Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
BONCAHP 22. Pertemuan ( END )


__ADS_3

Hari keberangkatan ke Inggris pun tiba. Semua orang tampak antusias. Tidak terkecuali Roni. Kali ini dia diikutsertakan dalam perjalanan Rama kali ini. Begitu juga dengan Ale, ia juga ikut. Kai juga meminta Q untuk menyiapkan orang untuk mengawal mereka saat tiba di inggris.


Kini rombongan keluarga Rama sudah berada di pesawat pribadi milik Linford Air. Sang kapten memberi salam dan pemberitahuan saat mereka akan lepas landas.


" Baiklah semuanya mari kita berdoa agar perjalanan kita aman dan selamat sampai tujuan. Akhza… pimpin doa ya."


" Siap ayah… mari kita semuanya berdoa..bismillaah….."


"Aamiin…."


Pesawat pribadi milik Linford Air pun melesat ke udara dan membelah awan. Ketiga bocah kembar itu sangat takjub melihat lautan awan yang berada dibawah mereka. Perjalanan yang kurang lebih sekitar 17 jam itu tidak membuat mereka bosan. 


Sita sendiri merasakan perasaan yang tidak bisa ia lukis kan. Ia menyentuh cincin bermata safir milik ibunya dan memutar-mutar kan cincin yang berada di jari nya itu. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya karena akan bertemu dengan sang ayah. Tapi ada rasa sedih juga yang menggelayut karena tidak bisa menjumpai sang ibu. 


" Apakah kamu merasa gugup sayang?"


" Iya mas… Sedikiiit"


" Tidak apa… aku paham…"


Rama menggenggam tangan Sita memberikan ketenangan kepada istrinya tersebut.


***


Jika Sita dan rombongan berangkat pada malam hari maka sekarang waktu inggris adalah Siang hari.


Tampak Ernest tengah meminta para maid nya membersihkan rumah. Ernest juga meminta mengeluarkan foto foto Camellia yang disimpan di gudang atas perintah Pamela.


" Kamu memang cantik sayang, dan itu sungguh menurun ke puteri kita. Di sangat cantik dan mewarisi mata hazelmu itu. Bahkan cucu kita pun memiliki itu. Bukankah begitu Jer…"


" Benar Tuan… anda benar sekali."


Ernest tersenyum memandangi foto pernikahannya dengan Camelia yang ia pasang kembali di ruang utama. Dimana setiap ada yang masuk ke mansion miliknya langsung melihat foto tersebut.


Ernest benar benar membersihkan barang-barang Pamela beserta anak anaknya. Ia seakan akan menghapus jejak mereka tanpa sisa sama sekali.


🍀🍀🍀


London Heathrow Airport (LHR) tepat pukul 13.00 waktu Inggris  Linford Air meminta izin mendarat. Sita dan Kai menghembuskan nafasnya perlahan. Udara dingin menyeruak saat mereka keluar dari pesawat.


Sebelumnya ketiga bocah kembar tersebut sudah di warning untuk tidak rusuh dan mengikuti apa yang Orang dewasa katakan. Entah itu ayah dan mommy, ataupun om Roni dan Ale. Mereka pun mengangguk paham.


Di sana mereka sudah disambut dan dikawal oleh anak buah Q yang terlebih dulu sudah mendapat kabar bahwa Mr. Sun akan datang. Ada sekitar 5 orang yang menyambut mereka. Namun mereka tidak mencolok karena mereka berpakaian biasa seperti orang kebanyakan. Bukan memakai pakaian serba hitam dan kacamata hitam juga layaknya di film-film mafia.


Kelima orang tersebut memberi hormat saat Kai datang ke arah mereka.


" Selamat datang di Inggris Mister."


" Terimakasih.. Langsung bawa ke lokasi."


" Baik Mister mengerti."


Kelima orang tersebut langsung mengambil alih beberapa tas koper yang dibawa oleh rombongan Kai. Lagi lagi pemandangan tersebut membuat semua orang heran. Namun tidak dengan Ale karena Ale sudah tahu bagaimana mereka bersikap kepada Kai. 


Kini mereka tengah berada di mobil. Sepanjang jalan Akhza, Abra, dan Ana tidak henti hentinya takjub. Pasalnya baru kali ini mereka menginjakkan kaki di negara ini. Sedangkan Sita ia sungguh merasa gugup karena waktu pertemuan dengan sang ayah sebentar lagi.


