
Seseorang yang sejak tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraan kedua remaja dari balik tembok itu berdecik sambil mengeluarkan nafas berat, ia tak mungkin membiarkan gadis itu terlalu banyak mengetahui semuanya.
"Sial!"
Dengan langkah lebar ia meninggalkan tempat itu, berjalan tergesa-gesa ke arah mobilnya untuk membicarakan hal serius pada orang terdekatnya. Ia tak mau semuanya bertambah kacau dan meluas, cepat atau lambat masalah ini harus ia tuntaskan apapun yang terjadi.
"Anika." monolognya dengan pandangan lurus ke depan, menatap kosong jalanan yang cukup lenggang dilewati oleh mobil dihari yang cukup terik ini.
...***...
Gadis langsing dengan rambut sepinggang terlihat cemas dengan gawai yang sudah bertengger pada telinganya, kakinya berjalan mondar-mandir memutari rumah kos miliknya yang cukup sempit.
"Angkat dong." ucap Emma dengan wajah pucat cukup kentara.
Andai saja semuanya tak diketahui gadis itu mungkin ia tak sekhawatir ini, dan sekarang nomor yang lima kali ia hubungi sama sekali tak mengangkat teleponnya padahal terdengar nada berdering dari seberang pertanda nomor itu aktif.
"Ayo dong angkat, gue butuh bantuan lo lagi." monolog Emma sambil menggigit kuku jarinya berulang kali.
[Apa?]
Suara dingin dari seberang mampu membuat senyum lebar terbit dari ujung bibir Emma "gue butuh bantuan lo lagi."
[Bantuan?]
Emma mengangguk cepat walau ia tau seseorang diseberang tak bisa melihatnya, ia hanya terlalu senang telepon darinya akhirnya diangkat.
"Bantuin gue lagi, lo harus lenyapin Anika, gadis yang waktu itu lo ambil ginjalnya." jelas Emma serius sontak mengundang gelak tawa dari pemuda diseberang.
"Kenapa lo ketawa? Lo takut gak gue bayar! Tenang aja gue bakal bayar lo dengan harga yang besar." jelasnya sambil menatap tiga ikat uang yang ada diatas kasurnya, segumpal uang yang pasti saat ini membuat pemiliknya kelimpungan.
[Gue gak bisa]
Emma mengernyitkan keningnya, ia masih belum mengerti tentang jawaban pemuda itu. Atau mungkin telinganya yang bermasalah?
"Maksud lo gak bisa?"
[Gak bisa bantu lo]
"Kenapa? Lo takut bayarannya kurang, tenang aja gue bakal tambahin kalau emang menurut lo kurang, asal Lo mau bantu gue lagi, bantu gue lenyapin gadis itu, apalagi sekarang dia udah tau sebagian masalahnya itu dari gue. Gue gak mau semuanya terbongkar jadi sebelum itu terjadi lo harus buat dia tutup mulut untuk selama-lamanya."
[Gue gak peduli]
Emma berdecak kesal "emang apa yang buat lo gak bisa bantu gue, bukannya lo juga pernah bilang kalau gadis itu salah satu orang yang ingin lo singkirin juga?"
__ADS_1
[Ya, tapi gue udah terlanjur janji. Dan gue pantang langgar janji mengenai ucapan gue sendiri, jadi nikmatin aja perasaan was-was lo sendirian]
"Lo gak bisa kayak gini, emang lo janji sama siapa hah? Lo lebih milih pegang janji lo itu dari pada bantuin gue?" bentak Emma, tangannya sudah terkepal sejak tadi karena terlampau kesal.
[Tentu, gue dan lo juga cuma terhubung karena sebatas uang, jadi lo gak sepenting itu buat gue]
"Sama siapa lo buat janji Iannnn?" tanya Emma dengan nada menuntut.
[Anika, emang siapa lagi]
Emma mengepalkan tangannya, urat dilehernya menonjol dengan wajah merah padam "jadi lo lebih nurutin dia dari pada bantu gue hah! Lo gitu aja buat janji sama orang yang jelas-jelas lo benci juga, emang dia udah kasih apa aja sama lo sampai buat orang pembunuh kayak lo bisa nurut. Oh atau lo udah make tubuh dia makanya lo kayak gini."
