
Aku Juga Mau
Liburan singkat telah usai. Kai kembali ke sekolah, Sita kembali bekerja, Bi Surti dan Susi kembali ke aktivitasnya.
Sebelum berangkat bekerja Sita memberikan laptop miliknya untuk digunakan Susi mencari kampus dan jurusan yang Susi mau. Susi sangat bersyukur, majikannya kali ini sangat baik dan berbeda dari yang sebelum sebelumnya. Dengan Sita, Susi dianggap bagian keluarga. Sita selalu mengajaknya makan di meja yang sama meski kadang Susi masih sungkan. Sita selalu mengingatkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sita juga masih melarangnya untuk pergi keluar rumah walau itu hanya untuk ke pasar atau ke market. Sita masih khawatir dengan Mauren, karena Sita tahu betul Mauren akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Alhamdulillaah Ya Allah, aku mendapatkan majikan yang baik. Aku janji tidak akan mengecewakan bu Sita", gumam Susi.
" Belajarlah yang rajin Sus, agar bisa mengangkat derajat orang tuamu nanti."
"Iya bu. Insyaallah Susi akan rajin belajar. Benar kata bu Sita. Kita sebagai wanita harus bisa kuat dan mandiri, tapi tetap tidak melupakan kodrat. Dan tidak ada kata terlambat untuk belajar."
Bi Surti tersenyum dengan jawaban Susi. Ia senang Susi mau semangat seeprti itu.
Sedangkan di rumah Mauren yang semakin berantakan akhirnya mau tidak mau Mauren harus bergerak membersihkan rumahnya sendiri. Ingin memanggil jasa kebersihan Mauren urung. Ia merasa sayang dengan uangnya, karena uang yang diberikan Dani semakin lama sudah semakin menipis. Bagaimana tidak menipis jika selalu digunakan tapi tidak ada pemasukan.
Tringggggg……
Suara ponsel Mauren berbunyi. Ia melihat nya namun nomor tersebut tidak ada dalam kontaknya.
"Halo…"
"Heh wanita penipu. Mana orang yang sudah kau janjikan."
Mauren sangat terkejut ternyata orang yang menghubunginya adalah juragan sawit. Ia pun gelagapan dan mematikan ponselnya dengan cepat.
Mamp*us, dari mana tua bangka itu tau nomorku. Aku kan sudah memblokirnya. Monolog Mauren.
Teleponnya berdering kembali namun secepat kilat ia mematikan dan kembali memblokir nomor tersebut agar tidak bisa menghubunginya lagi.
Aku harus kabur, ya itu jalan satu satunya aku harus keluar kota. Persetan dengan Susi persetan dengan tua bangka itu.
Mauren kemudian berlari ke kamarnya. Membawa sejumlah pakaian dan beberapa barang berharganya tak lupa koleksi tas mahalnya pun ia bawa. Ia berganti pakaian dengan cepat.
"Auch…." Mauren meringis kesakitan saat bahan celana jeansnya bergesekan dengan selangk*ngannya. Tapi di acuh. Mingkin lecet, pikirnya begitu.
Dalam benak Mauren pokoknya dia harus bisa pergi dari rumah ini sejauh mungkin sebelum tua bangka itu menemukannya.
Berada di mobil Mauren kemudian melajukan mobilnya. Ia masih bingung mau pergi ke mana.
"Oh iya desa G, disana desa ibu dulu. Lumayan terpencil juga. Ya aku akan kesana, pasti di sana akan aman. Disana juga masih ada rumah ibu." Mauren melajukan mobilnya secepat mungkin. Ketakutannya akan tertangkap oleh juragan sawit akhirnya membuatnya kembali ke kampung halamannya.
Tapi apakah Mauren akan benar-benar bisa lolos?
Ataukah Mauren akan merasa senang berada di kampung halamannya atau malah semakin menderita?
🍀🍀🍀
__ADS_1
Sita tengah berkutat dengan pekerjaannya. Kali ini JD Advertising menangani sebuah iklan dari perushaaan Outdoor yang tengah jadi primadona dikalangan pecinta olahraga alam itu. Yakni NaurE Outdoor, perusahaan dibawah naungan Star Building ini ingin membuat iklan audio visual dan menginginkan model yang sporty dan tidak menye-menye.
Pilihan team jatuh ke seorang adventurer , traveler dan selebgram yang bernama Rafandra Suma Dwilaga a.k.a Andra. Kali ini team legal tengah membuat kontrak dengan Andra yang akan menjadi model utama di iklan tersebut.
"Eh ya ampun, ini Andra kan…" Ucap Lia heboh
"Memangnya kenapa kalau Andra?" Tanya Desi.
"Ya Allaah Des, emang kamu nggak tau. Itu Andra terkenal banget. Acaranya di tv aku suka ngikutin. Nama acaranya " HUMAN ADVENTURE" Pengikut instagramnya aja lebih dari 30 juta pengikut."
"Halaah… nggak tertarik."
Sita hanya tersenyum geli melihat dua tingakah gadis yang masih labil tersebut. Uaia mereka baru 23 tahun. Masih sering mengagumi seseorang secara berlebih.
" Bu Sita, " Ucap Iman.
"Ya Man, ada apa."
"Itu bu, tadi di depan ketemu pak Adit. Bu Sita diminta pergi ke ruangannya."
"Oooh.. Oke. Kalian selesaikan dengan cepat. Nanti makan siang aku yang traktir."
Ke empatnya saling pandang lalu bersorak hore mendengar ucapan Sita.
