
Adzan subuh berkumandang membelah langit gelap. Membangunkan para insan yang akan melewati hari. Sita sudah terbangun dari jam 3 tadi. Setelah melaksanakan sholat malam dia tidak tidur lagi. Sita pun membangunkan suaminya itu.
"Mas… sudah subuh. Ayo bangun."
Rama menggeliat pelan, ia lalu mengerjabkan matanya menatap wajah ayu sang istri.
"MasyaaAllaah nikmat mana lagi yang kau dustakan. Bangun tidur dapat memandangi wajah cantik istriku." Gombal Rama.
"Sudah jangan banyak ngegombal. Cantik bisa hilang mas, kalau tua aku akan peot keriput."
"Oh tentu tidak, meskipun rambutmu sudah beruban dan kulitmu sudah tidak mulus lagi kamu akan tetap paling cantik di hatiku."
Ucapan Rama sukses membuat hati Sita berbunga. Memang sederhana tapi sungguh maknanya begitu dalam buat Sita.
Rama pergi menuju kamar mandi setelah mencium kening Sita sekilas.
"Tok tok tok.. Mom, are you awake?"
"Yes baby, wait."
Sita berjalan menuju pintu kamar dan membukakannya untuk sang putra. Kai langsung memeluk Sita.
"Mom, i miss you."
"Me to baby, apakah sudah sholat subuh."
Kai menggeleng. Sita tersenyum dan membawa Kai masuk mengajak putranya sholat bersama.
"Kita tunggu ayah. Ayah sedang di kamar mandi."
Kai duduk di ranjang, sedangkan Sita menyiapkan sarung dan koko untuk Rama.
"Hey boy, mari sholat berjamaah."
"Yes Yah."
Rama mengenai pakaian yang sudah disiapkan Sita. Mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyu hingga salam tanda sholat selesai.
"Ya Allaah ya Tuhanku, berkahilah rumah kami dengan iman islam dan ihsan. Aamiin." Rama berdoa singkat namun maknanya sangat dalam. Kai mencium tangan Rama dan Sita bergantian. Lalu dilanjut Sita yang mencium tangan Rama, dan Rama mencium kening sita dengan lembut.
"Terimakasih sudah mau menerimaku, sekali lagi maaf aku menikahimu dengan cara kemarin."
" Aku juga terima kasih mas, mas sudah mau menerimaku. Meskipun kamu bukan yang pertama tapi aku yakin kamu adalah yang terakhir untukku."
Rama dan Sita berpelukan, Kai pun ikut. Kai sangat bahagia melihat senyuman Sita. Ia merasa pilihannya menjadikan Rama ayahnya sangat tepat.
🍀🍀🍀
Aktivitas pagi hari di kediaman Rama menjadi begitu ramai. Dewi dan Kai yang akan bersiap menuju tempat belajar mereka. Rama dan Sita yang sedang bersiap ke perusahaan. Rama sedari tadi sudah sangat bawel memberi pesan ini itu terhadap istrinya. Bahkan semalam Adit sudah di ultimatum oleh nya untuk tidak membuat istrinya capek.
__ADS_1
Hardi dan Ayu yang melihat putranya berbuat sedemikian hanya bisa menggeleng gelengkan kepala mereka.
"Pokoknya kamu jangan banyak mikir dulu, nggak boleh capek. Waktunya istirahat harus istirahat. Jangan telat makan. Terus obat dari dokter Dika jangan lupa dibawa."
"Mas. Cukup kamu sudah bilang seperti itu lebih dari 10 kali dari habis subuh tadi." Sita menghentikan celotehan Rama.
"Ayah, c-mon mommy not a child anymore. Mommy tau apa yang dia lakukan." Kai ikut nimbrung drama pagi ayah nya itu.
"Hahaha rasain mas. Anakmu aja ngerti kok. Dasar suami bucin posesif." Ledek Dewi.
"Biarin weeek. Kai sayang. Ayah hanya khawatir sama mommy."
Dewi kesal mendapat jawaban dari Rama sedangkan Kai hanya tersenyum sambil mengangguk anggukan kepalanya. Ia bersyukur Rama begitu mencintai mommy nya.
Roni yang baru datang hanya bisa bengong menyaksikan cuplikan drama itu. Ia menepuk keningnya perlahan.
Sepertinya hari ini aku bakal dibikin stres sama ulah si bos, ya firasatku mengatakan seperti itu, batin Roni.
