Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
103. Adit Sang Casanova


__ADS_3

Doto menjemput Adit di jalan tol. Ia sedikit heran dengan tampilan kacau Adit. Bos yang biasa rapi dan necis itu tampak sangat berantakan. Terdapat luka lebam di wajahnya dan sudut bibir yang berdarah.


" Bos Adit habis di rampok, apa kita harus ke kantor polisi?"


" Bukan.. Aku bukannya dirampok. Ini hasil karya mas Rama."


Adit memasuki mobil dan menutupnya dengan keras. Doto mengerutkan keningnya mendengar jawaban Adit.


" Mas Rama? Big Boss maksudnya ?!!!"


" Ya siapa lagi yang bisa membuatku begini kalau bukan dia. Sudah yok balik ke kantor."


" Nggak ke rumah sakit aja bos?"


" Nggak usah. Ini mah kecil. Lagian nanti habis makan siang mau ada rapat. Jadi balik aja ke kantor."


" Siap!!!"


Doto pun mengemudikan mobilnya ke kantor. Ia menurut saja apa yang dimau oleh sang bos. Doto melirik Adit dengan sedikit tersenyum simpul. Casanova di samping nya ini memang punya sejuta pesona untuk banyak kalangan wanita namun selalu tunduk oleh Big Boss Rama. Doto pun terkekeh geli.


" Kau menertawakanku Dot!"


" Hehehe ampun bos, aku hanya geli aja. Bos itu kalau sama big boss Rama tidak berani melawan sama sekali."


" Huft…. Entahlah. Dia satu satunya orang yang tidak bisa aku lawan Dot karena memang apa yang dia ucapkan dan dia perbuat itu benar."


Doto mengangguk mengerti. Memang Rama adalah orang yang tidak aneh aneh. Memiliki orang tua yang kaya, Rama remaja juga bukan tipe anak yang gemar foya foya.


Rama dan teman temannya terkenal memiliki circle pertemanan yang positif. Ditambah juga apa yang dilakukan Rama cs bukan hanya sekedar senang senang melainkan bermanfaat.


***


Doto menepikan mobilnya tepat di depan lobby perusahaan. Adit masuk dengan gaya coolnya. Namun tetap saja tampilannya yang berantakan menarik perhatian para karyawannya. Mereka pun berbisik bisik sepelan mungkin agar tidak terdengar ke telinga sang presdir.


Tanpa sengaja Adit berpapasan dengan Lia di depan pintu lift.


" Lho… pak Adit kenapa."


Entah apa yang dipikirkan Adit ia pun berpura pura kesakitan untuk mengambil simpati dari gadis cantik berhijab itu.

__ADS_1


" Auch…. Shhh.. Ini tadi tidak sengaja adu jotos dengan preman karena menolong orang yang dijambret."


" Astagfirullah… tapi pak Adit nggak pa pa. Apa sudah diobati?"


" Shhh… belum."


" Apakah mau saya bantu mengobati?


" Boleh… kalau kamu tidak sibuk."


Dari arah belakang Lia, tampak Doto akan mendekat namun Adit menyuruh Doto pergi menjauh dengan isyarat tangan. Adit mengibas ibaskan tangannya. Doto yang paham membuang nafasnya kasar dan mundur menjauh.


Adit memasuki lift diikuti oleh Lia. Beruntung pekerjaan Lia sudah selesai jadi dia bisa membantu Adit mengobati lukanya. Karena tidak mau membuat Sita khawatir Lia pun menelpon Sita mengabarkan keadaannya.


" Hallo bu Sita…"


" Ya kenapa Lia."


" Bu… Saya pergi ke ruangan pak Adit untuk membantu pak Adit mengobati lukanya."


" Lhoh… pak Adit kenapa?"


" Katanya tadi berantem sama preman bu."


" Baik bu."


Glek… Adit menelan salivanya dengan kasar. Ia juga menepuk keningnya dengan tangannya. Ia tidak menyangka jika Lia akan membuat laporan kepada Sita tentang apa yang dikerjakan.


Astaga… gadis ini sangat polos. Huft… Lia...Lia… Adit membatin.


Sampai di ruangan Adit, ia langsung mengambil kotak P3K dan memberikannya kepada Lia. Lia membukanya dan mengambil obat dan kapas untuk mengoleskan pada luka Adit.


