
Rama menuju ke ruang rawat Sita menggunakan kursi rodanya. Perasaan sedih dan bersalah masih menyelimuti. Air mata nya kembali luruh saat berada di depan ruang rawat wanita yang amat dicintainya itu. Entah sejak kapan tepatnya Rama begitu mencintai wanita yang tengah terbaring koma itu.
Hah….. Rama membuang nafasnya kasar. Ia menghapus air matanya yang terlanjur membasahi pipi dan segera merubah ekspresinya. Meskipun Sita tidak melihat tapi aku harus tetap tampak ceria, begitulah yang dipikirkan Rama.
Rama masuk ke ruang rawat Sita dan kemudian mendekati brankar. Ia meraih tangan Sita.
"Ta,...kapan kamu mau bangun. Kai sangat merindukanmu begitu juga dengan Aku. Ta jangan salahkan aku kalau aku nekat ya hahahah. Ta… besok aku akan menikahimu. Di sini. Aku harap kamu tidka marah kepadaku saat kamu terbagun nanti. Tapi sebenarnya aku mengharapkan itu. Bangunlah dan marah lah sepuasmu karena keputusanku yang sesuka hati ini. Apa kamu tahu lagi-lagi karena aku kamu berada di sini. Hah… jika aku bisa aku ingin menggantikan mu di sini. Kamu pasti sangat membenciku bukan? Arsita Ayuningrum, bangunlah. Sungguh aku tidak bisa kehilanganmu. Aku pernah kehilanganmu sebelumnya dan kali ini aku tidak mau kehilanganmu lagi."
Rama membelai wajah Sita, dengan sedikit berusaha ia mendaratkan ciuman di kening Sita sedikit lebih lama. Rama lalu mendekatkan bibirnya ke telinga wanita cantik itu dan membisikkan sesuatu.
"Arsita Ayuningrum, I love you. Aku benar benar mencintaimu."
Roni yang berada di depan ruangan Sita sangat terenyuh menyaksikan bosnya. Rama begitu tulus dengan Sita. Roni sendiri tidak menyangka kala Eko begitu nekat mencelakai Rama. Roni hanya berpikir bagaimana Eko akan menjebak Rama agar bisa menjadi menantunya.
"Orang itu benar-benar tidak bisa dibiarin. Lihat saja setelah pernikahan bos aku akan langsung membuat perhitungan kepadanya." Geram Roni.
Tok tok tok…
"Bos.. Ada yang mau aku sampaikan." Roni memasuki ruang rawat Sita untuk menemui Rama.
Rama mengangguk, lalu keluar bersama Roni.
"Bos, semua sudah siap. Setelah bos resmi menikah kita akan munculkan orang itu ke publik."
"Bagus… aku percayakan padamu. Aku ingin dia dapat balasan yang setimpal."
Rama kembali ke ruang rawatnya dibantu oleh Roni. Besok adalah hari besar untuknya.
Memasuki ruang rawatnya, Rama melihat Kai sudah tertidur pulas. Ia mengusap kepala bocah itu dan mencium keningnya.
"Ayah akan selalu melindungi mu boy. Meski ayah bukanlah ayah kandungmu namun ayahlah yang mengantarkan kamu lahir kedua ini. Ayah akan menjagamu selamanya."
Rama membenarkan selimut Kai lalu ia ikut tidur di samping bocah itu. Rama memeluk Kai dengan penuh kasih sayang.
Roni meninggalkan dua orang beda usia itu. Ia sangat bersyukur Kai bertemu dengan Rama, orang yang benar benar menyayanginya dengan tulus. Sama halnya dengan dia. Roni sangat bersyukur bertemu dengan Hardi dan Ayu. Berkat merekalah Roni bisa menjadi orang seperti sekarang. Roni bertekad akan melindungi keluarga Joyodiningrat dengan nyawanya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Esok hari ruang rawat milik Sita sudah disulap menjadi ruang untuk akad nikah. Rama tampil luar biasa dengan jas pengantin warna hitam, Kai pun menggunakan pakaian senada dengan Rama.
Hardi tampak gagah dengan kemeja batik dan Ayu tampak cantik dengan balutan kebaya sederhana. Susi dan Bi Surti menggunakan pakaian terbaik mereka. Mereka tetap ingin mengenakan pakaian yang terbaik meski Sita tidak bisa melihatnya saat ini.