"Bos, apakah sudah siap berangkat.?" Tanya Roni smabil mengembnagkan senyumnya selebar mungkin.
"Oke.. Ayo berangkat."
Rama menyalami kedua orang tuanya begitu juga dengan Sita. Keduanya mencium Kai dan berpamitan.
"Oh iya mas, Kai berangkat bukan sama kita?"
"Oh begitu, baik yah. Terimakasih."
"Haish… jangan sungkan. Baik baik kerjanya jangan terlalu lelah."
"Iya yah, terimakasih. Sita berangkat dulu yah, bu."
Rama merangkul Sita menuju ke mobil. Ayu yang melihat tingkah polah putranya hanya bisa mendesah.
"Anak itu benar benar lebay." Ucap Ayu.
"Hahahah biarin bu. Selama ini dia tidak pernah dekat dengan wanita. Sekalinya dapet langsung jadi istri. Tapi Ayah bangga. Dia tidak perlu pacar pacaran lama. Langsung nikah gitu wae biar nggak banyak fitnah."
"Iya yah, ibu juga senang. Dew… tuh lihat mas mu. Besok kamu juga gitu. Jangan pacar pacaran kalo ketemu yang cocok langsung nikah aja."
Dewi yang sedang meminum susunya tiba tiba terbatuk.
"Onti… pelan pelan." Ucap Kai.
"Ibu nih ngaco. Dewi kuliah aja belum kelar masa udah ngomongin nikah nikah." Dewi memanyunkan bibirnya.
"Onti maksud eyang itu bukan suruh nikah sekarang tapi nanti kalau sudah ketemu yang cocok langsung nikah aja. Tidak boleh pacaran. Dosa. Begitu kan eyang."
Hardi dan Ayu mengangkat jempol mereka membenarkan ucapan Kai.
__ADS_1
"Oh ya Allaah punya ponakan pinter tuh repot juga hadeeeh. Aku malah dinasehati."
Hahahaha
Semua tergelak di sana. Ayu dan Hardi sangat bahagia. Keluarganya kini berkumpul dan semakin ramai dengan bertambahnya keluarga Sita. Hardi bersyukur.
"Ya Allaah lindungilah keluargaku. Jangan lagi ada tangis di tengah tengah kami."
***
Rama dan Sita sampai di JD Advertising. Disana sudah ada Adit berdiri menyambut kedatangan sang kakak ipar, Sita. Hanya Rama yang bisa menyuruh presdir JD Advertising itu untuk menyambut kedatangan karyawan.
"Lho pak Adit kok sudah berdiri di lobi." Sita heran.
"Untuk menyambutmu."
"Mas… yang benar saja. Kamu kebangetan nyuruh presdir buat nyambut karyawan."
"Aku hanya mau titip pesan agar kamu jangan terlalu capek kerja dulu."
Sita mendengus dengan keposesifan suaminya.
"Ya sudah aku turun dulu. Nggak enak pak Adit sudah nungguin."
Sita mengulurkan tangan meminta tangan Rama. Ia hendak mencium tangan Rama berpamitan, namun Rama menarik Sita hingga Sita terjatuh di pelukan Rama. Rasanya Rama tidak rela dan tidak ingin melepaskan istrinya itu sekarang. Ia membelai wajah Sita dan langsung mencium bibir Sita. Sita memukul dada Rama pelan.
"Mas… "
"Ta, nggak usah kerja hari ini ya." Rama masih memeluk Sita dengan posesif.
"Oh ayolah mas. Mas kan udah janji."
"Huft… iya iya. Ya sudah hati hati jangan capek." Rama kembali mengecup bibir Sita sekilas.
Roni yang duduk di kemudi hanya bisa mengelus dada menguatkan hatinya agar sabar menghadapi cobaan hidup yang berat ini.
Nah kan baru ge kemarin dibilang aku bakalan kena tekanan batin, ini sudah terbukti sekarang. Bar sabar… mblo… Sabar mblo. Gumam Roni.
"Kenapa Ron..Ayo jalan. Rapatnya sudah kamu siapkan?"
"Siap bos sudah, sesuai dengan perintah."
"Bagus, tenang Ron bonusmu kunaikkan nanti."
"Siap bos."
Bagus, waktunya menindak orang orang yang terlihat menjadi bibit bibit tikus. Aku tidak akan berbelas kasih kali ini.
TBC
__ADS_1