Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
70. Mau Apa Kamu Disini??


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja, dan Dani masih membuat ulah dengan terus mengirimi Sita bunga. Namun oleh Sita bunga itu selalu ditolak dan meminta sang kurir untuk mengirimkan ke alamat pengirim.


"Maaf bu tapi kami tidak tahu dimana alamat pengirimnya." Ucap kurir itu.


"Sini saya tuliskan alamatnya. Nanti tolong semua yang sudah dikirimkan ataupun belum langsung dikirim balik ke alamat yang saya kasih ya." Ucap Sita sambil menuliskan alamat perusahaan Dani lalu menyerahkan kepada si kurir.


" Baik bu."


"Terimakasih ya mas, dan ini untuk mas nya. Terima saja."


Kurir tersebut hampir menolak uang pemberian Sita namun akhirnya diterima juga karena Sita sedikit memaksa.


"Mbak… masih lagi dia ngirim bunganya." Tanya Adit yang baru saja turun dari mobilnya dna memasuki lobi.


Sita hanya mendengus kesal. 


" Elaaah, pagi pagi gini udah banyak gitu. Terus mau diapain mbak?"


"Aku minta kurirnya mengirim balik ke perusahaannya."


"Bagusss…. Mas Rama udah tau kan."


"Iya sudah kemarin malam udah tak kasih tau kok."


"Dihukum nggak, biasanya dapat hukuman. Hukuman enak maksudnya." Adit mengering nakal. Sita yang tahu maksud Adit pun langsung mencubit lengan Adit kuat sampai Adit mengaduh.


"Mbaaak… sakiiit….."


"Biarin… biar otakmu nggak mesum mulu. Insaf makanya."


"Hohoho… nanti mbak kalau udah ketemu pawangnya baru Adit insaf."


Sita hanya memutar bola matanya malas mendengar penuturan Adit. Semakin haru Adit semakin akrab dengan Sita. Layaknya adik ke kakak seperti itulah. Sebaliknya Sita seperti menemukan adik di dalam diri Adit.


Adit sebagai seorang presdir yang disegani karena sikapnya yang dingin dan datar sangat berbeda jika sudah berhadapan dengan Sita. Label casanovanya memang begitu terkrnal di kalangan karyawan namu adit tidak pernah melakukan "itu" Dengan karyawannya. Dia biasanya akan bermain dengan gadis gadis yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Meskipun banyak model cantik yang berseliweran di perusahaan Adit sama sekali tidak pernah meliriknya. Bahkan jika dia bermain dengan seorang model maka model itu pasti tidak akan dia pakai untuk perusahaannya.


Adit tidak mau ada skandal dengan para wanita itu. Dia juga tidak suka jika namanya dipakai untuk kepentingan mereka.


"Dit. Kenapa sih kamu begitu?" Tanya Sita. Ingatannya kembali saat pertama kali ia datang ke perusahaan ini dan hendak memasuki ruangan Adit. Di sana Adit tengah bermain dengan seorang wanita.


"Ehmmm apa ya, kesenangan aja sih mbak. Nggak ada yang spesial."


"Apa kamu tidak takut kalau…"


"No mbak. Aku mainnya bersih. Dan aku minta mereka juga tes kesehatan dulu. Aku selalu main aman mbak."


"Dit apa kamu tidak lelah begitu terus. Apa kamu tidak ingin mencintai dan dicintai."


Adit terdiam mendengar ucapan Sita. Cinta, kata itu adalah kata keramat untuknya. Mungkin dia senasib dengan Sita yang dikhianati, tapi mungkin ada yang membiat Adit jadi membenci kata itu dan memilih bermain main untuk kesenangan.


"Sudahlah tidak usah dijawab. Ya sudah aku masuk dulu."

__ADS_1


Sita tersenyum lalu memasuki ruangannya meninggalkan Adit dengan sejuta pikiran yang berkecamuk di hati dan otaknya.


🍀🍀🍀


Perusahaan Maja Elektronik dibuat ribut dengan datangnya buket bunga bunga lili. Bahkan sudah mulai memenuhi lobi perusahaan. Resepsionis yang bingung harus apa menanyakan hal tersebut kepada Anton, tangan kanan sang bos besar yang kebetulan melintas.


"Pak Anton, ini bunganya banyak banget."


"Ada nama pengirimnya?"


" Kayanya dari Tuan Dani pak."


Anton terdiam ia sedikit mengetahui alur yang terjadi.


"Bunga lili kan kesukaan nyonya Sita. Dulu tuan sering bnaget ngasih bunga lili ke bu Sita. Apa jangan jangan tuan mengirimi bunga lili ke nyonya Sita lalu ditolak oleh dia." 


Anton bergumam, namun ia tidak mau mengambil kesimpulan dari hasil pemikirannya.


"Lebih baik tanya tuan saja." 


Baru saja Anton hendak menghubungi Dani, orang tersebut sudah muncul dari balik pintu lift. Dani tampak mengernyitkan keningnya.


"Ada apa ini?"