[Gak ada, bukan dia yang ngasih gue imbalan, tapi gue yang udah terlanjur jatuh sama dia]
"Apa maksud lo?"
Tit.
Emma mengumpat kesal, ponselnya ia lempar saat sambungan telepon diputus sepihak oleh lawan bicaranya. Jadi sekarang ia harus apa kalau orang itu tak mau membantunya? Bukannya tak mau cari pembunuh yang lain, tapi ia tak mau bekerja sama dengan orang yang tak profesional itu terlalu beresiko untuknya.
"Sialan lo Anika, sebenarnya apa yang udah lo lakuin sampai orang kayak Ian aja bisa tunduk sama lo." teriak Emma sambil memecahkan barang yang ada disekitarnya.
...***...
"Kakak cantikkkk." teriak Axel dengan kaki kecil berlari menghampiri Anika, bahkan tangan pendeknya kini sudah memeluk tubuh gadis itu dengan binar cerah.
"Axel udah mandi belum?" tanya Anika kemudian memegang tangan bocah gembul itu setelah memindahkan belanjaannya ke tangan kirinya.
"Udah dong kak."
"Mama Axel mana?" tanyanya saat tak mendapati sosok paruh baya itu dalam indra penglihatannya. Kepalanya celingak-celinguk menyusuri penjuru rumahnya tapi tetap saja nihil.
"Mama masak didapur kakak cantik."
Anika mengangguk paham, belanjaannya ia letakkan diatas meja kemudian mengeluarkan isinya satu persatu, bibirnya tersenyum tipis sambil mencocokkan baju itu ditubuh kecil milik bocah gembul didepannya.
"Ini buat siapa kak?" tanya Axel bingung dengan pandangan tak pernah lepas dari baju yang tersodor ke badannya.
"Buat Axel ganteng dong."
"Ini buat Axel?" tanyanya sumringan.
"Iya ganteng."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya sayang."
Axel menyunggingkan senyum polosnya, tangannya memegang beberapa pakaian yang ada diatas meja dengan pandangan senang "waaaaa, bajunya bagus-bagus Axel suka. Terus ada gambar super heronya lagi, keren banget."
Anika tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan bocah didepannya, bahkan senyum polos Axel sangat mudah menular.
"Axel suka?"
"Suka-suka, Axel suka banget. Makasih kakak cantik." jawab Axel cepat kemudian memeluk tubuh Anika spontan sebelum kembali menatap pakaian didepannya satu-persatu.
"Nak Anika sudah pulang?" tanya Bu Sari tiba-tiba sontak membuat kepala Anika menoleh menghadap pada paruh baya yang baru saja muncul.
"Iya Bu, oh iya Anika tadi sempat beli baju buat Ibu." tangan lentiknya menyodorkan belanjaan satunya pada paruh baya itu.
"Ya ampun nak, kenapa repot-repot begini, ibu makin gak enak sama kamu. Kenapa kamu baik banget sama ibu dan Axel." ucap Bu Sari lirih.
"Gak ngerepotin kok Bu, malah Anika seneng bisa belanja buat ibu sama Axel dari pada habisin uang cuma-cuma." jelas Anika dengan senyum hangat pada ke dua ujung bibirnya.
"Makasih nak." tutur Bu Sari tulus.
Anika mengangguk pelan sebagai jawaban, ia benar-benar merasa senang menggunakan uangnya untuk dua orang itu, ia hanya merasa hangat dan nyaman karena kedatangan mereka membuatnya tak merasa kesepian lagi.
"Nak Anika makan dulu kalau gitu, ibu udah masak soalnya." ajak Bu Sari lembut sambil menuntun gadis remaja itu menuju ke dapur.
"Kok Axel ditinggalin sih." teriak bocah gembul itu dengan bibir cemberut membuat Anika dan juga Bu Sari saling pandang kemudian mengeluarkan tawa pelan melihat ekspresi marah dari anak berumur lima tahun itu.
"Sini-sini ikut kakak makan." ajak Anika dengan tangan mengkode anak itu untuk mendekat ke arahnya tentu dibalas senyuman lebar dari yang bersangkutan sambil berlari cepat menuju ke arah dapur untuk mengisi perut kecilnya.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa mampir diceritaku yang lain ya! judulnya 'suami cadangan' thanks~
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1