
On behalf of Linford Air and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day! (Atas nama Linford Air dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan Anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!)
Sapaan dari pramugari mengakhiri penerbangan Linford Air kali ini. 1 jam 15 menit akhirnya pesawat mereka landing di bandara kota S dengan selamat.
Kai keluar bersama para orang dewasa, di depan mobil jemputan Priyo sudah terpampang.
Priyo menghampiri Hardi dan memeluknya erat.
"Maaf Den… maaf."
Priyo merenggangkan pelukannya namun Hardi mencegah. Hardi juga menyimpan rindu terhadap Priyo.
"Bagaimana kabar mu mas?"
"Baik den, kita mau langsung ke rumah sakit?"
"Ya sebaiknya begitu. Oh iya aku lupa. Iki anakku, mantuku, lan putuku."
Priyo menunduk hormat dan dibalas Rama, Sita serta Kai dengan gerakan yang sama.
Mereka pun segera menuju rumah sakit. Priyo menjelaskan sekarang operasi masih berlangsung hingga saat. Mengingat Adipati sudah berusia lanjut, operasi ini sungguh butuh kehati-hatian.
Selama perjalanan Hardi menanyakan beberapa peristiwa yang terjadi di keluarga besarnya itu.
" Mas, sakjane ki ono opo (sebenarnya ada apa) kok semuanya jadj kacau begini."
"Huft… aku bingung juga Den."
"Hardi aja mas, dulu kita temen dolan(main)."
"Iyo Har, sebenarnya anak anak bapak yang lain utu tuh jarang banget mengunjungi bapak. Mereka lebih sibuk ngurusin usaha usaha yang diberikan bapak. Tapi tidak ada yang beres."
"Terus kok ponakan ponakanku pada jadi kriminal begitu mas."
"Yo karena ulah orang tuanya to Har, mereka sibuk ngebanda tapi nggak perhatian ke anak. Jadi anaknya tumbuh jadi anak yang sombong, congkak, dan seenaknya sendiri."
Hardi menerawang jauh kepada saudara saudaranya, sedikit merasa heran pasalnya dulu suka bermain bersama. Dan mengapa setelah dewasa seakan tidak peduli satu sama lain.
Sekecewanya Hardi terhadap bapaknya, ia masih menghormati bahkan masih memakai nama Joyodiningrat dibelakang namanya. Hal itu bukan semata mata untuk mengambil keuntungan dari sebuah nama keluarga besar, melainkan karena baktinya sebagai anak terhadap orang tuanya. Hardi tidak akan meninggalkan asal usulnya, meski bapaknya begitu membencinya.
"Sudahlah mas yang penting sekarang bapak. Semoga bapak baik-baik saja." Ucap Ayu.
__ADS_1
Rama, Sita, dan Kai hanya menjadi pendengar di sana. Namun lagi lagi Kai sibuk dengan ponselnya. Kai menghubungi Q untuk meminta beberapa orangnya menjaga di kota S. Kai mempunyai feeling yang tidak enak. Ia merasa akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan.
Q, aku minta orang mu menjaga orangku di kota S. (Kai)
^^^Mr. Sun sebenarnya aku ini siapamu sih, heran aku. Seneng banget nyuruh-nyuruh.(Q)^^^
Ayolah, apakah kau mau mulai berhitung denganku Q? (Kai)
^^^Wooaaah, kau memang benar-benar ya Mr. Sun. Ya ya baiklah. Kau memang bos nya (Q)^^^
Begitu lebih baik (Kai)
^^^Aku sudah menghubungi orang ku, kalian aman di sana. Kebetulan Ian juga sedang ada di kota S untuk bisnis. Kalau ada yang mendadak hubungi Ian saja.(Q)^^^
Good Job (Kai)
^^^Sialan kau, sungguh kau lebih menjengkelkan dibanding dokter kulkas itu. (Q)^^^
Hahaha, begitu juga dia suamimu (Kai)
Hening, tidak ada balasan lagi dari Q. Kai hanya tersenyum simpul. Dia sangat suka menggoda Ketua Mafia labil yang belum juga menyadari perasaannya. Kai kembali terkekeh kecil sambil bergumam.
