
Sejak kesalahan teknis yang dilakukannya didalam kelas membuat sahabat pendeknya mogok bicara padanya, kepalanya diacak kasar melihat Anika yang lagi-lagi tak mengajaknya bicara, bahkan mungkin saja sekarang gadis itu tak sudi melihatnya.
"Ayolah, gue cuma bercanda." Rey mengatupkan kedua tangannya, wajahnya menghadap kearah Anika dengan tatapan memelas.
"Maafin gue dong yayaya..." tangannya menarik lengan gadis didepannya sambil digoyang-goyangkan pelan, bahkan ia tak peduli dengan tatapan bingung dari para penghuni kantin.
"Udah Rey, kamu diliatin semua orang." sahut Emma tiba-tiba, jujur ia jengah berada diantara kedua remaja itu, apalagi sikap Rey terhadap Anika benar-benar membuatnya cemburu.
"Ngomong dong, nanti gue beliin es cream deh." bujuk Rey tanpa menghiraukan ucapan salah satu sahabatnya.
Kedua bola mata Anika memutar, tangan lentiknya mengaduk jus alvocado miliknya sambil sesekali diminum, ia malas meladeni pemuda didepannya yang sejak tadi bercek-cok ria.
"Ngomong dong, maaf deh gue kan cuma bercan---"
"Gue boleh gabung gak?" tanya Ratu, matanya menatap ketiga remaja itu bergantian untuk meminta persetujuan.
"Boleh kok." jawab Emma disertai senyum manisnya, tubuhnya bergeser memberi ruang gadis itu untuk duduk disampingnya.
"Gue duduk disamping lo gak apa-apa kan Rey? Nanti kesempitan kalau gue duduk bertiga sama Emma dan Anika."
"Duduk aja, santuy-santuy."
"Thanks." Ratu menampilkan senyum terbaiknya, setelah tubuhnya ia dudukkan kepalanya kembali menoleh menatap Rey dari samping "oh ya, siapa yang jadi perwakilan kelas lo buat acara pentas?"
"Anika." jawab Rey seadanya, bibirnya menghela nafas pelan melihat gadis itu yang masih enggan mengajaknya bicara.
"Lo mau tampilin apa emang?" pandangan Ratu kini beralih pada Anika, walaupun sebenarnya malas, tapi ia juga tak mungkin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada gadis itu didepan pemuda disampingnya.
Salah satu cara mengambil hati seseorang adalah dekati teman terdekatnya, walaupun hanya formalitas setidaknya didepan pemuda itu ia sudah bersikap baik pada Anika.
"Kenapa, lo mau gantiin gue?" jawab Anika acuh, gelas berisikan jus alvocado miliknya ia singkirkan, dagunya ditopang dengan pandangan lurus kearah Ratu.
"Gue ada salah sama lo? Kenapa gue ngerasa lo gak suka sama gue?" Ratu menatap sedih gadis didepannya, sedikit menunjukkan drama murahan sepertinya tak apa, mungkin dengan cara ini ia bisa mengundang simpati pemuda disampingnya.
"Gak sih, cuma lo nafas aja udah salah dimata gue."
Ratu mengepalkan tangannya, emosinya membuncak mendengar ucapan tak difilter Anika, entah ia yang bodoh atau gadis itu benar-benar pandai memainkan lidahnya. Ia memejamkan matanya, berusaha menghalau kemarahan yang mungkin akan keluar.
"Gak boleh kayak gitu Anika, kasian Ratu." lerai Emma, tatapannya kini beralih pada Rey yang sejak tadi berusaha menahan tawa "kamu kenapa Rey?"
"Ah...eh, emang gue kenapa?" tanyanya balik, kepalanya digaruk pelan karena aktivitasnya kepergok Emma.
__ADS_1
Sebenarnya tak ada yang salah dengan tertawa, hanya saja kondisi mereka saat ini bukanlah dalam situasi yang lucu, tapi ia juga tak bisa menahan, apalagi ucapan tak disaring Anika benar-benar membuatnya terhibur.
"Lo ngetawain gue?" tanya Ratu tiba-tiba.
Rey semakin merutuki bibirnya, padahal masalahnya dengan Anika belum selesai, kini ia malah menambah masalah baru dengan gadis yang baru.
"Sorry deh."
"Gak apa-apa kok." balas Ratu dengan senyum lebarnya, sontak pemuda itu menolehkan pandangannya, sedikit takjub dengan kemurahan hati sang primadona sekolah, ia fikir gadis itu akan mendiaminya seperti yang dilakukan Anika sekarang.
