Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
50. Remahan Biskuit


__ADS_3

Rama datang dengan kondisi yang sudah tidak dapat dijelaskan. Obat perangsang itu meskipun tidak masuk ke dalam tubuh tapi cukup meningkatkan hasrat dalam dirinya.


"Ta, please… tolong aku."


"Mas Rama kenapa," Sita panik melihat keringat yang membasahi tubuh Rama, wajah Rama juga memerah.


"Itu, nyonya bos eh bu Sita, bos Rama kena obat perangsang." Jelas Roni.


"Astagfirullah. Ayo bawa masuk ke kamar tamu dulu." Ucap Sita meminta Roni memapah Rama menuju kamar tamu.


Roni langsung menjatuhkan tubuh Rama di atas kasur. Kini Sita dan Roni kebingungan harus melakukan apa. sedangkan Rama sudah menggeliat tidak jelas seperti cacing yang kepanasaan.


"Bu Sita Sebaiknya kita panggil dokter saja kali ya." Ucap Roni.


"Iya betul, tapi itu mas Rama kaya kesakitan gitu." Sita merasa kasihan melihat Rama yang tampak begitu menderita.


Sita memikirkan sebuah ide," Ah iya itu, dengan cara itu obat perangsang tersebut bisa dinetralkan." Gumam Sita.


" Roni bisa minta tolong bawa mas Rama ke kamar mandi." Pinta Sita.


Roni mengernyitkan keningnya dan menyipitkan matanya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku minta tolong bawa mas Rama ke kamar mandi lalu masukkan ke bathup. Sepertinya berendam air dingin bisa menetralkan obat tersebut." Sita menjelaskan.


"ooh kirain mau apa gitu." ucap Roni usil.


Roni dan Sita pun membawa Rama masuk ke dalam kamar mandi. Rama yang mendapat sentuhan dari Sita menjadi semakin menggeliat. 


"Ta… tolong aku Ta…" Rama meraih tangan sita lalu mengusap usapkan wajahnya di sana.


"Iya, ini Sita mau tolong mas."


Sita lalu mengguyur Rama dengan air dingin. Brrrrrr... rasa dingin itu menjalar ke seluruh tubuh. Rama sempat terkejut dengan air dingin yang menyentuh tubuhnya. namun Rama mulai tenang tapi pengaruh obat tersebut belum juga hilang. Sita keluar mengambil es batu dan masuk kembali untuk mencampurkan es batu ke dalam bath up. 


Berhasil, setelah 2 jam Rama berendam air yang begitu dingin akhirnya hasrat itu hilang. Tapi sekarang berganti, badan Rama menggigil bibirnya nampak membiru. Sita pun meminta Roni untuk membuka semua pakaian Rama dan memakaikan bathrobe karena tidak ada baju ganti . Namun Roni dan Sita lega obat tersebut sudah hilang efeknya. 

__ADS_1


"Bu Sita, saya akan kembali ke apartemen dulu untuk mengambil baju si Bos." Sita mengangguk setelah memapah Rama ke tempat tidur Roni berlalu. 


" Mas maaf ya, mas Rama jadi menggigil begini." Sesal Sita.


"Nggak pa pa Ta, aku yang maaf. Buat kamu repot." Rama merasa semakin bersalah, hampir saja ia akan menerkam Sita. Beruntung Roni juga menamani.


"Orang rumah udah pada tidur Ta." 


"Sudah mas."


"Alhamdulillah, untung mereka tidak terganggu dengan ulah ku."


Sita hanya tersenyum, ia membantu Rama minum wedang jahe yang dia buat tadi.


"Mas Rama mau makan?"


"Tidak usah Ta, aku sudah makan tadi."


Hening, suasana menjadi canggung di kamar itu. Rama meraih tangan Sita dan menggenggamnya.


Deg…deg…deg…jantung Sita berpacu begitu cepat. Ia tidak menyangka Rama akan secepat ini memintanya menikah. Walaupun tidak secara langsung tapi makna dari ucapan Rama adalah ke sana.


"Ta, aku tau kamu masih takut. Tapi aku beneran serius Ta."


Hah…. Sita membuang nafasnya kasar. Ia menggenggam tangan Rama balik.


"Mas, kita jalanin dulu ya. Aku tidak mau buru-buru. Aku belum tau rasa apa yang aku rasakan ke mas Rama. Tapi jujur selama ini aku merasa aman dan nyaman."


Rama tersenyum, ini merupakan kemajuan yang bagus. Paling tidak Sita mau membuka hati untuknya.


