request yesterday. I'm afraid if that fact is revealed it will make me a hater. I'm happy with my life now. so I no longer want to know those past events.
Huft… Alhamdulillah om Roni tidak ingin melanjutkan penyelidikan. Soalnya aku bingung bagaimana harus menyampaikannya. Bagaimana jika dia tahu kalau eyang Hardi lah yang menabrak orang tuanya. Aku tidak ingin semuanya saling salah membenci. Tapi aku bersyukur om Roni cukup lapang dada menerimanya. Huft...
Ok mister Roni i respect your decision.
Selesai sudah kali ini, tapi yang jadi pertanyaan mengapa Eyang tega melakukan hal itu. Sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
Meskipun Roni tidak mau tahu lagi tentang kasus tersebut, Kai malah menjadi penasaran. Ia pun melanjutkan penyelidikan sendiri untuk mencari fakta. Ia tidak percaya jika eyang yang terlihat begitu menyayangi Roni berbuat setega itu.
Tak….Tik...tak...tik… Suara tuts keyboard sungguh nyaring terdengar. Kai melupakan fakta bahwa dia baru saja sembuh dan baru pulang dari rumah sakit.
***
Kai mencoba kembali melihat cctv kejadian beberapa tahun silam itu. Ia merasa ada yang janggal di sana, karena cctv nya tampak seperti sengaja dipotong potong untuk mengelabui beberapa pihak.
" Ada yang tidak beres dengan peristiwa ini. Aku yakin cctv nya sengaja disabotase. Oh iya… bisa lihat cctv dari toko yang di dekat TKP. "
Kai mulai menjelajahi toko tersebut. Beruntung toko tersebut masih berjalan hingga saat ini jadi lebih mudah untuk mencarinya.
"Huft… susah. Ini sudah sangat lama. Apalagi cctv masa itu tidak sesempurna jaman sekarang."
Kai kembali bermonolog. Ia berulang kali memutar cctv yang dia dapat hingga puluhan kali.
" Kepalaku terasa sangat pusing. Lebih baik aku tidur sebentar sebelum Ayah dan Mommy tau lalu murka."
Kai pun kembali menatap layar komputernya namun ada sesuatu yang menarik di sana sehingga ia urung untuk mematikannya.
"Yes…. Dapat… hahahah setelah 3 jam akhirnya ketemu juga. Aku yakin bukan Eyang, eyang tidak akan setega itu. Haaah untung orang tersebut sudah menerima hukumannya. akhirnya bisa tidur dengan tenang."
Kai mematikan semua perangkat komputer miliknya dan kembali ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana.
Matanya melihat ke langit langit, ia tersenyum puas. Ternyata sakitnya selama satu minggu ini tidaklah sia sia. Ia menemukan sebuah fakta yang mengejutkan.
Sesungguhnya yang menabrak orang tua Roni adalah Eko Priambudi tapi menggunakan mobil milik Hardi. Karena perawakan yang hampir sama jika tidak teliti maka pasti akan menganggap orang itu adalah Hardi.
Beruntung Kai bisa melihat lebih teliti dengan mencari foto saat Hardi dan Eko sama sama muda.
" Baiklah Om Roni. Aku akan memberitahumu hasilnya meskipun kau tidak menginginkannya lagi. Huft, akhirnya selesai juga. Sekarang waktunya istirahat."
Kai mematikan ponsel dan tablet miliknya agar tidak ada yang bisa mengganggunya saat tidur.
🍀🍀🍀
Malam berganti, adzan subuh berkumandang membangunkan Kai yang sudah merasa cukup tidur dan istirahat. Ia beranjak menuju kamar mandi mengambil air wudhu lalu menuju ke kamar kedua orangtuanya.
Tok .. Tok...tok…
__ADS_1
"Assalamualaikum mom, yah."
"Assalamualaikum baby. Ups… sorry abang."
Kai mengembangkan senyum mendengar Sita memanggilnya seperti itu. Kai pun menghambur memeluk Sita.
"Sudah merasa lebih baik boy."
" Ya ayah. Aku sudah merasa sehat."
" Good… yuk sholat subuh dulu."
Mereka bertiga membentangkan sajadah. Lantunan ayat suci dilafalkan oleh Rama. Mereka sholat dengan khusyu hingga salma tanda berakhirnya sholat.
Kai mencium tangan kedua orang tuanya, mereka berdoa bersama.
" Ayah… mommy… bolehkan aku nanti yang memberi nama adik adikku?"
" Tentu saja boy. Memangnya kamu sudah punya nama?"
"Sudah ayah."
" Apakah mommy boleh tau?"
" Not now. Tapi aku akan memanggilnya triple A. Semua nama adikku di awali dengan huruf A."
" Tapi kita belum tahu jenis kelamin adikmu boy."
" Tidak masalah yah. Mau laki laki semua, atau perempuan semua atau laki laki dan perempuan semua awalan namanya adalah huruf A."
" Hahaha baiklah boy. Ikut katamu."
" Oh iya mas, apakah kamu mau menyematkan nama keluarga besar mu?"
" Tidak sayang. Aku tidak akan menyematkan nama Joyodiningrat. Biarlah anak anak kita tumbuh dewasa tanpa ada bayang bayang nama keluarga besar itu."
Sita mengangguk, sebenarnya dia juga lebih senang jika nama anak anaknya tidak ada nama Joyodiningrat. Sedangkan Rama memang sudah memikirkan hal itu sejak lama. Bahkan sejak sebelum menikah. Menggunakan nama itu menurutnya terasa berat dan menjadi seperti beban. Jadi dia tidak akan menyematkan nama keluarga tersebut di belakang nama anak anaknya kelak.
Kai tersenyum mendengar pernyataan Rama. Dia akhirnya lega, pemberian nama kepada adik adiknya nanti sudah dia pikirkan. Yang jelas di akan menyematkan nama Abinawa dibelakang semua nama adiknya mengingat nama itu adalah pemberian dari Rama.
__ADS_1
TBC