Kai sudah memberitahu Sita bahwa mereka akan langsung menuju ke kediaman Sir Ernest Felix Alexander. 


Mobil yang mereka tumpangi masuk ke area sebuah rumah atau lebih tepatnya mansion megah khas bangunan bangunan Inggris. Jantung Sita berdetak semakin cepat. Meskipun ia pernah bertemu dengan Ernest sebelumnya  namun pertemuan kali ini terasa berbeda karena status yang berbeda.

__ADS_1


" Woaaah…Abra... rumahnya besar sekali ya."


" Iya kak… bener..seperti istana Buckingham."


" Beda lah mas… tapi ini memang besar."


Tiga bocah kembar yang tidak tahu tujuan sebenarnya mereka ke Inggris itu sangat mengagumi mansion Ernest. Yang mereka tahu adalah mereka pergi berlibur. Mereka tidak tahu jika kedatangan mereka ke negeri Ratu Elizabeth tersebut adalah ingin menemui kakek mereka.


Satu persatu semua yang ada di dalam mobil itu keluar. Rama menggenggam erat tangan Sita agar istrinya tidak terlalu gugup.


Dorothy yang tengah keluar dari mansion hendak memetik bunga di taman begitu terkejut melihat Sita.


" Astaga… nyonya… nyonya Camellia…"


Tubuh Dorothy ambruk ke lantai, air matanya mengalir tak terbendung. Sedangkan Jerry yang melihat Dorothy menangis tergugu sedikit merasa bingung.


" Dorothy… kau kenapa…?"


" Jer… nyonya Jer… itu nyonya… ya Tuhan.. Apa benar itu nyonya."


Jerry mengernyitkan keningnya. Ia masih tidak paham dengan ucapan Dorothy hingga ia melihat keluar dan menemukan Sita serta anak suaminya berada di depan mansion. Berkali kali ia mengusap matanya untuk memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah halusinasi. 


Sita dan keluarganya pun mendekat ke arah pintu utama mansion dan membuat Jerry tersadar dari keterkejutannya. Ia pun membantu Dorothy berdiri.


" Dorothy… kuasai dirimu. Dia adalah nona muda kita. Putri dari tuan Ernest dan Nyonya Camelia."


" Oh ya Tuhan… sangat mirip… non sangat mirip dengan nyonya saat masih muda."


Kai berjalan di depan. Ia kemudian mengucapkan salam kepada Dorothy dan Jerry.


" Selamat siang uncle. Mohon maaf kalau kedatangan kami sedikit mengejutkan."


Mereka pun masuk dan arah mata mereka langsung tertuju pada sebuah foto pernikahan yang ukurannya lumayan besar itu.


" Ya Allaah… itu foto ibuku mas."


" Iya sayang… cantik… sama sepertimu."


Dorothy yang baru bisa menguasai dirinya langsung mundur dan berlari menemui Ernest di ruang baca.


" Tuan…. Tuan….!!"


Teriakan Dorothy sukses membuat Ernest menutup buku yang ia baca. Ernest lalu melepaskan kaca mata bacanya dan menaruhnya di atas buku.


" Ya Tuhan Dorothy… ada apa. Mengapa berteriak begitu keras."


" Itu tuan… Ada… putri tuan."


" Hahahha… jangan bercanda. Kau sudah tua untuk lelucon itu Dorothy."


" Demi Tuhan tuan. Saya tidak bercanda. Saya serius."


Mendengarkan keseriusan Dorothy, Ernest  pun berjalan cepat menuju ruang utama. Dan benar ia menemukan Sita di sana bersama suami dan anak anaknya. Air matanya tiba-tiba luruh. Sita yang melihat Ernest pun juga meneteskan air matanya.


" Ya Tuhan… putriku."


" Apakah aku boleh memanggil anda …. Ayah…"


" Tentu… tentu saja nak… aku ayahmu… maafkan aku nak… maafkan aku… aku sungguh terlambat."

__ADS_1


Sita berdiri dan mendekat ke arah ayahnya. Ia meraih tangan Ernest dan menciumnya. Ernest yang sudah merasakan sebuah kerinduan langsung mendekap tubuh Sita.  Keduanya melepaskan rindu yang ada dalam hati. Bahkan keduanya pun menangis bersama. Ernest berulang kali mengucapkan kata maaf.


