
Keluarga besar Rama tengah berkumpul di ruang keluarga di kediaman Rama minus Sita dan Kai. Sita tengah beristirahat di kamar ditemani Kai. Sedari pulang tadi Kai begitu menempel pada Sita. Rama paham itu.
"Ram, kapan kamu mau bikin resepsi pernikahan?" Tanya Hardi membuka obrolan santai malam itu.
Rama terdiam, kondisi Sita saat ini menurutnya sangat tidak bagus untuk mengadakan resepsi apalagi jika resepsinya mengusung adat Jawa karena akan ada tata cara pernikahan dan itu tidaklah sebentar. Kecuali jika menggunakan konsep internasional itu akan lebih sederhana.
"Entah yah, Rama bingung. Kondisi Sita masih labil begitu."
"Kalau kita bikin konsepnya internasional aja gimana?" Saran Dewi.
Hardi dan Ayu tampak diam. Rama tau apa yang dipikirkan kedua orangtuanya.
"Ayah sama ibu ingin kami pakai adat Jawa kan?"
Hardi dan Ayu mengangguk. Tanpa sadar Ayu meneteskan air matanya. Rama dan Dewi terkejut melihat reaksi sang ibu.
"Maaf maaf ibu nggak sengaja." Ucap Ayu segera mengusap air matanya.
Namun bagi Rama itu bukanlah sesuatu yang biasa, ia merasa curiga dengan reaksi kedua orang tuanya yang tiba tiba murung membahas mengenai resepsi pernikahan.
"Yah, bu. Sebenarnya ada apa. Coba ceritakan kepada kami. Kami sudah cukup dewasa untuk diajak bercerita."
Hardi dan Ayu saling pandang. Mungkin memang tidak boleh disembunyikan lagi, begitu pikir keduanya.
Hardi mengambil nafas dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Ram, Dewi. Ini kisah kami berdua. Ayah dan Ibu saling mencintai sejak masa sekolah. Ibu mu dulu adalah wanita yang manis dan pintar. Bahkan ibumu itu bintang sekolah. Singkat cerita kami bersama. Namun … Status ayah yang masih 'keturunan' membuat bapak alias kakek kalian tidak terima. Setelah itu kami sempat berpisah, namun takdir menemukan kami lagi. Dan kami menjalin hubungan kembali karena ayah sangat mencintai ibumu dan tidak bis amelupakan ibumu."
Hari menghentikan ucapannya. Ingatannya kembali berputar ke masa lalu.
"Terus bagaimana ayah dan ibu menikah." Tanya Dewi.
"Ayah nekat menikahi ibu mu tanpa sepengetahuan kakek kalian. Hingga 3 bulan setelah pernikah baru ayah menyampaikan itu kepada kakek kalian. Kakek hanya diam saja apalagi saat bilang ibu hamil. Ya hamil kamu Ram. Kakek hanya bilang ayah diminta keluar dari keluarga besar das tentu ayah setuju."
Ayu kembali meneteskan air matanya mengingat semua itu. Ia merasa bersalah karenanya Hardi diacuhkan oleh keluarga besar.
__ADS_1
" Disitu ayah merasa tenang malahan. Namun saat kami hendak pulang ke kota ini tiba tiba ada yang mengejar kami, dan ternyata itu adalah utusan kakek kalian. Padahal kami sudah jauh dari kota kakek. Ternyata semua ada kaitannya dengan Eko Primabudi. Eko memberi tahu lokasi kami kepada kakek. Sehingga kakek tau, ternyata kakek ingin memisahkan ayah dan ibumu meski ibumu tengah mengandung. Bahkan kakek berencana untuk membuang….."
Hardi menggantungkan ceritanya. Sungguh dia tidak sanggup. Apalagi melihat sang istri sudah nangis sesenggukan.
"Membuangku… heh dasar. Awas saja jika suatu hari dia tiba tiba muncul mengusikku." Ucap Rama sinis.
"Ini yang ayah takutkan. Jika pernikahanmu terekspos media ayah khawatir kakekmu akan mencari ulah."
Rama memahami kekhawatiran sang ayah. Meski tidak berada di posisi sang ayah, Rama cukup tahu jika selama ini ayahnya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga besarnya. Itu menandakan adanya sebuah kekhawatiran dan kekecewaan akan sikap kakeknya.
