Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
46. Saya (calon) Suaminya


__ADS_3

Hari melelahkan pun berlalu. Namun kecanggungan Rama dan Sita masih tercipta. Pagi itu Rmaa juga tidak banyak bicara begitu juga dengan Sita. Kai yang melihat tingkah aneh kedua orang dewasa tersebut hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Haih… urusan orang dewasa memang susah dimengerti. Sikapnya melebihi anak kecil. Bukannya kemarin mereka terlihat begitu dekat tapi lihatlah sekarang ,sekarang seperti ada jarak diantara mereka. Kayak musim covid aja harus social distancing 1 meter.", gerutu Kai dalam hati.


"Mas…" Akhirnya Sita membuka obrolan setelah sekian menit sunyi.


"Ya Ta…"


"Ehmmm mungkin sebaiknya aku dan Kai kembali ke rumah. Tidak enak sama tetangga yang ada di sini."


Rama menimbang sebelum menyetujui.


"Ehmmm baiklah, tapi besok aja ya. Malam ini tidurlah di sini dulu. Besok baru kembali ke rumah."


"Oke mas. Makasih." Senyum sita mengembang sempurna akhirnya ia bisa kembali ke rumah. Namun Rama beranggapan lain, wajahnya tampak lesu. Rama berpikir Sita menolaknya.


"Hhhhh apakah kamu menolak aku Ta, mau pulang seneng banget gitu." batin Rama.


Rama pamit berangkat begitu juga dengan Kai. Sita heran melihat wajah Rama yang tampak lesu dan tidak bersemangat.


"Mas Rama kenapa ya kok mukanya leau gitu, apa sakit tapi kayaknya baik-baik saja. Apa masakanku tidak enak, tapi sepertinya enak enak aja. Jadi kenapa ya?" Sita bermonolog.


Sita kembali ke dapur membereskan piring kotor bekas sarapan dan kembali ke kamar untuk membereskan baju baju miliknya dan milik Kai.


Sepanjang perjalanan Rama tampak tidak bersemangat, wajahnya ditekuk. Sampai perusahaan pun begitu. Semua orang bergidik ngeri. Mood bos besar sedang tidak bagus mereka sudah mempunyai ancang-ancang jika mendapatkan semprotan. Benar saja baru saja mereka membatin sang boa sudah berulah.


"Woi, ini siapa yang naruh ember disini. Singkirkan."


"Heh, ini kenapa pot bunganya jelek banget, ganti!"


"Wah mentang-mentang saya tidak pernah cek ya kenapa ini tulisan JD Coal kotor sekali, bersihin.!"


Semua orang  di sana kena semprot oleh Rama. Roni yang baru datang menanyakan kepada resepsionis dengan apa yang terjadi mengapa lobi tiba-tiba menjadi sangat sibuk.


"Na, kenapa ini jadi rame banget."


"Itu pak, Bos besar sedang ngamuk."


"Maksudmu bos Rama, memangnya kenapa?"


"Itu katanya tulisan JD coal nya kotor, terus pot bunganya jelek disuruh ganti semua."


Pluk… Roni memukul jidatnya dengan telapak tangannya. Ia begitu pusing dengan kelakuan absurd bosnya.


" Sudah sudah kalian kerja seperti biasa, biar bos aku yang tangani."


Mereka semua mengangguk, dewa penolong telah datang. Mereka bisa bernafas lega.


Roni menuju ruangan Rama, disana sang boa tengah melamun menatap pemandangan di luar.


"Bos lagi pms ya. Kok dari masuk marah marah mulu."


"Sialan kau Ron."


"Hmmm ya sudah kalau gitu. Sekarang kita mau apa nih?"


"Selesaikan kasus Eko."


"Siyap… tapi filenya mana?"


"Astagfirullah, ketinggalan di apartemen. Ya udah ntar aku ambil dulu."

__ADS_1


"Biar aku aja bos."


Rama langsung memandang tajam Roni. 


"Upss lupa di rumah ada nyonya bos." Roni nyengir kuda.


🍀🍀🍀


Sita tengah sedikit kesal karena laptop yang dibelinya belum sampai. Dia pun berinisiatif menelpon pemilik toko.


"Pak, maaf. Kok laptop saya belum sampai ya."


" Ya Tuhan maaf bu, maaf. Iya saya akan antarkan ke sana. Saya minta maaf bu benar-benar saya lupa."


"Ya pak tidak apa-apa. Saya tunggu ya pak."


Pemilik toko itu menghela nafasnya dalam, ia sungguh merasa tidak enak dan merasa bersalah. Apalagi saat ini di tokonya sedang ada bos besar yang tengah melakukan sidak.


"Ada apa?"


"I-itu tuan saya lupa mengantarkan pesanan pembeli. Padahal beliau sudah membayarnya." Jawab pemilik toko agak sedikit takut.


"Coba lihat dimana alamatnya?"


"Ini tuan"


"Ooh di apartemen. Atas nama siapa yang membeli.?"


"Atas nama Sita."


Deg…. 


Orang tersebut terpaku, ia kembali memastikan pendengarannya tidak salah. 


"Sita tuan Dani. Namanya bu Sita."


Dani terhuyung, ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi yang ada di sana.


"An, kita ke alamat ini. Bawa laptop pesanan nya kita akan mengantarkan pesanan Sita."


