
BUGH.
Satu pukulan berhasil mendarat telak pada wajah Abian, bahkan sekarang sudut bibirnya sudah membiru dengan darah yang sedikit keluar. Matanya menggelap menatap pria didepannya yang kini menahan amarah.
"Kau sengaja menyeret Adrian ikut dengan tindakan kriminalmu hah!" bentak Adelard dengan urat dileher menonjol keluar, bahkan tangannya sudah terkepal masih belum puas memberi bogeman pada sosok didepannya.
"Apa maksudmu?" tanya Abian bingung sambil mengelap sudut bibirnya.
"Berhenti mengelak, aku sudah tau semuanya. Kau dan Adrian terlibat tindakan kriminal, bahkan kalian sudah melakukan perdagangan organ dalam tubuh manusia. Berhenti menyeret adikku ikut denganmu sialan." bentak Adelard membuat Abian terkekeh renyah.
"Kau sudah tau rupanya."
Adelard mengepalkan tangannya, giginya bergelatuk menahan emosi yang berusaha ia tahan, mau bagaimanapun orang didepannya adalah anak dari Garendara dan Fransiska sosok yang mengadopsinya bersama Adrian bertahun-tahun yang lalau, itu berarti sosok didepannya adalah kakak angkatnya sendiri.
"Apa sebenarnya rencanamu?" tanya Adelard dingin dengan pandangan menghunus pada Abian yang sudah bangkit dari duduknya.
"Tidak ada."
"Berhenti berbohong dan berhenti menyeret Adrian dalam masalahmu biadab." murka Adelard.
Abian menghela nafas kasar "Ian berjalan dengan pendiriannya, dan perlu kau tau dia memang sudah berubah sejak dia keluar dari rumah sakit jiwa, adik polosmu itu sudah menghilang bersama keluargamu yang lain sejak pembantaian itu."
"Jangan bicara omong kosong." sentak Adelard dengan intonasi yang mulai menurun.
"Aku serius, dan aku tau semuanya bahkan masa kelam kalian juga aku tau. Berhenti menutup mata! Ian ah...atau Adrian adikmu memang sudah berubah dia sudah menjauh darimu tanpa kau sadari. Satu lagi aku masih sangat waras sampai bisa setega itu menyeret anak belasan tahun dalam kehidupan kriminalku, apalagi adikmu itu tetap adikku walaupun bukan sedarah tapi kalian berdua sempat tinggal denganku Adelard."
"Lalu kenapa Adrian bisa terseret dengan kehidupan kelammu ini? Kenapa Adrian bisa melakukan tindakan kriminal kalau kau tidak mencuci otaknya?" tanya Adelard lemas, rambutnya diacak kasar saat mengingat sebuah berkas yang berisikan laporan perbuatan adiknya sendiri.
Walaupun polisi masih tak bisa mengendus identitasnya yang asli, tapi tetap saja Adrian sudah menjadi buronan dengan nama samaran Ian dan juga Abian dengan nama samaran In, satu fakta yang sulit ia terima.
Abian menghela nafas pelan, ia menepuk punggung pria yang lima tahun lebih mudah darinya. Walaupun mereka terlibat masalah tapi kali ini ia akan menurunkan egonya, ia cukup simpati melihat keadaan kacau dari seorang kakak yang mencemaskan kehidupan adiknya, bagaimanapun ia juga pernah menjadi seorang kakak sebelum adik perempuannya mati terbunuh.
"Dia bisa jadi begini karena masalah kelam kalian, aku bahkan sudah beberapa kali mengingatkanmu di Amerika dulu kalau Adrian sudah berubah, orang yang kau bilang anak penurut dan penakut malah berbanding terbalik dari penglihatanku, tapi kau tak peduli dan malah membebaskannya begitu saja apalagi menyutujui Ian ke negara ini tepat dimana keluarga kalian dibantai habis-habisan."
Adelard mendesah frustasi, bahkan pakaian kantornya hanya menyisakan kemeja dengan jas yang entah menghilang kemana?
"Kau fikir untuk apa dia ke negara ini! Ah atau lebih tepatnya ke kota ini jika tak ada niat tertentu!"
"Tapi orang itu sudah mati." sela Adelard.
"Ya, kau benar! Orang itu memang sudah mati bahkan keluarganya sudah dibantai beberapa tahun yang lalu---"
__ADS_1
"Lalu untuk apa lagi Adrian melakukan tindakan kriminal ini! Ikut campur dengan bisnis gelapmu tentang perdagangan organ dalam tubuh manusia."
"Kalau itu tanyakan pada Adrian, yang jelas itu hanya selingan dia saat bosan. Alasan sebenarnya dia masih tetap disini, dikota ini dan berprofesi sebagai kriminal karena dendamnya belum sepenuhnya berakhir." jelas Abian.
"Apa maksudmu?"