" Maaf nak… maafkan ayahmu… ayah sungguh sangat terlambat."


" Tidak yah… tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sita sungguh bahagia bisa menemukan keluarga Sita lagi meskipun Ibu tidak ada bersama kita."


" Ya nak. Kau benar."


Ernest mengurai pelukannya dan menatap satu persatu cucu dan anak menantunya.


Rama berdiri dan mendekat ke arah Ernest selalu meraih tangan Ernest dan menciumnya.


" Terima kasih .... terima kasih telah menjaga putriku dengan sangat baik nak."


" Sama-sama ayah. Sudah jadi kewajiban ku untuk melakukan itu."


Tiga bocah kembar itu tanpa diberi aba-aba pun langsung menghampiri Ernest. Mereka juga ikut mencium tangan kakek mereka. Dan Ernest membalasnya dengan memeluk cucu kembarnya satu persatu.


Suasana haru begitu kental terasa. Jerry dan Dorothy begitu senang bisa melihat senyum bahagia dari tuanya. Kini giliran Kai yang menghampiri Ernest.


" Bolehkan aku memelukmu nak?"


" Tentu saja kek, aku juga cucumu."


Ernest langsung mendekap erat Kai. Ia tahu selama menangani kasus Pamela, semuanya tidak lepas dari bantuan Kai.


" Terimakasih nak… terimakasih telah mengizinkan kakek mu bertemu dengan ibumu dan kalian semua."


" Kakek dan mommy juga berhak merasa bahagia. Mommy juga berhak mengetahui siapa keluarganya. Dan siapa sangka kakekku ini adalah seorang bangsawan."


" Hahaha… kau memang luar biasa. Kau akan jadi orang hebat nanti."


" Terima Kasih kek. Tapi bukannya aku sekarang sudah hebat."


" Hahahah… kau memang lain Kai.. Sungguh aku bangga padamu."


Jerry melihat heran keakraban yang tercipta antara Ernest dan Kai. Bagaimana tidak bocah abg itu yang sepintas terlihat seperti bocah biasa sebenarnya adalah Mr. Sun. Jenius yang ditakuti, hacker yang terkenal dan pembuat sistem yang dicari. Melihat tuan dan Kai akrab sungguh sangat berbeda dengan cerita tuannya waktu itu yang di datangi cucunya untuk diberi peringatan.


Suasana mansion menjadi ramai. Ernest terlihat begitu bahagia. Ia pun mengajak Sita untuk melihat barang milik ibunya yang masih tersimpan rapi. Meskipun oleh Pamela di taruh ke dalam gudang namun wanita itu tidak berani membuangnya. Dan kemarin oleh para maid sudah dibersihkan kembali.


Ayah dan anak itu sungguh tidak menyangka mereka akan bertemu satu sama lain. Rama tersenyum melihat kebahagiaan sang istri bertemu dengan ayahnya. Dalam hati Rama ia sungguh bersyukur dengan naik turun perjalanan hidupnya selama berumah tangga dengan Sita.


Sedangkan Kai, ia tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mommy, ayah, dan ketiga adiknya. Janjinya akan selalu ia pegang. Yakni janji akan selalu melindungi keluarganya.


Aku akan selalu menjaga senyum itu… aku akan selalu menjaga tawa itu. Akan aku pastikan tidak akan ada yang bisa membuat kalian semua menangis. Karena senyum kalian adalah bagian dari hidup dan nyawaku.


...SELESAI...


Alahamdulillaah ya Allaah… Akhirnya ANAK JENIUS MOM SITA bisa selesai di penghujung tahun ini.


Terimakasih.. Terimakasih banyak kepada para Readers yang sudah memberikan apresiasi yang sangat besar kepada novel othor ini. Othor selalu menyadari bahwa othor adalah penulis baru yang masih banyak sekali membuat kesalahan. Mohon maaf jika masih banyak yang tidak puas bahkan kecewa dengan karya othor. 


Semoga di tahun depan Othor bisa berkarya lebih baik lagi. Dan yang terpenting tanpa readers othor tidaklah berarti.


Selamat tahun baru readers, terimakasih atas dukungannya… Sampai jumpa lagi di karya karya author yang lain.


Matursuwun… 


Salam sayang 

__ADS_1


Author IAS


__ADS_2