Sita keluar dan menuju ruangan Adit. Sedikit trauma dengan apa yang didengarnya waktu pertama kali ke ruangan bos besarnya itu membuat Sita memilih berjalan pelan saat mendekati ruangan Adit, memastikan tidak ada suara suara lucknut yang mengganggu telinga, hati, dan pikiran.
Huftttt…. Sita merasa lega karena yang terdengar dari ruangan bosnya adalah suara pria yang tengah berbincang.
Tok.. Tok….tok
"Pagi pak, kata Iman bapak mencari saya." Tanya Sita sopan.
"Iya mbak. Mbak Sita duduk dulu." Adit mempersilahkan Sita duduk dulu. Disana tidak hanya Adit sendiri melainkan pria muda yang lain. Kalau dilihat-lihat mereka berdua seumuran.
"Ndra kenalin ini mbak Sita."
"Mbak Sita ini Andra yang akan jadi model untuk iklan NaurE Outdoor."
Sita dan Andra pun saling bersalaman dan menyebutkan nama mereka masing-masing.
Andra sedikit terkejut saat Adit temannya itu memanggil Sita dengan sebutan Mbak dan bersikap sangat ramah. Yang dia tahu Adit adalah orang yang saklek terhadap karyawannya dan jarang sekali bersikap ramah bahkan kepada yang lebih tua pun ia hanya memanggil nama. Andra pun menatap Adit. Adit yang ditatap Andra paham apa yang hendak ditanyakan.
"Ga usah heran gitu, calon kakak ipar ku. Makanya harus sopan." Bisik Adit di telinga Andra. Andra hanya tersenyum. Ia paham.
Sita yang tidak tau mereka tengah membisikkan apa hanya diam saja.
"Oh ya pak Andra. Apakah ada yang perlu dibicarakan untuk detail kontraknya.?" Sita membuka pembicaraan.
"Mbak Sita jangan panggil Pak, saya ini masih muda. Bukan atasan mbak juga. Panggil Andra saja."
"Saya akan panggil mas saja. Bagaimna mas apakah ada permintaan khusus."
__ADS_1
"Tidak sih mbak saya ikut SOP nya saja. Saya bukan orang yang ribet kok."
Sita mengangguk paham. Untunglah jika begitu jadi kerjaanku akan selesai dengan mudah, gumam Sita tersenyum.
Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya Sita pamit undur diri karena memang sudah tidak ada yang dibicarakan.
"Gila dit, cakep gitu." Ucap Andra sesaat setelah Sita keluar dari ruangan Adit.
"Dibilangin, makanya meskipun janda anak satu mas Rama ge ngebet banget ma tuh mommy mommy. Anaknya cakep Ndra pinter lagi."
"Eeeh janda anak Satu. Ku pikir masih gadis. Kok kamu tau anaknya pinter.?'
" Anaknnya sering ke kantor jadi tahu lah."
"Ooh gitu… kalau janda model begini mah aku juga mau."
" Siapa yang mau???"
"Mas Rama!!!" Sontak keduanya kaget melihat Rama sudah berada di depan pintu. Mereka berdua merasa seperti tertangkap oleh mak-mak komplek yang mereka ghibahin.
"Ini… Andra mau jajal jaket yang mau diiklanin. Ya… itu. Ya kan Ndra."
"I-iya be-benar mas Rama yang dibilang adit." Andra tergagap.
"Mas Rama ada keperluan apa ke sini." Adit sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan. Mas nya itu kalau lagi mode singa bisa ngamuk kapan aja. Roni yang melihat ketakutan di wajah Adit hanya tertawa kecil.
"Ini pak Adit, bos mau nyari file mengenai Eko Priambudi. Karena dia dicurigai melakukan kecurangan yang bisa membuat perusahaan rugi. Dan dikhawatirkan dia juga punya antek-antek di sini."
"Apa . Eko priambudi? Bukannya itu om Eko yang temennya Pakde ya Mas."
"Iya emang Eko yang itu."
Mendengar pembicaraan serius itu Andra memilih pamit untuk pulang, karena apa yang akan dibicarakan tidak ada hubungan dengannya. Adit dan Rama pun mempersilahkan Andra untuk pulang.
"Hufttt hampir saja dimangsa sama Mas Rama. Buseet mas Ra serwm jug aklaau marah begitu. Hiiih…" Gumam Andra sambil berjalan keluar. Andra juga cukup mengenal Rama dengan baik.
Kembali ke dalam ruangan ketiganya berbicara serius.
"Padahal om Eko itu kan temennya pakde. Kok bisa gitu ya tega." Ucap Adit.
"Mangkanya itu, menurutku sebenarnya ayah udah tahu dari lama. Tapi sama ayah didiemin."
"Tapi kita nggak bisa gitu mas. Nnati perusahaan yang udah dibangun pakde mati-matian bisa bnagkrut."
"Good, kau seneng kamu punya pemikiran begitu. Kita punya pemikiran yang sama."
"Oke… sebentar aku panggil Doto dulu. Biar dia ikutan cari antek-antek nya Om Eko."
Rama mengangguk, ia sungguh senang adik sepupunya ini bisa diandalkan.
"Dit, jangan kira aku tidak tahu apa ynag kamu dan Andra bicarakan tadi. Awas saja kalau macem-macem. Tak sunat pindo kowe (ku sunat dua kali kamu)."
__ADS_1
Glek… Adit menelan salivanya dengan susah payah. Ternyata mas nya itu tau apa yang dia dan Andra bicarakan tadi. Adit hanya terseyum kikuk.
TBC