
Hari ini Rama membawa Sita kekedimaan miliknya. Rumah yang sudah lama ia persiapkan jika ia menemukan Ratu di hatinya, dan hari itu ternyata telah tiba. Meski dengan cara yang tidak biasa jika sepasang pengantin baru akan sangat bahagia memasuki rumah baru mereka, maka tidak dengan Rama. Ia memasuki rumah pengantin mereka dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Entah harus sedih atau bahagia dengan apa yang ia lakukan saat ini.
"Selamat datang sayang… ini rumah kita. Kita akan menghabiskan waktu kita sampai kita tua nanti. Melihat Kai tumbuh dewasa dan mungkin anak anak kita nanti." Ucap Rmaa dengan air mata yang sudah meleleh.
Hardi, Ayu, dan Dewi begitu terharu melihatnya. Hardi dan Ayu dapat merasakan cinta Rama terhadap Sita. Begitu juga Dewi. Belum pernah selama ini melihat Rama begitu terpuruk.
Mereka membantu Rama membawa Sita ke kamar yang berada di lantai satu. Sebenarnya Rama mempersiapkan kamar mereka di lantai, namun agar lebih memudahkan dokter dan para perawat dalam merawat Sita ia menempatkan Sita di lantai 1 sampai Sita kembali bangun dari komanya.
Kai masuk ke kamar Sita lalu duduk diranjang Sita dan merebahkan tubuhnya di samping Sita. Kai memeluk Sita lambat laun terdengar suara isakan dari mulut bocah kecil itu. Isakan yang lama lama berubah jadi sesenggukan. Semua orang yang mendengar tangisan dan menyaksikan Kai ikut merasakan ngilu di hati mereka.
Rama mendekat dan ikut merebahkan tubuhnya di dekat Kai dibantu oleh Roni. Rama ikut mendekap Kai. Ranjang dengan ukuran King size itu sangat cukup menampung mereka bertiga. Kai beralih menghadap Rama lalu menangis disana sejadi jadinya.
Rama hanya bisa tergugu. Ia mengusap pucuk kepala Kai dan sesekali menciumnya.
"Aku mohon tinggalkan kami, kalian beristirahatlah. Oh iya Ron. Jalankan rencananya."
Rama meminta semua orang keluar dari kamar itu. Tinggallah Rama, Sita, dna Kai.
"Ta.. Sayang. Bagun yuk… kasian Kai. Dia sangat merindukanmu." Ucap Rama.
"Mom, please wake up. I miss you mom. We miss you so much." Kai bangun dan duduk di kasur sambil mengusap wajah Sita lalu menciumnya.
***
Roni melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Dia sudah siap dengan itu. Roni membawa dokumen kecurangan si Tikus kantor itu ke kantor polisi. Roni juga membawa semua saksi kejahatan Priambudi.
Polisi paham lalu langsung merilis surat penangkapan. Ternyata Priambudi ini juga melakukan perdagangan manusia.
Setelah polisi merilis surat penangkapan jagat maya digegerkan oleh video yang sangat sangat membuat publik geleng-geleng dan mengelus dada.
Video tersebut adalah video pesta **** yang dilakukan Priambudi dengan beberapa kolega bisnisnya. Tidak hanya itu mereka juga berpesta miras dan obat obatan terlarang. Video tersebut tidak dapat dihentikan. Bahkan setiap televisi apapun acaranya menyiarkan video tersebut. Pihak penyiaran pun dibuat pusing dengan video yang beredar tersebut.
Di rumah Priambudi kekacauan tengah terjadi. Priambudi mengamuk, ia melempar dan membanting barang ya ada di dekatnya.
"Brengsek…. Sialaaaaan… Siapa yang melakukan ini. Bangsat!!!!!"
Melihat suaminya mengamuk melempar barang ke segala arah Mela hanya diam dan menangis sesenggukan. Mengetahui kenyataan suaminya yang begitu bejat sungguh membuat hatinya teriris. Selama ini yang dia tahu suaminya hanya mempunyai dua istri lagi. Dia tidak pernah mengetahui perbuatan suaminya yang suka main perempuan. Pantas saja saat Ajeng melakukan hal menjijikan tempo hari Eko Priambudi tampak tenang, ternyata kelakuannya memang sangat bejat.
Tok… Tok… tok….
"Brengsek… siapa lagi yang datang?"
Pria paruh baya itu berjalan menuju pintu dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Selamat siang , dengan Pak Eko Priambudi? Kami dari kepolisian membawa surat perintah penangkapan atas kasus percobaan pembunuhan terhadap saudara Rama dan saudari Sita, korupsi, penggelapan, pencucian uang, perdagangan manusia, dan perdagangan ilegal. Yang terbaru anda juga terjerat kasus penyalahgunaan obat obatan terlarang. Semua bukti sudah ada pada kami"
Greb… cekreeek…
Polisi langsung memborgol tangan Priambudi. Dia sama sekali sudah tidak bisa lari hanya saja dia terus meneriakkan bahwa dia tidak bersalah.
" Lepaskan… kalian tidak tau siapa aku.. Aku tidak bersalah… lepaskan."