"Kau tau, dunia ini sangat sempit. Gadis remaja yang cukup asing bagimu sekaligus teman kelas Adrian sendiri dia adalah anak dari orang yang sudah membantai keluarga kalian bertahun-tahun yang lalu, dia juga satu-satunya orang yang masih hidup pada keluarga itu." jelas Abian dengan pandangan menerawang.
"Orang itu! Siapa maksudmu?"
"Anika Ayudhisa."
Deg.
Mata Adelard membola, bahkan ia tak pernah berfikir kalau gadis yang mencekcoki hidupnya adalah anak dari pria kejam itu, tangannya terkepal dengan mata terpejam erat.
"Tapi dia tidak salah." ucap Adelard setelah matanya kembali terbuka.
"Aku tau, tapi Ian tidak akan menerima apapun pembelaan untuk gadis itu, yang Ian tau darah Anika mengalir darah dari orang yang membantai keluarga kalian dan itu sangat susah ia terima."
"Apa kau juga terlibat?"
"Tadinya, aku hanya terlibat mengeluarkan ginjal dia secara paksa, tapi setelah sudah cukup mengenalnya aku tidak mau ikut campur lagi tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Anika memang sudah aku anggap sebagai adik, tapi Ian juga adikku kan! Jadi sebagai rasa bersalah karena tidak bisa membantu Anika aku cuma memberi dia petunjuk dari dalang yang ingin melenyapkan hidupnya."
"Aku juga tidak tau, kalau memang ada sudah dari dulu aku menghentikan Ian dari dendamnya ini." tutur Abian.
...***...
Anika membuka pintu mobil Rey dengan berbagai cemilan yang sudah ia tenteng dalam kantong kreseknya, bibirnya tersenyum tipis membayangkan wajah menggemaskan Axel yang tampak berbinar melihat apa yang ia bawah.
"Lo mau singgah atau langsung pulang?"
"Singgah."
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya, padahal ia hanya asal bicara atau lebih tepatnya berbasa-basi, harusnya ia tak bertanya karena sudah tau tabiat pemuda tampan ini.
"Axelll." panggil Anika, matanya mengitari seluruh penjuru rumah mencari keberadaan bocah gembul itu.
"Loh, nak Anika sudah pulang?" tanya Bu Sari dengan suara lembut penuh kasih sayang pada gadis didepannya.
"Iya Bu." jawab Anika sambil menyalimi tangan paruh baya didepannya tentu Rey ikut melakukan hal yang sama sebagai rasa sopan pada orang yang lebih tua.
__ADS_1
"Ini teman nak Anika?"
"Bukan Bu, lebih tepatnya sahabat Anika. Orang yang paling ganteng di SMA Arwana sekaligus calon suami dari Anika kelak." jawab Rey percaya diri.
Sari terkekeh pelan, ia hanya menganghuk-angguk pelan sebagai jawaban dari penuturan remaja didepannya, lagipula gadis seperti Anika memang pantas jadi incaran! Selain cantik dia juga sangat baik.
"Ih, siapa juga yang mau jadi istri lo! Ingat ya kawan, yang ada dihati gue cuma kak Adelard seorang."
"Tapi kan kita gak tau masa depan beb, bisa aja lo kecantol sama pesona gue yang membahana ini." tutur Rey.
"Halu."
"Selama itu orang ganteng maka halu itu sah-sah aja." jelas Rey bijak membuat Anika mendelik sinis.
"Udah Bu, jangan dengerin dia. Dia emang kayak gitu, agak-agak deh pokoknya." timpal Anika dengan jari telunjuk yang dimiringkan diatas dahi.
"Enak aja lo."
Anika mengibaskan tangannya, dengan gerakan kilat ia mendorong wajah Rey dengan kasar untuk menjauh dari sampingnya, ia benar-benar tak mau berbagai oksigen dengan pria aneh seperti pemuda itu walaupun sebenarnya akan mustahil karena mereka berada pada planet yang sama.
"Axel mana Bu?"
"Barusan tidur nak, padahal dari tadi dia nunggu kamu diteras rumah. Tapi karena ibu liat dia udah ngantuk makanya ibu suruh dia tidur siang dulu."
"Yah." jawab Anika lesu.
Sari tersenyum tipis melihat kepedulian remaja didepannya pada sang anak, ia benar-benar beruntung bisa kenal dengan orang baik seperti gadis itu.
"Nak Anika sama nak Rey makan dulu aja, ibu juga udah masak kok."
"Iya bu, tapi Rey kayaknya gak bisa. Katanya dia ada urusan mendadak jadi gak ikut makan." alibi Anika membuat Rey tergelak dengan mata membola.
"Enggak kok Bu, aku mau kok makan. Emang dianya aja yang pelit makannya nyari alasan supaya gak kasih aku makan." curhat Rey.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Instagram: siswantiputri3