Antagonis

Antagonis
Permulaan Bencana


__ADS_3

Aku terlahir berbeda.


Kata ayah dan ibu, aku terlahir berbeda. Aku tidak memiliki apa yang harusnya di miliki orang lain.


Aku tidak tahu apa itu, tapi itu adalah  bagian dari diri manusia yang sangat penting dan harus di miliki.


Itu berguna untuk membantu manusia bersosialisasi di masyarakat dan juga untuk mengontrol beberapa hal dari dalam diri manusia.


Itu, sesuatu yang sangat teramat penting tapi sayangnya aku tidak memilikinya!


Aku tidak tahu kenapa aku tidak memilikinya. Padahal aku harus memilikinya agar orang-orang tidak membenciku.


Agar orang-orang tidak mengatai ku 'penjahat'.


Walau seingat ku. Aku tidak pernah melakukan hal yang jahat. Tapi kenapa orang-orang selalu membenciku bahkan kedua orang tuaku?


Aku ingat...


Aku pernah membunuh kucing peliharaan ku lalu membelah perutnya karena aku sangat penasaran kenapa perutnya semakin hari semakin membesar.


Apa itu karena berisi lemak, sedang hamil atau berisi yang lainnya.


Hal Itu membuatku di marahi habis-habisnya oleh ayah. Aku tidak tahu kenapa?


Aku merasa kesal pada ayah sehingga aku memenggal kepala ayam yang ada di kandang dan menenggelamkan anjing kesayangannya ke laut. Aku melakukannya karena ayah sangat menyukai hewan-hewan itu. 


Namun lagi-lagi aku dipukuli, sampai wajahku memar, andai saja adikku tidak mengadukan ku. Aku mungkin tidak di pukuli sebegini parah.


Aku lalu menghukum adikku itu dengan mencelupkan kepalanya ke bak mandi, aku hanya ingin menghukumnya saja tapi ibuku tiba-tiba datang dan ingin membunuhku dia mengatakan. "Kau penjahat" sambil mencekik leherku.


Aku tidak tahu letak kesalahanku di mana? Aku kan hanya ingin menghukum adikku.


Aku sangatlah bingung dengan diriku dan juga sikap orang-orang di sekitarku, mereka tampaknya tidak menyukaiku.


Mereka menatapku dengan takut seolah-olah aku akan menghilangkan nyawa mereka. Apa itu semua karena aku berbeda? tapi itu bukan salahku kan?


Aku tidak tahu harus bagaimana?


Aku pernah dengar, kalau manusia akan menemukan solusi apapun ketika berdoa kepada Tuhan.


Dan untuk pertama kalinya aku berdoa dengan tulus kepada Tuhan, aku meminta agar semua orang menyukai ku dan aku tidak menjadi penjahat.


Aku tidak ingin menjadi orang yang jahat, aku ingin seperti yang lain. Aku tidak ingin di benci. Walau dengan cara apapun.


Sejak saat itu, aku mulai menggunakan topeng. Aku mulai berpura-pura untuk menjadi anak paling baik di dunia.


Dengan begitu mungkin saja aku akan di sukai kedua orang tua ku dan juga adikku.


Aku akan mendengarkan apa yang ayah dan ibu katakan, aku akan menyayangi adikku. Aku tidak akan memarahinya.


Tapi...


Tuhan tidak pernah menjawab doaku.


Kedua orang tuaku terbunuh begitu juga adikku. Mereka mati di hadapan ku. Aku melihat mereka terbakar hangus di dalam rumah.


"Tolong ampuni kami!"


"Tolong ampuni kami"


Jeritan mereka menggema di telinga ku.


Namun anehnya aku tidak merasakan apapun, aku tidak menangis, bahkan aku tidak merasa kasihan pada mereka.


Apa mungkin karena aku terlahir berbeda?


Entahlah...


...****************...

__ADS_1


^^^Jumat, 12 November^^^


Jumat sore yang mendung, sejumlah besar mahasiswa baru Fakultas Hukum berbondong-bondong keluar dari sebuah ruangan. Senyuman kecil tersungging di setiap wajah mereka, lega dan bebas. Seolah baru terbebas dari cengkeraman kematian.


Tidak heran pasalnya di sore hari itu mereka baru saja selesai menghadiri kelas dosen paling killer sefakultas Hukum. Pak Evan.