"Tolong kerjasamanya. Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi nanti. Silahkan ikut dengan tenang."
Mela lagi lagi hanya bisa menangis menyaksikan suaminya digelandang ke kantor polisi. Sungguh kenyataan yang memilukan. Pagi tadi dia baru mengetahui bahwa sang putri pergi dari rumah dan entah dimana keberadaannya, lalu melihat suaminya yang tengah berpesta s*x, miras dan narkot*ka, dan sekarang dibawa ke penjara. Sungguh ia seakan tak sanggup lagi untuk hidup.
Mela mengambil sebuah pisau dan hendak menyayat pergelangan tangannya. Namun seketika direbut oleh Ajeng.
"Ya Tuhan Mam, apa yang mami lakuin?"
"Hu hu hu ,Ajeng… mami pikir kamu udah ninggalin Mami."
Ajeng membuang nafasnya kasar. Dia langsung memeluk Maminya.
Saat di bandara ia melihat video papi nya yang tengah membuat jagat maya heboh. Ia kemudian meminta Hendra untuk menjadwal ulang pemberangkatan merek. Ajeng hendak menemui snag mami karen Ajeng yakin maminya pasti akan sangat terpukul dan benar saja hampir saja maminya melakukan hal yang bodoh.
"Mam, stopped. Ayo ikut Ajeng. Kita pergi dari sini kita tinggalkan rumah ini."
"Mam, please. Papi itu tidak pernah menyayangi kita dia hanya menggunakan kita sebagai alat saja. Biarlah dia menerima hukuman yang sesuai dengan perbuatannya."
"Jeng, bagaimanapun dia papimu."
"Terserah mami. Kalau mami nggak mau ikut Ajeng maka ajeng akan pergi sendiri. Dan perlu mami ingat Ajeng tidak akan kembali ke kota ini."
Ajeng geram, maminya itu sangat susah diberi pencerahan.
"Hend, ayo kita pergi sekarang."
Hendra mengangguk. Ia merasa tidak perlu bicara apa-apa karena bukanlah ranah dia.
"Ajeng… tunggu. Mami ikut kamu."
Ajeng tersenyum mendengar ucapan sang ibu. Ia sangat senang akhirnya maminya itu mau ikut bersamanya. Biarlah dikatakan habis manis sepah dibuang, toh pada kenyataannya mereka selama ini tersiksa batinnya.
🍀🍀🍀
Dikediaman Rama rumah juga begitu ramai dengan berita yang tengah naik itu. Hardi dan Ayu sangat terkejut.
__ADS_1
"Yah, bu. Bukannya itu om Eko sahabat Ayah ya. Ya Allaah, naudzubillah min dzalik. Kelakuannya. Sudah tua kok ya nggak ada sadar-sadarnya." Ucap Dewi.
Susi dna Bi Surti pun ikut terkejut. Meskipun mereka tidak tahu siapa itu tapi melihat video yang seperti itu sungguh membuat mereka mual.
Rama yang mendengar keributan di ruang keluarga ketika mengambil tongkatnya dan keluar.
"Kenapa sih ribut-ribut?"
"Lihat aja mas…" Jawab Dewi.
"Heh… Sudah nggak kaget. Tapi siapa ya yang menayangkannya?"
"Nah itu mas, Dewi juga tidak tahu. Itu seluruh saluran televisi lho. Dan sudah hampir 2 jam. Nggak bisa di takedown."
"Biarin… biar dia ngerasain dipermalukan seluruh penjuru negeri. Kapan lagi ya kan dia terkenal gitu."
Rama tersenyum sinis, ia sangat puas dengan apa yang menimpa Priambudi. Dan kali ini ia memaafkan Ajeng karena Ajeng telah memberikan bukti kejahatan Primabudi yang sangat berguna untuk melengkapi berkas perkara.
Di dalam kamar Kai tersenyum. Ia sangat puas dengan apa yang terjadi di luaran.
"Inilah yang akan kau terima jika berani menyentuh mommy ku. Maafkan aku mom, andai waktu itu aku meminta Geoff untuk terus mengawal Mommy mungkin Mommy tidak akan ada dalam kondisi seperti ini. Mom maafin Kai, Kai tidak bisa menjaga mommy dengan baik. Mom. Please bangun."
Kai kembali menangis, bahkan air matanya jatuh mengenai wajah Sita.
"Ups… sorry mom, mommy jadi basah."
Tapi ada hal lain yang membuat Kai begitu terkejut. Kai melihat sita menggerakkan matanya, kai meneliti tangan Sita. Disana Sita juga sedikit menggerakkan jarinya.
"Mom… are you waking mom? Mom…."
Rama yang mendengar teriakan Kai segera berbalik ke arah kamar dan berjalan lebih cepat sebisa mungkin meski tertatih.
"Boy, what happened?" Tanya Rama.
"Ayah, see… mommy bangun. Dia menggerakkan matanya dan kakinya."
Rama datang mendekat, ia kemudian meraih tangan Sita.
"Sayang, apakah kamu bangun. Ini aku Rama, dan disebelahmu Kai."
"K-ka-ai, b-be-b-by. M-mas."
TBC
__ADS_1