"Lo emang the best." pujinya dengan rasa kagum yang masih bertahan.
"Kamu mau nampilin apa Rey?" tanya Emma penasaran.
"Gak tau lah, ribet amat jadi orang ganteng." jawabnya narsis, pandangannya tiba-tiba terarah pada Anika, sekarang ia tau apa yang harus dilakukan agar gadis itu mau memaafkannya "lo mau gak gue bantu bikin puisi?"
"Gak."
Harusnya pemuda itu senang karena sahabatnya akhirnya mau membuka suara, tapi bukan penolakan yang ia inginkan, lagi-lagi ia hanya mampu menghela nafas frustasi.
"Kalau gitu lo bantu gue aja Rey, gue bingung mau tampilin apa supaya posisi gue jadi primadona sekolah bisa bertahan lagi tahun ini." pinta Ratu.
Rey berfikir sejenak, baru saja ia akan menyetujui tapi celetukan dari Anika membuatnya melongo tak percaya.
"Lo..." Ratu tak bisa melanjutkan ucapannya, tatapannya beralih pada Emma dengan pandangan menghunus, ternyata gadis itu benar-benar tak membantunya, buktinya sekarang ia mau merebut posisinya jadi primadona sekolah.
Sudah ia duga, jika pada Anika saja dia bisa sebenci itu tak menutup kemungkinan ia juga akan mendapat perlakuan yang sama, bahkan lebih parah.
"Gue...gue dan Emma ada keperluan." Ratu menarik tangan Emma meninggalkan area kantin, ia akan membicarakan masalah ini dengan gadis penuh drama yang baru saja ia kenal, ia tak mau nantinya menyesal karena sudah masuk kedalam tipu daya gadis disampingnya.
Rey mengacak rambutnya setelah Ratu dan Emma sudah menghilang dari kantin sekolah, tubuhnya ikut beranjak dan pindah kesamping Anika.
"Oh ya ampun, lo...lo argh...." Rey mencak-mencak tak jelas, tangannya terangkat karena gemas terhadap bibir Anika yang ceplas-ceplos.
"Kesambet ya lo?"
Pemuda itu menghela nafas sabar "lo nyadar gak, ucapan lo bisa aja buat Ratu salah paham sama gue."
"Sengaja." jawab Anika santai.
"Astaghfirullah...."
__ADS_1
"Lebay lo, bukannya dari awal lo gak suka sama Ratu." Anika mengeluarkan ponselnya, tangan lentiknya memainkan game yang beberapa hari sudah ia download.
"Buka gak suka, tapi awalnya gue gak kenal aja makanya gue belum tertarik." jelas Rey dengan nada lesu.
Gadis cantik itu menyunggingkan senyum tipisnya "lo bukan gak kenal, tapi gak mau kenal."
"Iya sih, tapi kan gue sekarang udah sadar, semenarik apa sang primadona sekolah kita."
"Jadi?" tanya Anika santai.
Rey menolehkan pandangannya, matanya berkedip kearah gadis disampingnya "gue mau tau sejauh apa pesona dia."
...***...
"Gue gak suka basa-basi, sebenarnya lo beneran dipihak gue atau cuma manfaatin gue?"
Emma tertawa pelan, tangannya bersidekap dada menatap gadis didepannya "kalau gue bilang dua-duanya, gimana?"
"Lo salah kalau main-main sama gue." jawab Ratu sinis.
"Santai, sekarang gue emang dipihak lo tapi gue juga gak mungkin bantu lo kalau gue gak dapat apa-apa." jelas Emma.
"Apapun rencana lo, gue tunggu. Ingat! Kalau lo buat posisi gue terancam entah apapun itu saat itu juga lo benar-benar berurusan sama Queen bullying sekolah ini."
"Lo ngancem gue?" tanya Emma sambil terkekeh pelan "gue bukan orang yang mudah ditindas, mulut gue gak pernah tunduk kalau lo macam-macam, gue bahkan bisa memprovokasi guru buat belain gue."
Ratu ikut tertawa, bibirnya tersenyum miring melihat kepercayaan diri gadis didepannya "dan gue bisa beli kepercayaan kepala sekolah buat lo didepak dari sekolah ini, lo jangan lupa beberapa orang masih menghargai orang berduit daripada wajah penuh tipu daya kayak lo."
"Sial."
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, luangkan waktu beberapa detik buat pencet tombol like, supaya makin semangat lanjutinnya.
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^14-DESEMBER-2021^^^