Sita yang tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Rama dan orang tuanya itu pun terkejut. Ia bahkan urung mau ke dapur untuk mengambil minum dan langsung kembali ke kamar lagi.
"Ya Allaah ternyata jadi keluarga elit itu ribet ya. Aku nggak nyangka ibu pernah di posisi sesulit itu." Gumam Sita.
Ada rasa yang tidak bisa aia jabarkan. Mengingat kembali ketika masa kehamilannya yang seorang diri membuat Sita membayangkan bagaimana ibu dari suaminya itu menghadapi tekanan dari keluarga besar suaminya.
Sita mengambil nafasnya dalam lalu membuangnya kasar. Ia bersyukur keluarga Rama adalah keluarga yang begitu baik dan mau menerimanya juga Kai tanpa syarat.
"Sedang memikirkan apa hmm…." Tiba tiba Rama memeluk Sita dari belakang. Sita sedikit terkejut karena sama sekali tidak mendengar langkah kaki Rama masuk ke kamarnya.
"Tidak… bukan apa apa."
"Makasih mas?"
"Makasih untuk?" Rama merebahkan kepalanya di pangkuan Sita menatap mata hazel itu dengan lekat.
"Makasih sudah mau menerimaku dan Kai dengan tulus tanpa syarat."
Rama mengernyitkan keningnya, ia merasa sedikit heran mengapa tiba tiba istrinya itu begitu. Namun sedetik kemudian Rama paham. Pasti Sita tadi mendengar pembicaraan mereka.
" Sayang, apakah kamu tadi mendengarkan percakapan kami?"
Sita mengangguk, ia bahkan mendengarnya dari awal hingga akhir.
"Mas, kita tidak perlu adakan resepsi. Cukup mengumumkan saja kepada orang terdekat agar tidak timbul fitnah, lagian kan kamu menikahi janda anak satu mas jadi kayaknya nggak usah deh resepsi resepsi gitu."
__ADS_1
"Janda hot mah banyak yang mau Ta, buktinya aku aja ngejar ngejar kamu."
Rama mengerlingkan matanya nakal. Tangannya mulai menyusup masuk ke piyama sang istri mencari mainan favoritnya. Ia langsung meremas lembut.
"Mas… kamu beneran semakin mesum." Keluh Sita dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
"Mesum dengan istri sendiri itu pahala dari pada sama istri orang, dosa."
Rama menundukkan kepala istrinya lalu menyesap bibir Sita perlahan dengan tangan yang masih terus memainkan bukit kembar itu.
Sita sedikit larut dengan ciuman Rama namun dengan tiba tiba ia melepaskan pagutan suaminya itu.
Rama pun ikut berhenti, menarik tangannya dari dalam baju Sita dan langsung bangkit dari pangkuan Sita.
"Kenapa sayang, apa ada yang tidak nyaman. Ada yang sakit?" Rama khawatir, ia memeriksa tubuh istrinya itu. Namun bukannya menjawab Sita malah terkekeh pelan.
"Aku tidak apa apa mas. Hanya saja malam ini kita harus libur."
"Yaaah kenapa, aku udah on ini." Rama memelas dan Sita hanya melirikkan matanya ke arah tempat tidur.
"Astagfirullah aku lupa sayang. Bocah itu di sini."
Sita nyengir kuda melihat wajah lesu suaminya.
"Apa perlu kita pindahkan dia ke kamarnya."
"Jangan sayang, kasian. Biarkan di tidur dikamar kita malam ini. Tapi…"
"Tapi kenapa mas?"
"Tapi, besok malam jatahnya double kalau bisa triple."
Sita hanya terkekeh kecil melihat tingkah Rama. Namun ia sungguh bahagia. Ia menemukan orang yang tepat disaat yang tepat pula. Sita sungguh tidak menyangka Rama yang waktu itu dianggap sebagai suaminya oleh dokter saat proses melahirkan Kai sekarang benar benar menjadi suaminya.
Sedangkan ditempat lain seseorang tengah menyeringai melihat ketenangan keluarga Rama.
__ADS_1
"Bersenang senang lah kalian. Hingga nanti waktunya tiba aku akan mengambil yang seharusnya diambil. Dan aku akan mengembalikannya sesuai yang seharusnya. Tidak ada yang boleh merusaknya jadi bersiaplah sampai hari itu tiba."
TBC