
Untuk kedua kalinya gadis cantik itu melihat pemandangan yang semakin membuatnya penasaran. Kening Anika mengernyit melihat dua laki-laki sedang terlibat percakapan yang cukup serius, andai saja ia bisa mendengar percakapan orang itu mungkin besar kemungkinan informasi yang ia cari selama ini bisa terselesaikan.
"Ngapain lo ngintip-ngintip kayak maling disini?" tanya Rey tiba-tiba membuat Anika terlonjak kaget dengan tangan refleks menggeplak pemuda disampingnya.
"Gak usah banyak omong."
"Emang lo liat apa sih?" keponya sambil mengikuti arah pandang Anika yang tampak fokus ke depan. Keningnya seketika mengernyit melihat dua orang yang terlihat saling mengenal.
"Ada hubungan apa gebetan lo sama Drian?" tanya Rey penasaran.
"Nanti gua jelasin." sela Anika dengan pandangan tak lepas dari Adelard dan juga Drian yang sibuk berbincang, hingga ke dua pria itu saling berpisah dan berjalan berlawanan arah.
"Sekarang jelasin sama gue."
Anika menghela nafas pelan, ia menyandarkan tubuhnya pada tembok sekolah kemudian menatap wajah tegas milik Rey dengan pandangan yang cukup serius "kayaknya mereka kakak adik."
"Gebetan lo sama Drian?" tanya Rey memastikan yang kini dibalas anggukan pelan dari Anika.
"Gue emang gak punya bukti, tapi udah dua kali gue lihat kak Adelard ke sekolah ini buat ketemu sama Drian. Dan lo masih ingat kan kalau kak Adelard dulu pernah bilang dia ke sini cuma mau cari adiknya, Adrian Arsenio Louis kelas 2 IPA 1---"
"Tapi kan ketua kelas nama panjangnya Drian Ralavendar, emang sih dia kelas 2 IPA 1---" sela Rey tapi kemudian dipotong kembali oleh Anika.
"Bisa aja dia nyembunyiin identitas dia, apalagi kalau disambungin nama Drian potongan dari kata Adrian kan? Belum lagi kak Adelard beberapa kali gue pergok bicara serius sama Drian."
Rey ikut menyandarkan tubuhnya pada tembok sekolah, tangannya bersidekap dada sambil berfikir keras "jadi, kalau ketua kelas beneran adik gebetan lo kenapa?"
Gadis cantik itu menghela nafas kasar, pandangannya menerawang ke depan menatap lapangan sekolah yang cukup terik diterpa sinar matahari "gue pernah bilang kan kalau ada yang mau lenyapin gue, makin ke sini gue makin curiga kalau orang itu---"
"Tunggu-tunggu, lo beneran serius kalau ada yang mau lenyapin lo? Alasannya apa?" potong Rey cepat bahkan tangannya sudah bertengger pada pundak Anika sambil menguncangnya beberapa kali.
"Gue serius, dan orang yang mau lenyapin gue itu Drian." jawab Anika dingin membuat Rey membulatkan matanya, terlalu syok mendengar penuturan gadis disampingnya ini.
"Gak mungkin, gue...gue masih gak percaya Drian bisa kayak gitu. Itu terdengar mustahil, lo jangan ngaco deh."
Anika berdecak bibirnya tiba-tiba terkekeh hambar mendengar respon pemuda disampingnya "yaudah lo gak usah percaya, lo tetap sama pendirian lo dan gue bakal lakuin apa yang perlu gue lakuin. Apalagi dengar jawaban lo barusan buat gue yakin! Lo ternyata gak sedekat itu sama gue karena nganggap ucapan gue sebagai lolucon."
Rey menggelengkan kepalanya cepat, dengan langkah lebar ia menyusul kepergian Anika yang jelas terlihat menampilkan raut kecewa. Tangan gadis itu segera ia pegang mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua.
"Dengerin gue dulu, gue bukan gak percaya sama lo. Tapi ini terlalu mendadak, lo tenang dulu oke." bujuk Rey yang hanya dibalas helaan nafas dari mulut Anika.
__ADS_1
"Oke, sekarang jelasin sama gue dari awal sampai akhir supaya gue bisa cerna dengan baik permasalahan lo." tutur Rey setelah mereka duduk dikursi panjang tepat dibawah pohon subur milik sekolah.
"Intinya akhir-akhir ini ada yang ganggu hidup gue, bahkan gue pernah pergok orang itu mau bunuh gue saat tidur. Cukup lama gue dapat gangguan akhirnya ada yang ngirimin gue kotak yang nunjukin sebuah identitas yang mengarah pada keluarga Louis." Anika menjeda kalimatnya kemudian melanjutkannya kembali.
"Dan yang kayak lo bilang keluarga Louis pernah dibantai habis-habisan, yang selamat juga cuma putra sulung keluarga itu. Tapi buktinya waktu dipentas kak Adelard pernah bilang kalau dia cari adiknya yang bersekolah disini, berarti keluarga Louis yang selamat dua kan?"
