Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
57. Anak atau Alat


__ADS_3

Hay Readers... masih weekend nih. mau up berapa bab enaknya .hehehhe. Ayo like nya sam sawerannya nya nanti banyakin deh Up-nya.


happy reading...


...****************...


Setelah keluar dari ruangan Sita, Rama langsung mencari Roni untuk menyampaikan pesan kepada kedua orang tuanya. Roni mengangguk dan langsung menyampaikan pesan Rama.


Hardi dan Ayu menuju ke ruang rawat Rama dengan Kai bersama mereka.


Ceklek….


Pintu kamar rawat itu dibuka oleh Roni, Kai berlari dan langsung memeluk Rama. Bocah itu menangis sejadi - jadinya. Ia meluapkan semua yang ada di jatinya. Hardi dan Ayu terkejut. Selama seminggu ini Kai tampak kuat, bahkan ketika ia menangis langsung akan dihapus oleh nya. Namun bertemu dengan Rama membuat pertahanan Kai runtuh. Tapi tidak dengan Roni, Roni pernah menyaksikan kejadian tersebut saat Sita pingsan di apartemen jadi Roni tidak terkejut sama sekali.


" Tenang boy, mommy akan bangun. Kamu harus kuat ya. Doain mommy terus." Ucap Rama menegangkan sambil terus mendekap tubuh kecil bocah itu.


"Ayah, mommy pasti bangun lagi kan hiks….hiks...hiks…"


"InsyaaAllaah, kita harus selalu punya keyakinan itu. Makanya kita harus selalu doain mommy ya." 


Kai mengangguk paham, tapi ia masih betah di pelukan Rama, dan Rama tidak keberatan tentang itu.


"Yah bu, Rama mau minta izin. Rama harap ayah dan ibu mengizinkan. Lebih tepatnya harus memberi Rama izin." Rama mulai berbicara mengenai hal yang ingin disampaikannya dengan tangan yang terus mengusap kepala Kai.


"Apa yang mau kamu lakukan Ram." Tanya Hardi ia memiliki firasat yang tidak baik.


"Aku akan menikahi Sita,.... Besok"


"Apa…!!!" Hardi, Ayu, dan Roni kompak berteriak.

__ADS_1


"Ram, yang bener aja. Ojo guyon (jangan  bercanda). Pernikahan itu tidak main-main. Kamu tau sendiri kondisi Sita sekarang." Sergah Hardi.


" Aku tidak bercanda yah, aku cukup serius. Aku tau kondisi Sita seperti itu makanya aku akan menikahinya segera. Aku ingin melindungi Sita dan menjaga Kai. Apa ayah tau siapa dalang dibalik kecelakaan kami?"


Hardi menggeleng, ia memang tidak tau apa apa tentang hal kecelakaan. Yang dia tahu Rama terlibat laka lantas itu saja.


"Huft…. Ayah dan ibu harus perhatikan ini baik baik. Dalang dibalik kecelakaan yang menimpa aku dan Sita adalah… Eko Priambudi."


Hardi dan Ayu menganga, mereka sangat terkejut. Terlebih lagi Hardi, sahabat dekat yang sudah ia anggap sebagai saudara itu mengapa tega menyakiti putranya bahkan hampir menghilangkan nyawa putranya.


"Dan perlu ayah tahu. Huft…. Eko juga yang merencanakan penyerangan kepada Sita. Eko menganggap Sita adalah penghalang baginya untuk menikahkan Ajeng dengan aku. Di sini aku ikut bertanggung jawab atas apa yang menimpa Sita."


Hardi terhuyung, ia sangat terkejut mendengar cerita Rama mengenai Eko yang hendak mencelakai Sita. Sungguh itu sudah sangat keterlaluan.


Ayu mengajak suaminya untuk duduk, ia menatap Kai yang berada di pelukan Rama. Rasa bersalah menjalar di dadanya.


"Kai… maafin eyang ya."


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti Eko Priambudi. Dasar kakek tua tidak tahu malu. Jika Ayah Rama menghancurkan semua usahamu maka aku akan menghancurkan seluruh kehidupanmu." Batin Kai dengan seringai yang tidak bisa dilihat oleh siapapun.


"Baiklah le… mungkin ini keputusan yang baik dan tepat. Jadi kita bisa melindungi Sita dan Kai sepenuhnya." Ucap Hardi.


