
Bertahun-tahun tidurnya tak pernah teratur, akhirnya kali ini ia bisa merasakan tidur yang cukup nyenyak dari biasanya, gadis cantik itu membuka matanya, sinar matahari yang masuk dari jendela kamarnya tepat menyentuh kulit wajahnya.
Anika bangkit dari tidurnya, mulutnya menguap kecil dengan sudut mata yang sedikit berair, baru saja ia beranjak dari kasurnya tapi rasa perih pada lengannya membuatnya sedikit meringis.
"Ishhh..."
Matanya tiba-tiba membola melihat tulisan dari punggung tangannya, cukup terkejut melihat sayatan dengan bekas darah yang tampak mengering.
Anika menggelengkan kepalanya, tak mau memikirkan masalah ini, tujuannya saat ini hanya satu dan itu masih dalam tahap proses, ia tak ingin menambah masalah pada hidupnya.
Segera ia menyambar handuk kemudian melakukan rutinitasnya sebelum berangkat ke sekolah, waktu 15 menit cukup membuatnya rapi dengan seragam sekolah yang sudah menempel pada tubuhnya.
TING...TING...TING....
Anika mengumpat pelan, tanpa melihat pelakunya ia sudah tau siapa sosok yang kini membunyikan klakson dengan brutal didepan rumahnya.
TING...TING...TING....
"SABAR...INI GUE JUGA MAU KELUAR." tangannya dengan cepat mengikat tali sepatu, sebelum ia keluar ia menyambar hoddie yang kini tergelatak pada kursi rajutan dekat jendela.
"LAMA LO, BURUAN INI UDAH HAMPIR TELAT" teriak Rey membahana, kepalanya menyembul dari dalam mobil sambil menatap Anika kesal.
"Iya-iya sabar." balas Anika yang juga ikut kesal.
BRAK...
Rey terlonjak, pintu mobilnya benar-benar akan lepas karena ulah Anika "lo nutupnya bisa santai dikit gak? beli mobil gak pake daun soalnya."
Gadis cantik itu memutar bola matanya malas "buruan, katanya telat." sindirnya dengan kalimat yang sengaja ditekankan.
"Ck."
Rey segera melajukan mobilnya, mau bagaimanapun ia tak ingin dihukum hanya karena ulah gadis disampingnya, ia tak habis fikir dengan tingkah Anika yang selalu saja membuatnya kesal setiap pagi.
Untung ia sahabat yang baik dan tidak sombong, zaman sekarang mana ada sahabat seperti dirinya yang tahan dengan sikap Anika, udah dijemput lambat bangun pula, untung ia sabar.
"Eh...Emma mana?" tanya Anika tiba-tiba.
"Gue gak tau, pas gue jemput ditempat biasa dia gak ada disana, mana panti tempatnya tinggal gue gak tau lagi, gue juga udah telepon tapi gak diangkat." jelas Rey, sesekali matanya melirik sahabatnya yang kini tampak mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kok perasaan gue gak enak ya?" ucap Anika tiba-tiba, kepalanya menoleh menatap Rey yang kini tampak serius menyetir.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh gak baik."
"Tapi gak biasanya Emma kayak gini." kekeh Anika, kepalanya ia sandarkan pada jendela mobil.
"Semoga aja Emma gak apa, dia orang yang baik soalnya." ucap Rey pelan.
Tangan lentik Anika menggambar abstrak pada jendela mobil, matanya kemudian menerawang jalanan yang setiap hari mereka lewati "Ya, dia baik banget....kurasa."
"Tapi ada yang lebih gawat."
Gadis cantik itu menatap pemuda disampingnya, keningnya berkerut dengan wajah sedikit bingung "apa?"
"Sekolah kita mau ngadain pentas tahunan, lo tau sendiri sekolah kita sekolah unggulan, kebanyakan disana orangtuanya sultan---"
"Lah trus?"
"Kelas kita disuruh ikut partisipasi dalam acara ini, setiap kelas dipaksa nampilin sesuatu gitu, entah drama, nyanyi, tari atau apalah, buang-buang waktu aja yakan?" julid Rey.
