
Hari berikutnya Rama pagi-pagi benar sudah datang ke rumah Sita dengan alibi menjemput dan agar menguatkan peran mereka sebagai suami istri.
"Mas…. Kenapa tidak ketuk pintu." Ucap Sita yang terkejut melihat Rama tengah duduk di teras.
"Eh kamu Ta, nggak enak takut mengganggu." Jawab Rama
"Kan mas Rama bisa telpon aku."
Rama hanya tersenyum mendengar ucapan Sita.
"Terus mau masuk apa di sini aja?" Tawar Sita.
" Sini aja deh." Jawab Rama.
Sita mengangguk, ia kemudian kembali masuk tanpa menutup pintu. Ia membiarkan pintu depan terbuka karena Rama tidak mau masuk ke rumah.
"Ini mas diminum terus dimakan. Pasti mas belum makan apapun."
Sita kembali lagi dengan membawa susu hangat dan roti bakar. Rama tersenyum menerima pemberian Sita. Ia sangat senang melihat Sita yang begitu memperhatikannya.
Uuugh… Bener-bener cepet kudu dihalalin ini. Kalo nggak isoh lungo digondol liyane (kalo nggak bisa pergi diambil yang lain, gumam Rama sambil senyam senyum.
Tak lama kemudian Sita dan Kai sudah siap. Kali ini Rama akan mengantarkan Kai terlebih dahulu lalu ke sekolah.
"Bye boy, have fun at school."
"Bye ayah… mom…"
Setelah memastikan Kai masuk ke dalam sekolah, Rama mengemudikan mobilnya kembali untuk mengantarkan Sita ke JD Advertising.
Keheningan tercipta diantara mereka berdua di mobil tersebut. Baik Rama maupun Sita bingung mau berbicara apa. Hingga Sita merasa ada yang mengikuti mobil mereka.
"Mas…. Mas Rama, mobil box yang dibelakang kita agak aneh nggak sih?" Tanya Sita, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Mobil box yang dibelakang kita?" Rama balik bertanya kemudian ia melihat ke kaca spion, dan ternyata benar mereka diikuti.
"Ta, cari nama Roni, hubungi dia!", Rama menyerahkan ponsel miliknya.
Tut...tut...tut….
" Nggak diangkat mas!" Sita sudah panik.
"Tenang, jangan panik oke. Terus hubungi Roni." Rama menenangkan Sita, padahal dirinya sendiri saat ini juga sedang panik ia takut mobil di belakang berniat buruk tapi sebisa mungkin ia berusaha tenang agar Sita tidak tambah panik.
Sita berusaha terus menghubungi Roni.
"Halo bos…" Jawab Roni di seberang sana. Sita membuat sambungan telepon mereka dengan mode loudspeaker.
"Ron… dengarkan aku baik-baik. Minta Adit untuk menjemput Kai disekolah. Aku dan Sita Sedang diikuti oleh mobil box. Aku khawatir mobil box itu punya niat buruk. Aku berusaha untuk menghindari sebisa mungkin. Panggil orang kita untuk melindungi Kai dan Adit, cepat sekarang!!!"
"Baik bos. Tapi bos dan bu Sita?"
" Sebisa mungkin kami akan hati-hati, hubungi orang kita untuk melacak keberadaan kami. Ingat Sita mempunyai pelacak di ponselnya itu cukup membantu."
__ADS_1
"Baik bos, semoga bos dan nyonya bos baik baik saja."
"Ya… insyaallah."
Sita mematikan ponsel Rama, ia melihat Rama sekilas. Rama tersenyum.
"Tidak apa-apa, kamu tenang ya."
Sita mengangguk, meskipun sebenarnya ia takut. Sita dan Rama selalu berdoa dalam hati mereka.
Sedangkan pria yang berada di dalam mobil box itu seperti mendapat durian runtuh karena targetnya ganda.