Begitu juga dengan Gilda yang merasakan terbebas dari cengkraman sang dosen killer. Sebagai mahasiswa baru di Fakultas Hukum, mau tidak mau Gilda harus menjalani proses perkuliahan apapun tantangan yang akan di hadapi nantinya. Termasuk menghadapi dosen killer yang di takuti oleh seluruh mahasiswa Hukum.


Seperti biasa Gilda selalu di jemput oleh kakaknya, Gilbran. Namun hari ini berbeda, sudah hampir tiga puluh menit Gilda menunggu kedatangan Gilbran, tapi pria itu tidak kunjung datang.


Waktu menunjukan pukul enam lewat tiga puluh sembilan menit, masih belum tampak tanda-tanda kehadiran sang kakak untuk menjemputnya.


Langit juga perlahan semakin gelap menandakan bahwa malam akan segera tiba. Sambil menunggu Gilda terus menghubungi kakaknya.


"Aduh... kakak sedang apa sih?!" Gerutunya kesal. Tidak biasanya Gilbran terlambat menjemput.


Suasana kampus perlahan semakin sepi, area parkiran dan jalan depan Fakultas Hukum mulai tampak lenggang. Kegelisahan mulai menghantui Gilda, kampus mulai tampak mencekam.


"Kakak ini!" Ujar Gilda kesal bercampur takut.


Perempuan muda berusia 18 tahun itu tidak ingin menunggu lagi, dia berencana akan meninggalkan tempat sunyi itu dan berjalan ke arah gerbang kampus. Setidaknya di sana masih cukup ramai.


Keinginannya semakin di perkuat ketika tiba-tiba lampu di gadung Fakultas Hukum padam.


Gilda akhirnya memutuskan untuk berjalan sedikit ke arah gerbang. Sekitar 800 meteran. Suasana Jumat malam itu tampak sunyi. Kendaraan juga tidak ada yang lewat lagi, bahkan Angkutan umum yang biasa keluar masuk wilayah kampus juga tidak ada yang lewat lagi.


Universitas Nusa Cendana yang merupakan universitas terbesar seprovinsi. Memang terkenal kampus itu terkenal akan besarnya bahkan jika di hitung luasnya sekitar 1000 m² mencangkup dua belas fakultas. Walau terbilang luas, satu hal yang perlu di ingat bahwa sebagian wilayah kampus masih berupa pepohonan dan semak.


Langit kini telah berganti, malam pun tiba. Gilda masih terus berjalan, takut dan khawatir dia rasakan begitu melihat angin malam yang menerjang pepohonan menimbulkan kengerian tersendiri.


Sepi, dingin dan gelap itulah kondisi yang bisa di gambarkan pada malam itu. Dengan bantuan senter ponsel Gilda terus berjalan, sambil terus menelpon Gilbran.


Berjalan.


Berjalan dan terus berjalan.


"Kakak ayolah angkat dong!" Gilda mulai panik ketika merasakan seseorang mengikutinya.


"Hei nona, aku memanggil mu dari tadi" seseorang menghampiri Gilda. Sepertinya dia juga seorang mahasiswa disana, itu terlihat dari baju yang dikenakannya.


Gilda agak terkejut dengan kemunculan Mahasiswa Itu.


"Kau mengagetkanku" ujar Gilda agak terkejut, walau dalam hatinya dia merasa sedikit lega, rupanya masih ada orang di kampus.


Mahasiswa itu tersenyum "nama ku Nadira, siapa namamu?"


"Aku Gilda"


"Ayo kita jalan bersama ke gerbang, aku takut jalan sendiri" ajak Nadira


"Iya" Gilda memanggil.


Mereka pun jalan bersama menuju gerbang, mereka membicarakan banyak hal, termasuk saling berkenalan, memperkenalkan nama, asal fakultas dan tempat tinggal


"Oh ya kenapa kau pulang malam, apa ada kuliah?" Tanya Gilda di sela-sela perjalanan.


"Tidak, aku hanya sedang mencari mangsa"


Gilda mengerutkan keningnya, dia sedikit bingung dengan jawaban Nadira, Tapi dia tidak terlalu memikirkannya dan lanjut berjalan.


"Apa kau tahu siapa mangsaku malam ini?" Lagi-lagi Nadira mengatakan hal yang aneh.