"Hehehe, aku penasaran reaksinya kalau dia tau aku hanya bocah "
"Oh itu Mom, video lucu di youtube."
"Coba mommy lihat."
Sita pun meminta ponsel milik Kai dan melihatnya, ia pun tersenyum melihat video yang dilihat Kai dan kembali memberikan ponsel milik Kai.
"Jangan keseringan nonton ya Sayang."
"Oke Mom."
Huft, untung saja langsung ganti ke aplikasi youtube, bahaya kalau sampai dilihat mommy, gumam Kai lega.
***
Sampai di rumah sakit mereka disambut dengan baik. Proses Operasi masih berlangsung. Operasi pembedahan Otak tidaklah mudah dan tentu saja beresiko apalagi pasien sudah berusia lanjut. Team dokter pun sangat berhati hati dalam melakukan tindakan ini.
Kai melihat beberapa orang Q di sana, ia dapat bernafas lega karena ia percaya anak buah si Ratu Mafia itu adalah orang orang terlatih dan dapat diandalkan.
__ADS_1
"Bagus, jika sudah seperti ini pastilah lebih aman. Aku tidak terlalu khawatir. Tapi sepertinya tetap harus melakukan pengawasan."
Di ruang tunggu iti kai membuka tabletnya dan mulai meretas cctv rumah sakit. Dia tidak mau kecolongan barang sedikitpun dalam keamanan keluarganya. Terlebih snag mommy sedang hamil.
"I got you, tidak terlalu sulit ternyata. Oke.. Mari kita lihat sebentar."
Kai mulai mengecek satu persatu lokasi yang terekam cctv. Mulai dari lorong menuju ruang operasi, parkiran ,halaman, lobby dan pintu utama IGD.
"That's good, sejauh ini semua aman."
Kai pun menyandarkan tubuhnya di kursi dna memejamkan matanya sejenak sampai suara Rama menyebut namanya.
"Kai, boy… kita cari makan dulu saja yuk. Biar eyang kakung dan eyang putri yang menunggu di sini. Kasian mommy dna adik adikmu pasti lapar."
"Oke yah ayoo."
Rama meminta izin kepada Hardi dan Ayu untuk membawa Sita dan Kai makan. Hardi pun mengangguk setuju. Rama belum sempat untuk memberitahu kabar kehamilan Sita, ia akan mencari waktu yang pas.
Sampai di depan lobby rumah sakit tampak sebuah mobil Rolls Royce Cullinan warna merah bertengger di sana. Sang supir keluar dan membukakan pintu untuk Kai dan keluarga.
"Silahkan Tuan."
"Hmm terima kasih, ayah mommy come on."
Rama dan Sita hanya bisa terdiam, terkejut, san mengikuti apa yang diminta Kai. Mereka berdua tidak menyangka jika mobil mewah itu akan menjemput mereka. Asala mereka tahu mobil mewah itu sudah didesain khusus dengan pengamanan ganda dan kaca anti peluru tentunya.
"Boy, ini mobil siapa?" Tanya Rama yang sudah tidak tahan ingin bertanya.
"Ooh ini mobil temanku yah, dia meminjamkannya padaku saat tau aku di sini."
Rama dan Sita saling pandang, mereka berdua bertanya tanya bagaimana anak mereka bisa mempunyai teman di kota S ini dan teman seperti apa yang meminjamkan mobil mewah nya itu dengan cuma cuma.
"Maaf tuan kita mau kemana." Tanya sang supir.
" Kita cari makan. Tolong carikan tempat makan yang enak." Jawab Kai.
"Baik Tuan."
Sang sopir mengangguk patuh, sebelumnya ia sudah diberi titah oleh Q diminta mengantar dan mengawal Kai dan keluarganya. Ternyata mobil itu sengaja disiapkan Q, dan sang sopir juga bukan sopir sembarangan karena ia memiliki keahlian beladiri yang mumpuni.
Tapi nampaknya perjalanan mencari makan kali ini tidak akan berjalan mulus sesuai rencana, karena mobil mereka diikuti oleh mobil lain.
__ADS_1
TBC