
Dani limbung, perkataan pria yang bersama dengan Sita tadi sukses membobol pertahanan hatinya. Kini ia merasa hatinya hancur, jangankan meminta maaf dengan baik untuk sekedar berbicara baik-baik saja sulit. Penolakan yang diperlihatkan Sita begitu nyata. Hal tersebut benar-benar membuat Dani tak kuasa lagi menahan gemuruh di dadanya.
"Ya Allaah apakah rasanya sesakit ini? Apakah Sita waktu itu merasakan seperti ini atau bahkan mungkin lebih dari ini."
Dani tergugu, anton hanya bisa menatap sang tuan dengan iba. Ia tidak akan bertanya apapun, untuk saat ini diam adalah hal yang paling baik dilakukan. Biarkan orang yang tengah menyesali perbuatannya itu merasakan apa yang telah ia tabur. Mungkin Dani saat ini tengah memetik hasil panen dari apa yang sudah dia tanam.
Anton mengarahkan mobilnya ke rumah Wira. Mungkin disana Dani akan lebih tenang, begitulah isi pemikiran Anton.
Ciiiiit, Anton menepikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Wira.
Tok tok tok, seorang art membukakan pintu dan sedikit terkejut dengan keadaan Dani.
"Den Dani kenapa mas Anton?"
Anton hanya menggeleng dan memberikan isyarat mata, meminta sang art untuk diam. Dan art tersebut pun paham. Ia membantu Anton untuk memapah Dani membawanya duduk di sofa.
Wira keluar dari taman belakang, ia tak kalah terkejutnya saat melihat sang putra begitu berantakan.
"An ini kenapa?"
Anton masih terdiam bingung harus bicara dari mana?
"Lho, ini Dani kenapa An?" Sekarang Laila yang bertanya, Laila baru masuk dari pintu depan.
Huft….. Anton mengambil nafasnya dalam dna membuang nya perlahan.
"Tadi tuan Dani bertemu dengan non Sita dan disana ada seorang pria yang mengaku menjadi suami non Sita."
"Apa… suami???" Wira dan Laila berucap bersamaan
"Masa sita sudah menikah sih pa?" Tanya Laila.
"Ya mana papa tau ma, kita kan sudha lama nggak berhubungan dengan Sita." Jawab Wira. Kedua orang tua itu sungguh bingung tentang penjelasan Anton.
"Bukan, Dani yakin itu bukan suami Sita. Aku yakin Sita belum menikah." Tiba tiba Dani berucap setelah sekian lama bungkam.
"Tenang dulu Dan, memangnya tadi kamu ketemu Sita dimana. Terus kok bisa ketemu?" Laila mengusap punggung anaknya.
__ADS_1
"Aku tadi lagi ke toko ma, ada yang pesen laptop dan belum dikirim. Ternyata nama pemesannya Sita. Aku langsung ke alamat itu dna ternyata bener itu Sita, terus dari dalam muncul seorang pria mengaku dia suami Sita. Argh…" Dan mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat marah mengingat kejadian tadi. Saat pria itu memanggil Sita dengan panggilan sayang dan merangkul pinggang Sita dengan mesra sungguh membuat hati Dani bergejolak.
Laila dna Wira hanya mendengus, mereka tahu saat ini Dani tengah dibakar api cemburu.
"An kamu kembalilah ke perusahaan dulu. Tolong handle dulu semua urusan hari ini." Pinta Wira.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
Setelah Anton pergi Wira dan Laila pun saling pandang dan meninggal Dani di ruang tamu sendirian. Mereka berdua menuju taman belakang dan duduk disana.
"Pa, apakah papa percaya yang dikatakan Dani.?"
"Bisa iya bisa tidak. Tapi sepertinya aku lebih ke tidak. Sita tidak mungkin menikah secepat ini mengingat dulu dia selalu menolak didekati oleh pria."
"Benar juga, mungkin itu temannya atau siapalah entah. Tapi biarkan saja Dani seperti itu. Biar tahu rasa." Bukannya kasina dengan putranya tapi Laila malah mengucapkan hal demikian. Sebagai wanita Laila akan sakit hati juga dengan perlakuan Dani, jadi menurut Laila ini adalah balasan dari Allaah untuk Dani.
"Shitt, siapa pria itu? Tidak aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku yakin dia bukan suaminya. Pasti itu hanya akting, pura-pura. Ya benar begitu." Dani bermonolog ia meyakinkan dirinya bahwa Kita masih sendiri.
