Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
59. Barang Bukti


__ADS_3

Ding….Dong….Ding...Dong...


Dentang jam berbunyi. Tepat jam 12 malam, bukan seperti kisah cinderella yang berubah dari seorang putri cantik karena sihirnya sudah habis lalu kembali menjadi gadis desa yang selalu dirundung oleh ibu tiri dan adik adik tirinya. Ajeng malah memilih kabur dari istana milik nya dan pergi mencari kebahagiaan versi dia sendiri. Saat  semua orang tengah terbuai oleh mimpi Ajeng mengemas semua barang yang ia perlukan dan beberapa perhiasan miliknya guna bekal kehidupannya nanti ke dalam cariernya. Ajeng juga membawa beberapa berkas yang menurutnya penting.


Ajeng mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada sahabatnya.


(Ajeng)


Hend...apakah kamu sudah siap di posisi


^^^(Hendra)^^^


^^^Sudah… kamu sudah dimana?^^^


(Ajeng)


Masih di rumah, tunggu aku lagi ngepacking beberapa barang.


^^^(Hendra)^^^


^^^Iya, cepet tapi.^^^


Ajeng memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya dan menyandang tas carrier nya, lalu membuka jendelanya perlahan. Beruntung kamarnya memang berada di lantai bawah jadi dia tidak perlu drama seperti rapunzel saat keluar dari rumahnya.


Huh… aman. satpam juga pada tidur. cctv juga sudah kumatikan sejak tadi. Jadi tidak akan ada yang sadar. Monolog Ajeng.


Ajeng keluar melalui jendela dengan perlahan, mengendap endap. Akhirnya dengan sedikit berusaha payah ia berhasil keluar rumahnya dengan selamat. Ajeng sedikit berlari dengan berkali kali menengok ke belakang. Ia merasa was was kalau kalau ada yang mengejarnya.


Hosh...hosh...hosh… Bluk…


Ajeng langsung masuk ke dalam mobil Hendra yang sudah siap di ujung jalan. Hendra mengulurkan sebotol air mineral dan langsung ditenggak habis oleh Ajeng.


"Buset… Dah kayak kena razia satpol pp kamu." Ledek Hendra.


Ajeng hanya manggut manggut. "Ini lebih menegangkan dibanding dikejar satpol pp".


Hendra sedikit terkesan dengan penampilan Ajeng yang tidak biasa malam ini. Hendra yang biasa melihat Ajeng dengan gaun seksi kini ia melihat Ajeng dengan tampilan yang begitu sporty. Ajeng mengenakan celana jeans dan kemeja kotak kotak panjang. Rambutnya dikuncir kuda dia juga tidak merias wajahnya namun malah terlihat manis.


"Ekhem… Sekarang mau kemana?"

__ADS_1


"Antarkan aku ke apartemen mas Rama."


"Apa… ayolah Jeng kamu tau kalau Rama sama sekali tidak menyukaimu. Ngapain lagi kamu kesana. Kamu sudah ditolak mentah mentah olehnya."


"Udah deh nggak usah bawel. Anter aja aku ke sana kamu akan tahu setelah kita di sana."


Hendra mendengus kesal tapi dia menurut saja apa yang dikatakan Ajeng. Entah dia tidak bisa menolak setiap permintaan dari gadis itu.


Sepanjang perjalanan Hendra diam saja ia enggan bertanya kepada Ajeng perihal kedatangannya ke apartemen Rama.


...****************...


Di apartemen Rama nampak Roni yang baru masuk. Ia begitu lelah. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan melempar jas serta tas yang ia bawa disebelahnya. Baru saja ia ingin memejamkan matanya sejenak pintu apartemen itu diketuk oleh seseorang.


"Ya Allaah .. Sopo seh…. "


Roni bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu sambil mengacak rambutnya kesal.


Ceklek….


"Huh…. Ngapain kamu disini kalau tidak penting aku tutup pintunya."


"Tunggu, ada hal yang ingin kusampaikan. Biarkan aku masuk."


"Huh…. Ayo."


Roni pun membiarkan Ajeng masuk bersama dengan Hendra. Mereka bertiga duduk di ruang tamu tersebut.


"Apa yang mau kamu sampaikan. Cepat aku tidak punya banyak waktu." Ketus Roni.