"Hahahha satu tepuk dua nyamuk kena. Bos besar pasti akan senang dengan kerja ku kali ini ha ha ha ha." Pria itu sangat senang dengan kenyataan yang ada di depannya.
Pria dalam mobil box itu terus menerus mengikuti mobil Rama. Ia tidak mau kehilangan kesempatan.
"Sepertinya waktunya sudah pas hahaha." Setelah sekitar 20 menitan pria tersebut mulai fokus, ia akan melancarkan aksinya. Dia tertawa lebar lalu dengan cepat ia menekan pedal gasnya dengan sangat dalam.
Mengetahui mobil di belakangnya melakukan sebuah pergerakan Rama sudah sangat siap untuk itu.
"Ta, sekali lagi aku akan mengatakannya. Aku mencintaimu sungguh. Arsita Ayuningrum aku sangat mencintaimu."
Bruk…. Bruk… bruk… gubrak… dar….dar…
Mobil yang ditumpangi Rama dan Sita ditabrak dari belakang. Mobil itu berguling bersama dengan Rama dan Sita di belakang.
"Aaaaaaaa" Sita dan Rama berteriak bersama.
"Ya Allaah bos Rama…..!!!" Roni berteriak, ia segera turun dari mobil dan mendatangi mobil Rama yang berada di posisi terbalik.
"Bos… bos...bu Sita… Apa kalian bisa mendengar…. Bos… bos… bu Sita… please jawab…" Roni hampir menangis, bahkan air matanya sudah berurai. Ia ingin mengeluarkan Bos nya dan Sita tapi ia takut malah terjadi kesalahan. Ia menunggu tim medis yang sudah di hubungi nya tadi.
"Bangsaaat… lama sekali tim medisnya. Sialan…. Bos… bos… sadar bos… bu Sita… Sadar… kalian harus tetap sadar." Roni menyentuh Sita dan Rama bergantian. Saking takutnya Roni mendekatkan meletakkan jarinya di hidung Rama dan Sita memastikan kedua orang itu masih bernafas. Tapi tetap tidak mengurangi kepanikannya.
Wiu...wiu… wiu… mobil ambulance dan tim medis pun datang.
"Bangsat, sialan… lama banget sih kalian. Cepat itu tolong bos dan nyonyaku."
Para petugas medis tersebut hanya mengangguk patuh mereka tidak marah karena kekhawatiran keluarga pasien adalah hal yang biasa.
"Heh… udah syukur petugas medis datang, malah marah marah. Lha kenapa tadi tidak ditolong sendiri,malah cuma teriak-teriak."ucap seseorang yang melihat laka lantas tersebut.
" Brengsek, menolong orang laka dengan posisi seperti ini jika kita salah malah bisa menimbulkan cedera korban semakin parah. Lebih baik menunggu petugas medis yang memang lebih mengerti, kecuali mobilnya akan meledak maka harus bergegas mengeluarkannya. Brengsek.. Sialan...ngapain kudu jelasin ke kamu." Roni sangat kesal..
( maaf koreksi kalau salah ya otor belum riset soal ini 🙏🙏)
Dengan perlahan petugas medis mengeluarkan Rama Dan Sita secara bergantian dan menempatkan mereka di ambulan yang berbeda untuk dibawa ke rumah sakit.
Orang-orang Roni pun berhasil membekuk si penabrak, dia juga harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami cedera juga.
Sedangkan Adit yang tengah bersama Kai hanya bisa berdoa agar semuanya baik baik saja. Kai terlihat panik, ia tahu sekarang mommy nya dibawa ke rumah sakit.
"Om… Ayo ke rumah sakit. Mommy disana… Ayo om… Aku takut mommy kenapa-napa."
__ADS_1
"Eh… kok kamu tau… oke iya kita akan kerumah sakit." sial kan dia punya alat pelacak di ponsel dan jam tangan mbak Sita dia juga tadi yang ngasih tau lokasi dimana mbak Sita dan mas Rama berada, Adit bergumam sambil menepuk jidatnya sendiri.