Wajah Lia terasa sangat dekat dengan Adit. Tiba tiba jantung Adit berdetak dengan kencang, ia bahkan mendengar sendiri detak jantungnya itu.


Kenapa jadi deg deg an gini. Ya Ampun… wajah Lia deket banget. Itu bibirnya gemes. Manis kali ya kalo di isep. Adit berbicara dalam hati. Sungguh rasanya sudah tidak karuan.


10 menit bagai semenit buat Adit. Setelah Lia selesai membantu Adit, ia pun pamit undur diri. Adit masih termangu di sana melihat punggung gadis manis berhijab itu menjauh.


Tck… kenapa aku hanya diam saja. Malah jantungku yang berdisko. Kalau cewek cewek lain udah aku serang. Tapi kenapa tadi aku cuma bisa diam. Padahal Lia udah deket banget.

__ADS_1


Adit bermonolog, ia merasa heran dengan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apapun di depan gadis itu.


Namun secepat kilat ia teringat akan keponakannya Kai. Menyadari bahwa Kai adalah Mr. Sun membuat Adit merinding.


Bagaimana kalau benar aibku tersebar di jagat maya. Bisa habis aku. Pasti Lia akan sangat benci. Tapi predikat sebagai casanova juga sudah diketahui banyak orang. Haaah…. Kenapa aku jadi peduli dengan apa yang dipikirkan Lia. Argh…..


🍀🍀🍀


Di ruang divisi Legal, Sita tengah bertanya mengenai sekolah DIS kepada para anggotanya. Ia baru saja melakukan pencarian di internet mengenai DIS. Sekolah tersebut memang sekolah yang bagus dan bertaraf internasional.


" Kenapa Bu Sita tiba tiba tanya tentang DIS?" Tanya Lia yang baru saja datang dari ruangan Adit


" Tadi saya dan mas Rama diminta ke sekolahan Kai. Guru Kai merekomendasikan Kai agar bersekolah di DIS."


"Lah kenapa emang bu." Kali ini Anjar yang bertanya.


" Kata bu guru Kai, Kai membantu anak kelas 6 mengerjakan soal soal latihan ujian Nasional."


"Apa….!!!!" Kembar 4 berteriak bersama. Mereka sangat terkejut mendengar penjelasan Sita.


" Huft… kalian terkejut kan? Aku juga sangat terkejut saat diberitahu tadi."


Semua terdiam sejenak, mencoba mencerna dengan apa yang diucapkan Sita. Memang putra dari Sita tidaklah seperti bocah seusianya. Kai terlihat lebih mandiri, dewasa, dan tentunya pintar. Terkadang cara bicara Kai pun bukan seperti anak usia 7 tahun.


" Bu… mungkin memang Kai adalah anak jenius. Mungkin dia adalah seorang hacker atau dia adalah mata mata atau agen rahasia."


" Hahahah, Des… kamu kebanyakan baca novel itu. Mana ada anak seusia Kai jadi hacker atau mata mata atau apalah itu. Kai mungkin memang pintar tapi bukan yang seperti itu juga."


Sita terkekeh geli mendengar ucapan Desi. Sedangkan Desi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Sudah sudah lanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Oh iya Lia bagaimana keadaan Adit. Apakah lukanya parah?"


" Eeh… presdir ganteng kita memangnya kenapa bu?"


"Tadi aku papasan sama pak Adit, beliau wajahnya lebam dan sudut bibirnya luka. Katanya beliau abis berantem sama preman tapi tidak parah kok bu."


" Ooh syukurlah kalau begitu."


Semua di ruangan tersebut kembali bekerja. Namun sejenak Desi terdiam dan berpikir, sejak kapan temannya bisa sedekat itu dengan sang presdir sampai sampai membantu mengobati luka. Padahal mereka tahu betul presdir mereka itu terkenal dingin dan datar kepada para karyawannya. Desi melirik ke arah Lia. Gadis berhijab itu tampak tenang.

__ADS_1


Ahh sudahlah, jangan berpikir yang bukan bukan. Seandainya pun Lia dekat dengan Pak Adit itu hak mereka juga, gumam Desi pelan. Ia pun kembali sibuk dengan pekerjaannya.


TBC


__ADS_2