"Baiklah, mari kita jalani dulu."


Rama membelai wajah Sita, ia begitu tersihir dengan mata hazel Sita. Rama menatap bibir ranum Sita, ia menelan salivanya kasar. "Aku mencintaimu Arsita Ayuningrum." 


"Bos ini bajunya,"

__ADS_1


Blug… lagi lagi Rama di sorong oleh Sita. Beruntung di kasur jadi tidak sesakit jatuh di lantai. Sita lalu berjalan keluar kamar dengan  tergesa. Sita sangat malu dengan Roni, padahal mereka belum jadi berciuman tapi wajah Sita sudah memerah layaknya tomat.


"Ups… sorry bos." Roni merasa hidupnya tengah diujung tombak. Ia pun tidak jadi mendekat ke arah bosnya. Ia memilih meletakkan paperbag yang berisi baju di samping pintu dan melarikan diri sebisa mungkin sebelum sang bos mencincangnya.


"Arghhh Roni, awas kau ya." Rama berteriak kesal. Sedangkan Roni berlari menuju mobil dan menekan pedal gasnya segera kabur dari rumah Sita.


"Haish… untung si bos lagi lemes kalau nggak habis aku. Kok aku bisa nggak tau ya mereka lagi mau…. Ah emang bener-bener sial. Sorry bos bukan bermaksud mengganggu." Monolog Roni dalam mobil.


Sita POV


Ya Allaah malu banget ke gap sama Roni. Padahal belum sempat tuh bibir mas Rama nempel tapi malunya, Subhanallah. Mana mukaku dah kayak kepiting rebut.


Ya Allaah, rasanya kok kayak gini ya deg deg an. Sebenarnya apa sih yang aku rasain ke mas Rama. Sejauh ini saat aku dekat sama mas Rama aku memang merasa nyaman dan aman. Apalagi kalau mas Rama pegang tanganku rasanya seperti ada sengatan listrik. Apa iya aku sudah jatuh cinta sama mas Rama. Tapi ini bukannya terlalu cepat. Aku berusaha buat ngebentengin hati aku agar nggak jatuh cinta lagi tapi perasaan ke mas Rama ini apa.


Kai juga begitu dekat dengan mas Rama, bahkan terang terangan ia meminta mas Rama jadi ayahnya. Ya Allaah sebenarnya apa yang hatiku ini rasakan. Saat Mas Rama mengatakan mencintaiku, itu rasanya seperti ada bunga bermekaran dalam dadaku.


Jujur ketika mas Rama datang kesini dengan pengaruh obat perangsang hatiku sedikit tercubit. Ada rasa khawatir mas Rama beneran akan melakukan "itu" dengan wanita yang sedang mengejar-ngejarnya, apakah ini sebuah kecemburuan. Entahlah.


Rama Hadyan Joyodiningrat, nama itu begitu berat buatku. Jika aku beneran menerima mas Rama apakah keluarganya akan menerima. Apakah orang tuanya akan menerima statusku yang janda anak satu ini. Biasanya keluarga darah biru akan mencari menantu dari strata yang sama sedangkan aku. Aku hanyalah remahan biskuit yang tidak berarti hahahah.


Haish… Sudahlah, biarkan ini berjalan begini saja. Nanti apa yang akan terjadi biarlah terjadi.


***


Rama masih menggerutu di dalam kamarnya sambil berganti memakai pakaian yang dibawa Roni.


"Sialan Roni, aseeem aseeem 2 kali gagal. Apa emang nggak boleh ya sama Allaah harus halal dulu. Duh Gusti Allaah iki cobaan Mu sek paling abot (ini cobaan Mu yang paling berat). Haih… aku nggak bisa berlama-lama di rumah Sita. Jika tidak para setan ini akan terus memaksaku untuk khilaf. Emang kudu cepet cepet dihalalin."


Rama merebahkan kembali tubuhnya, ia masih merasa begitu lemas. Ingatannya kembali ke Ajeng. Ia sangat marah, berani-beraninya ia mau menjebaknya dengan cara murahan seperti itu. Rama berpikir akan memberi pelajaran kepada Ajeng. Gadis itu harus diberi sedikit kejut otak agar otaknya berfungsi bukan hanya sebagai hiasan saja, gumam Rama.


TBC.


Hallo readers… happy reading ya..


Maaf kalo agak agak gaje. Semoga tetap enak dibaca nya…

__ADS_1


Terima Kasih.  Matursuwun


__ADS_2