
Ruangan gelap disertai cahaya remang adalah hal pertama kali menusuk indra penglihatan Anika saat kelopak indahnya perlahan terbuka.
"Gue kenapa ya?" monolognya bingung, memori diotaknya masih belum mengingat kejadian yang dialaminya hingga bisa tertidur disini.
Dengan sedikit pening ia mencoba menyalakan saklar yang tak jauh darinya, ia mengamati ruangan itu! Tak ada yang salah, saat ini ia berada pada kamar pribadinya dengan barang yang masih pada tempatnya, tapi kenapa rasanya ia melupakan sesuatu?
Matanya tak sengaja menangkap jam yang ada pada dinding, pukul 02:03 masih terlalu subuh untuk melakukan sebuah aktivitas, jujur ia sedikit speechless karena bisa tidur secepat ini, tapi bagaimana caranya! Sepertinya memang ada yang hilang dari memori otaknya.
"Haus banget." ia berdecak kesal melihat gelas yang terlihat kosong diatas nakas, kalau sudah begini mau tak mau ia harus keluar kamar meredakan rasa haus yang menyerang.
Benar-benar menyebalkan, dengan langkah gontai ia keluar dari kamar kesayangannya, berjalan menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu.
"Ruang tamu?" monolognya dengan kening mengernyit, niat yang awalnya ingin ke dapur ia urungkan dan lebih memilih berjalan pada ruangan itu.
"Sofa? Ruang tamu? Sofa? Oh...sial." umpatnya pelan, kilasan kejadian sebelum ia tertidur diatas kasur empuknya perlahan terlihat.
Sekarang ia tau apa yang terjadi padanya, untuk kesekian kalinya pria itu datang dan merecoki hidupnya lagi. Mereka sempat terlibat percakapan serius sebelum ia...tertidur tiba-tiba.
Matanya tiba-tiba membola, dengan tergesa-gesa ia mengecek pakaiannya, bahkan tangannya sudah meraba tubuhnya dengan spontan.
"Gue gak di iya-iyain kan?" tanyanya khawatir, ia benar-benar akan mengakhiri hidupnya jika pria asing itu melakukan hal diluar batas terhadapnya.
"Masih lengkap, gue juga gak ngerasa ada yang aneh." monolognya pelan.
Anika menghela nafas lega, jantungnya hampir copot beberapa saat, bisa-bisanya ia tertidur didepan orang asing, untung orang itu masih waras karena tidak melakukan apa-apa padanya.
Keningnya tiba-tiba mengernyit "tapi kan pria waras pasti tergoda, berarti dia aneh dong." fikirnya.
Tubuhnya berjalan mondar-mandir, kakinya melangkah pada kaca panjang yang ada diruangan itu, matanya mengamati tubuhnya dengan seksama "atau gue gak menarik ya? Kok gue ngenes banget sih."
"Sialan...ini gue harus senang atau sedih sih?" bahkan sekarang ia bingung dengan jalan fikirannya sendiri.
"Tau lah, mending gue lanjut tidur aja."
__ADS_1
...***...
"Ini sudah keterlaluan."
Pria bertatto itu menolehkan pandangannya, rokok yang ada ditangannya ia buang asal "apa?"
"Gadis itu gak ada sangkut pautnya dengan semuanya." jelasnya.
"Gak usah munafik bang In, gue tau lo juga benci sama dia tapi hati lo gak bisa liat orang sengsara, makanya lo bisa dilema kayak gini."
"Tapi dia emang gak salah Ian." bentaknya, sambil menatap serius sosok yang lebih mudah darinya.
"Kalau lo lupa tangan lo sendiri yang udah keluarin ginjalnya, kenapa lo baru protes sekarang, waktu itu kenapa lo mau-mau aja?" tanyanya sarkas.
Pria yang bernama In menghela nafas pelan, tubuhnya bersandar kebelakang dengan pandangan menatap langit-langit atap "aku gak tau, tapi semakin kesini semuanya terasa salah."
