
Kai menyandarkan tubuhnya ke dinding air matanya menetes. Kai tengah berpikir apakah keputusannya ini sudah benar atau belum. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan adalah untuk melindungi mommy nya.
Sebenarnya Kai juga ingin mommy nya tau dari mana asal usulnya. Dalam hati terdalam Kai sebenarnya juga ingin membawa Sir Alexander ke hadapan mommy nya dan mengatakan bahwa pria tua itu adalah ayah dari mommy nya. Namun semua tidak sesederhana itu.
" Sun… apakah kau baik baik saja?"
Pertanyaan Q berhasil membuat Kai kembali tersadar.
" Ya… aku baik baik saja."
" Sebenarnya aku ingin bertanya ini dari tadi, apakah tidak terlalu kejam apa yang kau katakan tadi kepada kakek mu?”
“ Hei Q sejak kapan kau berubah jadi melankolis begini.”
Q terdiam, ia yakin Kai memiliki pemikirannya sendiri.
“ Baiklah mari kembali sebelum suamiku mengamuk.”
Kai mengangguk, mereka pun berjalan keluar hotel dan kembali ke rumah sakit. Namun pikiran Kai masih ber cabang-cabang. Meski ia telah menyampaikan banyak hal kepada Sir Alexander namun ia merasa semuanya tidak akan selesai dengan mudah.
Instingnya mengatakan akan ada hal yang terjadi kedepannya. Kai membuang nafasnya kasar. Q yang melihat bocah disampingnya ini seperti mempunyai beban pikiran yang berat hanya bisa mendengus. Kai tidak mau menceritakan detail apa yang tengah dipikirkannya.
***
Di ruangannya Dokter Dika dari tadi mondar mandir tidak jelas menunggu sang istri dan sang pasien kembali. Berkali kali ia melihat jam tangannya dan melihat ke arah pintu, namun yang ditunggu belum juga datang.
Ceklek…..
terdengar suara pintu ruangannya dibuka lalu muncullah dua orang dari balik pintu yang membuat Dika bernafas lega.
“ Alhamdulillaah kalian sudah kembali apa kalian tidak tahu betapa paniknya aku.”
“ Maafkan aku dokter sudah membuatmu khawatir.”
“ Baiklah tidak apa-apa, segeralah ganti baju dan ayo kembali ke kamarmu. Aku khawatir ibumu menunggu dengan cemas.”
Kai mengangguk, ia kemudian berganti pakaian dengan mengenakan baju pasiennya kembali.
Dika kemudian kembali membawa Kai ke kamar rawatnya. Benar saja Sita nampak cemas menunggui putranya yang diperiksa.
“ Bagaimana dokter Dika, apakah tidak ada masalah?”
“ Tidak bu, semuanya baik-baik saja. Hari ini Kai sudah boleh pulang.”
“ Benarkah dokter, Alhamdulillah jika begitu.”
Sita tampak senang begitu juga dengan Kai. setelah menyampaikan hal tersebut dokter Dika pamit undur diri.
“ Alhamdulillaah abang sudah boleh pulang, mommy seneng akhirnya abang bisa keluar dari rumah sakit hari ini. Pasti adik adikmu juga sangat senang bang.”
Kai tidak terlalu merespon ucapan Sita. ia malah fokus memandangi wanita yang sudah melahirkannya dan berjuang untuk hidupnya itu. Hatinya dijalari rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
“ Mom, apakah kalau Kai berbuat salah mommy akan memaafkan Kai?”
__ADS_1
“ Kamu ini ngomong apa sih nak, tentu saja mommy akan memaafkan Kai. Mommy jadi sedikit merasa aneh kemarin ayahmu juga bersikap tidak biasa. Kalian entah bagaimana kenapa bisa sama an.”
Kai sedikit terkejut, rupanya apa yang ia rasakan mungkin dirasakan juga oleh sang ayah.
“ Mom, I love you but I'm so sorry.”
“ love you too baby. Abang nggak usah minta maaf, abang nggak pernah ada salah sama mommy.”
Sita memeluk putra sulungnya itu. Kai menangis di pelukan sang ibu, mencurahkan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Sita menyadari Kai menangis, ia pun mengusap kepala putranya dengan lembut.
Di luar kamar rawat terlihat Rama tengah berdiri dan melihat ke dalam dari kaca pintu. Niatnya ingin masuk urung. Rama kembali duduk di kursi depan ruangan. Ia menundukkan wajahnya, tampaknya ia mengerti apa yang sedang Kai rasakan saat ini.
Setelah beberapa saat Rama pun masuk ke ruang rawat Kai, ia merubah ekspresi wajahnya.
" Holaaa abang, kata dokter Dika sudah boleh pulang hari ini."
" Ya ayah… haaah… aku sangat rindu dengan kamarku."
