
Di penjara Mauren kini berada. Ia tampak kacau dan berantakan, wajahnya tak lagi cantik, rambutnya juga tidak lagi ditata salon dan tubuhnya juga tidak lagi terawat. Dia bahkan tidak lagi mengenakan pakaian pakaian branded, yang ia kenakan adalah baju tahanan. Ya disinilah Mauren berada. Di sebuah rutan kota J. Awal masuk dia selalu berteriak histeris, meneriaki siapa saja untuk mengeluarkannya. Tapi lama kelamaan dia akhirnya menyerah juga. Kali ini ia mengakui kekalahannya.
Mauren merasa ada yang salah dengan tubuhnya terlebih area sensitifnya. Ia mengalami gatal-gatal di area genitalnya, ia juga merasakan sakit saat buang air kecil. Sungguh ia sudah tidak sanggup dengan rasa gatal dan sakit tersebut.
"Bu saya mohon saya butuh periksa ke dokter?" Mauren memohon kepada sipir penjara karena dia sudah tidak tahan dengan gatal dan sakit di area sensitifnya.
"Memangnya kamu sakit apa."
"Itu Bu, saya merasa sakit saat buang air kecil."
Sipir wanita itu tidak melanjutkan pertanyaannya sedikit banyak ia paham apa yang dialami Mauren karena ada beberapa tahanan yang memiliki gejala seperti yang tengah dirasakan Mauren.
Sipir tersebut pun segera membawa Mauren untuk diperiksa oleh dokter tahanan, jangan sampai penyakit ini menyebar ke tahanan lain. Si sipir punya diagnosanya sendiri kalau mauren terkena penyakit menular S*ksual.
"Silahkan." Ucap dokter meminta maureen untuk naik ke brankar. Dokter tersebut lalu memeriksa mauren seperti yang dibilang oleh sipir.
"Hah…. Kamu harus dirujuk ke rumah sakit. Ini sudah parah. Ruam nya juga sudah mengeluarkan nanah."
"Saya kenapa dok," Tanya mauren.
"Ini masih diagnosa awal saja tapi untuk lebih jelasnya kita harus membawamu ke rumah sakit, bisa saja kamu terkena Herpes Genital atau Sipilis. Jika sipilis masih bisa disembuhkan tapi tidak dengan Herpes Genital. Herpes ini akan ada di tubuhmu selamanya. Sipilis jika tidak segera diobati bisa menyebar bahkan sampai ke otak."
Duar…….
Penjelasan dokter penjara itu seperti petir disiang hari yang panas. Mauren sangat terkejut, tubuhnya terhuyung. Dia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dokter pun memanggil sipir dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil ambulan rutan.
Sedangkan di tempat lain si juragan sawit yang tidak lain adalah Eko Priambudi Itu sangat kesal dengan kegagalan Mauren.
"Sial, dasar wanita ******. Rugi, aku benar-benar rugi. Uang melayang tapi wanita yang dijnajikan tidka dapat, ditambah penghalang analku menjadi nyonya muda Joyodiningrat pun juga lolos. Sialan."
"Papi, kenapa papi marah-marah." Ucap wanita muda yang tidak lain adalah putrinya.
"Oh putri papi yang paling cantik, dari mana aja kamu sayang?"
"Ajeng habis shoping Pi, papi nggak marah kan."
"Nggak sayang, uang papi adalah uangmu juga bukan begitu."
"Yes, makasih papi."
" Jeng, kapan kamu beraksi?"
" Malam ini pa."
" Bagus, papi harap kamu tidak akan mengecewakan papi nak."
"Tenang papi, malam ini aku akan membuat Mas Rama menjadi milik aku."
Senyum devil menghiasi bibir Ajeng. Malam ini ia akan melancarkan aksinya untuk menjadikan Rama miliknya. Ia sudah bersiap sebaik mungkin untuk hal itu.
__ADS_1
"Lihat saja mas Rama setelah malam ini kamu tidak akan pernah lepas dariku untuk selamanya. Dan setelah itu aku akan menjadi Nyonya Rama Hadyan Joyodiningrat."
🍀🍀🍀
Setelah mengantarkan Sita dan Kai sebenarnya Rama hendak mendatangi rumah orang tuanya di puncak. Rama ingin mengutarakan maksudnya untuk meminang Sita sebelum si kutu kupret Dani itu terus mengejar-ngejar Sita. Tapi sepertinya keinginannya itu harus di pending karena malam ini akan ada pertemuan para kolega di Pandawa Resort. Sebenarnya Rama malas kalau bukan karena untuk kemajuan perusahaan.
"Sialan si kutu kupret sepertinya mau ngejar Sita lagi." Ucap Rama lirih
"Kutu kupret siapa bos?" Tanya Roni.
"Siapa lagi, Dani Atmaja. Tatapan matanya saat memandangi Sita seakan Sita itu punya nya, huh rasanya pengen tak congkel matanya."
"Tenang Bos, harus elegan jangan gusrak gusruk."
"Elegan ndasmu (kepalamu) keburu Sita ditikung tuh kutu kupret." Rama bersungut-sungut wajahnya begitu kesal. Apalagi saat mengingat Dani yang tampak acuh saat melihatnya.
