Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
64. Hanya Tinggal Kenangan


__ADS_3

Rumah, Dani tidak merasakan itu. Ia begitu hampa. Ia tidak merasakan kenyamanan saat kembali ke rumah. Jika biasanya rumah bagi mereka adalah tempat berteduh, menghilangkan lelah, dan membuang segala keluh kesah berbeda dengan Dani. Setiap memasuki rumah yang terasa hanya kehampaan dan kekosongan.


Ingatannya kembali saat masih bersama dengan Sita. Ketika Sita masih menjadi istrinya hari hari di rumah begitu indah. Setiap pulang Dani pasti disambut oleh wanita cantik itu dengan makanan yang lengkap di atas meja. Makanan yang selalu jadi favorit Dani. Kebutuhan Dani selalu disiapkan. Bahkan Sita selalu menyediakan kopi setiap tengah malam jika mengetahui Dani masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja. 


Namun sekarang semua itu hanya tinggal kenangan. Semenjak mauren datang ke kehidupannya semua berubah. Hanya karena sebuah nafsu membuatnya merana.


"Ya Allaah….." Dani hanya bisa mengeluh sekarang.


"Apakah aku masih bisa kembali dengan Sita. Aku yakin pria itu bukanlah suami Sita. Tapi… dimana aku harus mencari keberadaan Sita. Oh iya perusahaan JD Advertising. Benar… Aku pernah mengikuti Sita. Sita bekerja di sana pasti mereka tahu alamat Sita."


Wajah Dani tampak cerah. Ia merasa menemukan setitik harapan. Niatnya untuk meminta kembali Sita sudah dibulatkan. Meskipun kemarin Sita menolaknya mentah mentah tapi dia punya keyakinan Sita masih memiliki perasaan kepadanya. Dan Kai, Dani melupakan itu. Putranya, entah pantas atau tidak ia menyebutnya begitu namun secara biologis Kai adalah putranya. Ia ingin dekat dengan Kai, seperti ayah ayah yang lain. Dani berkeinginan menebus semua waktu yang pernah hilang bersama putranya itu.


Tiba-tiba Dani teringat kedua orang tuanya. I bergegas mengambil kunci mobil dan segera pergi ke rumah papannya. 


Sepanjang perjalanan ia memikirkan suatu hal. Selama perceraiannya dengan Sita papa dan mama nya masih berhubungan baik dengan Sita dan Kai. Bahkan mereka rutin berkunjung. Siapa tahu ia bisa menemukan teka teki pria yang berada di samping Sita.


Ciiiiit, mobil Dani menepi di depan rumah kedua orang tuanya. Ia turun dari mobil dani langsung memasuki rumah.


"Assalamualaikum, ma, pa"


"Waalaikumsalam… "


"Ada apa Dan. Tumben malam malam gini kamu ke sini." Tanya Wira.


"Pa… papa dan mama kan selama ini masih berhubungan baik dengan Sita dna Kai. Apakah papa atau mama tahu Sita tengah dekat dengan seorang pria.?"


"Oalah, kamu kesini cuma mau tanya itu. Sejauh papa tau. Papa tidak pernah lihat Sita dekat dengan pria."


"Iya. Mama juga nggak pernah tau. Dulu pernah saat kami sedang berkunjung ke rumah ada seorang pria yang datang tapi Sita cukup dingin dan cuek." 


"Berarti pria kemarin siapa ya. Aku juga tidak pernah lihat." Dani mengingat wajah Rama.


"Itu papa kurang tahu. Sita pindah ke kota J pun kami tidak tahu. Sita tidak ada mengabari apapun. Kai juga begitu." 


Dani terdima. Semuanya benar benar samar. Identitas pria yang mengaku sebagai suami Sita pun ia tidak tahu pasti.


Haah…. Dani membuang nafasnya kasar. Ia sungguh merasa semuanya buntu.


"Memangnya kamu mau apa lagi Dan. Mengusik Sita dan Kai lagi." Ujar Wira.

__ADS_1


"Bukan begitu pa. Aku hanya ingin meminta maaf dengan benar dan tulus."


"Dan, sudah cukup kamu menyakitinya. Sekarang lepaskan Sita. Jangan lagi kamu mengganggu hidupnya."


Dani diam, dia tidak mau menanggapi omongan papanya itu dan memilih masuk ke kamarnya di rumah itu. Ya kamar Dani saat masih remaja masih utuh di sana. Namun bukannya tenang Dani malah semakin merana karena disana banyak sekali kenangan kenangan nya bersama Sita saat masih berpacaran.