" Heleh… kamu rindu kamarmu apa rindu komputer mu?"
" Dua duanya. Heheheh."
Kai tertawa, namun Rama tahu ada sebuah hal yang membebani pikiran putranya. Karena wajah Kai seakan penuh dengan beban.
Sita nampak membereskan barang barang Kai. Dan Rama membantu Kai berganti baju.
" Ok selesai… sudah ke bagian administrasi mas."
" Lho… siapa yang melakukannya. Aku belum ke sana juga lho."
" Katanya istrinya dokter Dika yang membayar nya."
" Masyaallah… "
Sita terkejut mendengar penuturan sang suami sedangkan Kai hanya tersenyum simpul. Q melakukan itu pasti karena merasa bersalah, begitu pikir Kai.
" Tenang aja mom, dia banyak uangnya kok hehehe."
Sita menatap Kai dengan aneh, ia memang tahu Kai dan Silvya saling mengenal tapi Sita tidak pernah paham sebenarnya apa hubungan putra dan istri dari dokter Dika itu.
🍀🍀🍀
Ketiga bocah usia 6 tahun itu sedang sibuk membereskan tempat tidur sang kakak. Mendengar kabar dari Ale kalau abangnya pulang membuat mereka begitu bahagia dan antusias.
" Hay guys… apakah sudah selesai?"
" Sudah…!!!"
" Baiklah… mari kita sambut abang pulang."
Ketiganya mengangguk lalu mengikuti Ale berjalan menuruni tangga.
" Assalamualaikum….!!!"
__ADS_1
Kai mengucapkan salam dengan lantang dan dijawab si kembar dengan keras, " Waalaikum salam….. Abaaaang……!!!"
Akhza, Abra, dan Ana langsung menghambur ke pelukan Kai.
" Sayang…. Kalian pelan pelan… abang baru aja pulang belum sembuh betul."
Sita memperingatkan ketiga anak kembarnya itu saat memeluk Kai, pasalnya ia melihat Kai sedikit meringis mendapat pelukan dari si kembar.
" Ups… sorry abang. We are happy you are back home."
" No problemo Akhza. Abang juga happy bisa pulang. Thankyou guys."
Ana menggandeng tangan Kai dan mengajaknya pergi ke kamar.
" Selamat datang kembali di kamar abang…."
" Woaaah… ini sangat rapi. Apa kalian yang melakukannya?"
" Tentu saja kami yang melakukannya. Apa abang suka?"
" Ya… Abang suka. Sangat suka. Sekali lagi terimakasih Akhza, Abra, dan Ana. Abang menyayangi kalian."
" Kami juga menyayangi Abang."
Kai merebahkan tubuhnya di ranjang dan mengajak ketiga adiknya tidur bersama.
Berurutan dari kanan ke kiri yakni Abra, Ana, Kai, dan Akhza. Kai berada di tengah diantara adik adiknya.
Tak berselang lama ternyata mereka semua sudah terlelap. Sita dan Rama yang baru menyusul ke atas tersenyum melihat keempat buah hati mereka tertidur di satu ranjang besar milik Kai. Ya Kai memang meminta kamarnya diisi dengan tempat tidur yang besar karena adik adiknya sering pergi ke kamarnya untuk tidur.
Sita menatap keempat anaknya dengan haru.
" Semoga selamanya mereka bisa tetap seperti ini, akur dan saling menjaga."
" Iya sayang… aku juga berdoa seperti itu."
Rama menutup pintu kamar Kai kembali dengan perlahan. Di dalam kamar Kai langsung membuka matanya saat kedua orang tuanya berjalan menjauh. Sedari tadi dia memang tidak tidur. Ia bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk dan bersandar di headboard.
Kai melihat satu persatu adiknya. Mengusap kepala mereka, dan tersenyum melihat wajah wajah polos itu.
" Tenang saja Mom, Ayah, aku akan selalu menjaga mereka. Tidak akan aku biarkan ada yang berani menyentuh mereka barang sedikitpun. Bahkan sampai mereka dewasa nanti aku akan tetap melindungi mereka, apalagi si bungsu ini. Ana, abang tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu nanti. Meskipun kau perempuan, kau harus kuat."
Kai mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Q.
" Q… terimakasih kau sudah membayar biaya perawatan ku, Q… aku minta pengawasan dan pengawalan ekstra. Aku merasa ada hal yang tidak baik akan datang."
" Baik Mr. Sun, sesuai keinginanmu. Aku akan menempatkan orang terbaik disisi kalian."
Huft… lagi dan lagi. Baiklah sudah lama libur tanganku harus berolahraga sepertinya. Baiklah… mari kita mencari sesuatu yang mencengangkan.
Kai tersenyum devil, tampaknya ia mempunyai sebuah rencana yang pastinya merupakan senjata ampuh untuk melindungi orang orang tercintanya.
TBC
__ADS_1