Adit mengalah, ia mengajak Kai ke rumah sakit.
"Boy tenanglah, lebih baik kau berdoa agar mommy dan uncle mu itu baik baik saja."
"Iya om, tapi ngomong-ngomong dia bukan lagi uncle ku."
"Hah… Apa...kamu sudah tidak menyukai mas ku itu.. Oh astaga.. Malang sekali nasibmu mas Rama."
"Bukan begitu, sekarang uncle Rama adalah ayahku."
Ciiiiit bruk…
Adit menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Kepalanya terbentur setir mobil. Ia sangat terkejut dengan ucapan Kai.
"Ooom… hati hatiii.." Teriak Kai.
"Iya iya… Sorry.." Adit kembali mengemudikan mobilnya lagi dengan berjuta pertanyaan di kepalanya.
Roni meredam berita kecelakaan Rama dan Sita. Dia tidak mau dalang dibalik semua ini senang. Dia juga tidak mau membuat orangtua Rama khawatir. Fokusnya hanya bagaimana Rama dan Sita selamat dan aman. Roni meminta beberapa orang untuk menjaga Rama dan Sita di RS.
Dokter yang memeriksa Rama dan Sita keluar dari ruang IGD, ia menyampaikan beberapa masalah yang terjadi pada kedua pasien tersebut.
"Keluarga pasien?" Tanya dokter itu.
"Ada apa dok sampaikan saja kepada saya."
"Baik. Pasien pria mengalami cedera dada, meski namanya cedera dada, tapi juga termasuk kondisi tulang dada, otot, paru-paru dan bagian tubuh lain yang masih berada di sekitarnya termasuk tulang rusuk. Ada sekitar 2 tulang rusuk yang patah, serta beberapa luka ringan di kaki dan tangan dan kita harus segera melakukan operasi. Untuk pasien wanita, huhhhh terdapat cedera kepala, karena mungkin kepalanya terbentur dengan keras."
"Apakah ini parah dokter Dika?" Roni membuat nametag di baju dokter tersebut.
" Hmmm, kita harus segera melakukan MRI untuk mengetahui hasilnya dan segera melakukan operasi, jika ada pendarahan di otak maka akan berbahaya." Jelas dokter Dika.
"Baik dok, lakukan yang terbaik. Saya percayakan bos dan nyonya saya kepada Anda."
"Berdoalah semoga semuanya baik-baik saja. Saya juga akan berusaha semaksimal mungkin."
Baru saja Roni hendak mendaratkan bokongnya di kursi, tampak Adit dan Kai yang tengah berlari menghampirinya.
"Om…." Ucap Kai
"Tenang boy, mommy dan uncle mu baik baik saja." Ucap Roni memeluk Kai. Ada perasaan yang tidak dijelaskan saat melihat Kai. Roni seperti melihat dirinya. Ia teringat saat kedua orang tuanya juga mengalami kecelakaan tragis. Ya kecelakaan yang membuatnya menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda. Roni mengusap kepala Kai dengan lembut dan mengucapkan doa dalam hatinya.
"Semoga bos dan nyonya bos baik baik saja, kalian harus berjuang demi Kai.''
TBC
terimakasih untuk dukungan para readers. othor hanya berpesan jika tidak suka dengan karya Othor tidak apa apa, tapi othor mohon jangan beri bintang dua ya..
othor sadari karya othor ini masih sangat sangat jauh dari kata bagus. mungkin kalimat " ada yang mau baca udah sukur" memang benar. jadi kalau tidak suka dan mengecewakan... othor minta maaf 🙏🙏🙏🙂. setidaknya othor terimkasih kepada yang memberikan bintang 2 karena sudah mau mampir dan sejenak membaca. semoga kedepannya tidak memberikan bintang dibawah 4 ya terimakasih...
matursuwun.
__ADS_1