Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
BONCHAP 08. Krucil Datang


__ADS_3

Sir Ernest Felix Alexander dan orang kepercayaannya Jerry berada di hotel Pandawa Resort. Ernest menunda kepulangannya ke negeri milik Ratu Elizabeth itu. Saat ini ia sedang memandang gedung rumah sakit Mitra Harapan. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini.


" Jer… kita akan menunda kepulangan kita."


" Yes Sir.  As you wish."


Ernest menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa dekat jendela kaca hotel tersebut. Pria tua itu membuang nafasnya dengan kasar.


" Jer… apa ada kemungkinan dia putriku dengan Camelia?"


Jerry diam dengan pertanyaan tuannya. Ia bingung bagaimana harus menjawab. 


"Jer…. Andai saat itu aku tidak meninggalkan Camelia di rumah sendirian. Mungkin saat ini aku masih bersamanya dan menyaksikan cucu cucu kami bermain bersama." 


" Maaf tuan, sebaiknya kita tunggu hasil tes DNA dua hari lagi dari rumah sakit agar kita mempunyai kesimpulan dan bukti yang kuat."


Hah…. Ernest menghembuskan nafasnya kasar lagi. Ia terpaksa menunggu hasil tes yang sedang ia lakukan.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya kediaman Rama kembali heboh dengan aksi mogok segalanya oleh triple A.


" Oh ayolah guys… you must go to school so let's take a bath."


Ale sedikit memaksa kepada tiga bocah itu yang sedari tadi merengek mencari abang dan kedua orang tuanya.


" No Ale. I want my mom." Teriak Ana.


" Guys… kalian sudah besar."


" Ale.. Did you forget? We are still 6 years old." Saut Akhza.


" Ok…, if you don't comply. I won't tell where Abang Kai is."


Semuanya terdiam saat mendengar nama Kai di sebut. Ale menggunakan cara terakhir untuk bisa menyuruh mereka berangkat ke sekolah.


" Apa kau akan memberi tahu kami dimana Abang?" Tanya Abra memastikan.


" Ya.. Aku janji. Asalkan kalian patuh dan segera berangkat sekolah. Sepulang sekolah nanti aku akan membawamu menemui abang."


Tanpa mengucapkan apapun mereka menuju ke kamar mandi masing masing dan bersiap ke sekolah.


15 menit mereka sudah siap di meja makan. Mereka Memakan sarapannya dengan tenang dan selesai tanpa drama.


" Ok Ale… we are ready to go to school."


Ucap Akhza yang diikuti kedua adik nya. Ale tersenyum puas dengan kegesitan triple A. Namun ia menghembuskan nafasnya kasar. Pasalnya ia menjanjikan sesuatu yang pasti akan menimbulkan keributan.


" Baiklah… mari masuk mobil. Pak Nan sudah menunggu."


" Assalamualaikum Ale…"


" Waalaikumsalam guys."


Ale mendengus kasar. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi tuannya.


" Assalamualaikum tuan. Bagaimana kondisi tuan muda."


" Waalaikumsalam Al...  Gimana kembar?"


" Mereka baru saja berangkat ke sekolah tuan… tapi…"


" Tapi kenapa Al?"


" Ehmmm… tadi saya bilang ke si kembar akan memberitahu dimana abang mereka. Baru mereka mau berangkat sekolah tuan."


Rama mendengus, ia sudah menduganya. Mereka tidak akan bisa menyembunyikan keberadaan Kai dari adik adiknya.


" Ya sudah tidak apa apa. Nanti bawa saja kesini. Tapi jangan bilang apapun. Bawa saja mereka."


" Baik tuan…. Dan maaf."


" Tidak apa apa Al."

__ADS_1


Rama menutup sambungan teleponnya. Ale bernafas lega sedangkan Rama kembali mendengus. Sita yang melihat suaminya tampak bernafas berat akhirnya bangkit dari duduknya di sebelah Kai. Dia menghampiri Rama dan duduk di pangkuan suaminya.


" Kenapa sayang…"


Rama memeluk pinggang Sita dan menaruh kepalanya didada sang istri.


" Ale… Ale bilang ke si kembar akan ngasih tahu dimana Kai kalau mereka mau patuh pergi ke sekolah."


" Ya sudah, biar mereka tahu juga mas abangnya sakit. Biar mereka nggak manja sama Kai."


Rama mengangguk, ia menghirup aroma Sita yang menurutnya sangat segar.


" Sayang…. Apa kamu tidak ingin hamil lagi?"


" Mas… aku rasa 4 sudah cukup. Aku takutnya malah Kai yang riweh kayak sekarang ini. Anak itu begitu menyayangi adiknya."


" Ya… Aku tahu itu. Baiklah kalau begitu."


Sita mengusap kepala Rama. Ia menyisir rambut Rama dengan jari tangannya.


" Ugh …. " 


Kai melenguh, Rama dan Sita langsung berdiri dan berlari mendekat ke ranjang Kai.


" Sayang… apa yang kamu rasain. Mas panggil dokter."


" Ok… ok….!"


Saking paniknya Rama lupa jika di kamar tersebut ada tombol untuk memanggil dokter. Rama malah berlari keluar kamar.


" Mom…"


" Yes… baby..  Mom in here."


" Are you ok.. Apa mommy baik baik saja. Ayah bagaimana, Om Roni, oh iya Q dan Geoff.. Apa ada yang terluka?"