Anika mengangguk setuju "bagus kalau kita dikasih uang, ini udah buang-buang tenaga, buang-buang waktu cuma dapat tepuk tangan aja, udah gerah hati sama gerah body pulangnya gak ngantongin apa-apa." timpalnya ikut menggosip.
"Tapi gue bingung deh sama lo." Anika menolehkan kepalanya, tangannya diletakkan dibawah dagu sambil menatap Rey intens.
"Apa?"
"Gue akuin lo emang holkay, tapi gue gak tau tuh orang tua lo kerja apa, jangan-jangan lo ngepet ya makanya harta lo melimpah." tudingnya dengan pandangan mengintimidasi.
Rey berdecak "lo lupa ya, bukannya setiap malam lo yang ngepet gue yang jaga lilin."
"Enak aja, gue masih polos tau gak, kalau lo emang sesat, sesat aja gak usah fitnah-fitnah gue." sewotnya dengan tangan diletakkan di dada.
Rey menghela nafas jengah, tak ingin melanjutkan pembahasan yang menurutnya unfaedah "tapi...masalah pentas ini pasti kayak tahun lalu, siapa ya yang jadi primadona kali ini?"
"Pasti Ratu lah, diakan cantik pake banget lagi." sahut Anika santai.
"Iya sih, udah cantik, kaya, pintar aduhay lagi heran gue, kok lo gak ada 10 persen dari kesempurnaan dia ya, lo mah gimana ya! gue gak mau ngehina lo ya tapi kalau dilihat-lihat lo cantik? kagak, pintar? biasa-biasa aja, aduhay juga kagak, kasian amat hidup lo...ckckck." cerocos Rey santai.
Anika mendengus kesal, bola matanya memutar mendengar ucapan tak difilter pemuda disampingnya, bahkan sekarang telinganya terasa panas.
__ADS_1
"Tapi kalau difikir-fikir lo juga gak buruk-buruk amat sih, tapi masalahnya siapa yang mau mikirin lo?" ejek Rey dengan tawa menggelegar.
"Ck...lo nyadar gak? lo hobi ngehina gue tapi lo juga gak bisa jauh dari gue, nempel mulu kayak bulu ketek."
"Kalau bukan gue yang nempel sama lo siapa lagi? gue kan cowok gentelmen, gak bisa gue liat cewek cebol berkeliaran sendiri kek anak ayam ditinggal induknya." jelas Rey bijak.
"Terserah lo lah." sewot Anika misu-misu sendiri, wajahnya ditekuk terlampau kesal dengan pemuda disampingnya.
Rey menahan tawa "bercanda kok, lo gak jelek-jelek amat, sebenarnya lo bisa sih rebut gelar primadona sekolah dari Ratu."
Bukannya meleleh Anika malah semakin kesal "lo sengaja mau malu-maluin gue?" tudingnya ngegas.
"Enggak lah, gue serius lo itu so cute."
"Ilih, mulut buaya lo gak mempan sama gue, Hmm...tapi kalau Emma kayaknya cocok deh."
Rey tampak berfikir, apa yang dikatakan gadis disampingnya tidak terlalu buruk "kita bicarain ini sama Emma, kalau dia bisa rebut gelar primadona sekolah dari Ratu berarti gue bakal jadi pasangan dia dipanggung dong, gak buruk sih." kepalanya mengangguk-angguk pelan, seakan ucapan Anika adalah pilihan yang tepat.
"Pede amat lo."
"Iyalah, emang siapa lagi yang bisa saingin gue, gini ya beb...pede itu perlu selama benar, beda lagi ceritanya kalau gue jelekking, gue kan emang goodloking jadi sah-sah aja."
"Terserah lo lah." pasrah Anika, mau sepanjang apapun pembahasan ini tak akan berkahir sampai pemuda disampingnya berakhir jadi pemenang.
Rey tersenyum puas "tapi gue gak peduli sih mau Ratu atau Emma yang jadi primadona, karena yang tetap dihati tetap lo kok." gombalnya dengan mata dikedipkan.
.
.
.
.
Bersambung.
Bantu like, vote dan komen ya guys~
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^26-NOVEMBER-2021^^^