Rey mengangguk pelan, matanya fokus menatap Anika yang masih menjelaskan sambil mendengarkannya dengan baik, tak ingin ada kata-kata yang ia lewatkan.
"Tunggu, tapi kenapa lo bisa seyakin itu kalau yang ganggu lo itu Drian sang adik kenapa lo gak curiga sama Adelard." tanya Rey tiba-tiba.
"Gue awalnya juga curiga sama kak Adelard, tapi lo juga pernah bilang kalau dia sempat menetap lama di Amerika, setelah gue cari tau lagi kak Adelard baru ke Indonesia tepat bertepatan dihari dimana gin---" Anika menghentikan ucapannya, ini masih belum saatnya membongkar tentang ginjalnya yang diambil. Ia tak mungkin mengatakan kedatangan Adelard ke Indonesia bertepatan dengan ginjalnya diambil, dan jelas itu berarti bukan dia pelakunya.
Sekarang ia harus mencari penjelasan seperti apa?
"Gin...apa Anika?" tanya Rey tiba-tiba.
"Maksudnya, gue diganggu sama orang itu bertepatan dengan kedatangan kak Adelard ke Indonesia untuk pertama kalinya, berarti sudah jelas bukan dia pelakunya. Itu berarti satu-satunya keluarga Louis yang ada cuma Drian."
Rey mengangguk paham "oke kalau lo bisa berpikiran kayak gitu, tapi kenapa lo bisa seyakin itu kalau kotak yang lo terima itu sebuah petunjuk dalang seseorang yang mau lenyapin lo?"
Anika menghela nafas pelan "didalam kotak itu ada tulisan 'semoga ini membantu' memang bantuan apalagi yang gue butuhin selain identitas seseorang yang mau lenyapin gue?" tanyanya balik.
Rey menatap nanar gadis disampingnya, bibirnya menghela nafas pelan kemudian bangkit dari duduknya, menjongkokkan tubuhnya tepat didepan gadis itu. Tangan kasarnya memegang lembut tangan lentik dengan tekstur halus milik Anika.
Anika menatap manik tajam milik Rey yang kini menatapnya hangat "gue tau."
"Lo ikut gue ya, lo jangan tinggal dirumah itu lagi. Gue gak mau lo kenapa-napa, sampai kapanpun gue gak pernah mau lo lecet walau cuma segores."
Gadis cantik itu mengalihkan pandangannya kearah lain, tak ingin membuat pemuda didepannya terlalu terbebani karena masalahnya ini, masalah serius karena menyangkut nyawa sebagai taruhan.
"Gue gak bisa, apalagi gue sekarang gak tinggal sendiri. Ada Axel dan Bu Sari dirumah gue." jelas Anika.
"Bawa mereka ke tempat gue, jangan jadiin mereka alasan karena lo gak mau ngerepotin gue. Sekarang gak ada yang lebih penting selain keselamatan lo." bujuk Rey membuat Anika kembali menghela nafas pelan.
"Lo gak usah khawatir, setidaknya untuk kali ini dia gangguin gue dulu."
"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?" tanya Rey cepat, ia hanya ingin memastikan gadis didepannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Karena dia udah janji sama gue."
__ADS_1
"Dia janji dan lo segitunya percaya? Ya ampun Anika, lo jangan labil dia aja bisa tega karena mau lenyapin lo jadi gak menutup kemungkinan dia bisa ingkar janji tentang ucapan dia."
"Gak tau yang jelas gue cuma percaya sama dia, lagipula dia laki-laki kan? Jadi sebagai laki-laki dia harus nepatin janjinya." jawab Anika.
"Tapi Anika---"
Anika tersenyum manis tangannya ia letakkan diatas kepala Rey kemudian menepuk-nepuknya pelan "udah gak usah dipikirin, gue baik-baik aja." gadis cantik itu bangkit dari duduknya, menatap Rey dengan pandangan riang.
"Balik yuk." ajaknya sambil menarik lengan kekar milik Rey bahkan sebelum pemuda itu mengeluarkan pendapat.
"Lo beneran gak mau ikut gue? Rumah gue besar lo, ada wifi lagi, lo gak tergiur gitu?" tanya Rey memastikan.
"Enggak Rey."
"Beneran?"
"Hu'um."
"Gak usah bohong, jujur aja sama gue. Gak usah sungkan yaelah, dirumah gue juga ada bioskop pribadi terus ada film drakornya. Gue bisa temenin lo begadang nonton drakor tiap malam." bujuknya lagi.
"Gak peduli."
"Gue serius lo beb."
"Iya tau."
"Lo beneran gak mau? Sama sekali gak mau? Gak mau pake banget atau gak mau pake aja?" tanya Rey masih tak menyerah, ia hanya ingin keberadaan gadis itu tetap pada jangkauannya agar ia bisa memastikan sesuatu yang tak diinginkan bisa dihindari.
"Bawel lo." sarkas Anika.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain ya~judulnya 'suami cadangan' thanks.