
Hallo Reasers... Sebelumya Othor akan sampaikan dulu ya, di chapter tambahan ini akan lebih fokus ke sepak terjang Kai. Untuk yang lainnya kaan sebagai penambah. Selamat membaca, semoga tidak mengecewakan harapan readers... Terimakasih. Matursuwun.
...****************...
5 tahun berlalu, usia triple A sudah 6 tahun dan siap untuk masuk ke sekolah dasar. Dan Kai sekarang berada di universitas sebagai mahasiswa termuda dengan usia 13 tahun. Ya Kai di smp cuma 2 tahun dan di sma juga 2 tahun. Kemampuan akademik Kai yang luar bisa membuatnya mudah melahap setiap materi pembelajaran. Bahkan Kai banyak dilirik oleh universitas terbaik di berbagai negara. Namun Kai menolaknya dengan alasan yang selalu sama yakni di ingin menjaga mommy dan ketiga adiknya.
Saat ini pun Kai mengambil 3 jurusan sekaligus yakni Rekayasa Perangkat Lunak, Management Bisnis, dan Bioteknologi. Kai bermaksud untuk mengembangkan potensi pertanian dalam ketersediaan pangan.
" Abaaang… ntar anter kita ke sekolah kan?" Teriak Akhza
" Iya bang… anterin ya." Abra ikut berteriak.
" Kalau abang nggak anterin Ana nggak mau sekolah."
Rama dan Sita hanya menggelengkan kepalanya. Ketiga bocah kembar itu selalu dekat dan lengket dengan Kai. Bahkan terkadang Rama dan Sita tidak dianggap. Mereka berebut perhatian dari Kai ketimbang ayah dan mommy nya. Terkadang Rama kasihan dengan Kai karena kerepotan dengan ketiga adiknya. Dan akhirnya Rama lebih mencurahkan perhatiannya kepada Kai.
Kai yang mendengar ucapan ketiga adiknya itu hanya terkekeh geli.
" Nggak ah… abang nggak mau ikut nganter… abang hari ini jadwal kuliahnya penuh."
" Yaah…. Abang gitu…"
" Huaaa…. Abang jahat… abang nggak sayang lagi sama Ana. Huaaaa."
Bukannya simpati, Kai malah tertawa dengan keras begitu juga Rama dan Sita. Kedua orang dewasa itu pun mengikuti alur akting yang sudah diciptakan Kai.
" Ana sayang, abang tuh sibuk banget kuliahnya. Jadi diantar mommy sama ayah aja ya."
" Iya. Nanti sama ayah aja dianternya. Ntar ayah tungguin deh."
" Nggak mau…!!! Teriak Akhza, Abra, dan Ana bersamaan.
" Hahahahhahha…."
Kai tertawa geli. Meskipun Kai begitu menyayangi triple A, tapi Kai juga suka menjahili mereka.
"Oh ayolah… kalian sudah besar. Nggak harus selalu abang. Kalo abang harus pergi gimana?"
Ketiga bocah itu terdiam. Semuanya menunduk. Tapi lama kelamaan suara isakan terdengar dari ketiganya.
" Hiks… hiks...hiks…."
Sita dan Rama yang mendengar tangisan si kembar 3 itu terkejut dan sedikit haru. Akhza, Abra, dan Ana benar benar menyayangi Kai.
"Bang…. Sudah. Adik adikmu sudah berlinang air mata itu." Ucap Sita.
" Iya bang...ntar rumah ayah banjir lagi." Imbuh Rama.
Kai hanya nyengir mendengar ucapan mommy dan ayahnya. Kai pun menyerah juga, ia lama lama merasa tidak tega juga. Kai pun mendekat ke arah ketiganya. Ia duduk di sebelah Ana. Kai mengusap kepala si kembar bergantian.
"Iya iya, abang akan antar kalian ke sekolah, hari ini abang libur kok. Jadi bisa nemenin kalian sekolah."
" Bener…. Tapi abang nggak pergi kan. Abang nggak akan ninggalin kami?"
__ADS_1
" Nggak Akhza, abang akan di rumah sama kalian."
Ketiganya tersenyum, mereka pun memeluk abang mereka bersamaan. Pelukan erat yang menandakan kasih sayang.
🍀🍀🍀
Setelah drama pagi tersebut, Kai pun mengantarkan Triple A ke sekolah bersama Sita. Sedangkan Rama berangkat ke perusahaan.
Di rumah kini hanya ada Bi Surti dan seseorang lagi yang bernama Ale. Ale adalah orang kepercayaan Kai yang memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni selain mengurus Rumah.
Susi, art lama mereka sekarang sudah bekerja di rumah sakit Mitra Harapan. Susi berhasil mewujudkan impiannya. Susi juga masih sering berkunjung ke rumah kalau sudah tidak bekerja di rumah Sita lagi
Kai yang mengetahui bahwa Rama memiliki ilmu silat meminta ayahnya itu untuk mengajarinya. Namun karena Rama sudah lama tidak berlatih, Rama pun meminta padepokan yang dipimpin ayahnya Hardi untuk mengajari Kai.
