Antagonis

Antagonis
Chapter 16


__ADS_3

Rey dengan telaten mengobati punggung tangan Anika, tatapan matanya masih sama seperti sebelumnya tak ada tanda-tanda pandangannya berubah menjadi lebih bersahabat.


"Ini akan membekas." sahut Rey dingin.


Anika menghembuskan nafasnya, matanya menatap lekat wajah pemuda didepannya, rahang tegas menyempurnakan bentuk wajahnya.


"Maaf." lirih Anika.


Rey mengangkat wajahnya, kepalanya mengangguk pelan sebagai jawaban, fokusnya kembali pada tangan Anika yang kini mulai ia perban.


"Lo marah sama gue?"


"Gak."


"Tapi gue rasa lo marah sama gue." ucap Anika pelan, pandangannya menatap kesembarang arah.


"Gue gak marah, cuma kesel aja karena lo gak pernah mau jujur sama gue." sanggah Rey.


"Sorry, gak lagi-lagi deh." timpal Anika dengan wajah nelangsa.


Rey menghembuskan nafas pelan, matanya menatap wajah Anika dengan pandangan yang mulai melunak "gue jadi berfikir berapa banyak hal yang lo sembunyiin dari gue?" tanyanya santai.


"Cuma masalah ini."


Tak ingin memperpanjang lagi Rey akhirnya mengangguk seadanya, pemuda itu bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan Anika dengan senyum tipis pada wajah tampannya.


"Hari ini sekolah dibubarin lebih awal, gue tunggu diparkiran." ucap pemuda itu kemudian benar-benar menghilang dari balik pintu UKS.


Anika memejamkan matanya, fikiran yang harusnya tak perlu datang tiba-tiba menghampiri otaknya, jika masalah sekecil ini Rey bisa bersikap seperti itu! lalu apa yang akan pemuda itu lakukan jika kejahatan yang dilakukannya terbongkar?


Ia menggelengkan kepalanya pelan, dari awal ia sudah memutuskan semuanya, tentu ada harga yang harus dibayar karena ulahnya, dan ia sudah siap jika harus dibenci oleh pemuda itu.


Ia bangkit dari duduknya, sebelum melangkah keluar ia mengirim pesan singkat pada Rey, hari ini ia tak akan pulang dengan pemuda itu, ada hal penting yang harus diurus terlebih dahulu.


"Gue gak mau terikat lebih jauh sama lo, ini semakin sulit buat gue lakuin semuanya, adanya lo disamping gue buat rasa bersalah akan muncul dalam diri gue, maaf Rey..."


...***...


"Kok kita gak nunggu Anika?" tanya Emma tiba-tiba, matanya menatap pemuda disampingnya dengan raut bingung.


"Dia ada urusan katanya."


Emma mengangguk paham, matanya kembali mengamati jalanan, tak ada lagi suara yang ingin keluar dari mulutnya. Suasana hening cukup membuat mereka berdua menjadi sungkan, apalagi bagi Rey, situasi ini benar-benar membuatnya canggung, jika bersama Anika mungkin semuanya akan berbeda, ia jadi memikirkan perlakuannya pada gadis itu seharusnya ia tak bersikap dingin pada sahabatnya.

__ADS_1


Helaan nafas berhasil lolos dari bilah bibirnya, ia jadi merasa bersalah, mungkin nanti sore ia akan kerumah gadis itu untuk meminta maaf, hatinya benar-benar tak tenang mendiami gadis itu.


"Kamu kenapa Rey?"


"Ah...gak apa-apa." jawabnya seadanya, bibirnya tersenyum lebar seolah berkata ia benar-benar baik-baik saja.


Emma mengangguk percaya "eh...tadi aku ketemu Ratu." kepalanya menoleh menunggu respon Rey sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Oh oke, dia ngomong apa sama lo?"


"Gak sih, cuma titip salam aja sama kamu."


Rey ber 'oh' ria sebagai balasan, matanya masih mengamati jalanan, dengan telinga menunggu ucapan selanjutnya dari gadis disampingnya.


"Ratu benar-benar suka sama kamu kayaknya." timpal Emma, kepalanya menoleh sekilas pada Rey kemudian kembali menatap lurus jalanan.


"Hak dia sih mau suka sama gue atau enggak." balasnya santai.