"Hah?"


"Kau. Kau adalah mangsa ku" Tanpa diduga Nadira langsung menusuk perut Gilda dengan pisau yang memang dari tadi disembunyikan di sakunya.


Gilda tampak terkejut juga merasa sakit di bagian perut karena sebuah pisau berhasil menembus kulit dan dagingnya.


"_Aakh_" Gilda terduduk lemas sambil memegangi perut nya, dia mencoba untuk menutup lukanya untuk mencegah pendarahan yang lebih parah.

__ADS_1


Trrrr...


Di saat yang sama ponsel Gilda berbunyi menunjukan sebuah panggilan dari Gilbran.


Gilda dengan cepat menjawab panggilan itu "kak to tolong" katanya dengan bersusah payah.


Menyadari bahwa Gilda di telpon, Nadira langsung merebut ponsel Gilda.


"...Gil Apa yang terjadi?" Suara panik seorang laki-laki terdengar dari seberang sana.


"Gilda?"


"Kak to tolong" suara Gilda terdengar lirih.


"Gil, apa yang terjadi?"


"aku membunuhnya" bisik Nadira.


"Siapa ini, hei ini sia___".


Lalu dengan cepat Nadira memutuskan panggilan telepon kemudian mematikan ponsel Gilda dan membuang ponsel itu sejauh mungkin.


"Ikut aku" dengan menarik rambut Gilda, Nadira kemudian membawa Gilda ke semak-semak agar menyembunyikan keberadaan mereka.


...----------------...


Gilbran adalah seorang pria berusia 23 tahun, dia adalah pengusaha muda yang cukup sukses di Kota Kupang dan menjalankan bisnis jual-beli mobil bekas.


Bagi para kerabat dan kenalan, Gilbran di kenal sebagai seorang kakak yang begitu protektif pada adiknya, Gilda. Bahkan untuk urusan antar jemput dia siap sedia.


Namun hari ini karena sebuah masalah yang terjadi Dealer mobil bekasnya membuat Gilbran terlambat menjemput Gilda. Saking sibuknya, dia juga tidak memiliki kesempatan untuk mengabari Gilda.


Gilbran yang baru bisa menghubungi adiknya saat menjelang malam malah mendapat sebuah bencana. Pasalnya Gilda kini bersama orang jahat.


Tanpa menunggu lagi, Gilbran langsung menuju ke arah kampus.


"Tunggu ya Gilda, kakak akan segera ke sana" dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli hujan yang sudah mulai turun.


Hingga sampailah dia di Universitas Nusa Cendana, dia memasuki pintu masuk kampus dan menuju Fakultas Hukum guna mencari adiknya.


"Gilda!" panggilnya.


"Gilda!"


Gilbran memutuskan untuk pergi setelah tidak menemukan keberadaan Gilda. Di cari nya di sepanjang jalanan kampus bahkan di teras setiap gedung juga tidak di temukan keberadaan Gilda, hujan yang turun begitu lebat di malam November itu menyaksikan kegigihan seorang kakak yang mencari adiknya.


"Huh baiklah, aku harus tenang. Gilda pasti akan baik-baik saja" Gilbran menepi lalu menelpon seseorang.


"Halo kak Gibran ada apa ya?" Terdengar suara seseorang di seberang sana.


"Halo Tommy. Gilda dalam bahaya. Bantu aku mencarinya!" Jelas Gilbran.


"Apa yang sebenarnya terjadi Kak?".


Gilbran menceritakan semuanya kepada Tommy.


"Tenanglah kak Gilbran, semua akan baik-baik saja. Lebih baik kau lapor polisi aku akan mencoba mencarinya di beberapa tempat tongkrongan" ujar Tommy.


Gilbran menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan "baiklah"


...----------------...


Saat di Pos Polisi terdekat, Gilbran mulai menceritakan kronologi menghilangnya Gilda kepada seorang anggota polisi.


"Kami tidak bisa menindak lanjuti kasus ini soalnya belum 24 jam adik mu menghilang" ujar pak polisi.


"Pak, aku bicara dengan adikku di telepon yang meminta tolong. Adikku bersama orang asing " ujar Gilbran penuh penekanan.


Polisi itu menghela nafas panjang kemudian bangun dari dudukan "ikut aku, kita akan mencari adikmu bersama"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2