Ian bangkit dari duduknya, tangannya menepuk pundak bernama In pelan "apapun yang ada pada dia semuanya memang salah, dan hal yang lebih salah adalah karena darah dia mengalir darah dari seorang iblis." jelasnya.
"Terserahlah, tapi aku gak bisa lagi bertindak lanjut. Kau bisa bermain dengan gadis itu sendirian."
In mendesah pelan, dendam mereka sama bahkan gara-gara orang yang sama, hanya saja pria yang lebih mudah darinya lebih menderita dari apa yang ia alami. Ia hanya kehilangan 1 orang tapi Ian kini hanya memiliki 1 orang yang sedarah dengannya karena manusia berhati iblis itu.
"Hati-hati." titah In "mau bagaimanapun kau dan kakak perebutmu itu tetap adik angkatku sampai kapanpun."
Ian tertawa pelan "lo masih dendam sama kakak gue?" tanyanya mengejek.
"Bahkan rasanya gue pengen lenyapin dia, sialan...kalian berdua gak jauh beda, sama-sama licik." kesalnya.
"Ya..ya..ya terserah, lagian kalau gue jadi kak Adelard gue juga akan lakuin itu." jawabnya enteng.
"Katakan itu saat kau tau rasanya milikmu direbut seseorang, dan kalau itu terjadi aku adalah orang pertama yang akan menertawakan karmamu."
Ian mengedikkan bahunya acuh "lo ingat baik-baik, oke...mungkin suatu saat nanti gue juga akan kena sama yang namanya penyakit cinta. Tapi, gue juga bisa lenyapin cinta gue kalau dia ganggu rencana yang udah tersusun rapi."
__ADS_1
In mengangguk-angguk paham "kalau begitu semoga berhasil adikku."
...***...
Anika meregangkan otot tangannya, bibirnya menguap pelan merasakan ngantuk yang belum sepenuhnya hilang. Pandangannya menoleh sekitar, ia benar-benar kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.
Seperkian detik ia cukup tersanjung menyadari fakta itu, malam ini ia benar-benar tak butuh bantuan obat agar bisa terlelap. Keadaan tubuhnya juga jauh lebih fit dari biasanya, dengan berat hati ia harus jujur apa yang dilakukan pria itu padanya cukup membantunya menghilangkan insomnia akut yang selama ini ia jalani.
"Ayo semangat, sekarang saatnya menjalani kewajiban sebagai pelajar." serunya menggebu-gebu, untuk masalah yang dialami mungkin ia akan melupakannya sesaat, otaknya harus beristirahat agar masih bisa tetap waras.
Ia tak mau berakhir dirumah sakit karena kejiwaannya terganggu, mau bagaimanapun apa yang dimulai sahabat tersayangnya harus segera berakhir, tentu dengan ia yang akan mengakhiri semuanya.
Andai saja gadis itu tak main-main dengan nyawanya, mungkin semua ini tak akan terjadi, ia juga tak perlu menumpuk dendam yang menggunung. Tapi tak apa, setidaknya dengan masalah ini ia bisa tau topeng yang sudah bertahun-tahun gadis itu pakai.
Mau selama apapun orang saling mengenal itu tak menjamin adanya ketulusan, topeng yang dipakai terlalu apik hingga ia baru sadar sekarang, sikap lembut dengan tutur sopan benar-benar pelengkap bagi gadis itu untuk menutupi kebusukannya.
Ia benar-benar menyesal bisa terjebak pada kebaikan palsu gadis itu, ternyata apa yang orang-orang bilang benar. Penyesalan memang datang diakhir dan kini ia merasakan itu. Kebaikannya dipermainkan, persahabatannya hanya sebatas nama, apa yang ada diantara mereka berdua tak sebaik yang terlihat.
"Seandainya ada kata lain diatas benci, mungkin sekarang kata itu yang paling cocok dari gue buat lo." ucapannya datar.
"Gue benar-benar muak." tangannya mengepal sempurna, ia benci dengan apa yang menimpanya. Hidupnya hanya sebatas dendam dan dendam sekarang.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu like, vote dan komen ya~
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^10-JANUARI-2022^^^