Sita menangis, bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri Kai malah menanyakan kondisi orang orang disekitarnya.


" Semuanya baik sayang  mommy juga. Kamu yang terluka malahan."


Kai tersenyum ke arah Sita. Dokter Dika masuk bersama Rama yang terlihat terengah engah.


" Hay boy… kau sudah besar sekarang."


" Oh hay dokter Dika. Dimana istri anda.. Q tidak apa apa kan?"


" Silvya?.. Ya dia tidak apa apa. Terimakasih telah menolong Silvya." 


Kai tersenyum. Dokter Dika langsung  melakukan pemeriksaan. Dia mengatakan bahwa semuanya baik. Tinggal pemilihan saja. Dan sementara waktu harus istirahat dulu.


" Istirahatlah Kai." 


" Terimakasih dokter. Oh iya dok bolehkah saya minta tolong."


" Boleh saja.. Kenapa?"


" Tolong sampaikan kepada istri anda untuk dia menemui saya di sini."


" Baiklah. Nanti aku sampaikan."


" Terimakasih dok."


Dokter Dika berjalan ke luar ruang rawat vvip itu diantar oleh Rama.


" Apa putra anda berteman dengan istriku."


" Ya… sepertinya mereka berteman. Dan sudah dari 8 tahun yang lalu."


" Apa…..?!?"


Dika terkejut bagaimana istrinya itu bisa berteman dengan seorang anak kecil. Dika rasanya ingin cepat cepat menemui istrinya untuk mencari jawaban.


Rama sendiri heran. Bagaimana Kai bisa mengenal Silvya, seorang CEO LT yang dia sendiri bekerjasama dengan perusahaan milik wanita tersebut.

__ADS_1


Ya, Rama menggunakan kapal kargo milik LT untuk pengiriman ekspor.


Sita tengah menyuapi putra sulungnya itu dengan air mata berurai. Kai meminta sita untuk berhenti menangis namun berkali kali Sita menghapusnya tetap saja air mata itu keluar lagi. Kai pun akhirnya pasrah. Ia membiarkan mommy nya meluapkan semuanya saat ini. Hingga Kai selesai makan, Sita pun baru berhenti menangis.


" Apakah sudah lega mom."


" Iya sayang… Maaf. Sekarang apakah sudah memberi mommy penjelasan."


Cekleeek…..


" Abanggg……..!!!!" Ketiga krucil itu datang ke kamar Kai di rawat.


" Im sorry mom… sepertinya kai belum bisa menjelaskan sekarang."


Kai nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Sedangkan Sita hanya mendengus kesal. Namun kemudian ia tersenyum dna membelai rambut sulungnya itu.


" Tidak apa apa kita masih punya banyak waktu."


Sita mencium kening Kai dengan sayang. Ia lalu menyapa ketiga buah hatinya ynag lain.


" Apa kalian hanya rindu dengan abang… tidak rindu mommy hmmm…."


" Mommy……"


Ketiganya memeluk Sita bergantian. Dan langsung mendekat ke ranjang sang kakak.


Ana yang melihat bahu Kai diperpan menangis. " Hu...hu… hu… Abang sakit ya. Itu pasti sakit banget. Perbannya banyak."


" Sini… duduk sini… abang nggak pa pa… hanya luka kecil. Akhza… boy.. Apa kalian membuat onar."


" No.. Bang.. Kami sangat kooperatif kok."


" Lalu… Abra… apa kau tetap menghafal yang ku tugaskan?"


" Siap dong bang… Abra mah nggak lupa kok. Tenang aja."


" Baiklah guys… aku percaya… itu baru bagus."


Ketiganya duduk di ranjang Kai. Mereka bicara banyak hal. Baru beberapa saat tidak bertemu seperti sudah tidak bertemu lama.


Rama yang baru masuk sedikit terkejut melihat Kai sudah dikerubungi adik adiknya.


" Sayang… itu…."


" Hmmm…biarkan sebentar saja. Habis ini aku akan membawa mereka pulang."


Rama hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar benar tak habis pikir dengan ketiga anak kembarnya itu.


" Guys… sudah ya.. Abang biar istirahat."


" Yaaah… akhza baru aja cerita kalau akhza bisa bikin program komputer baru tadi pagi."


" He… apa?? Haish.. Ya Allaah anak anak ini. Oke… kalian ingin abang cepet pulnag nggak?"


Ketiganya mengangguk cepat."


" Jika iya. Sekarang kalian pulang bareng mommy biar abang bisa istirahat dan biar cepet bisa pulang."


" Baik ayah." 


Jawab ketiganya serempak dengan wajah ditekuk. Kai terkekeh geli. Mereka pun pamit kepada Kai. Ketiganya bergantian mencium tangan Kai secara perlahan.


" Bye abang… cepet pulang ya. Kami bosen nggak ada abang "


" Iya Abra.. Kalian jangan rusuh oke. Patuh kata mommy sama Ale juga."


" Siap bos!!!"


Ketiganya dibawa pulang oleh Sita setelah Sita mencium kepala Kai.


" Bang… jangan bikin ayah jantungan seperti kemarin. Apa kau tahu ayah hampir gila kemarin melihat kamu berlumuran darah begitu. Cukup kedua kalinya ayah melihatmu begitu. Yang sekali saat kamu lahir."


" Im sorry Yah.. Kai nggak akan ngulangin lagi. Kai akan lebih hati hati. I love you Ayah."

__ADS_1


" I love you putra sulungku."


TBC


__ADS_2