Anton terkejut mendengarkan perkataan tuannya. Bukankah nama Sita begitu banyak, tapi Anton tidak mau memupuskan harapan tuannya itu ia hanya mengangguk patuh. Mereka Berdua pun pergi dan sukses membuat si pemilik toko bengong.


Si sisi lain Rama mengemudikan mobilnya dengan kencang, entah ia memiliki perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti gelisah, tapi ia juga tidak tahu gelisah karena apa.


"Haish… malah lampu merah, ayo dong… ijo ijo ijo… eh dah kayak iklan aja."


Rama mengoceh sendiri, lampu akhirnya berubah hijau. Rama langsung menekan pedal gasnya melesat cepat ke arah apartemennya. Sampai di apartemen ia memarkirkan mobilnya dan berlari menuju lift, menekan tombol lift dengan kasar. Dan masuk.


Huft… untung sepi. Kok kayak dejavu ya. Oh iya kemarin aku juga lari-lari begini.


Rama bermonolog ia tertawa sendiri mengingat tingkahnya.


Tring pintu lift terbuka, ia bergegas menekan pintu apartemennya dan membukanya. Di dalam lagi lagi Sita sedang memasak, dan terlihat sangat cantik.


"Lho mas ada apa. Kok balik lagi." Tanya Sita.


"Hah… hah… hah… Ada...yang… ketinggalan." Jawab Rama terengah karena memang dia tadi berlari-lari.


"Mas, sini minum dulu. Kayak habis lari marathon."


Rama menurut, ia mendekat dan Sita menuangkan air ke gelas. Rama langsung minum habis air itu.

__ADS_1


"Ta, kamu mau buru-buru pulang mau menghindariku ya." Ucap Rama tiba-tiba. Ia tidak mau memikirkannya sendirian dan membuatnya berulah tidak jelas.


"Hahahahha mas Rama berpikir begitu? Ya Allaah mas, aku murni merasa tidak enak. Itu saja."


"Benarkan, jadi kalau aku ke rumah apakah boleh."


Sita mengangguk tanda jawaban iya. Rama akhirnya lega.


Ting tong… ting tong…


"Eh siapa ya. Tumben ada tamu." Ucap Rama.


"Oh paling itu kurir mas, aku beli laptop kemarin tapi belum diantar. Mungkin itu orangnya. Bentar aku buka dulu mas."


Sita berjalan menuju pintu, ia membukanya dengan cepat karena tidak sabar mau menggunakan laptopnya.


Ceklek. "Laptop saya ya…."


"Sita… kamu bener Sita kan. Kamu disini. Ya Allaah Ta. Aku nyari kamu kemana-mana."


Ternyata bukan kurir yang ada di depan pintu melainkan Dani. Sita membeku, ia sangat terkejut. 7 tahun ia tidak pernah bertemu dengannya dan hari ini ia melihat mantan suaminya itu. Anton pun ikut terkejut, mantan nyonya nya itu ada dihadapannya. Sita masih seperti dulu, malah semakin cantik sejenak Anton terpesona melihat Sita.


"Maaf, anda salah orang." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Sita.


"Tidak Ta, aku masih ingat. Ini kamu. Ini Sita yang dulu. Aku minta maaf Ta. Aku benar benar minta maaf."


Sita tersenyum sinis, ia sungguh muak melihat Dani. Meskipun dia sudah menyiapkan untuk bertemu Dani tapi tidak menyangka akan secepat ini.


"Aku bukan Sita yang dulu. Sita yang dulu sudah mati."


Mendengar keributan di depan pintunya membuat Rama beranjak, dari jauh ia dapat melihat Dani mantan suami Sita di sana. Rama mengepalkan tangannya, ia ingin sekali meninju wajah pria itu. Tapi Rama berusaha tenang ia punya ide yang lebih bagus.


"Sayang… ada apa mengapa ribut sekali." Sita dna Dani sama sma terkejut oleh suara Rama.


Apa yang mas Rama lakukan, apa maksudnya, apa dia sedang menolongku, batin Sita.


Sayang, apakah dia suami Sita. Tidak tidak mungkin, batin Dani.


"Maaf mas ini ada orang mengantar laptop." Ucap Sita lembut.


Rama mendekat dan meraih pinggang Sita dengan mesra. Sita sedikit terkejut tapi ia mengikuti permainan Rama.


"Oh kupikir apa."


Dani membelalakkan matanya, hatinya sangat sakit.


"Ta… dia siapa." Dani memberanikan diri untuk bertanya.


Saat sita hendak membuka mulutnya, ia merasakan tangan Rama bergerak di pinggang. Akhirnya Sita memilih diam dan membiarkan Rama yang menjawab.


" Maaf, anda bertanya siapa saya, saya adalah (calon) suaminya." Rama menyelipkan kata calon dihatinya jadi yang terdengar oleh Dani Rama adalah suami Sita.


Duar…. Seperti disambar petir Dani mendengarkan kalimat itu.


Rama mengambil laptop dari tangan Anton dan membawa Sita masuk ke dalam.


"Maaf Ta aku harus berkata demikian."


Sita mengangguk paham, namun hatinya masih bergemuruh. Bukan karena senang bertemu kembali mantan suaminya tapi ia merasa sangat kesal karena membuka luka lama itu lagi.


TBC

__ADS_1


hay readers... maaf ya kalau banyak typo nya. asam lambung othor lagi kumat.


happy reading readers... terus beri dukungan untuk othor ya ...terimakasih. matursuwun.


__ADS_2