"Boy… ayah mau tanya sama kamu." Sekarang waktunya Rama meminta izin kepada Kai.


"Apakah aku boleh menikahi mommy mu?"


"Menikah? Menikah itu apa ya ayah." Kai sangat cerdik dia pura pura polos dengan menanyakan hal tersebut.


" Menikah itu, ayah akan jadi ayah kamu yang sebenarnya, nanti kita bisa tinggal di rumah yang sama dan ayah akan selalu bersama Kai dan Mommy sehingga pria itu tidak akan bisa mengganggu kalian lagi." Rama menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak anak.

__ADS_1


"Oh gitu, oke… Kai mau mommy menikah dengan Ayah." Kai tersenyum. "Bagus dengan begini Dani Atmaja tidak akan pernah mengusik mommy lagi. Dan semoga mommy lebih bahagia setelah bersama ayah Rama." Kai membatin.


"Thank You boy, Ron persiapkan semuanya. Karena Sita yatim piatu maka kita pakai wali hakim saja. Oh iya datang ke rumah sita untuk memberitahu bu Surti dan mengambil dokumen kelengkapannya."


Roni mengangguk, jujur dia sangat senang akhirnya si bos menikah dengan wanita yang dicintainya meski dalam kondisi begini.


🍀🍀🍀


Di tempat lain Ajeng yang sangat kesal dengan sang papi karena mengurungnya di rumah selama beberapa hari. Dia tidak diizinkan pergi dari  sama sekali oleh ayahnya.


"Mam… please…Ajeng bosen di rumah. Ajeng mau keluar ketemu temen-temen Ajeng." Ajeng mulai merengek kepada maminya. Ia tahu maminya tidak akan tega jika dia sudah begitu.


"Tapi nak, papi mu sangat marah. Ini adalah hukuman untukmu. Jeng… kamu harus bisa lebih dewasa. Usiamu sudah 28 tahun. Masa kamu akan bersikap seperti ini terus sih. Kamu sudah waktunya menikah. Berhentilah main main." Nasehat sang Mami.


"Oh ayolah mam. Menikah. Aku tidak mau. Aku tidak mau seperti mami. Di rumah tidak melakukan apapun bahkan mami hanya diam saja melihat papi mempunyai istri-istri siri. Aku tau setiap malam mami menangisi papi yang gemar main wanita tapi mami tidak pernah mau bicara dengan papi. Entah mengapa mami masih bertahan dengan pria brengsek seperti itu."


Plak…….


" Cukup Ajeng, jangan bicara seperti itu terhadap papimu bagaimanapun dia adalah papimu." 


Mela menampar pipi ajeng dengan keras sampai Ajeng terduduk di sofa. Namun bukannya kesakitan Ajeng malah tersenyum sinis melihat maminya yang bergetar tubuhnya menahan tangis.


"Heh….  Bagaimanapun juga dia adalah papiku? Ayah mana yang tega memaksa anaknya untuk mengejar-ngejar pria dari masih sma sampai sekarang hanya karena harta. Mami tau papi juga tau aku tidak pernah sedikitpun menyukai mas Rama. Tapi kalian memaksaku. Dari masa sekolah aku sudah dipaksa untuk mengejar dan merayu dia, padahal mas Rama tidak sedikitpun aku menyukainya. Hanya demi mendapatkan harta Joyodiningrat. Bahkan kalian sendiri tidak tahu kan betapa benci dan jijiknya mas Rama kepadaku karena ulahku karena dengan tidak tau malunya merayunya. Oh ayolah kalian ini sebenarnya menganggapku apa. Apakah benar aku adalah anak kalian atau aku hanya sekedar alat untuk menghasilkan harta yang lebih banyak. Aku yakin setelah ini kalian pasti akan mencarikan pria kaya lagi untuk dijodohkan denganku setelah gagal mendapatkan mas Rama."


Setelah puas mengutarakan isi hatinya Ajeng berlari menuju ke kamar. Tidak peduli maminya memanggil beberapa kali Ajeng tetap acuh. Ia sudah muak berada di keluarga ini.


Sampai di kamar Ajeng mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hend, bantu aku. Aku mau pergi dari sini. Ya… lewat tengah malam tunggulah aku di ujung jalan. Baik.. Thanks Hend. Kamu memang sahabat terbaikku."

__ADS_1


TBC


__ADS_2