"Hei… tidak bisakah kamu sopan sama cewek." Hendra berbicara sedikit keras ia tidak menyukai sikap Roni kepada Ajeng. Namun ajeng menarik tangan Hendra untuk diam.


"Aku tahu kamu benci banget sama aku. Jujur aku ke sini bener-bener mau minta maaf sama mas Rama."


"Telat, bos Rama sudah masuk rumah sakit kamu baru mau minta maaf. Meskipun berita diluaran sana sudah ku redam tapi aku yakin kamu meski sudah tahu dari bapakmu itu."


"Sungguh aku tidak tahu mengapa papi tega melakukan itu ke mas Rama."


"Sudah jangan kebanyakan drama. Kamu mau apa."

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Roni membuat ajeng tersadar. Ia kemudian membuka tas  


Kecilnya dan mengeluarkan beberapa dokumen lalu menyerahkannya kepada Roni. Roni menerima dokumen itu dengan mengernyitkan keningnya.


"Apa ini?"


"Kamu buka saja. Aku yakin kamu pasti paham. Aku undur diri. Tolong sampaikan maafku ke mas Rama dan Sita. Sungguh aku menyesal. Sekali lagi maaf." Ajeng menundukkan kepalanya kemudian pergi dari apartemen Rama bersama Hendra.


Sampai di luar Ajeng memegang dadanya, ia merasa begitu sesak namun ada kelegaan di sana.


"Apakah kamu sudah lega sekarang?" Tanya Hendra dan dijawab anggukan oleh Ajeng.


"Terus sekarang mau kemana." Lanjut Hendra.


"Hend.. Bisakah kau membawaku jauh dari kota ini. Aku ingin memulai hidupku lagi dari awal."


"Apakah kau yakin. Apakah kau bisa hidup sederhana?"


"Ya.. Aku akan berusaha. Hidup banyak harta membuatku menghancurkan diriku sendiri. Kau tau itu Hend."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan membawamu pergi jauh dari kota ini. Aku harap kau menepati kata-katamu. Tapi bagaimana kalau kedua orang tuamu mencari?"


"Biarlah lah Hend, aku sudah muak dengan mereka. Punya ayah yang hanya menjadikanku alat dan punya ibu yang sama sekali tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Aku sudah lelah dengan semua itu."


Hendra terdiam. Ia paham betul kehidupan seperti apa yang dimiliki Ajeng. Setelah memastikan kemantapan Ajeng Hendra pun siap membawa Ajeng pergi dari kota J menuju kampung halaman Hendra di pulau Sumatera. Ia akan mengajak Ajeng untuk memulai hidup di sana.


Sedangkan di apartemen, Roni sungguh terkejut. Setelah ia membuka dokumen yang diserahkan Ajeng kepadanya. Ajeng memberikan dokumen dokumen akan kecurangan Eko Priambudi. Di dalam dokumen itu sangat jelas laporan kas keluar dari keuangan JD Coal ke rekening pribadi Eko dan itu terjadi sudah lebih dari 10 tahun. Memang awal-awalnya terlihat sedikit. Namun jika diakumulasi itu merupakan jumlah yang sangat besar.


"Subhanallah… orang itu benar-benar ya. Aku tidak habis pikir. Sudah berapa banyak yang ia ambil dari perusahaan…. Gila…pantas saja dia bisa mempunyai  perkebunan sawit yang luasnya 1000 hektar. Dan dia juga melakukan ekspor ilegal. Benar benar tidak bisa dibiarin. Aku harus kasih tau bos Rama secepatnya. Tapi sepertinya tidak bisa sekarang. oh Ya Allaah… Aku terlalu capek biarkan aku tidur barang sebentar saja."


Roni menyeret langkah kaki menuju kamar lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang empuk itu. Ia merasakan tubuhnya seakan remuk. 


"MasyaaAllaah enaknya ketemu kasur lagi."


Zzzzzzzzzz


Tidak kurang dari 5 menit Roni telah terbuai dalam mimpi. Ia sungguh sangat lelah karena pekerjaannya yang sangat padat. Ternyata menggantikan Rama memimpin perusahaan besar itu sangat sulit. Kini Roni tahu bagaimana sulitnya itu. Ia berharap bos nya itu bisa kembali secepat mungkin ke perusahaan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2