Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
90. Di Rumah Daddy


__ADS_3

Dani yang menerima kabar Kai berada di rumah langsung membatalkan rapat yang sudah dijadwalkan pukul 14.00 siang ini.


"An batalkan semua rapat hari ini dan agenda apapun hari ini. Aku akan pulang sekarang."


"Tapi Tuan."


" Tidak ada tapi. Putraku di rumah sekarang. Aku harus menemuinya."


"Baik tuan."


Anton hanya bisa mengalah. Ia pun akan melakukan hal yang sama jika ada di  posisi Dani. Anton meminta sekretaris Dani untuk menghubungi semua peserta rapat dan membatalkannya dengan alasan keluarga.


Flashback on


Dani yang sedang menyiapkan agenda rapat tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Laila.


"Assalamualaikum ma, ada apa. Aku sedang sangat sibuk sekarang."


" Oh ya, ya sudah lanjutkan saja, maka kau tidak akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan putramu."


"Maksud mama?"


" Kai ada di rumah sekarang, dia akan disini sampai makan malam nanti."


"Apa… Apa aku tidak salah dengar."


"Huft… terserah kau lah Dan."


"Baik ma, aku akan pulang sekarang."


Dani langsung menutup ponselnya dan membereskan meja miliknya.


Flashback off


Dani sekarang berada di mobilnya dan melaju dengan sedikit cepat. Ia ingin segera berjumpa dengan putranya. Kebahagiaan nampak terlihat di wajahnya. Sedari keluar dari ruangannya tidak henti hentinya ia tersenyum. Senyum tulus yang lama tidak ia lakukan.


Namun saat di perjalanan ia melihat seseorang yang dikenalnya tengah berdiri di samping mobil mercedes benz sambil menelpon dan sesekali menendang ban mobilnya yang terlihat kempes.


Tadinya Dani enggan ikut campur lebih lebih Kai sekarang ada di rumah. Tapi jiwa kemanusiaannya berteriak apalagi itu adalah rekan bisnisnya, Dani tidak bisa acuh begitu saja.


Ckiiit, Dani menepikan mobilnya dan keluar dari dalam mobil.


"Nona Seruni ada yang bisa saya bantu?"


"Eh Pak Dani, oh tidak apa apa hanya saja ban mobil saya bocor. Saya sudah memanggil bengkel."


"Oh… Syukurlah kalau begitu. Terus anda mau kemana?"


"Saya hanya akan pulang. Saya juga akan memanggil taksi online."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu nona Seruni. Hati hati."


Dani kembali masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi dari tempat dimana Seruni berdiri.


"Ya Allaah… itu duda dingin banget sih. Bukannya nawarin nganterin gitu. Astaga… nggak peka banget. Masa ada cewek terlantar begini ditanya doang. Bener bener tuh cowok. Lihat saja aku pasti bisa mencairkan es itu." 


Gadis itu bersungut-sungut melihat kepergian Dani. Ia sungguh kesal dengan sikap Dani yang tidak peka.


Sedangkan di kediaman  Rama Sita yang baru bangun tidur sedikit kebingungan karena dia tidak menemukan Rama dan Kai.


"Bu… Mas Rama dan Kai dimana ya?"


"Oh tadi mas Rama dan Kai pergi keluar saat eneng masih tidur. Neng Sita mau apa biar bibi bikinin."


"Nggak usah bu, biar nanti Sita bikin sendiri kalau mau. Ibu istirahat saja jangan terlalu capek. Oh iya makasih ya bu untuk infonya."


"Iya neng, ya udah bibi ke kamar dulu ya."


Sita mengangguk, ia membuka kulkas dan menemukan buah mangga di sana. Sita lalu mengupasnya dan menaruhnya ke piring.


Tak… tak… tak…


Langkah sepatu diikuti dengan suara salam begitu jelas terdengar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam...lho mas mana Kai. Tadi kata ibu Surti Kai pergi dengan mas Rama."


"Sayang. "


"Iya mas, dimana Kai?" Sita sudah terlihat panik.


"Sayang Kai di rumah opa nya."


"Maksud mas, dia di rumah papa Wira?"