🍀🍀🍀


Berbeda dari kediaman Dani, Kediaman Rama tampak ramai dan penuh dengan kehangatan. Semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga. Hardi dan Ayu duduk di sofa, Dewi duduk di karpet bersama Bi Surti dan Susi. Rama, Sita dan Kai duduk di sifa juga dengan Kai duduk di tengah. Bocah itu tampak senang sekali. 


Dalam hati Sita sungguh bersyukur meski terlahir sebagai yatim piatu namun kini dia bisa merasakan keluarga yang utuh. Meski sempat mengalami sakitnya dikhianati namun kini ia bersama seorang laki laki yang ia harap bisa menjadi imam yang baik untuknya.


Tok… tok… tok…


Pintu rumah megah itu diketuk. Dengan sigap susi bnagkit dari duduknya dan berlari ke arah pintu.


Ceklek…


" Assalamualaikum Sus, pak bos ada."


" Waalaikumsalam, ada lagi pada kumpul di ruang keluarga mas. Mari. Eh mas Roni sama temennya."


"Oh… mari pak. Silahkan masuk."


Susi mempersilahkan masuk Roni dan Adit. Adit tersenyum melihat wajah Susi. 


"Manis" Gumamnya pelan. Ya Susi memang manis wajahnya cantik khas gadis desa. Tanpa makeup tanpa polesan Susi terlihat berbeda.


Rama yang tahu Roni dan Adit datang langsung mempersilahkan mereka duduk.


"Eh lho… kok ada mbak Sita dan Kai juga?" Ucap Adit terkejut.


Semua orang saling pandang dengan pertanyaan adit lalu mereka semua tertawa. Adit yang memang tidak tahu apa apa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Om. Kan waktu itu aku udah bilang uncle Rama itu Ayahku." Ucap Kai.


"Jadi… mas Rama dan mbak Sita sudah…"


Semua mengangguk, mengiyakan maksud Adit.

__ADS_1


"Ya Allaah mas. Kok ngabarin aku. Pakde juga Roni juga kenapa ndak ada yang bilang. Kan aku kelihatan ogeb di sini. Dew kamu juga nggak bilang ke mas."


"Ye… mana Dewi tahu kalo mas Adit juga nggak tahu."


"Udah udah jangan ribut. Ceritanya panjang. Tenang nanti kita akan buat resepsi kok. Biar semua orang tahu Sita adalah istriku." Ujar Rama.


Semua orang memutar bola matanya malas. Keposesifan suami baru ini membuat orang yang ada di situ jengah kecuali Sita dan Kai pastinya.


" Mas, kapan mbak Sita kerja lagi. Kamu nggak akan ngekepin mbak Sita tiap hari kan di kamar. Aku udah pusing nih ikut ngurusin divisi legal."


Ucapan frontal Adit membuat semua orang disana melotot.


" Adit mulutmu ya, disini masih ada bocah dan perawan."  Bentak Rama.


"Ups sorry, keceplosan." Jawab Adit dengan nyengir kuda.


Semua pun akhirnya bubar. Hardi dan Ayu membawa Kai ke kamar. Dewi juga masuk ke kamarnya begitu juga Bi Surti dan Susi pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan.


Rama yang melihat Adit dari tadi oertama masuk memperhatikan gerak gerik Susi langsung memberi peringatan.


"Awas kamu kalau macem macem sama Susi. Dia masih bocah. Sekali kau mencolek Susi aku potong adikmu biar tidak bisa dipakai." 


"Apaan sih mas. Nggak aku nggak macem-macem. Gimana pertanyaanku tadi mas mbak?"


"Ya udah besok aku berangkat." Ucao Sita.


Yes …..!!!! Adit bersorak.


"Sayang… jangan terburu buru kamu masih belum pulih betul." Rama berucap manja, ia juga merangkul pinggang Sita dengan mesra.


"Mas… aku sudah tidak apa apa, kasian kembar 4 ditinggal lama." Sita memberi pengertian kepada suaminya itu.


Adit dan Roni hanya saling pandang dan menepuk jidat mereka masing masing.


"Oh astaga, bucin next level" Gumam Adit.


"Teroooos, terooos aja gini. Bikin jomblo nyeri hati." Gumam Roni.


TBC

__ADS_1


__ADS_2