Roni yang melihat Si bos tengah kesal hanya bisa diam. Dia Tidak mau berbicara apapun karena pasti ujung ujungnya akan salah, "susah kalau orang lagi jatuh cinta."batin Roni.
" Bos…"
"Apa!!!"
"Aatagfirullaah, bos aku belum bilang apa apa udah nyolot aja."
"Iya apa"
"Nanti saat di pertemuan makan malam dengan para kolega si Tikus Kantor itu pasti juga ada. Perasaanku tidak enak bos. Bos harus hati-hati."
"Siap bos."
Mungkin hanya perasaanku saja, tapi ternyata Roni memiliki firasat yang sama. Aku harap semuanya akan baik baik saja. Apa aku ajak Sita aja ya sebagai pendampingku, eh jangan disana ada si tikus busuk aku khawatir Sita malah bisa jadi mangsanya, Batin Rama.
🍸🍸🍸
Pandawa Resort pukul 19.00
Acara pertemuan dan makan malam pun dimulai. Rama nampak gagah dengan setelan jas warna navy, sedangkan Rama juga tak kalam memesona dengan setelan jas warna hitam. Kedua orang tersebut mendadak menjadi pusat perhatian. Siapa yang tidak tahu pewaris JD Grub dan asistennya itu memang sama sama memiliki pamor yang tinggi.
Mereka semua saling beramah tamah dan membuka jalan untuk bekerja sama.
Di ujung ruangan Ajeng sudah siap untuk melaksanakan aksinya. Ia membawa segelas orange juice, ia tahu betul Rama tidak minum minuman beralkohol.
"Hay mas Rama." Sapa Ajeng, gadis itu mendekat ke arah Rama.
"Hmmmmm." Rama cuma berdehem.
"Ini mas minum, mas kan nggak minum-minuman beralkohol jadi aku bawakan juice."
Merasa minumannya tidak beres Rama pun menolak.
__ADS_1
"Tidak aku sudah minum."
"Oh ya sudah." Ajeng tahu dia bakla ditolak, lalu ia pura pura tersandung gaun dan dengan sengaja ia menumpahkan minuman itu di baju Rama.
"Maaf mas, maaf aku nggak sengaja, yuk aku anter cari baju ganti." Ucap Ajeng merasa bersalah tapi dengan senyuman devil.
" Tidak usah, ada Roni. Ron antar aku pulang."
"Siap bos."
Roni yang memang punya perasaan tidak enak memang tidak jauh-jauh dari Rama. Dari tadi dia nempel terus, dia tidak kana membiarkan sebuah kecolongan terjadi. Sedangkan Ajeng sangat kesal, rencananya gagal. Tapi dia terus memutar otak agar rencananya bisa berhasil. Ajeng mengekpr Rama dna Roni hingga ke mobil. Bahkan Ajeng memaksa ikut masuk ke mobil dengan dalih tidak enak karena sudah menumpahkan minuman.Di Sana Rama mulai merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
"Ron, aku kok kepanasan, mobilnya ac nya mati ya." Ucap Rama sambil melonggarkan dasinya, bahkan ia membuka jasnya dan membuka beberapa kancing kemejanya.
"Enggak bos, ac nya full."
Kini Roni dna Rama memandang Ajeng dengan tatapan membunuh."
"Apa yang kamu campurkan dalam minuman itu. Ron menepi. Seret wanita murahan ini keluar. Cepat!!!!" Rama membentak marah.
"A-aku tidak mencampur apapun. Sungguh mas."
"Bullshit, bangsat. Awas saja kau Jeng. Kau dan ayahmu tak akan kubiarkan. Ron, cepat seret wanita ini."
Roni langsung menghentikan mobilnya dan menarik Ajeng keluar mobil. Ajeng meronta tapi Rama maupun Roni tidak peduli. Terlebih Rama. Kilat marah di matanya sungguh ingin menelan orang.
Roni kembali masuk ke mobil dan melajukan mobilnya. Dan di jalan Ajeng berteriak teriak seperti orang gila. Ia sangat marah rencananya gagal total.
"Ron, panas banget sumpah. Bajingan Ajeng, dia memberiku obat perangsang. Sialan. Ron… panas Ron."
"Bos sabar bos, aku nggak mau jadi obatmu."
"Brengsek. Aku juga ogah. Aku masih normal."
"Ron… beneran panas ini Ron. Ya Allaah, piye iki (gimana ini). Ron ke rumah Sita. Itu paling dekat dengan kita sekarang."
"Tapi bos."
"Sudah cepat tidak ada tapi-tapian."
Roni melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah Sita. Sedangkan Rama, Rama sudah kesusahan mengontrol dirinya sendiri, bahkan ia hendak membuka bajunya namun dicegah oleh Roni.
"Dug dug dug" Rama menggedor pintu rumah sita dengan sangat kuat membuat Sita terkejut.
"Siapa malam-malam begini bertamu." Ucap Sita sambil menuju ke pintu dan membukanya.
Ceklek…
"Ta… please… tolong aku."
__ADS_1
TBC