Si resepsionis sudah kepalang takut mendengar suara Dani yang mengintimidasi. Melihat tersebut Anton berinisiatif menjelaskan.


" Ini Tuan, sepertinya bunga yang dikirim tuan dikembalikan oleh si penerima. Jadi lobi kita penuh dengan bunga tersebut."


Dani terdiam ia mengambil nafasnya dalam. Ingin sekali dia murka namun ia sadar dia tidak pantas melakukan itu. Tangan yang semula mengepal erat kini perlahan mengendur.


Anton patuh, ia langsung mengambil mobil dan mengantarkan sang tuan ke lokasi yang dituju.


"Maaf tuan ada apa kita ke JD Advertising? Apakah akan meminta mereka membuat iklan untuk Maja Elektronik?"


"Huft… bukan An. Aku mau menemui Sita."


"Apa… bu Sita ada di JD Advertising. Bu Sita bekerja di sana apakah begitu tuan."


Dani mengangguk, Anton bisa melihat itu melalui kaca spionnya.


"Ya Allah tuan. Ternyata bu Sita sangat dekat dengan kita. Kenapa kita tidak bisa menemukannya selama ini ya."


"Entahlan An. Aku juga heran, seperti ada kekuatan seseorang yang berkuasa melindunginya. Tapi siapa itu aku pun tidak tahu. Bahkan hacker sekelas mr. Sun tidak mau membantu kita mencari data Sita."


Anton terdiam. Ia juga tidak mengerti mengapa semuanya terkesan disengaja. Sengaja untuk tidak membiarkan Dani menemui Sita dan putranya kembali.


Hanya butuh waktu tidak kurang dari 30 menit akhirnya Anton dan Dani sampai di gedung JD Advertising.


Dani bersama Anton memasuki gedung tersebut. Semua menatap mereka berdua. Menatap Dani lebih tepatnya. Semua mengenal Dani karena video viral maureen. Dani dianggap sebagai suami yang tersakiti di mata netizen. Kasak kusuk, bisik-bisik pun mulai terdengar.


"Eh itu kan Dani Atmaja, mau apa ke sini."

__ADS_1


"Wow, ganteng juga ya meskipun dia duda."


"Oh iya dia kan yang diselingkuhi sama istrinya itu kan."


"Iya iya bener, kurang apa coba orang seganteng itu diselingkuhi. Mungkin istrinya katarak."


"Hahahahah."


"Hust jangan keras keras ketawanya."


Para karyawan JD Advertising begitu heboh lihat Dani berada di sana. Dani berjalan menuju meja resepsionis.


"Mbak, dimana ruangan Sita. Arsita Ayuningrum."


"Oh bu Sita dari divisi legal, ada perlu apa ya pak. Apakah sudah buat janji?"


"Belum, saya belum buat janji. Tapi saya ada hal yang ingin dibicarakan."


"Sebentar ya pak, saya akan menghubungi ruangan Bu Sita."


Saat Dina si resepsionis tengah mencoba menelpon ruangan Sita, Dani sudah melenggang pergi memasuki perusahaan. Ia ingin mencari sendiri letak divisi legal.


Dina terkejut melihat itu, ia pun mecoba memanggil Dani dan juga Anton.


"Tuan… tunggu tuan… "


Dani tidak merespon, malah Anton mencoba menghalangi Dina.


"Sudah nona, tuan saya tidak akan bersikap jahat kok. Dia cuma mau menemui bu Sita sebentar."


Dina pasrah tapi dia juga bingung. Merasa tidak benar, Dina berlari menuju ruangan Adit. Saat hendak memasuki lift, ternyata Adit keluar dari sana.


"Hosh...hosh...hosh… un...tung..pak… aditt.di sini…" Dina bicara terengah engah.


"Kamu kenapa, bukannya kamu karyawan bagian resepsionis?" Tanya Adit heran.


"Iya pak… itu… Ada orang… mencari bu sita. Dia langsung masuk mencari ruangan bu Sita."


Adit terkejut, ia membelalakkan matanya. Pasti pria itu, pikir Adit.


Ia pun berlari menuju ke ruangan Sita, sambil menghubungi Rama. Ia tidak mau terjadi apa apa dengan istri kakak sepupunya itu.


Di ruangan Sita, Dani akhirnya bisa menemukan mantan istrinya itu.


Ia tersenyum lebar melihat Sita yang sangat anggun dan terlihat begitu cantik dengan rambut dikuncir tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Kebetulan sekali pintu ruangan divisi legal itu sedang terbuka lebar jadi Dani dengan leluasa bisa melihat Sita.


Merasa ada yang memperhatikannya Sita pun menghentikan aktivitasnya dan melihat ke seluruh ruangan. Matanya terkunci ke arah pintu yang terbuka, disana ia menemukan sosok yang sangat ia benci itu.


Tatapannya begitu tajam dan wajahnya begitu dingin melihat ke arah Dani.

__ADS_1


"Mau apa kamu di sini???"


TBC


__ADS_2