Tidak hanya bagian mengurus rumah saja yang dipilih khusus oleh Kai. Sopir keluarga mereka pun juga seorang profesional. Kali ini dia meminta tolong Q memilih untuk nya.
" Q aku minta beberapa orang mu untuk menjadi pengawal saudara saudaraku."
" Siapa kali ini yang butuh pengawalan hmmm."
" 3 Bocah berusia 6 tahun, mereka kembar. Ini fotonya."
" Baiklah… Sesuai permintaanmu."
Sekarang Kai merasa lebih tenang meninggalkan si kembar di sekolah mereka. Meskipun keluarga mereka tidak memiliki musuh tapi Kai harus tetap selalu waspada.
" Mom, apakah langsung mau pulang?"
" Ehmmm… mommy agak khawatir dengan triple A."
" Sudah sayang."
" Good, berarti tidak akan ada masalah."
" Baiklah baby, mommy tenang kalau kamu yang bilang begitu."
" Oh ayolah mom, aku sudah 13 tahun. Tidak pantas lagi dipanggil baby."
Sita tersenyum dengan ulah putra sulungnya itu. Sita pu langsung memeluk Kai dna menciumi putranya.
" Mom… stopped… please… ini sungguh geli."
" Oh ayolah baby, mommy sudah lama tidak memeluk dan mencumbu mu begini. Mumpung adikmu sekolah mommy bisa Qtime dengan jagoan mommy ini."
Kai pasrah, memang benar dia dan mommy nya jarang sekali berquality time berdua. Karena Kai selalu di sabotase oleh si kembar. Terkadang untuk mengobrol saja mereka susah karena si kembar selalu menempel dengan Kai.
" Mom… aku berpikir untuk kuliah di LN."
" Eh… bagaimana? Bukannya baru awal perkuliahan. Jujur bang, mommy khawatir. Kamu masih terlalu muda untuk lingkungan kuliah. Usiamu sebenarnya masih smp eh… ini udah kuliah aja. Nanti kamu lulus aja baru dapat ktp."
" Mungkin malah belum dapet mom, soalnya Kai ambil kuliah pendek yang 3.5 tahun kelar."
" Astagfirullah sayang, emang kamu nggak pusing memangnya."
__ADS_1
" Nggak sih mom, biasa aja."
" Huftt terserah lah sayang. Mommy yang pusing."
Sita pasrah jika membicarakan mengenai pendidikan Kai. Putra sulungnya itu seakan tidak ada lelahnya berkutat pada hal hal akademis. Namun Kai tidak pernah melupakan sholat dan ngajinya, itulah yang membuat Sita tenang.
" Baiklah kita akan kemana Mom."
" Ehmmm bagaimana kita ke pusat perbelanjaan saja."
" Tapi ini baru jam 8 mom, pasti belum buka." Ya kan jalan ke sana juga butuh waktu sayang."
" Baiklah. As you wish mom."
Kai mengikuti kemauan mommy nya meski dia tidak terlalu suka dengan keramaian pusat perbelanjaan.
Di perusahaan Rama tengah memeriksa beberapa file. Tiba tiba ia menemukan hal yang mencurigakan kembali. Ia merasa dejavu dengan hal tersebut.
" Haish… Semoga hanya karena salah saja. Ron… Ron…. Roniiiiii!!!!"
" Eh… iya bos… maaf maaf."
" Kamu ngapain sih, dipanggil kok nggka nyaut nyaut…"
" Enggak ini bos… anu."
" Ini inu ona anu. Haishh Ron sudah 5 tahun. Masa iya masih stag aja. Noh mana janjimu dulu. Katanya mau nikah kalau si kembar udah SD dan Kai SMP. Lha ini Kai udah kuliah kamu masih gini gini wae."
" Bos kecil mah yang kelewat pinter. Masa iya 13 tahun udah kuliah."
" Halah...nggak usah ngeles."
" Bos… aku tuh sedikit trauma. Bolak balik nembak susi ditolak mulu."
" Kasiaan. Jangan jangan bener Susi nggak suka sama kamu. Dia lebih suka Anton."
" Eh…."
Roni sebenarnya capek juga dengan perjuangan cintanya yang menurutnya tidak ada kemajuan. Selama 5 tahun ini mengejar Susi sama sekali tidak membuahkan hasil. Rasanya dia mau menyerah saja.
" Itu bahas nanti, coba cek laporan keuangan ini. Ada yang aneh nggak?"
" Bentar bos."
Roni kembali fokus terhadap pekerjaan mengesampingkan urusan hatinya. Terbesit rasa untuk berhenti mengejar cintanya.
" Bos… kok kaya dejavu ya bos."
" Yoi… aku juga mikir gitu."
" Apa muncul kroco lagi bos."
" Entah… Selidiki. Sudah sangat lama kita santai dan tenang aku tidak mau ada rayap yang mengrogoti perusahaan."
__ADS_1
" Baik bos. Laksanakan."
Roni kembali bersemangat bekerja. Dan Rama kembali memeriksa semua laporan setiap Divisi di perusahaannya. Ia tidak ingin kecolongan lagi. Jika ada yang berani macam macam maka harus segera dibasmi.