Bagi Bi Surti ini adalah acara pernikahan kedua yang ia lihat. Yang pertama adalah saat Sita menikah dengan Dani dan sekarang Sita menikah dengan Rama. Dua mempelai pria yang berbeda dengan dua kondisi yang berbeda pula.
Bi surti menangis tersedu melihat kondisi Sita yang seperti itu. Namun segera ia menghentikan tangisnya. "Neng… Semoga kamu berbahagia dengan dengan Den Rama. Semoga Den Rama bisa menghapus rasa pedih mu di pernikahan yang lalu." Gumam Bi Surti.
Susi merangkul pundak bi surti dan menepuk pelan memberikan kekuatan.
Sedangkan Kai, ia tengah duduk diantara Hardi dan Ayu. Sepintas ia menatap wajah Sita yang sedikit diberi riasan. Kai meneteskan air matanya.
Rama yang sudah siap di depan penghulu menatap Sita lalu menatap semua orang. Roni dan Dokter Dika menjadi saksi nikah. Mas kawin juga sudah dipersiapkan.
"Saudara Rama apakah anda sudah siap." Tanya penghulu.
"InsyaAllah siap pak."
"Baiklah… bismillah… Ananda Rama Hadyan Joyodiningrat saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ananda Arsita Ayu Ningrum bin fulan dengan mas kawin emas 25 kg dibayar tunai."
"Saya Terima nikahnya Arsita Ayuningrum……….."
"Sah….?"
"Sah.."
" Sah…"
"Sah…"
Semua mengucapkan kata sah dan melantunkan doa. Rama mendekat ke arah Sita ia menyematkan sebuah cincin berlian yang dibeli dari sahabatnya Charles.
Ia mengusap wajah cantik Sita dan mencium keningnya lalu meletakkan telapak tangannya ke kepala sita dan melantunkan doa "Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.” Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku."
__ADS_1
"Maafkan aku Ta, aku harus menikahi mu dengan cara seperti ini. Aku akan memberikan pesta yang megah saat kau terbangun nanti. I love you sayang."
Rama mundur dan mengucapkan terimakasih ke semua orang, semuanya pun membalas dengan ucapan selamat.
"Selamat pak Rama, semoga pernikahan anda sakinah mawadah warohmah, Barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fii khair (Mudah-mudahan Allah memberkahimu dalam segala hal baik, dan mempersatukan kalian berdua dalam keadaan kebaikan)."
"Aamiin Ya Rabbal 'alamiin. Terimakasih dokter. Oh iya dok… saya ingin membawa Sita ke rumah.. Apakah bisa."
"Sebenarnya bisa saja pak, tapi alat alatnya…"
"Tidak apa apa dok. Saya akan membayar semua biayanya. "
"Baik pak Rama, kami akan mempersiapkan kepulangan bu Sita dengan sebaik mungkin."
Rama senang, ini memang bagian dari rencananya yakni membawa Sita ke rumahnya. Ia pun meminta Bi Surti dan Susi ikut serta.
Hardi dan Ayu pun setuju, untuk sementara mereka pun akan tinggal di kota J bersama Rama. Hal Tersebut juga meminimalisir agar Eko Priambudi tidak berulah.
"Oh iya bu, dimana Dewi." Tanya Rama.
"Maaf bos, non Dewi lagi ada ujian jadi tidak bisa hadir." Roni yang menjawab karena Roni lah yang bertanggung jawab untuk menjemput Dewi.
"Selamat ayah Rama. Sekarang ayah benar benar menjadi ayahku." Kai melompat senang. Ia pun mendekati Sita. Dan mengucapkan sebuah kalimat.
"Mom, I'm happy for you so wake up mom. We miss you so much. Me and ayah love you so much."
Kai mencium dan memeluk Sita. Sejenak Kai merasakan sesuatu yang bergerak.
"Mom, are you awake?"
Mendengar ucapan Kai Rama pun ikut mendekat diikuti dokter Dika. Dokter Dika pun memeriksa namun kemudian ia menggeleng. Semuanya menghela nafas mereka.
" Jangan patah semangat dan jangan berhenti berharap terus berdoa dan pancing terus respon bu Sita. Saya doakan semoga bu Sita segera terbagun."
"Terimakasih dokter." Ucap semuanya serempak.
__ADS_1
TBC