🍀🍀🍀
" Ya Allaah kenapa kelakuan perjaka 30 tahun ini melebihi abg 18 tahun. Apa dia baru merasa puber ya." Roni menggerutu.
"Lho om, kok tumben om jemput?" Tanya Kai melihat mobil Roni sudah ada tepat di depannya.
"Ini perintah uncle mu yang lagi bucin." Gumam Roni pelan.
"Apa om…"
" Oh itu bos Rama yang suruh."
"Ob begitu, apakah ada sesuatu hari ini?"
" Om juga tidak tahu, tadi bos pulang sebentar katanya mau ambil flashdisk eh malah akhirnya nggak balik lagi ke kantor."
Kai mengangguk paham, bocah itu membuka tasnya dan mengeluarkan tablet lalu menyalakannya. Ia langsung membuka cctv apartemen dan menarik mundur di peristiwa beberapa saat yang lalu.
Setelah melihat rekaman cctv tersebut bocah itu tersenyum misterius, Roni yang masih bisa melirik senyum Kai dari samping dibuat merinding dengan seringai Kai.
__ADS_1
"Buset nih bocah, auranya nyeremin gitu kalau lagi mode serius. Kalo udah gede bakal banyak orang yang segen sama ni bocah." Bati Roni sambil bergidik.
"Heh… ternyata kau, wow penampilan yang bagus uncle. I like it. Good job uncle." Batin Kai.
Roni mau bertanya urung tentang apa yang terjadi, ia memilih diam sampai mobil mereka berada di tempat parkir apartemen.
Roni membawa Kai naik. Sesampainya di apartemen Kai langsung mencari mommy nya. Tampak mommy nya sedang tidak baik-baik saja. Sita tertidur di kamar ditemani Rama yang duduk di sampingnya.
"Uncle, what happened to my mom?"
" Oh boy, you're home. Mommy mu hanya kelelahan dan sedikit syok. Kita bisa bicara di luar ya."
Rama membawa Kai duduk di sofa ruang tamu, disana juga masih ada Roni.
" Tadi mommy pingsan, tapi uncle sudah suruh dokter kesini untuk memeriksanya. Dan mommy baik baik saja." Jelas Rama.
"Pingsan, memangnya nyonya bos kenapa bos kok bisa pingsan." Tanya Roni frontal dan berakhir mendapat tatapan tajam dari Rama. Roni pun diam sambil membungkam mulutnya sendiri dengan tangan.
Hah…. Kai membuang nafasnya kasar. Ia mengeluarkan tabletnya dan menaruhnya ke atas meja.
"Pasti karena ini. Karena orang itu. Orang itu yang membuat mommyku seperti ini." Emosi Kai meluap, kedua orang dewasa itu terkejut melihat tab menampilkan rekaman cctv saat Dani bertemu Sita.
Rama yang melihat kilatan kemarahan dimata Kai begitu terkejut, ini sisi lain Kai yang belum pernah ia lihat. Rama langsung merengkuh tubuh bocah kecil itu mengusap punggungnya dan mencium pucuk kepalanya ia menyalurkan kasih sayang agar Kai kembali tenang.
Kai tersedu, melihat mommy nya yang tertidur tadi ia tahu mommy sangat syok, disini Rama juga paham Sita Juga merupakan kelemahan terbesar Kai. Akhirnya bocah itu tertidur, ia membawanya menuju kamar satunya lagi agar keduanya bisa sama sama istirahat dengan tenang.
Rama menyandarkan tubuhnya di sofa, ia memijat keningnya dengan kuat. Ingatannya kembali saat Sita pingsan. Ia begitu panik melihat Sita pingsan di depannya. Dan kemarahan Kai, entah luka seperti apa yang pria itu torehkan kepada ibu dan anak itu. Sehingga membuat mereka berdua begitu syok.
"Bos, tadi itu yang di cctv mantan suami bu Sita, ayah kandung Kai?" Tanya Roni dan hanya dijawab anggukan oleh Rama.
"Wah sepertinya nih laki brengsek banget bisa buat Bu Sita dan Kai jadi begitu." Imbuh Roni.
Rama masih terdiam, ia sedang memikirkan cara lain agar bisa menjauhkan Sita dan Kai dari jangkauan Dani. Ia tahu, Dani pasti tidak akan menyerah kembali mendekati Sita.
"Aku tahu aku harus apa."
TBC
__ADS_1