Emma mengatupkan bibirnya, ada jeda beberapa saat sebelum ia berkata lebih lanjut "kalau kamu sama dia gimana?" tanyanya pelan.


Alis Rey menukik, kepalanya menoleh menatap gadis disampingnya yang juga menatapnya penasaran "gimana apanya?" herannya.


"Hmm...kamu ada perasaan sama dia?"


"Jadi ada kemungkinan lo suka sama dia?" tanya Emma penasaran.


Rey mengangguk seadanya "dilihat dari segi apapun dia tipe gue."


Emma terdiam beberapa saat, rasa panas menggorogoti hatinya, tapi tak apa ini memang rencananya, merebut Rey dari Ratu jauh lebih mudah daripada merebut Rey dari Anika, Ratu hanya pionnya agar pemuda itu mengabaikan Anika. Setelah semuanya berhasil ia cukup mengambil Rey dari cengkraman Ratu.


"Iya sih, Ratu cantik banget cocok sama kamu."


Tiba-tiba Rey tersenyum tipis, entah mengapa fikiran gila mengambil antenasi otaknya "kalau gue sama Anika gimana?" tanyanya tiba-tiba.


"Ah...eh..." Emma menggaruk kepalanya, sedikit bingung mau menjawab apa, ia tak pernah berfikir pernyataan itu akan muncul dari mulut sahabatnya.


"Cocok gak?" tanya Rey lagi, bibirnya menahan senyum merutuki pertanyaan yang menurutnya cukup konyol, tapi kenapa...ia juga merasa senang ya?


"Ah...itu..cocok kok, kamu sama Anika cocok hehehe...iya cocok." jawab Emma dengan suara tawa sedikit akward.


Rey tersenyum lebar "tapi gak mungkin sih, kalau beneran gue pacaran sama Anika bisa perang dunia ketiga gue sama dia tiap hari." ucapnya dengan kepala menggeleng.


"Hmm...emang kamu suka sama Anika?"

__ADS_1


"Gak tau, tapi jujur gue suka liat dia." jawabnya sambil menerawang kedepan, lagi-lagi senyum tipis tercetak pada bibirnya "so cute..." monolognya pelan.


Emma memejamkan matanya, lagi-lagi ia harus mendengar sesuatu yang membuatnya semakin kesal pada gadis itu, kenapa harus Anika? tangannya terkepal menahan emosi yang memuncak, tidak ia tidak akan membiarkan Rey jatuh pada gadis itu, antenasi Rey harus tertuju padanya, apapun yang terjadi.


Ia tak mau sosok sempurna seperti Rey jatuh pada gadis seperti Anika, orang yang sempurna harus bisa ia genggam, walaupun ia harus bertindak diluar nalar pemikiran.


Tangannya ia letakkan pada bagian perutnya, jika ginjal gadis itu saja bisa ia ambil tak menutup kemungkinan Rey juga bisa ia ambil dari gadis itu.


"Lo sakit perut?"


Tubuh Emma tersentak, matanya memejam menetralkan rasa kagetnya, kepalanya menoleh dengan senyum manis terpatri pada ujung bibirnya "gak kok, aku gak apa-apa."


"Oh baguslah, tapi lo gak ada ngerasa sakit beradaptasi dengan ginjal baru lo itu kan?" tanya Rey sedikit khawatir.


"Aku baik-baik, kamu gak perlu khawatir."


"Baguslah kalau gitu."


"Aku jadi ngerti kenapa orang-orang bisa suka sama kamu Rey." ucap Emma tiba-tiba, senyum manis tak pernah lepas dari wajahnya.


"Kenapa?"


"Sikap kamu ternyata baik banget, gimana orang gak salah ngartiin coba, orang kamu care sampai segitunya." jawabnya sambil tertawa pelan.


"Lah...masa sih, perasaan gue biasa-biasa aja." Rey menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali.


"Iya, lama-lama aku juga bisa salah ngartiin kebaikan kamu loh." timpal Emma dengan kekehan diakhir kalimatnya.


"Bisa aja loh." jawab Rey ikut tertawa.


.


.


.


.


Bersambung.


Bantu vote, like dan komen ya guys~


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^30-NOVEMBER-2021^^^


__ADS_2