Sita terkejut dan sedikit tidak percaya mendengar jawaban Rama.sedangkan Rama hanya mengangguk.


"Tapi mas kenapa bisa. Mengapa mas kasih izin."


"Sayang tenang, jangan panik oke, dengarkan dulu penjelasan ku."


Rama menghentikan ucapannya itu dan menenangkan istrinya.


"Sayang, bagaimanapun Kai itu tetep cucu om Wira dan Tante Laila. Kai juga darah daging Dani. Sudah sewajarnya Kai dekat dengan mereka."


"Tapi Dani…"


"Sayang, sudahlah… lupakan sakit hatimu. Aku tahu kamu begitu membencinya namun tidak ada gunanya jika terus dilakukan. Nanti jatuhnya jadi penyakit hati. Allaah tidak menyukai itu. Apalagi kamu sedang mengandung, kamu tidak mau kan anak kita jadi anak yang pembenci?"

__ADS_1


Sita menggeleng, ia sebenarnya setuju dengan ucapan Rama.


"Nah maka dari itu biarkan Kai dekat dengan oma opanya juga daddy nya. Dani aku yakin sudah berubah dan pasti dia juga sudah menyesali perbuatannya."


"Baiklah mas,aku akan berusaha menerima itu. Memang pada kenyataannya Dani adalah ayah biologis Kai. Dan aku tidak bisa menyangkalnya."


"Bagus… kamu memang istri yang pengertian."


Rama mencium pipi Sita sekilas dan mengusap perut Sita.


***


Akhirnya Dani sampai juga di rumah. Ia langsung bergegas berlari masuk, namun ia tidak menemukan siapa siapa di dalam rumah. Dani lalu menuju ke halaman samping, di sana hanya ada kedua orang tuanya.


" Ma…Pa… mana putraku ?"


"Dan… salam dulu."


"Assalamualaikum, mana putraku pa?"


"Waalaikumsalam, di kamarmu."


Tak… tak...tak…


Dani berjalan cepat menuju kamarnya, jantungnya berdetak hebat. Deg...deg...deg…


Sampai di depan kamarnya Dani berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya dan menormalkan debaran jantungnya yang sungguh cepat.


Hmmmm huftttt…..


Ceklek….


"Kai…." Dani berucap pelan memanggil nama putranya itu. Tampak Kai tertidur di atas ranjangnya. Dani yang melihat begitu emosional. Ia sangat terharu.


Dani berjalan mendekat lalu berjongkok di samping tempat tidur dan memandangi wajah putranya. 


Tes…. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Wajah polos Kai serasa mencabik dadanya. Ia sangat merasa bersalah.


Ingatannya kembali ke masa dulu saat ia menolak Sita. 


"Maafin daddy boy.. Daddy sungguh minta maaf." Dani terisak. Ia membelai wajah Kai perlahan agar tidak membangunkannya.


Ia pun naik ke atas tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya lalu memeluk putranya itu. Dani berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis namun ternyata sulit. Air matanya selalu keluar setiap kali ia menghapusnya.


10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu akhirnya Dani tertidur juga sambil memeluk Kai. Kai yang sebenarnya sejak Dani datang tidak tidur mengendurkan pelukan Dabi dan memandangi wajah daddy itu. 


Tes… kini air mata Kai yang luruh. Entah apa yang bocah itu rasakan. Bahagia, sedih, marah, atau kecewa. Yang jelas saat ini ia tengah mencoba berdamai dengan hatinya untuk menerima pria dewasa itu sebagai bagian dari hidupnya. Karena jika tidak ada dia maka juga tidak akan ada dirinya.


"Kecewa… pasti itu dad, tapi aku rasa kau sudah menerima balasannya. Penyesalan mu yang begitu dalam sudah cukup untuk menebus rasa kecewa ku terhadapmu. Karena aku yakin seumur hidupmu kamu akan terus merasa bersalah. Aku akan sebisa mungkin berbakti kepadamu dan mencoba membuka pintu hatiku untuk bisa menyayangimu sebagai seorang ayah."

__ADS_1


TBC


__ADS_2